Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 35


__ADS_3

"Entik, nanti malam kamu melaut apa nggak?" tanya Larissa saat ia hendak menidurkan anaknya dikamar.


Selama beberapa hari ini Hamzah sudah tidak melaut dengan alasan ada acara di perguruan pencak silat. Walau Hamzah selalu bilang akan melaut usai acara, Larissa tak percaya. Pasalnya Hamzah selalu pulang tengah malam dan langsung tertidur.


Dan sekarang Larissa melihat Hamzah tengah mengasah pisau panjang yang biasa ia gunakan untuk latihan. Wajar jika ia bertanya seperti itu. Ia khawatir Hamzah tidak melaut lagi. Sedang uang yang ia pegang tinggal beberapa lembar.


Selama ini Larissa terpaksa berjualan gorengan keliling untuk menambah uang belanja yang sedikit. Tapi rupanya itu malah dijadikan kesempatan Hamzah untuk bermalas-malasan. Ia berpikir Larissa sudah bisa mencari uang sendiri.


"Iya, tenang saja. Nanti aku malam aku melaut" jawab Hamzah tanpa menoleh sedikitpun dan tetap melanjutkan kegiatannya mengasah pisau.


Walau masih ragu dengan jawaban suaminya, Larissa memilih untuk diam dan segera masuk kamar. Karena bila ia banyak bertanya, yang ada Hamzah malah marah.


Tengah malam Larissa terbangun. ia mendapati suaminya belum juga tidur dan malah asik mengasah pisau. Rencananya menjelang subuh Hamzah baru melaut. Tapi bukankah lebih baik istirahat dulu biar lebih segar saat bekerja nanti.


"Kamu nggak tidur, ta! Ini sudah larut malam loh. Ntar melaut banguninnya susah" tegur Larissa dari dalam kamar. Hamzah mengasah pisau didepan kamar, sedang pintu kamar terbuka. Itu sebabnya Larissa bisa melihat apa yang dilakukan suaminya walau ia berada didalam kamar.


"Iya, bentar lagi, nanggung! tinggal dikit juga" jawab Hamzah.


Larissa tak memperdulikan apa yang dilakukan suaminya dan memilih untuk melanjutkan tidurnya lagi.


Ternyata kekhawatiran Larissa terjadi. Hamzah sangat sulit untuk dibangunkan. Sehingga ia batal melaut hari ini. Entah pukul berapa ia baru tidur semalam.


Larissa kesal, marah, dan kecewa dengan suaminya, tapi ia tak bisa mengungkapkan kemarahannya itu. Padahal ia sudah memberitahu jika uang yang ia pegang tinggal sedikit. Tapi Hamzah malah terlihat tak perduli.


Larissa bangun dan memilih untuk segera membuat gorengan untuk dijajakan. Setidaknya ia bisa mendapat uang dari sana.

__ADS_1


Setelah semua gorengan sudah matang dan ditata ditempatnya, Larissa membawa Fatim ikut serta bersamanya. Ia tidak tega meninggalkan anaknya dirumah, karena fat masih membutuhkan ASI.


Bahu menggendong Fatim, tangan membawa barang dagangan. Larissa melangkah meninggalkan rumah. Ia tak perduli lagi dengan suami. Bahkan ia sengaja tak membuatkan sarapan untuknya, lagipula uang dari mana untuk membuat sarapan.


Larissa berkeliling kampung menjajakan gorengan. Walau capek dan lapar, Larissa tetap semangat berjualan. Menjelang siang barang dagangan tinggal sedikit. Larissa bersyukur karena dari hasil penjualan ini bisa ia gunakan untuk makan.


Kali ini Larissa tidak mau dibodohi lagi. Ia sembunyikan uang hasil jualannya dari Hamzah. Bahkan ia membeli makanan dan langsung memakannya diluar agar tidak ketahuan suaminya. Ia sengaja melakukan itu agar suaminya mengira bahwa ia benar-benar tidak mempunyai uang. Sehingga suaminya mau bekerja lebih giat lagi.


Berbohong memang dosa, apalagi bila dilakukan pada suami. Tapi Larissa terpaksa melakukan hal itu juga. Bukankah berbohong demi kebaikan itu tidak mengapa.


