
Setiap orang pasti akan berusaha untuk merubah dirinya menjadi lebih baik lagi kedepannya, juga berusaha untuk memperbaiki hubungan yang sempat rusak. Terlebih hubungan dengan orang-orang yang kita sayangi.
Namun agaknya hal itu tidak berlaku bagi hubungan Larissa dengan Bu Ani. Pasalnya hingga detik ini hubungan mereka berdua masih renggang, bahkan bisa dibilang semakin memburuk tiap harinya.
Semua itu dikarenakan sikap Bu Ani sebagai pihak yang lebih tua, yang suka sekali membesar-besarkan masalah. Bila ada sedikit saja kesalahan yang Larissa lakukan, maka tidak akan ada ampun baginya. Ia akan menggunakan kesalahan itu untuk mempermalukannya didepan umum.
Lalu disisi lain ada suaminya, Hamzah sebagai orang yang lebih muda tapi memiliki sifat keras kepala, tidak mau mengalah dan temperamennya yang sukar ditebak. Hingga membuat kata damai sulit untuk didapat. Bahkan seringkali Larissa mengalami dilema antara memilih sang suami atau sang ibu karena sikap keduanya itu.
Seperti halnya hari itu, waktu itu hari masih pagi. Larissa pergi mengantar putrinya ke sekolah seperti biasa. Namun baru beberapa menit ia sampai disana, Hamzah sudah menyusulnya kesekolah juga.
Kedua alis Hamzah terlihat saling bertautan. Rahang mengeras menahan amarah yang setiap saat siap meledak. Tangan terkepal kuat disamping tubuhnya. Dan satu hal yang membuat Larissa tergidik takut, sorot matanya yang tajam, setajam elang yang sedang memburu mangsanya.
Melihat ekspresi dan gelagat yang ditunjukkan suaminya, Larissa bisa menebak kalau ada sesuatu yang tidak beres. "Ada apa, Entik? Kenapa kau menyusulku kemari?."
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya atau apa yang terjadi Hamzah menyuruhnya untuk segera pulang ke rumah. "Pulanglah cepat, dan lihatlah sendiri apa yang dilakukan oleh ibumu!."
Mendengar ucapan suaminya, hati Larissa semakin ketar-ketir. 'Ya Allah, ada masalah apalagi ini? Kenapa suamiku menyebut-nyebut ibu? Apa yang sudah terjadi?."
Tak ingin dihantui perasaan was-was berkepanjangan, Larissa segera memacu laju kendaraannya kembali ke rumah setelah sebelumnya menitipkan putrinya pada ibu guru. "Bu, maaf! Saya titip putri saya. Saya ada urusan penting. Nanti saya akan kesini lagi sebelum jam pulang sekolah."
Jarak dari sekolah ke rumah cukup dekat. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit dengan menaiki sepeda motor. Tapi Larissa hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit untuk sampai dirumah saking kencangnya ia melajukan kendaraan. Tak diperdulikannya omelan orang-orang dijalan karena cara mengemudikannya yang terkesan ugal-ugalan, apalagi jalanan yang ia lewati adalah jalanan kampung yang relatif lebih sempit. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah segera sampai dirumah dan melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Larissa segera memarkir motornya dihalaman depan setibanya ia di rumah. Hamzah datang tak berselang lama setelahnya.
Alangkah terkejutnya Larissa saat ia menjejakkan kaki di depan pintu. Terlihat beberapa barang miliknya berserakan disana. Bahkan sebuah sandal milik putrinya hampir saja mengenai kepalanya bila ia tak langsung menghindar saat Bu Ani melemparkan barang tersebut.
"Ada apa ini, Bu? Kenapa ibu melempar barang-barangku keluar?" tanya Larissa kebingungan.
Bu Ani hanya menoleh sekilas kearah Larissa lalu kembali membuang barang-barang milik Larissa. "Singkirkan barang-barangmu dari ruangan ini kalau kau tidak ingin aku membuangnya. Aku akan menggunakan ruangan ini," ucapnya dingin.
Usai melempar barang-barang kepunyaan Larissa, Bu Ani masuk kembali ke kamarnya. Tapi saat ia berada didepan pintu kamar, ia berbalik menghadap Larissa, "Kalau kau tidak suka dengan sikapku, kau bisa angkat kaki dari rumah ini!."
Larissa diam, tanpa berkata apa-apa lagi ia bergegas memunguti barang-barang itu dan memindahkannya ketempat lain. Ya, tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain hanya mengalah dan menerima semua perlakuan sang ibu. Hanya tetesan air mata yang mampu menggambarkan betapa sakitnya hatinya saat itu.
