Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 111


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain....


Hamzah merasakan firasat tak enak saat mendung menaungi langit sore itu. Ia merasa ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Namun ia tahu apa itu. "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak? Apa aku pulang ke rumah lagi saja?" batinnya dalam hati.


Hamzah memberesi barang-barangnya dan hendak turun dari perahu, namun tiba-tiba perahu bergerak menjauhi dermaga. "Astaga! Perahu sudah berangkat," ucapnya dalam hati. "Semoga tidak terjadi apa-apa dengan anak dan istriku di rumah."


Selama dalam perjalanan menuju laut lepas, hati Hamzah terus merasa tak tenang. Bayang-bayang wajah Larissa terus saja mengganggu pikiran.


Malam mulai menghiasi langit, bersanding dengan bulan dan bintang yang menampakkan diri dengan malu-malu dibalik awan hitam. Hamzah beserta kru perahu telah tiba di lokasi tujuan. Namun pikiran Hamzah belum juga tenang. Bahkan saat jaring mulai dilempar, ia masih saja tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hingga kemudian tiba-tiba angin berhembus kencang dan akhirnya....


Wessss...


Sreet....


Brakkk....


Hamzah terjungkal kebelakang. Ia merasa ada sesuatu yang menarik tubuhnya dengan cepat ke belakang.


Ciiiit....


"Hei, kalau kerja yang bener. Jangan ngelamun terus!" umpat salah satu temannya.


"Maaf....maaf, aku sedang banyak pikiran tadi!" ucap Hamzah dengan menangkupkan tangan di depan dada. Deru nafas berpacu kencang setelah lolos dari maut yang hampir merenggut nyawanya.


Saat angin berhembus kencang tadi, tanpa sadar kain sarung yang Hamzah kalungkan dilehernya ikut diterbangkan angin dan membelit di mesin gardan. Karena pikirannya sedang pecah kemana-mana, membuatnya tak menyadari hal itu. Untung tadi ada salah satu kru perahu yang melihat dan langsung mematikan mesin gardan sehingga kecelakaan maut bisa dihindari. Andai tadi terlambat satu detik saja, mungkin saat ini tubuh Hamzah terlempar ke tengah laut dengan kondisi kepala terpisah dari tubuhnya.


Teman yang lain berjalan mendekati Hamzah. Ditangannya membawa segelas air mineral. "Minumlah air ini dulu biar kamu bisa tenang," ucapnya. Disodirkannya gelas yang dibawanya tadi pada Hamzah.


Hamzah menerima gelas tersebut dan meminum isinya. Dalam sekejap air minum itu telah tandas tak bersisa. "Terimakasih banyak!," ucapnya.

__ADS_1


"Lain kali lebih berhati-hati lagi. Kita ini bekerja ditengah laut. Banyak bahaya yang menanti kalau kita tidak waspada."


"Iya, lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi!."


"Kamu beruntung karena masih diberi keselamatan. Jarang ada orang yang bisa selamat saat tertarik oleh mesin gardan. Andai tadi orang lain yang ada di posisismu, mungkin saat ini dia tinggal mayat.


Hamzah mengangguk dan tersenyum. Dalam hati mengucap ribuan kata syukur."


"Ya sudah! Sekarang kita lanjut kerja lagi. Nggak enak sama yang lain kalau kita ngobrol terus."


Hamzah mengangguk dan bersiap untuk kembali bekerja. Dibuangnya segala macam pikiran buruk yang mengganggunya tadi.


Mesin gardan kembali dihidupkan. Jaring juga telah ditebar di laut. Kini semua kembali disibukkan dengan tugas masing-masing.


...****************...


Hari mulai pagi, Hamzah pulang dari melaut. Insiden semalam telah terlupakan olehnya karena hasil tangkapan mereka sangat bagus.


Tetangga di depan rumah yang melihat Larissa di bawa ke puskesmas semalam langsung mendatanginya saat melihat kedatangannya dan mengabarkan bahwa istrinya jatuh sakit dan dilarikan ke puskesmas.


Tubuh Hamzah lemas seketika begitu mendengar kabar itu. "Ya Allah, inikah arti dari semua firasat buruk yang aku rasakan sejak kemarin sore?."


