
Malam itu juga bu Ani dimakamkan dengan alasan tak ingin menahan jenazahnya lebih lama, toh tak ada sanak keluarga yang ditunggu lagi.
Semua persiapan pemakaman selesai dipersiapkan. Jenazah Bu Ani siap untuk dimandikan. Salah satu petugas pemandi jenazah menawari pihak keluarga untuk ikut memandikan, dan Iqbal mengajukan diri.
Ingin rasanya Larissa ikut memandikan pula, namun kondisinya tak memungkinkan karena ia memiliki ketakutan berlebih terhadap mayit. Bisa saja ia melawan ketakutannya demi sang ibu, namun saat itu dirinya juga sedang datang bulan.
Dalam agama, wanita yang sedang datang bulan dilarang untuk menyentuh jenazah karena ditakutkan darahnya mengenai mayat tersebut. Dan karena hal inilah sehingga Larissa terpaksa tak bisa ikut.
Usai dimandikan jenazah bu Ani di kafankan. Dan setelah dilakukan sholat jenazah, jenazahnya pun siap dibawa ke pemakaman.
Derai air mata turut mengiringi kepergian bu Ani menuju tempat peristirahatan terakhir. Ingin rasanya Larissa ikut mengatar, namun keadaannya lah yang tak memungkinkan. Ia hanya bisa berdoa, semoga sang ibu diampuni segala dosa dan salah, serta ditempatkan disisi Allah SWT.
SI'IRAN WALI
Laa ilaaha illallah almalikul khaqqul mubin
Muhammadur rosulullah shodiqul wa'dil amiin
Iling-iling sira manungsa ngelingono anggonmu sholat ngaji
Mumping durung katekanan malaikat juru pati
Panggilane kang Maha Kuasa gelem ora bakal digawa
Disalini sandang putih yen wes budhal ra iso mulih
Tumpaane kereta jawa roda papat rupa manungsa
Jujugane omah guwa tanpa bantal tanpa klasa
Omahe ra onok lawange turu ijen ra anak kancane
Ditutupi anjang-anjang diuruk den siran kembang
Tangga-tangga pada nyambang tangise kaya wong nembang
__ADS_1
Yen ngaji arang-arang pertondo imane kurang
Shalatullah salamullah 'ala thoha rosulillah
Shalatullah salamullah 'ala yasin habibillah
Luwih Loro luwih sudah rasane wong ana neraka
Klabang kures kalajengking klabang geni ula geni
Gada geni rante geni cawisane wong kang wani
Ing wani marang Pengeran gemampang dawuh Pengeran
Luwih mulya luwih mukti rasane wong ana suwargo
cinawisan widadari pitung puluh punjul siji
Kasur babut direndani cawisane wang kang bekti
Ngabekti marang Pengeran ngambuh dawuhe Pengeran
...****************...
Tak ada yang bisa Larissa lakukan selain mengucap ribuan terimaksih pada semua orang yang sudah membantu, juga permintaan maaf atas nama sang ibu.
Suasana rumah kembali sunyi setelah semua orang pergi. Larissa belum juga mengistirahatkan raganya karena sang suami belum juga kembali, terlebih ia tak terbisa tidur sendirian. Akhirnya ia pun memutuskan untuk membersihkan kamar sang ibu.
Larissa baru selesai membersihkan kamar, Iqbal turut masuk ke dalam kamar ibu untuk mengambil sesuatu yang entah Larissa tak tahu. Kemudian ia berkata, " Larissa, surat-surat rumah ini aku bawa dulu!."
Nyess....
Hati Larissa mencelos mendengar ucapan sang kakak. "Ibu baru saja dimakamkan, kak! tapi kenapa sekarang kau malah membicarakan tentang harta warisan? Tidak bisakah kau menunggu hingga tujuh hari kematian ibu? Atau paling tidak sampai esok pagi?" jerit batinnya. "Kalau itu bisa membuatmu puas, maka baiklah!. Akan kuberikan surat-surat itu padamu."
"Silahkan kau bawa kak! Aku juga tidak berharap banyak atas rumah ini. Hanya saja aku pernah bilang ke ibu, walau rumah ini diberikan padaku, aku tidak akan menempatinya. Suatu hari jika rumahku sudah bisa ditempati, maka aku akan menyewakan rumah ini. Lalu uang sewanya akan aku masukkan ke kotak amal di masjid agar bisa menjadi amal jariyyah ibu," jawab Larissa tegas.
