Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 121


__ADS_3

Perjalanan hidup membawa kita terus melangkah menapaki masa depan. Namun bila kita menengok kembali kebelakang, kita akan melihat bahwa banyak hal yang telah kita lewati, namun semua itu tak kan mungkin terulang kembali.


Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa usia kehamilan Larissa kini telah sembilan bulan.


Hari hari Larissa lewati dengan penuh kecemasan menanti kelahiran sang jabang bayi. Ia takut jika proses persalinannya nanti akan sesulit waktu persalinan Zahra dulu.


Hamzah tak pernah membiarkan istrinya sendirian. Ia tahu, jika dibiarkan sendiri, maka istrinya akan terus dihantui prasangka buruk yang nantinya akan berimbas pada proses persalinannya nanti.


Untuk menghilangkan segala kecemasan itu, Larissa menggunakan waktu dengan melakukan senam hamil, yang tentu saja jauh lebih bermanfaat ketimbang duduk diam dan merisaukan hal-hal yang belum tentu terjadi.


Pagi itu Larissa baru saja bangun. Sudah beberapa malam ia tak bisa tidur nyenyak lantaran perutnya yang semakin membuncit dan membuatnya sulit mendapatkan posisi tidur yang nyaman. Terlebih semakin bertambah usia kehamilan, hasrat untuk buang air kecil seakan tak bisa ditahan, terlebih pada malam hari.


Larissa membasuh bagian bawah tubuh seusai buang air kecil, namun tiba-tiba ia melihat adanya lendir keluar dari ***********.


Sesaat Larissa terdiam, berpikir apakah ini sudah waktunya untuk melahirkan. Jika iya, kenapa ia tak merasakan kontraksi atau nyeri apapun.


Larissa bergegas keluar kamar mandi dan memberitahukan hal itu pada suaminya. "Entik, tadi pas di kamar mandi aku mengeluarkan lendir. Aku takut terjadi apa-apa pada kandunganku."


Meski ini bukan kehamilan pertama, namun sifat Larissa yang cenderung memiliki ketakutan berlebih membuatnya risau akan hal-hal yang dianggapnya tak biasa.


Hamzah sangat mengetahui akan sifat istrinya itu, itu sebabnya ia selalu memberikan sugesti baik dengam mengatakan bahwa semua aian baik-baik saja.


Seperti halnya kali ini, saat istrinya mengatakan bahwa ia mengeluarkan lendir dari *********** ia pun berkata, "Tidak usah terlalu khawatir! Itu hal yang wajar. Apalagi sekarang usia kandunganmu sudah sembilan bulan, dan sebentar lagi waktunya melahirkan."


"Tapi aku khawatir."


Hamzah tersenyum. "Duduklah sini!" ucapnya sambil menepuk tempat di hadapannya. Kedua kaki ia selonjorkan dan sedikit terbuka untuk memberi ruang duduk bagi istrinya.

__ADS_1


Larissa menurut, duduk dihadapan sang suami dengan posisi membelakanginya. Kedua kaki ikut berselonjor seperti suaminya.


Hamzah menarik tubuh Larissa agar bersandar di dadanya. Kedua tangan terulur menyentuh perut sang istri yang semakin membuancit seiring bertambahnya usia kehamilan. Kemudian ia mengusap-usapnya pelan dengan gerakan turun naik.


Larissa merasakan kenyamanan yang begitu luar bisa saat kulit mereka saling bersentuhan langsung, terlebih saat itu suaminya tengah bertelanjang dada. Kenyamanan itu semakin bertambah berkali-kali lipat saat suaminya menyentuh dan mengusap perutnya.


"Hai anak ayah, Bagaiamana kabarnya pagi ini? Pasti sudah tidak sabar ingin keluar ya? Sama, ayah juga sudah tidak sabar menanti kamu lahir."


Hamzah mengajak bicara anak yang masih berada dalam kandungan istrinya seakan mereka bicara secara langsung. Dan anehnya, bayi dalam kandungan itu seakan mengerti apa yang dikatakan oleh ayahnya dan memberi respon dengan menendang perut ibunya.


"Auch...." Larissa mengaduh saat merasakan tendangan di perutnya.


"Ada apa, Encus?" tanya Hamzah khawatir saat tiba-tiba istrinya mengaduh. "Apa perutmu terasa sakit?."


