Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 31


__ADS_3

Fajar mulai menyingsing, cahaya sang mentari mulai menghangatkan bumi. Larissa terbangun dari tidurnya. Selama beberapa hari tak bisa tidur nyenyak, kini ia kembali merasakannya.


Larissa membangunkan suaminya yang masih tertidur diatas kursi disamping ranjangnya dengan posisi membungkuk, kedua tangan ia gunakan sebagai bantal.


Hamzah menggeliat, mengerjapkan mata yang masih sedikit mengantuk, mengumpulkan segenap kesadaran yang masih berserakan saat merasakan tangan lembut sang istri menepuk bahunya. "Ada apa, Cus?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Bangun, Entik, ini sudah pagi" ujar Larissa lembut.


Hamzah menguap sebentar, lalu membenahi posisi duduknya menjadi tegap. "Kamu mau makan, Cus?" tanyanya kembali.


"Iya. Aku sangat lapar!."


Entah kenapa setelah melahirkan, Larissa menjadi cepat lapar. Padahal belum lama ini Hamzah baru selesai menyuapinya.


"Ya sudah. Aku keluar beli makanan dulu, ya!" ucap Hamzah. Ia pun segera berlalu setelah Larissa mengiyakan. Tak berselang lama ia sudah kembali sambil menenteng sebuah kantung kresek berisi dua bungkus nasi uduk.


"Mau aku suapin lagi?" tawar Hamzah sambil mendudukkan dirinya diatas kursi. Larissa mengangguk cepat. Dengan cekatan Hamzah menyuapi Larissa.


"Udah, Entik. Aku udah kenyang" ujar Larissa saat Hamzah hendak menyuapinya untuk yang terakhir kali.


"Tapi ini tinggal dikit lagi loh. Sayang kan kalau dibuang" ujar Hamzah, tangan tetap memegang sendok berisi suapan terakhir.


"Tapi aku udah kekenyangan. Nih, lihat! perutku sampai begah rasanya" ujar Larissa sambil menunjuk kearah perutnya.


Hamzah tersenyum. "Ya udah. aku gitu, kamu minum ini dulu" sambil menyodorkan sebotol air mineral yang tadi dibelinya bersama nasi bungkus.


Larissa menerima botol air mineral tersebut dan meminumnya hingga tersisa setengah. Lalu ia serahkan kembali botol air mineral tersebut kepada Hamzah.


"Kamu nggak makan juga, Entik?" tanya Larissa seusai ia mengelap bibirnya dengan tisu.


"Nanti saja. Aku masih agak kenyang."

__ADS_1


Sesaat keheningan tercipta, tapi tak berselang lama Larissa berbicara kembali. "Entik, antarkan aku ke ruang bayi, yuk!. Aku ingin melihat anak kita."


"Emangnya kamu udah kuat jalan?" tanya Hamzah sambil memicingkan sebelah mata.


"Udah, kok!."


"Beneran?."


"Iya!."


"Ya udah, ayo!."


Larissa turun dari atas ranjang dan melangkah keluar ruangan dibantu oleh Hamzah. Larissa masih sedikit sempoyongan saat berjalan, tapi ia Keukeh untuk melihat bayinya.


Larissa meringis kesakitan saat bekas jahitan di jalan lahirnya kemarin saling bergesekan. "Kamu yakin nggak pa pa?" tanya Hamzah, sedikit khawatir melihat cara jalan istrinya yang tidak biasa yang disertai dengan ringis kesakitan.


"Bekas jahitannya kemarin masih sakit sih. Tapi kalau kebanyakan tidur, tubuhku malah lebih sakit lagi" jawab Larissa.


Hamzah menghela nafas. "Kalau gitu kita jalannya pelan-pelan saja, ya. Sebentar lagi kita juga sampai. Itu ruang bayinya" ujar Hamzah sambil menunjuk ke sebuah ruangan.


Sesampainya disana, Larissa hanya bisa memandang putrinya dari kaca besar dibalik ruangan. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan memasuki ruang bayi selain petugas.


Mata Larissa berkaca-kaca saat melihat tubuh mungil bayinya yang tengah menggeliat, bersama dengan bayi yang lain. Ia masih tak percaya bahwa ia telah berhasil melahirkan sebuah kehidupan baru. "Kita beri nama siapa anak kita, Entik?" tanya Larissa pada suaminya, mata tetap memandang ke arah bayi mungilnya.


"Bagaimana kalau Zahra, Fatimah Az-Zahra?" jawab Hamzah, menyebutkan sebuah nama yang terlintas dipikirannya.


