
Hamzah menunggu operasi istrinya di depan ruang operasi dengan hati resah. Ia tak beranjak sedikitpun dari sana. Hingga akhirnya pintu terbuka. Ia segera menghampiri dokter yang menangani operasi itu dan bertanya, "Bagaimana keadaan istri saya, dok? Apa operasinya berjalan lancar."
Dokter menatap Hamzah intens. Sebuah senyuman ia berikan sebelum menjawab pertanyaannya. "Selamat! Operasinya berjalan dengan lancar. Kami berhasil mengangkat benjolan di payudara istri anda," ucapnya. Kemudian ia menunjukkan sebuah cawan berisi benjolan yang berhasil ia keluarkan dari tubuh pasiennya tadi. "Ini adalah benjolan yang berhasil kami keluarkan tadi. Silahkan anda lihat. Barangkali anda ingin menfotonya untuk tunjukkan pada istri anda nanti. Karena setelah ini kami akan membawa benjolan ini untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium."
Hamzah mengeluarkan benda pipih berbentuk balok dengan logo bekas gigitan apel dari saku celananya. Kemudian ia mengambil gambar dari benjolan itu beberapa kali dengan kamera handphone. Setelah selesai ia kembalikan kembali benda pipih itu ke dalam saku. "Sudah, dok, terimakasih!," ucapnya.
Dokter menyerahkan cawan yang dipegangnya tadi pada suster. "Ini, sus. Tolong dibawa ke laboratorium untuk diperiksa."
Melihat istrinya tak kunjung dikeluarkan dari ruang operasi Hamzah pun bertanya, "Sekarang bagaimana keadaan istri saya? Kenapa belum dibawa keluar juga?."
"Anda tenang saja. Istri anda baik-baik saja. Hanya saja saat ini belum siuman karena pengaruh obat bius. Kami sedang membersihkan tubuhnya saat ini. Anda bisa menemuinya kembali setelah kami pindahkan ke ruang rawat inap," terang dokter panjang lebar.
Mendengar penjelasan dokter Hamzah bernafas lega. "Alhamdulillah, syukurlah? Terimakasih banyak, dok!."
"Sama-sama! Kalau begitu kami permisi dulu." Dokter pun beranjak meninggalkan Hamzah. Tak berselang lama sebuah brangkar dengan tubuh Larissa diatasnya didorong keluar oleh dua orang perawat. Hamzah turut serta mengikuti di belakang.
Perlahan tubuh Larissa dipindahkan ke ranjang yang ada di kamar rawat inap. Seorang perawat membetulkan letak selang infus, seorang lagi mengecek tekanan darahnya. Usai dengan tugasnya mereka pun pergi.
Setelah kepergian dua perawat tadi Hamzah menyelimuti tubuh Larissa. Namun kemudian ia melihat ada bekas darah yang masih menempel ditubuh istrinya. Ia pun mengambil selembar tisu basah yang ada di atas meja nakas. Dengan cekatan ia bersihkan bekas darah itu dengan penuh kehati-hatian karena khawatir mengenai luka jahitan yang belim mengering.
"Argk...." Terdengar erangan dari bibir Larissa. Sontak Hamzah menghentikan aktivitasnya. "Ada apa sayang? Apa ada yang sakit?," tanyanya penuh kekhawatiran.
"kepalaku pusing sekali, entik. Tubuhku rasanya sakit semua," ucap Larissa. Sebelah tangan memegangi kepala yang terasa berputar. Sedang sebelah lagi meraba bagian dada yang baru saja dioperasi.
"Hati-hati. Nanti jahitannya robek," ucap Hamzah. Dipegangnya tangan sang istri yang berada diatas dada dan menaruhnya kembali disamping tubuh.
"Kepalaku terasa berputar, Entik. Pusing sekali." Kembali Larissa mengeluhkan rasa pusing yang dialaminya.
Dengan penuh kelembutan Hamzah mengusap Kepala sang istri. "Tidak apa. Itu karena pengaruh obat. Nanti kalau pengaruhnya sudah hilang pusingmu juga pasti ikut hilang."
__ADS_1
"Apa kau ingin makan sesuatu? Atau minum barangkali?" tawar Hamzah.
"Tidak, Entik, perutku masih mual. Aku minta teh hangat saja biar pusingku sedikit berkurang," jawab Larissa.
Hamzah mengambil segelas teh hangat yang tersedia diatas nakas. Kebetulan tadi ia baru membelinya sebelum masuk ke ruang rawat. Sengaja karena mengetahui kalau istrinya suka minum teh hangat setelah bangun tidur. Kemudian ia membantu Larissa meminumkan air teh dengan mengangkat sedikit kepalanya. "Hati-hati!," ucapnya.
