Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 81


__ADS_3

Hamzah terbakar api cemburu saat melihat dokter memeriksa Larissa. Hingga tanpa sadar ia meluapkan kemarahannya itu pada Istrinya.


Hati Larissa menghangat mengetahui suaminya masih mencintai dirinya. Terbukti ia begitu cemburu saat melihat ada lelaki lain yang menyentuhnya. Namun kecemburuan Hamzah tidak pada tempatnya. Dan Larissa harus meluruskannya.


Larissa mengaku dilecehkan oleh Uwak Sodiq saat terakhir kali mereka kesana. Namun ternyata Hamzah tak mempercayai pengakuannya dan menganggapnya sebagai lelucon. Hingga membuat amarah Larissa yang sempat turun kembali membara. "Apa kau pikir sebuah aib pantas untuk dijadikan bahan lelucon?," teriaknya marah.


Terpaksa Larissa menceritakan semua kejadian di malam naas itu walau itu berarti ia harus membuka kembali lembaran kelam yang coba ia lupakan.


Hamzah marah besar setelah mendengar kejadian yang sebenarnya. Ia pun mendekap istrinya dan meminta maaf, "Maafkan aku! Aku sungguh tidak tahu kalau dia telah melecehkanmu. Tapi kenapa kau tak pernah mengatakan hal ini padaku?."


Larissa menjauhkan diri dari suaminya. "Untuk apa aku cerita padamu? Toh kau tak pernah percaya denganku, kan?."


"Sebagai istrimu, aku tak berarti apa-apa bagimu. Kau tak pernah mempercayaiku. Bahkan kau tak pernah menganggap aku ada."


"Maafkan aku! Aku sungguh menyesal telah mengabaikanmu." Hamzah membawa kembali tubuh sang istri ke dalam pelukan. Namun kali ini tak ada penolakan darinya. "Kenapa kau begitu tega padaku? Apa kau tak mencintaiku lagi sekarang?," ucap Larissa dengan berurai air mata. Dipukulnya dada sang suami berulang-ulang sebagai ungkapan kekecewaan.


"Aku sungguh minta maaf! Aku tak pernah berniat menyakiti hatimu," ucap Hamzah lirih. Diusapnya kepala sang istri lembut untuk menenangkannya.


"Kenapa kau sangat tega padaku? Apa kesalahanku?," ucap Larissa lirih. Air mata terus berurai. Namun kali ini ia berhenti memukuli dada suaminya dan menenggelamkan diri dalam pelukannya.


"Kau tidak salah, aku lah yang salah."


"Aku sudah kotor, Entik. Aku tak suci lagi sekarang. Aku telah gagal melindungi kehormatanku." Larissa tergugu dalam tangis. Ia ungkapkan semua derita yang ia pendam.


Hamzah menutup bibir Larissa dengan jari telunjuknya. "Jangan berkata seperti itu, itu tidak benar!. Bagiku kau tetap suci seperti pertama aku mengenalmu dulu," Diusapnya lelehan air mata yang membasahi wajah cantiknya. " Sebuah kejadian tak akan bisa merubah penilaianku terhadapmu. Bagiku kau adalah wanita yang sangat menjaga kesuciannya. Jadi jangan pernah berkata seperti itu lagi, mengerti!."

__ADS_1


Larissa menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Jangan pernah sakiti aku lagi. aku mohon!."


Hamzah mempererat pelukannya. "Aku janji, aku tidak akan menyakiti hatimu lagi." Sebuah kecupan hangat ia daratkan di kening sang istri. "Maafkan aku! Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu." Mereka pun saling berpelukan dalam tangis.


Malam itu mereka saling terbuka satu sama lain. Mereka saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Satu hal yang telah lama tidak mereka lakukan.


Dalam pernikahan terkadang kita mengalami pasang surut sebuah hubungan. Namun saling terbuka adalah kunci untuk mengatasinya. Dan Malam itu mereka telah menyadarinya.


Satu hal yang harus kita ingat! diam bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah apapun alasannya. Justru kita malah menumpuk masalah menjadi satu dengan melakukannya. Dan saat hati tak sanggup lagi menahannya, maka ledakan dahsyat akan terjadi.


Puas meluapkan perasaan satu sama lain Hamzah pun mengajak istrinya untuk pulang. "Kita pulang sekarang ya? Ini sudah terlalu malam. Kasihan anak kita di rumah.