Usai membereskan semua barang-barangnya yang berserakan, Larissa gegas menghampiri pembeli di depan yang sudah menunggunya sedari tadi. Tak lupa dihapusnya lelehan air mata yang masih tersisa. "Maaf nunggu lama. Mau pesan apa?," tanyanya sambil menghempaskan tubuh diatas kursi plastik dan bersiap melayani pembeli tersebut.
Dengam cekatan Larissa membuatkan pesanan pembelinya itu. Ia sudah hafal seperti apa seleranya karena pembeli tersebut adalah seorang anak sekolahan, salah satu dari pelanggan setianya.
Saat Larissa sedang membuatkan rujak pesanannya, mata pembeli tersebut berulangkali memandang kearah Bu Ani yang saat itu sedang mengupas buah tidak jauh dari tempat Larissa melayani pembeli.
Melihat gerakan berulang dari si pembeli, Larissa pun tergerak hatinya untuk bertanya,"Ada apa, mbak? Apa ada sesuatu yang salah?."
Awalnya pembeli tersebut terlihat ragu menjawab pertanyaan Larissa. Namun akhirnya ia mengutarakan isi hatinya juga. "Em....maaf, mbak! Bukannya itu ibu kandungnya mbak Larissa?."
__ADS_1
Sekilas Larissa menoleh kearah sang ibu lalu mengangguk mengiyakan. "Iya, itu ibu kandung saya."
"Sikapnya kok gitu sih sama mbak? Kayak bukan anaknya saja!" celetuknya lagi.
Larissa hanya menanggapi ucapan pembeli tersebut dengan menyunggingkan sebuah senyuman miris, lalu memilih untuk kembali melanjutkan membuat pesanan pembeli tersebut. Ia tak mau berkomentar apa-apa untuk menanggapi ucapannya, khawatir ucapannya menimbulkan masalah baru.
Larissa baru ingat jika saat ia tiba dirumah tadi bertepatan dengan datangnya pembeli tersebut. Karena itulah pembeli tersebut ikut menyaksikan kejadian tadi. Kejadian yang seharusnya tidak perlu dilihat oleh orang lain.
Inilah salah satu alasan mengapa Larissa memilih untuk tetap bungkam dan menerima setiap perlakuan sang ibu. Ia sangat malu bila ada orang yang menggunjingkan hubungan buruk antara dirinya dengan sang ibu.
Bukannya Larissa tak ingin memperbaiki hubungan mereka. Ia sudah memcoba berkali-kali dan berusaha mengalah demi mengambil hati sang ibu. Namun nyatanya hal itu tak merubah apapun.
Memang sungguh ironi melihat hubungan mereka berdua. Mereka adalah seorang ibu dan anak, yang harusnya saling meindungi dan menyayangi. Namun nyatanya inilah yang terjadi. Terkadang Larissa berpikir jika perlakuan sang ibu adalah bentuk ketidakpuasannya terhadap ayah kandungnya.
Usai melayani pembeli tersebut, Larissa gegas menghampiri suaminya di dapur yang tengah membuat pentol. Ia ingin menanyakan awal mula kejadian tadi. "Entik, bagaimana awal mulanya tadi? Kenapa ibu marah-marah seperti itu?."
Hamzah menoleh kearah Larissa lalu mengedikkan bahu. "Aku juga tidak tahu kenapa. Tadi aku sedang menata jualan di depan, tahu-tahu ibumu datang dan langsung marah-marah, lalu membuang barang-barang kita seperti yang kamu lihat tadi." jawabnya, "Aku sendiri sampai sekarang masih bingung dengan sikap ibumu tadi."
Larissa menghela napas berat. "Sudahlah! Kita tidak usah bahas masalah ini lagi. Lebih baik kita fokus melayani pembeli saja."
Usai berkata begitu Larissa kembali lagi ke depan untuk melayani pembeli karena kebetulan saat itu ada pembeli lain yang datang. Ia tak mau terlalu larut dalam masalah dan melupakan masa depannya.
__ADS_1
Untuk saat ini agaknya pilihan Larissa untuk melupakan kejadihan tadi adalah keputusan yang tepat. Dan bukan hanya itu, merubah kesedihan menjadi sebuah semangat untuk bekerja keras adalah satu hal yang patut diacungi jempol. Semoga suatu hari ada sebuah keajaiban yang bisa merubah hubungan Larissa dengan ibunya kearah yang lebih baik.