Larissa meneguk air teh yang disodorkan suaminya. Dan setelah dirasa cukup ia kembalikan lagi air teh itu padanya. "Cukup, Entik!," ujarnya.
Hamzah mengambil gelas berisi teh dari tangan istrinya dan menaruhnya kembali diatas nakas. Kemudian ia merebahkan kembali kepala Larissa dan menyelimuti tubuhnya. "Sekarang kamu istirahat lagi saja. Aku akan menjagamu disini. Kalau butuh apa-apa langsung bilang," ucapnya.
Larissa menganggukkan kepala dan kembali memejamkan mata. Berulangkali ia merubah posisi karena merasa tak nyaman.
Hamzah tak beranjak sedikitpun dari sisi Larissa. Ia duduk diatas kursi plastik yang tersedia disana sambil menggenggam tangan istrinya. Dengan penuh perhatian ia merawatnya. Agaknya ia benar-benar ingin menebus kesalahannya.
Tengah malam dokter datang untuk melakukan pemeriksaan. Hamzah bangkit dari tempat duduk dan sedikit menjauh dari ranjang pasien agar memudahkan dokter menjalankan tugasnya.
"Apa tadi pasien sudah tersadar?," tanya dokter sambil memeriksa tubuh Larissa.
"Apa pasien sudah makan?."
"Belum. Katanya masih pusing dan mual. Dia hanya meminta teh hangat saja."
"Tidak apa. Tapi usahakan saat bangun nanti segera makan. Jangan biarkan perutnya kosong. Dia belum makan apapun sejak tadi."
"Baik, dok! Saya mengerti."
Bertepatan dengan itu dokter telah usai memeriksa tubuh Larissa. "Kondisi pasien baik, semua hasilnya normal," ucapnya memberikan hasil pemeriksaan. Selanjutnya ia menyerahkan selembar amplop pada Hamzah. "Saya sudah mendaftarkan benjolan yang saya tunjukkan pada anda tadi untuk di periksa di laboratorium. Ini surat untuk pengambilan hasilnya nanti. Anda bisa mendapatkan hasilnya seminggu lagi bersamaan dengan waktu kontrol."
"Baik, dok, saya mengerti," jawab Hamzah sambil mengambil surat tadi dari tangan dokter dan menyimpannya di saku jaket.
__ADS_1
"Dari penjelasan saya tadi apa ada yang ingin anda tanyakan?."
Sebuah pertanyaan yang biasa dokter katakan usai memberi keterangan keadaan pasien dokter lontarkan. Namun karena sudah mengerti dengan semua penjelasan tadi Hamzah pun menggelengkan kepala. "Tidak, dok, saya sudah mengerti!," ucapnya.
"Baiklah kalau begitu," ucap dokter. "Oh ya, satu hal lagi. Besok pagi setelah sarapan pasien bisa langsung pulang. Tidak usah menunggu saya, karena kondisi pasien sudah bagus."
"Baik, dok!."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya, dok, terimakasih banyak!."
"Sama-sama!."
Dokter pun berlalu meninggalkan ruang pasien.
...****************...
Subuh-subuh Larissa terbangun. Hamzah segera mengambil nasi bungkus yang baru ia beli tadi. "Kamu makan dulu, ya. Semalaman kan kamu belum makan apapun," ujarnya sambil membuka bungkusan nasi.
Larissa mengangguk setuju karena perutnya memang terasa keroncongan. Namun saat ia hendak mengambil nasi itu dari tangan suaminya ia malah dicegah. "Tidak usah! Biar aku yang suapi kamu."
Larissa tak menolak dan membiarkan suaminya melakukan apa yang diinginkannya. Ia segera membuka mulut saat tangan suaminya menyodorkan sesendok makanan.
Larissa tersentuh dengan perhatian kecil yang diberikan suaminya. Hatinya menghangat hingga tak terasa matanya meneteskan air mata.
Melihat istrinya meneteskan air mata Hamzah pun menghentikan kegiatannya menyuapi sang istri. Dihapusnya air mata yang membasahi pipi mulusnya. "Kenapa menangis? Apa ada yang sakit?" tanyanya.
Larissa menggelengkan kepala sambil memegangi tangan suaminya yang menyentuh pipinya. "Tidak ada," ucapnya. "Terimakasih banyak! tetaplah seperti ini terus."
__ADS_1
Hamzah tersenyum teduh mendengar ucapan sang istri. "Sekarang lanjut makan lagi, ya!."
Larissa mengangguk dan kembali menerima suapan dari suaminya.