
Iqbal mendatangi rumah Larissa dengan maksud ingin meminjam sertifikat rumah untuk di gadaikan di Bank. Dan bukan hanya itu saja, ia juga ingin mengajukan pinjaman dengan menggunakan nama Larissa.
Mendengar permintaan terakhir kakaknya tentu saja Larissa tak setuju. Mana mungkin ia membiarkan namanya dipakai untuk sebuah urusan yang sangat penting. Ia pun mencoba menolaknya secara halus.
Namun ternyata Iqbal tak mau mengerti, ia terus memaksa dan bahkan mengancam akan mengambil alih kepemilikan rumah jika permintaannya tak disetujui. Terpaksa Larissa mengatakan akan membujuk suaminya agar bersedia melakukan apa yang dimintanya.
Larissa menunggu kepulangan suaminya dengan harap-harap cemas. Dan begitu dia datang, ia langsung menceritakan semua yang terjadi.
Mendengar penuturan istrinya, Hamzah tersulut emosi. "Kurangajar! Kakakmu itu dari dulu memang tak pernah berubah. Dikasih hati malah ngelunjak."
Melihat kemarahan suaminya Larissa kini semakin takut. Ia khawatir Hamzah gelap mata dan terjadi baku hantam antara dirinya dengan sang kakak. Padahal tujuannya menceritakan hal itu hanya ingin mencari solusi. Ia pun mencoba meredam kemarahan suaminya dengan kata-kata lembut. "Aku mohon jangan bersikap gegabah. Kalau kau seperti ini, aku khawatir masalahnya akan bertambah nanti."
"Bagaimana aku bisa tenang kalau melihatmu seperti ini? Kau tahu sendiri kan kalau aku paling tidak bisa melihatmu disakiti orang?."
Larissa diam, baru menyadari jika cara menyampaikan masalah ini pada suaminya kurang tepat. Ia lupa jika suaminya adalah tipikal orang yang pemarah.
Larissa menghela napas berat. "Ayo kita ke rumah bapak sebentar."
Hamzah mengernyitkan dahi. "Untuk apa kita kesana?."
"Aku ingin menenangkan diri disana sebentar." Sebenarnya ini hanya alasannya saja, karena tujuan yang sebenarnya adalah ingin mencari solusi terbaik lewat bapak mertuanya.
Hamzah kembali menghela nafas berat. "Baiklah! Ayo kita kesana."
Hamzah kembali memacu sepeda motornya menuju rumah orangtuanya dengan Larissa membonceng dibelakang.
Sesampainya mereka disana ternyata kedua orangtua Hamzah sedang keluar. Larissa pun kebingungan harus meminta pendapat pada siapa lagi.
__ADS_1
Di tengah kebingungan tiba-tiba pandangan Larissa tertuju pada bik Ika. Ia pun melangkah mendekatinya. "Maaf, bik, bolehkah aku meminta sedikit saran dari bibik?."
Bik Ika yang saat itu sedang menutup tokonya namun tiba-tiba ditanyai seperti itu oleh Larissa tentu saja bingung, apalagi ekspresi Larissa terlihat sangat serius saat bertanya tadi."Minta saran apa?" tanyanya.
"Sekali lagi saya minta maaf, tapi bisahah kita bicara di dalam rumah saja? Aku takut ada orang lain yang mendengar pembicaraan kita dan malah salah paham."
Bik Ika menghela nafas. "Baiklah! Ayo kita masuk ke dalam." Larissa pun mengikuti langkah kaki bik Ika masuk ke dalam rumah.
"Sekarang katakan! Ada masalah apa?" tanya bik Ika setelah mereka duduk di dalam.
Larissa mengambil nafas panjang sebelum mulai bercerita. "Jadi gini, bik, tadi kakakku....." Ia pun menceritakan semua yang terjadi tanpa kurang atau lebih.
Bik Ika menghela nafas panjang, sejenak berpikir untuk memberi solusi terbaik atas permasalahan yang sedang dihadapi oleh istri dari keponakannya.
"Kalau menurut bibik, sebaiknya kau pastikan dulu pada kakakmu, maksudnya ingin memakai namamu itu gimana? Kalau hanya ingin menjadikanmu sebagai saksi, tidak apa, tapi kalau kau yang harus meminjam, ya jangan mau."
