Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 54


__ADS_3

"Mana buku nikah ku? cepat! berikan padaku" ucap Hamzah dingin. Ia mengatakan semua itu seakan tak ada lagi rasa cinta yang tersisa di hati untuk wanita yang telah bertaruh nyawa saat melahirkan anaknya dulu.


Tenggorokan Larissa tercekat, tak mampu mengatakan sepatah katapun saat mendengar Hamzah mengatakan hal itu.


Selama ini Larissa lah yang menyimpan semua dokumen-dokumen penting, termasuk buku nikah mereka. Hamzah sendiri lah yang memintanya untuk menyimpan saat mereka pertama kali dinyatakan sah sebagai sepasang suami istri.


Hamzah juga telah berjanji tidak akan mengatakan apapun yang menyinggung tentang perceraian. Tapi hari ini Hamzah telah melanggar janjinya dengan menanyakan perihal buku nikah mereka, dan ia sangat tahu apa arti dibalik perkataannya itu.


Larissa berlari secepat kilat ke kamar dan mengambil buku nikah mereka. Lalu ia menghampiri suaminya kembali dan melemparkan buku nikah tersebut ke hadapan suaminya. "Ini, ambillah!" teriaknya.


Hamzah mengambil buku nikah yang berserakan didekat kakinya tanpa mengatakan sepatah katapun. Kemudian ia memasukkannya kedalam tas besarnya. Lalu ia melangkah pergi.


"Kau mungkin berpikir aku akan mengalah dan memohon padamu untuk tidak menceraikan ku seperti yang selalu aku lakukan selama ini. Tapi maaf! kau salah besar jika berpikir seperti itu," ucap Larissa. Sebuah senyuman miris tersungging di bibirnya. Di sekanya air mata yang membasahi pipi "Aku katakan sekali lagi, kau salah besar bila berpikir seperti itu. Ancaman mu tidak mempan lagi padaku."


Hamzah menghentikan langkah mendengar ucapan Larissa. Ia melirik sekilas tanpa mau membalikkan badan. Lalu sebuah senyuman miris pun tersungging di bibirnya. "Apa kau yakin dengan ucapanmu?."


"Ya! aku sangat yakin. Bila perlu, urus saja secepatnya" jawab Larissa mantap.


Sesaat suasana berubah hening. Tidak ada yang mau membuka suara. Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


Larissa tergugu dalam diam, hanya air mata yang mampu mengungkapkan betapa ia tak ingin semua ini terjadi.


Hati Larissa hancur berkeping-keping mendapati kenyataan mereka akan segera bercerai. Rasanya baru kemarin mereka merasakan kebahagiaan. Tapi kini, kebahagiaan itu telah direnggut darinya. Seolah kebahagiaan tak betah hinggap terlalu lama padanya.


"Selama ini aku mengalah dan memilih untuk tetap bertahan hanya demi anak kita. Kehilangan kasih sayang dari kedua orangtua adalah hal yang menyakitkan, dan aku tidak ingin Fatim merasakan apa yang aku rasakan saat kecil dulu. Tapi sayangnya kau tidak sepemikiran denganku" ucap Larissa. Ia tidak tahan dengan kebisuan yang tercipta hingga ia memilih untuk membuka suara lebih dulu.


"Sebuah hubungan tidak akan mampu bertahan jika hanya salah satu pihak saja yang mencoba memahami. Dan sekarang aku sudah lelah bila harus selalu mengalah."


"Aku masih muda dan sehat. Aku masih kuat untuk bekerja. Aku yakin, aku mampu menghidupi anakku walau hanya seorang diri."


"Satu hal yang aku sesalkan, kenapa kita harus berpisah dengan cara seperti ini," Larissa menghela napas, tapi kemudian ia melanjutkan ucapannya kembali. "Bila memang kita harus berpisah, aku akan mencoba untuk ikhlas menerimanya. Setidaknya aku sudah berusaha untuk mempertahankan pernikahan kita, jadi aku tidak perlu bingung bagaimana menjelaskan pada anak kita nantinya. Aku yakin, kelak setelah Fatim dewasa, ia pasti mengerti dengan keputusanku ini."