Larissa menggeleng sambil tersenyum kecil. "Tidak! Hanya saja anak kita menendang perutku tadi. Sepertinya dia merespon saat kamu ajak bicara tadi."


Larissa tertawa melihat interaksi antara anak dan ayah yang terjadi di hadapannya, terlihat sangat lucu bila dilihat dari betapa kerasnya sifat Hamzah selama ini.


Puas mengajak bicara anak dalam kandungan istrinya, Hamzah segera bersiap-siap karena sebentar lagi waktunya bekerja.


Beberapa hari yang lalu Hamzah mendapat tawaran untuk ikut menjadi kuli bangunan, sang paman mendapat borongan dan memerlukan tenaga kuli tambahan. Tanpa berpikir panjang Hamzah menerima tawaran itu, terlebih Larissa akan membutuhkan banyak biaya untuk persalinannya nanti.


Selepas kepergian sang suami, Larissa memutuskan menggunakan waktu untuk melakukan senam. Namun baru beberapa menit bersenam, tiba-tiba ia merasakan kontraksi di perutnya.


"Aduh...." Larissa mengaduh kesakitan. Diusapnya perut pelan-pelan untuk menghilangkan rasa sakit. "Ada apa, nak? Apa kau ingin keluar sekarang?" ucapnya sambil meringis kesakitan.


Tiba-tiba..

__ADS_1


Cur....


Larissa merasakan sesuatu mengalir di kedua paha. Sontak ia pun menyibak pakaiannya dan mengusap lelehan cairan di pahanya tersebut.


Larissa membelalakkan mata. Cairan itu ternyata adalah lendir seperti yang dikeluarkannya tadi pagi. Namun kali ini lendir itu semakin banyak, dan bahkan terdapat bercak darah diantara lendir tersebut.


"Ya Allah, beri aku kekuatan untuk melawan rasa sakit ini. Dan andai sekarang adalah waktuku untuk melahirkan, berikanlah kemudahan padaku," ucapnya sambil terus mengusap perutnya yang terasa sakit.


Perlahan rasa sakit itu mulai berkurang dan kemudian menghilang. Larissa pun bernafas lega sekaligus kecewa. "Ternyata yang tadi itu cuma kontraksi palsu."


...****************...


Malam hari Larissa bersantai di kamar berdua dengan suaminya. Zahra sejak tadi sore ikut kakek neneknya pergi entah kemana.


Larissa tak merasakan kontraksi apapun setelah kejadian tadi pagi, hingga membuatnya melupakan hal itu. Terlebih lagi saat pulang sekolah Zahra memberi kabar gembira jika ia mendapat juara kelas. Sontak kabar gembira itu membuat Larissa larut dalam kebahagiaan dan sejenak melupakan rasa sakit yang dirasakan.


Malam mulai larut, Larissa bersiap untuk tidur setelah makan malam untuk yang kedua kali. Kondisi perut yang semakin membesar membuat nafsu makannya bertambah besar pula.


Baru sejenak Larissa memejamkan mata, tiba-tiba ia merasakan nyeri yang teramat sangat di perutnya. Ia peun bangkit dan mencoba berjalan-jalan di dalam rumah untuk melawan rasa sakit itu.


Perlahan rasa sakit itu mulai menghilang, namun itu tak berlangsung lama, karena pada menit berikutnya rasa sakit itu semakin kuat.


Larissa mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. Air mata menetes menahan rasa sakit yang semakin bertambah kuat seiring berjalannya waktu.


Tak kuat menahan sakit, Larissa pun membangunkan sang suami yang baru saja terlelap untuk meminta bantuan. "Entik, bangunlah! tolong aku, perutku rasanya sangat sakit."


Hamzah yang baru saja terlelap namun tiba-tiba dibangunkan tentu saja bingung harus melakukan apa. "Coba kamu pakai jalan-jalan. Biasanya cara itu cukup efektif, kan?" ucapnya memcoba memberi solusi.

__ADS_1


"Sudah! Dari tadi juga aku pake jalan-jalan. Tapi rasa sakit ini malah semakin kuat," jawab Larissa. "Apa mungkin sekarang aku mau melahirkan ya?."


__ADS_2