__ADS_1
Iqbal terdiam mendengar jawaban Larissa, tak menyangka kalau adik tirinya akan mengabulkan permintaannya dengan begitu mudah. Awalnya ia mengira Larissa akan merebut surat-surat itu darinya,namun ternyata tidak. "Jangan berkata seperti itu! Anak ibu ada dua, jadi rumah ini kita bagi dua sama rata, "ucapnya pelan.
Larissa tak menghiraukan ucapan manis Iqbal dan tetap pada pendiriannya. "Tidak perlu, kak! aku memang sudah berkata seperti itu pada ibu. Kalau kau ingin membawanya, maka silahkan! Bagiku itu sama saja."
Iqbal berlalu meninggalkan Larissa tanpa berkata apa-apa lagi.
Larissa menatap nanar kepergian sang kakak. "Kau sudah menunjukkan watak aslimu, kak. Baru beberapa menit yang lalu ibu dimakamkan, tapi kau sudah tak sabar membicarakan tentang harta warisan."
Larissa tak mau memikirkan hal itu lagi dan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Saat membersihkan kolong tempat tidur, Larissa melihat setumpuk berkas- berkas berserakan. Ia pun mengambil dan memeriksanya satu persatu.
Alangkah terkejutnya ia saat mendapati surat-surat rumah berada diantara berkas-berkas yang ditemukannya tadi. "Kalau surat-surat rumah ini masih ada disini, lalu apa yang kak Iqbal ambil tadi? Apa mungkin ia salah ambil?" tanyanya bingung. "kalau memang kakak tak mengambil surat-surat ini, lalu Kenapa ia berkata seperti itu?."
...****************...
Matahari tersenyum cerah pagi ini. Namun mendung duka masih menyelimuti hati Larissa akibat kepergian sang ibu semalam. Melihat makanan tersaji, tak sedikitpun menggugah selera untuk makan. Namun ia tetap menyajikan makanan karena tak mungkin membiarkan suaminya kelaparan hanya karena rasa berdukanya. Terlebih itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri.
Para pelayat mulai berdatangan silih berganti untuk menyampaikan belasungkawa. Larissa menemui para pelayat ditemani oleh Hamzah. Ia tak mau ditinggal sendirian dalam keadaan seperti ini. Pada para pelayat ia mintakan maaf untuk sang ibu atas segala kesalahan baik yang disengaja atau tidak.
Menjelang siang Iqbal datang dan mengajak Larissa bicara. "Setelah aku pikir-pikir, lebih baik kau saja yang membawa surat-surat rumah ini," ucap Iqbal langsung pada pokok tujuan tanpa basa-basi sedikitpun.
Larissa mengangguk. "Terserah kakak saja," ucapnya datar.
Usai mengatakan hal itu Iqbal berlalu begitu saja, sedang Larissa tersenyum tipis melihat kepergiannya.
Siang hari pelayat mulai berkurang. Larissa memutuskan menggunakan waktu tersebut untuk sejenak mengistirahatkan tubuh. Ia sangat lelah dan mengantuk. Terlebih ia terus terjaga hampir semalam penuh.
Baru beberapa menit memejamkan mata, namun tiba-tiba ia menjerit. Hamzah masuk dan segera membangunkannya. "Encus, ada apa? Ayo bangun!," ucapnya sambil menggoyangkan tubuh Larissa.
Larissa tersentak dan bangun dari tidur. Nafas memburu seakan baru dikejar hantu, keringat dingin mengalir di dahi, namun ia belum sadar sepenuhnya.
Hamzah kembali menepuk bahunya dan bertanya, "Kau kenapa? ada apa berteriak ketakutan seperti itu?."
Larissa tak menjawab pertanyaan Hamzah dan malah melesak ke dalam pelukannya. Air mata mengalir dari pelupuk mata.
__ADS_1
Hamzah membalas pelukan Larissa. Sebelah tangan mengusap rambutnya. "Kenapa menangis? Kau mimpi buruk?."
Larissa semakin terisak di pelukan Hamzah. "Aku memimpikan ibu, Entik!."