"Kalau kau masih bersikukuh ingin pergi dari rumah ini, maka silahkan! Aku tidak akan mencegahmu lagi."


Setelah mengatakan semua isi hatinya, Larissa segera masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia sudah sangat lelah. Lelah hati, lelah pikiran, lelah jiwa, dan lelah raga. Ia hanya ingin mengistirahatkan tubuh dan sejenak melupakan semua yang sudah terjadi. Walau ia tahu, tidak akan mudah baginya untuk melupakan semuanya.


Hamzah hanya diam membisu mendengar semua ungkapan hati istrinya. Ia pikirkan dengan baik setiap perkataan yang terucap dari bibir wanita yang mampu membuatnya merasakan indahnya jatuh cinta itu. Dan saat Larissa telah berlalu, ia pun tertegun, seakan baru menyadari apa yang telah ia lakukan.


Hamzah menjatuhkan tas besarnya diatas lantai. Bersamaan dengan itu, ia pun menjatuhkan dirinya pula. Ia duduk sambil memeluk kedua lututnya. Air mata berderai, seakan menyesali kesalahan yang telah ia perbuat.

__ADS_1


Bu Ani yang menyaksikan semua kejadian tadi tak berani menampakkan diri, apalagi melerai pertengkaran mereka. Ia memilih untuk bersembunyi didalam kamarnya saat mendengar suara jeritan Larissa tadi.


Sebenarnya ia merasa khawatir akan keselamatan anak dan cucunya. Tapi rasa takut saat melihat kemarahan Hamzah telah mengalahkan kekhawatirannya.


Sementara itu didalam kamar, Larissa tak jua mampu memejamkan mata. Air mata terus berderai membasahi wajah tanpa mampu ia hentikan.


Entahlah, mungkin ia memang sengaja menumpahkan semua air mata untuk menghilangkan beban derita yang selam ini ia pendam. Tapi Larissa berjanji, ini adalah kali terakhir ia menumpahkan air mata. Karena esok, saat matahari mulai menyapa bumi, ia tidak akan menumpahkan air mata lagi. Ia bertekad akan menjadi wanita yang lebih kuat lagi.


Sebenarnya Hamzah adalah lelaki yang baik. Ia sangat mencintai Larissa dan menyayangi anaknya. Jika memang ia lelaki yang kejam, maka ia tidak akan mau membela Larissa mati-matian dan bahkan siap mengorbankan nyawa saat Larissa disakiti keluarganya.


Namun satu hal yang membuat Hamzah terlihat sangat buruk di mata semua orang, yaitu ketidakmampuannya untuk mengendalikan amarah. Dan saat ia telah dikuasai oleh amarah, maka ia tidak bisa membedakan mana yang lawan dan mana yang kawan.


Mungkin ini adalah pengaruh dari pergaulannya dulu di jalanan yang terkenal sangat keras. Apalagi ia dulu juga sering meminum minuman keras. Sehingga sifat pemarahnya masih berbekas sampai sekarang.


Tapi sebenarnya semua ini tidak sepenuhnya salah Hamzah, Larissa pun turut bersalah dalam hal ini. Ia tidak bisa memahami dan tidak mengerti bagaimana cara menghadapi Hamzah saat ia tengah dikuasai oleh amarah.


Mungkin semua ini karena mereka menikah di usia yang tergolong masih sangat muda. Sehingga mereka sama-sama memiliki ego dan amarah yang besar. Apalagi adanya pihak yang suka mengadu domba keduanya.


Mungkin semua itu tidak perlu terjadi andai mereka mau terbuka satu sama lain. Namun sayangnya komunikasi diantara mereka tidak terjalin dengan baik.

__ADS_1


Entahlah, biarlah waktu yang menjawab semuanya. Bukankah waktu selalu mengajarkan banyak hal pada kita. Semoga kan ada jalan yang baik untuk menyelesaikan permasalah diantara mereka. Sehingga mereka tidak perlu bercerai. Karena dalam perceraian, anaklah yang selalu menjadi korban.


__ADS_2