"Zahra? nama yang sangat bagus. Baik, aku setuju."


"Kalau begitu kita sepakat! nama Putri kita Zahra, Fatimah Az-Zahra." Mereka pun tersenyum bersama.


Setelah beberapa lama, Hamzah mengajak Larissa untuk kembali keruanganya. "Kita balik, yuk! Kamu masih harus istirahat yang banyak biar cepat pulih." Larissa mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Ditengah jalan, Larissa bertemu dengan Bu Ani yang ingin melihat cucunya. Larissa pun memberitahukan keanehan yang terjadi pada dirinya. "Bu, aku baru saja selesai makan, tapi perutku rasanya masih lapar aja. Terus jalanku juga sempoyongan. Kira-kira kenapa ya, bu?."


Sejenak Bu Ani berpikir, tapi kemudian ia bertanya,"Kamu pake korset, nggak?"


"Enggak, Bu. Aku lupa nggak bawa dari rumah" jawab Larissa menggelengkan kepala.


"Ya udah nggak pa pa. Untuk sementara kami pake tali anggas aja dulu," ujar Bu Ani. "Kamu masih pake tali anggas mu, kan?."


Tali anggas adalah selembar kain tipis yang dililitkan diantara batas perut atas dan bagian dada. Menurut kepercayaan masyarakat tradisional, tali ini berfungsi agar bayi tidak terlalu menekan bagian dada saat seorang wanita hamil sedang duduk. Sehingga wanita tersebut tidak kesulitan untuk bernafas. Tali ini biasa dipakai saat kehamilan memasuki usia lima bulan.


Larissa menjawab pertanyaan ibunya dengan menggelengkan kepala. "Tidak Bu, aku tidak memakainya."


"Astaga! kamu ini bodoh sekali. Pantas saja jalanmu sempoyongan begitu, lah wong kamu nggak pake tali anggas " ujar Bu Ani sambil menepuk jidatnya.


"Mana aku tahu, Bu. Aku kira setelah melahirkan, tidak usah mengikat tali anggas lagi!" jawab Larissa polos.


Bu Ani tersenyum mendengar jawaban polos dari putrinya. Maklum ini memang hak baru baginya. "Tali anggas itu masih terus dipakai walau kamu sudah melahirkan. Bahkan terus dipakai sampai kamu selesai masa nifas," terang Bu Ani. "Tali anggas juga berfungsi untuk menstabilkan tubuh yang mendadak berubah. Coba kamu pikir! Perut kamu awalnya membawa beban berat, lalu tiba-tiba kosong karena melahirkan, tentu saja tubuh jadi kehilangan keseimbangan."


Larissa manggut-manggut mendengar penjelasan ibunya. Banyak hal baru yang belum ia mengerti seputar hamil dan melahirkan menurut ilmu kuno. Larissa berjanji akan lebih banyak belajar lagi pada ibunya. Apalagi tentang cara mengasuh bayi. Ini semua adalah hal baru baginya.


"Kalau begitu aku kembali ke ruanganku dulu, Bu" pamit Larissa setelah beberapa saat berbincang.


"Iya. Jangan lupa, pakai lagi tali anggasnya" peringat Bu Ani.


"Iya, Bu." Larissa pun berlalu bersama suaminya, sedang Bu Ani meneruskan langkah untuk melihat cucunya.


Sesampainya di ruangan, Larissa segera memakai tali anggas seperti yang dikatakan ibunya tadi. Dan memang benar, setelah ia memakai tali anggas tersebut, ia tak lagi sempoyongan saat berjalan. Tubuhnya pun tak lagi merasa letih dan lesu seperti tadi.


Pintu terbuka, Iqbal masuk kedalam ruangan. Ia berjalan menghampiri adiknya. "Rissa, kakak mau pulang ke rumah dulu. Kakak mau membereskan jaring yang berserakan kemarin" pamitnya.


"Iya, kak, nggak pa pa," jawab Larissa. "Oh, ya, tolong sampaikan pada mertuaku, barangkali mereka mau kesini. Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang."

__ADS_1


Semalam saat dipindahkan ke ruang perawatan, Larissa memang sudah diberi tahu jika hari ini sudah boleh pulang, hanya waktunya yang belum pasti. Menunggu pemeriksaan terakhir dokter.


"Iya, nanti aku sampaikan!." Iqbal pun berlalu meninggalkan rumah sakit, sedang Larissa masih menunggu dokter melakukan pemeriksaan terakhir.


__ADS_2