Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 44


__ADS_3

"Apa aku harus diam saja kalau dia memukulku? Lagipula aku tidak bersalah. Untuk apa minta maaf!." Hamzah kekeh mengaku tidak bersalah dan menolak untuk minta maaf. Harga dirinya terlalu tinggi untuk sekadar melakukan hal sepele tapi besar manfaatnya itu.


Sifat Hamzah memang keras. Ia tidak akan meminta maaf dulu bila Ira merasa tidak bersalah. Tapi bila ia memang salah, tanpa diminta ia akan meminta maaf dengan sendirinya.


"Bukan begitu, nak! Mengalah bukan berarti kalah. Tapi lebih pada menghindari agar masalah tidak semakin besar." Baskoro masih tak menyerah untuk memberi nasehat pada anaknya. Ia sangat tahu bagaimana sifat dan watak anak sulungnya itu.


"Aku tidak takut! Aku akan hadapi apapun nantinya" jawab Hamzah.


"Tapi mengalah jauh lebih baik daripada melawan."


"Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus diam saja saat dia memukulku?."


"Kalau dia memukul duluan, tentu saja kamu harus melawan. Setiap orang punya insting untuk membela diri" jawab Baskoro.


"Itu artinya aku boleh memukul dia kalau aku dilukai, kan?" tanya Hamzah menyunggingkan senyum sinis.


"Bukan begitu maksud bapak, nak! Bapak hanya bilang...." Baskoro terlihat kesulitan untuk menjelaskan pada putra sulungnya. Terlebih Hamzah juga seperti tidak mau mengerti sedikitpun.


"Kakak tidak mungkin memukul kalau tidak ada sebab. Dia bertindak seperti tadi karena merasa kamu sudah membuat ibu menangis. Itulah mengapa dia mencari mu tadi." Larissa angkat bicara. Ia turut mencoba untuk memberi penjelasan pada suaminya.


"Bukankah tadi sudah aku katakan! Aku melakukan itu karena ingin melindungi Fatim. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa. Tapi kenapa sekarang kamu malah menyalahkan aku?" tanya Hamzah. Matanya menatap tajam kearah Larissa.


"Aku tidak menyalahkan mu. Tapi bukankah ada cara lain yang bisa digunakan agar tidak menyinggung perasaan ibu."

__ADS_1


"Cara seperti apa yang kamu maksud?."


"Seperti....." Belum sempat Larissa menyelesaikan ucapannya, ibu metua memotong pembicaraannya. "Dasar kakak kamu aja yang berlebihan. Masalah seperti itu aja dibesar-besarkan!."


Larissa menghela napas. Ia sangat tahu kemana arah pembicaraan ibu mertua. "Bukan membesar-besarkan masalah, Bu. Tapi masalahnya disini hati ibu saya yang disakiti. Jelas saja kakak marah."


"Iya, saya tahu! tapi bukan begitu juga caranya. Masak anak saya dicari-cari orang seperti kriminal kayak tadi. Emang anak saya penjahat yang sudah menyakiti ibu kamu?."


Ucapan ibu mertua sangat menusuk. Ia tak henti-hentinya menyudutkan Larissa. Ia bahkan membela, dan menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh anaknya tidaklah salah.


Larissa merasa tidak ada titik temu untuk menyelesaikan masalah ini, bahkan cenderung menyalahkan dirinya. Akhirnya, ia pun bangkit dari duduknya. Ia meraih Fatim dan membawanya kedalam gendongan. Dan tanpa berpamitan, ia langsung pergi meninggalkan rumah bibi.


"Kamu mau kemana?" tanya Hamzah menghentikan langkah Larisaa, namun sedikit pun tak dijawab.


"Tunggu sebentar! Biar Bapak yang mengantarmu pulang" Hamzah tak menyerah atas kebungkaman Larissa, tapi sayangnya istrinya itu masih tak menghiraukan perkataannya.


Sesampainya di rumah, pintu terbuka lebar. Larissa segera masuk dan mencari keberadaan ibunya. Tapi setelah lama mencari, ia tak juga menemukan keberadaannya.


Larissa tak menyerah. Ia segera mencari ke rumah kakaknya. Ia beranggapan disaat seperti ini, kemungkinan terbesar adalah ibu pergi ke rumah kakak.