"Maksudnya gini, kakakmu meminjam bank dengan jaminan sertifikat rumahmu. Lalu bank akan menverifikasi kepemilikan itu dan meminta tandatangan darimu sebagai bukti kalau kau memang memberikan sertifikat itu pada kakakmu sebagai jaminan. Disini kamu hanya bertindak sebagai saksi saja, karena nama peminjam tetap kakakmu."
Larissa manggut-manggut mendengar pemjelasan bik Ika. Sementara bik Ika melanjutkan ucapannya lagi. "kalau kasusnya seperti itu, maka tidak apa kalau kau setuju."
"Masalahnya kakak dengan jelas mengatakan kalau nantinya akulah yang meminjam, sementara dia hanya mengurus pemgajuannya saja."
"Kalau seperti itu ya jangan mau. Itu sama saja dengan kamu menggali kuburanmu sendiri. Kalau sampai dia tak sanggup membayar, nantinya kamu yang akan ditagih oleh pihak bank, sebab namamu lah yang tertera dalam pengajuan pinjaman itu."
Larissa manggut-manggut lagi mendengar penjelasan bik Ika, begitu juga dengan Hamzah yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia.
"Kalau kamu meminta saran bibik, ya seperti itu. Kamu pastikan dulu maksud perkataan kakakmu, kalau hanya sebagai saksi, tidak apa. Kalau menggunakan namamu maka jangan mau." ucap bik Ika mengulang kembali perkataannya tadi.
__ADS_1
"Baik, bik. nanti aku coba pastikan ke kakak," jawab Larissa.
"Dan kamu Hamzah," kali ini bik Ika mengalihkan pandangan pada keponakannya. "Kau harus pandai-pandai mengatur emosimu sendiri. Jangan sampai kau tersulut emosi dan melakukan kekerasan, karena itu hanya akan merugikanmu sendiri."
"Bagaimana aku tidak emosi kalau melihat istriku menangis seperti sekarang gara-gara kakaknya? bibik tahu sendiri, lebih baik aku yang terluka dari pada melihat istriku menangis."
"Aku tahu kau ingin melindungi istrimu, dan itu memang sudah menjadi kewajibanmu. Tapi kau juga harus menggunakan akal untuk melakukannya. Kalau hanya menyakiti dengan kata-kata, sebaiknya kau diam saja. Bibik yakin istrimu pasti bisa mengatasinya sendiri. Tapi kalau sampai main tangan, baru kau ambil tindakan."
Hamzah menghela nafas panjang. "Akan aku coba melakukan saran bibik meski aku tahu itu sangat sulit buatku."
Bik Ika tersenyum bijak. "Aku yakin kau pasti bisa. Bibik berkata begini karena tak ingin salah satu keluarga bibik dicap sebagai biang onar oleh masyarakat."
"Kami tahu maksud bibik, dan kami sangat berterimakasih karena bibik masih peduli dengan kami," jawab Larissa.
Bi Ika kembali tersenyum mendengar jawaban Larissa. "Ini sudah malam. Sebaiknya kalian pulang. Dan ingat, lakukan yang bibik katakan tadi."
Larissa mengangguk bersamaan dengan suaminya. "Iya, bik, pasti! Kalau begitu kami pamit pulang dulu.
"Iya, silahkan!." Dan mereka pun berlalu meninggalkan rumah bibik.
Sesampainya di rumah Hamzah menyuruh Larissa menemui kakaknya dirumah dan menanyakan maksud sebenarnya seperti yang dusarankan bibik tadi.
Larissa menuruti perintah suaminya dengan pergi ke rumah kakaknya, namun tak berselang lama ia kembali pulang sebab rumah kakaknya dalam kondisi terkunci.
"Mungkin kakak sedang keluar. Sebaiknya besok saja aku menanyakan padanya," gumam Larissa dalam hati. " Mungkin ini yamg terbaik, karena sebenarnya saat ini aku pun belum siap untuk bicara lagi dengan kakak."
Larissa pun mengatakan pada suaminya tentang hal itu. Dan meski sedikit kesal Hamzah terpaksa diam.
__ADS_1
Malam itu Hamzah yang sejatinya akan berangkat melaut urung pergi karena memikirkan masalah ini. Ia khawatir istrinya kenapa-napa bila nekat ditinggal pergi. Terlebih ia sangat mengenal bagaimana watak saudara iparnya itu.