Sebenarnya Larissa memiliki sedikit simpanan dari hasil menjual gorengan. Selain itu, bila malam ia menggantikan ibu melayani pembeli. Dan uang yang dihasilkan bisa ia gunakan untuk dirinya sendiri.


Dari semua yang ia lakukan, ia berhasil mengumpulkan uang sebanyak satu juta rupiah. Rencananya uang itu akan ia gunakan untuk membeli mesin cuci. Sehingga ia tidak terlalu kecapekan lagi.


Siang hari Hamzah baru bangun. Ia langsung pergi ke dapur dan mencari makanan di lemari makanan. Ia sangat lapar, tapi setelah semua lemari ia buka, ia tidak juga menemukan makanan barang sedikit. Karena hari ini Larissa memang sengaja tidak memasak.


Hamzah terlihat marah karena tak berhasil menemukan makanan. Ia langsung menghampiri istrinya yang tengah membantu ibu melayani pembeli di depan.


"Encus, mana makanannya? kenapa kamu tidak memasak?" teriak Hamzah.


"Uang dari mana buat masak? kamu aja beberapa hari ini tidak memberiku uang belanja" jawab Larissa enteng.


Hamzah masuk kembali kedalam rumah. Mukanya merah padam karena menahan amarah yang tidak bisa ia keluarkan. Mungkin malu karena diluar banyak pembeli.


Setelah beberapa saat, Hamzah keluar lagi. Ia membawa kunci motor dan beegegas memacunya. Entah kemana ia akan pergi. Karena ia pergi begitu saja tanpa memberitahu apapun pada Larissa.

__ADS_1


Larissa tak menggubris apa yang dilakukan oleh suaminya. Perlahan ia mulai terbiasa dengan sikap suaminya itu. Walau tak dipungkiri rasa sakit itu masih ada didalam hati karena sikapnya itu.


Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Cepat-cepat ia hapus kembali air mata itu sebelum ada yang melihat. Ia tak mau orang memandang lemah dirinya.


Sedari tadi Bu Ani hanya memandang apa yang terjadi. Ia tak berani ikut campur urusan anak dan menantunya, apalagi bila ada Hamzah dirumah. Tapi setelah melihat Hamzah, ia pun mulai bertanya pada anaknya. "Kenapa kamu nggak masak buat suamimu? Kasihan, suamimu pasti kelaparan."


"Biarin aja dia kelaparan" jawab Larissa kesal.


"Tidak baik wanita bersikap seperti itu. Apalagi membiarkan suaminya kelaparan. Memasak itu adalah tugas seorang istri" ujarnya memberi nasihat. Ia terkesan menyalahkan apa yang dilakukan Larissa.


"Aku tahu itu, Bu. Dan aku sengaja melakukan itu. Aku marah dengannya. Aku hanya ingin membuatnya sadar dengan apa yang sudah ia perbuat."


"Memangnya apa yang dia lakukan?" tanya Bu Ani. Ia masih bingung dengan jawaban yang diberikan anaknya, karena ia sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi.


Larissa pun menceritakan semua kejadian semalam. Bagaimana Hamzah tidak tidur hingga larut malam karena keasyikan mengasah pisau hingga berakhir tidak jadi melaut karena tidak bisa bangun.


"Setelah ibu tahu semuanya, apakah ibu masih juga menyalahkan apa yang kau lakukan?" tanya Larissa setelah selesai menceritakan semua.


Sesaat Bu Ani terdiam, tak mampu. menjawab pertanyaan anaknya. Tapi tak lama kemudian ia mulai membuka suara. "Kalau seperti itu, ibu tidak menyalahkan mu. Ibu setuju dengan apa yang kamu lakukan."


"Setelah mendengar ceritamu, ibu semakin kesal dengan suamimu itu. Hamzah memang laki-laki yang tidak bisa diandalkan. Bisa-bisanya ia bersikap seperti itu. Apa dia tidak bisa berpikir, dia itu sudah punya istri dan anak yang harus ia beri makan. Tanggung jawabnya sebagai suami tidak ada sama sekali" ujar Bu Ani dengan nada kesal.


"Udahlah, Bu. Tidak usah pikirkan dia lagi. Terserah dua mau apa. Kita lanjut aja melayani pembeli" ujar Larissa.


Mereka pun kembali melayani pembeli dan melupakan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


__ADS_2