Dan benar saja, sesampainya disana ia mendapati ibunya berada disana. Ibu duduk di kursi ruang tamu dengan masih menangis tersedu-sedu. Dihadapan ada kakak ipar yang mencoba untuk menenangkan ibu.


Perlahan Larissa mendekati sang ibu. Tangannya terulur menyentuh bahu ibunya. "Ibu..." ucapnya lirih.

__ADS_1


Merasakan sentuhan pada bahunya, ibu pun menoleh kearah Larissa. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Keheningan tercipta tanpa ada yang bersuara. Hanya lelehan air mata yang terus mengalir, menjadi saksi betapa terlukanya hati saat ini.


"Ibu...." Setelah beberapa lama Larissa kembali membuka suara. "Atas nama Hamzah, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya pada ibu."


Ibu membuang muka, sepertinya kemarahannya masih belum reda. "Aku tidak sudi memaafkannya! Kalau dia benar-benar minta maaf, suruh dia mendatangi ibu dan meminta maaf sendiri."


Larissa diam tak berkutik. Permintaan ibunya itu dirasa sangatlah sulit. Ia sangat mengerti bagaimana sifat suaminya yang tidak akan pernah mau meminta maaf jika merasa dirinya tidak bersalah. Ia bingung bagaimana cara membujuk suaminya itu agar mau meminta maaf pada ibu. Apalagi ia tak mendapatkan solusi apapun saat mendatangi rumah Bibi tadi.


Melihat kebungkaman Larissa, ibu kembali bersuara. "Sekarang kamu harus memilih. Tinggal disini bersama ibu, atau ikut suamimu!"


Ibu menghela napas sejenak, laku melanjutkan ucapannya lagi. "Ibu tidak sudi melihat Hamzah berada dirumah ibu lagi. Kalau kau masih ingin tinggal disini, maka kau harus tinggalkan suamimu. Ibu akan menjamin semua kebutuhanmu dan anakmu. Tapi jika kau masih ingin bersama suamimu, silahkan angkat kaki dari rumah ini. Dan kau bukanlah anak ibu lagi!."


Ucapan ibu bagaikan tamparan keras bagi Larissa. Ia terduduk lemas, tak tahu harus menjawab apa. Disatu sisi, ia sangat menyayangi ibunya. Selama ini ibu sudah berjuang keras untuk membesarkan dirinya tanpa ada sosok suami disampingnya. Ia tak ingin menjadi anak durhaka dengan mengecewakan hati ibunya.


Disisi lain, ia juga tidak ingin berpisah dengan Hamzah. Walau suaminya itu kerap membuatnya menangis dan sakit hati, tapi ia masih sangat mencintainya. Terlebih lagi ada Fatim yang masih kecil, yang tentu saja sangat membutuhkan sosok ayah disampingnya. Ia tidak mungkin egois dengan memisahkan anak dari ayahnya sendiri.


'Ya Allah, kenapa aku harus selalu dihadapkan pada pilihan antara ibu dan suami? Tidak bisakah aku hidup bersama dengan keduanya?' ratapnya dalam hati. Air mata membanjiri pipinya, menunjukkan betapa kalutnya ia saat ini.


Terdengar suara tangis Fatim. Larissa segera menenangkannya. "Ibu, aku pulang dulu ke rumah. Kasihan Fatim, sepertinya ia lapar dan mengantuk. Aku akan menidurkannya dulu."


Ibu masih diam, tak menanggapi ucapan Larissa. Larissa tak menghiraukan kebungkaman ibunya. Ia terus mengajak ibu bicara. "Ibu tidak usah memikirkan hal ini lagi. Aku tidak akan menyakiti hati ibu."

__ADS_1


Sayangnya, ibu tak juga menanggapi ucapannya. Larissa memilih untuk segera meninggalkan rumah kakak dan kembali ke rumah ibu. Terlebih Fatim tak juga berhenti menangis walau ia sudah memberikannya ASI. Mungkin saat ini, hanya inilah jalan yang terbaik.


Sesampainya dirumah, Larissa segera masuk kamar dan menidurkan putrinya. Kemudian ia merebahkan tubuhnya disamping sang putri. Ia sangat lelah, lelah fisik dan mental. Ia hanya berharap, semoga akan ada jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini.


__ADS_2