Tanpa membuang banyak waktu, Hamzah menyambar handuk yang digantung di halaman belakang dan bergegas mandi secepat mungkin. Setelah selesai ia langsung menghidupkan mesin motor dan memacunya sekencang-kencangnya. Tujuannya hanya satu, segera sampai di puskesmas dan melihat langsung kondisi sang istri.


Hamzah tak menghiraukan rasa penat yang menggelayuti tubuhnya sedari tadi. Bahkan suara cacing yang terus berdemo sejak perahu baru merapat di dermaga pun tak ia hiraukan. Ia sangat panik, khawatir akan kondisi sang istri.


Setibanya di sana Hamzah mencari tahu dimana letak kamar rawat sang istri di resepsionis. Dan setelah mendapatkan nomor kamarnya, ia berlari sekencang-kencangnya menuju ke sana.


Brakkk....suara pintu terbuka

__ADS_1


"Larissa!!" pekik Hamzah. Nafas berderu kencang akibat berlari tadi.


Larissa yang saat itu baru memejamkan mata usai dokter datang memeriksa dirinya pun terkejut mendengar suara pekikan sang suami yang disertai dengan pintu terbuka keras.


"Entik! Akhirnya kau datang juga," pekik Larissa pula. Perasaan bahagia menyelimuti hatinya disertai dengan derai air mata begitu melihat sang suami berdiri di ambang pintu.


Hamzah berlari menubruk Larissa. Didekapnya tubuh sang istri erat-erat seakan tak mau berpisah. "Kenapa kau baru datang sekarang?," tanya Larissa lirih.


"Maafkan aku karena tak ada disampingmu saat kau membutuhkanku. Aku langsung ke sini begitu mendengar kau dirawat tadi" ucap Hamzah disertai dengan derai air mata, menggambarkan betapa cemasnya ia saat ini.


Larissa mengeratkan pelukan mereka. "Aku tidak menyalahkanmu! karena ini memang bukan salahmu."


Pelahan Hamzah melepaskan pelukan setelah puas meluapkan perasaan. "Bagaimana ceritanya sampai kau bisa seperti ini? Bukankah saat aku tinggal kemarin kau baik-baik saja?," tanyanya beruntun.


"Aku juga tidak tahu. Tapi kata dokter luka bekas operasiku mengalami infeksi."


"Infeksi? bagaimana mungkin? Bukankah luka operasimu hampir mengering kemarin?" mengernyitkan dahi bingung.


Larissa mengedikkan bahu. "Aku juga kurang tahu! katanya aku alergi makanan. Tapi seingatku, sejak kecil aku tidak alergi terhadap makanan apapun."


Hamzah menghela nafas berat. "Ya sudah, tidak usah terlalu dipikirkan. Yang penting sekarang kau sudah mendapat penanganan dokter. Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana kondisimu saat ini? Apa masih ada yang terasa sakit?."


Larissa menggelengkan kepala. "Tidak! Aku merasa sudah lebih baik sekarang. Hanya saja tubuhku terasa gerah. Maukah kau membantuku untuk ganti baju? Aku kesulitan ganti baju sendiri dengan satu tangan tertancap selang infus seperti ini" rengeknya manja.


Hamzah tersenyum melihat rengekan manja sang istri, namun ia sangat menyukai rengekannya itu. "Ya sudah, ayo aku bantu!."


Hamzah membantu melepas pakaian yang dikenakan Larissa. Namun saat matanya melihat payudara istrinya yang kemerahan seperti habis terbakar pun memekik keras. "Astaga, Larissa! Kenapa payudaramu bisa memerah seperti ini?."


Larissa turut memperhatikan perubahan warna di ***********. Dan seperti halnya Hamzah yang terkejut saat melihatnya, ia pun sama terkejutnya saat melihatnya sendiri. "Astaga! Aku juga baru mengetahui kalau payudaraku sememerah ini."

__ADS_1


Semalam perawat memang sudah memberitahukan kondisinya. Namun karena tubuhnya yang lemah membuatnya tak terlalu memperhatikan perubahan warna di *********** itu.


Hamzah segera memakaikan baju baru ke tubuh Larissa. Dan setelah usai, ia mendudukkan tubuh sang istri di pinggir ranjang dan menanyainya, "Coba sekarang kau ingat-ingat kembali, apa saja yang kau makan kemarin?."


__ADS_2