Larissa menganggukkan kepala. diusapnya sisa-sisa air mata yang masih melekat di pipi. "Iya, Ayo kita pulang sekarang!."


Hamzah menggandeng tangan Larissa menuju motor. Tapi saat hendak menghidupkan mesin, ia melihat tubuh sang istri menggigil kedinginan. Agaknya ia lupa membawa jaket karena terburu-buru saat berangkat tadi.


Larissa tersenyum. Hatinya kembali menghangat mendapat sebuah perhatian kecil dari suaminya. "Terimakasih banyak! tapi bagaimana denganmu? Apa kau tidak kedinginan juga?."


Hamzah menggeleng. Sebuah senyuman teduh ia berikan. "Kau pakai saja! aku tidak apa."


Larissa merapatkan jaket suaminya ke tubuhnya. Aroma tubuh Hamzah menguar memenuhi indera penciumannya. Kehangatan tubuh sang suami yang menempel di jaket memberikan kehangatan dan kenyamanan padanya.


"Ayo naik! Kita pulang sekarang." larissa mengangguk. Ia segera naik ke atas boncengan motor.


Sepanjang perjalanan pulang tubuh Hamzah menggigil kedinginan. Larissa pun merasa kasihan melihatnya. "Kau kedinginan, Entik. Apa tidak sebaiknya kau pakai saja jaketmu kembali?."

__ADS_1


Hamzah memang kedinginan. Tapi ia lebih mengkhawatirkan keadaan sang istri ketimbang dirinya sendiri. Ia pun menolak tawarannya sambil menggelengkan kepala. "Tidak apa, Larissa. Aku seorang laki-laki. Aku masih kuat menahan hawa dingin ini."


Larissa menggeleng keras mendengar penolakan sang suami. "Tidak! Bagaimana mungkin aku membiarkanmu menggigil kedinginan? apalagi kau dalam keadaan menyetir. Aku tidak ingin kau jatuh sakit setelah ini."


"Kau juga kedinginan, Larissa. Mana mungkin aku membiarkanmu kedinginan di tengah kondisimu yang sekarang?."


Mereka terus berdebat tentang siapa yang harus mengenakan jaket. Larissa pun berpikir sejenak mencari cara untuk menyelesaikan perdebatan tak berujung ini. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah solusi cerdas. "Kalau begitu biarkan aku memeluk erat tubuhmu. Aku akan membagi kehangatan ini denganmu."


Hamzah tersenyum mendengar ide yang diucapkan istrinya. "Dengan senang hati aku menerimanya. Mana mungkin aku menolak pelukan dari wanita cantik."


Wajah Larissa bersemu merah seperti kepiting rebus mendengar gombalan receh sang suami.


Disisa perjalanan pulang Larissa memeluk erat tubuh sang suami. Memastikan bahwa mereka saling berbagi kehangatan untuk mengusir hawa dingin yang menyerang. Sesekali Hamzah membenarkan posisi tangan sang istri saat dirasa dekapannya sedikit mengendur.


...****************...


Hamzah membuktikan ucapannya. Kali ini ia sangat mendukung keputusan Larissa untuk menjalani operasi. Bahkan dia sendirilah yang menyiapkan segala sesuatunya.


Hari ini adalah hari di mana Larissa akan menjalani operasi. Hamzah tak beranjak sedikitpun dari sisinya. Ia ingin memberikan support untuk istrinya dan memastikan istrinya mampu melewati semuanya.


Waktu terus berlalu. Matahari pun telah terganti posisinya oleh sang rembulan. Namun Larissa tak jua keluar dari ruang operasi. Hingga membuat hati Hamzah semakin resah karenanya. "Ya Allah, berilah kelancaran pada operasi istriku. Jangan ambil dia dariku. Beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahan yang pernah aku perbuat padanya," doanya setulus hati.


Hamzah berjalan hilir mudik di depan ruang operasi seperti setrikaan. Berulang kali matanya menengok ke arah pintu. Namun tak juga ada tanda-tanda bahwa pintu aklan terbuka.


Hamzah semakin resah. Harapannya semakin menipis. Ia pun bersimpuh di depan pintu ruang operasi berharap keajaiban kan datang membawa kabar keberhasilan operasi istrinya.

__ADS_1


Lama menunggu akhirnya pintu pun terbuka. Cepat-cepat Hamzah bangkit menghampiri sang dokter. "Bagaimana keadan istri saya, dok? Apa operasinya berjalan dengan lancar?."


__ADS_2