
Hamzah memang berulang kali membuat Larissa sakit hati dan kecewa. Tapi sedikitpun tak pernah terbersit dalam benak Larissa untuk berpisah darinya. Baginya, pernikahan cukup sekali. Dan dia akan berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.
Walau tak dipungkiri, Larissa juga kerap merasa ragu jika Hamzah memang benar-benar jodoh terbaik yang dikirimkan Allah untuknya. Mengingat selama ini Hamzah selalu membuatnya meneteskan air mata.
Dulu sebelum menikah dengan Hamzah, Larissa pernah sekali berpacaran dengan seorang pemuda yang berasal dari kota Pasuruan. Pemuda itu masih keponakan dari salah satu kyai disebuah pondok pesantren disana. Ia juga memiliki harta warisan dari kakeknya yang jumlahnya sangat banyak.
Awal perkenalan dengan pemuda itu, Larissa hanya menganggapnya sebatas teman. Tapi lambat-laun perasaan suka itu pun muncul juga. Terlebih pemuda itu selalu memperlakukannya bak seorang putri.
Setelah sekian lama menjalin hubungan, Larissa pun memperkenalkan pemuda itu pada ibunya. Dan ibunya pun setuju dengan pilihannya. Tapi sayangnya orangtua si pemuda itu yang merestui hubungan mereka. Akan tetapi pemuda itu tidak menyerah. Ia berjanji pada Larissa akan memperjuangkan cinta mereka.
Akan tetapi, janji pemuda itu hanyalah sebuah janji manis semata. Karena pada suatu hari pemuda itu tiba-tiba memutuskan hubungan mereka secara sepihak melalui telepon. Dengan tidak berperasaan, pemuda tersebut membandingkan Larissa dengan wanita lain yang baru ia kenal.
Dicampakkan begitu saja oleh sang pemuda tak membuat Larissa patah hati atau bersedih. Setetes air mata pun tak keluar dari matanya. Bahkan ia bersyukur, karena mengetahui bagaimana sifat asli pemuda tersebut sebelum terlanjur melangkah lebih jauh.
Saat itu Larissa pun berdoa, "Ya Allah, aku tidak meminta jodoh tampan atau kaya. Aku hanya menginginkan jodoh yang bisa mengerti diriku dan bisa aku jadikan sebagai panutan."
Itulah sebabnya saat ia bertemu dengan Hamzah, ia setuju untuk menikah dengannya karena terpikat dengan kejujuran yang ditunjukkannya. Ia berpikir mungkin Hamzah adalah jodoh yang dikirimkan Allah untuknya. Tapi entah kenapa, setelah mereka menikah dan memiliki anak, sikap Hamzah pun berubah. Bahkan Larissa kerap tidak bisa mengenali siapa dirinya.
Entahlah, rasanya sangat pusing bila memikirkan hal itu. Tapi tak mungkin juga bila ia harus mundur dari pernikahan ini. Karena dalam hal ini, anaklah yang akan menjadi korban bila kedua orangtuanya bercerai. Ia tak ingin anaknya tumbuh tanpa kedua orangtua yang lengkap seperti dirinya.
Larissa hanya bisa berharap, semoga Allah membukakan pintu hati Hamzah. Dan semoga ada jalan yang bisa membawanya kembali menjadi sosok Hamzah yang dulu ia kenal. Hamzah yang begitu penyayang dan perhatian dengan dirinya.
Selain itu, Larissa mencoba untuk tetap bersabar menghadapi sikap suaminya. Bukankah kesabaran itu tidak ada batasnya. Manusia sendirilah yang memberi batasan pada kesabaran itu. Larissa ingin menjadi pribadi yang lebih sabar lagi. Walau tak dipungkiri hal itu pasti sangat sulit. Karena berbicara tidaklah semudah membalik telapak tangan.
Pagi ini seperti biasa, Larissa pergi ke warung yang berada tidak jauh dari rumahnya untuk membeli beras. Tapi saat ia hendak kembali kerumah, seorang tetangga jauh yang bernama Mbak Ida menghentikan langkahnya. "Rissa, kesini sebentar!."
Larissa pun mengurungkan niatnya kembali kerumah dan menghampiri wanita yang memanggilnya tadi. "Ada apa, mbak?" tanyanya saat tiba dihadapan Mbak Ida.
__ADS_1
"Nama panjang mu siapa?" ujar Mbak Ida bertanya balik.
"Larissa!" jawabnya. Sehari-hari ia memang biasa dipanggil Rissa. Sedang nama panjangnya adalah Larissa.
"Apa didepan nama itu tidak ada nama lain lagi?" tanyanya lagi.
"Tidak! hanya itu saja," jawab Larissa keheranan. memangnya ada apa, Mbak?."
"kok aneh, ya! kemarin katanya nama depan mereka sama" gumamnya. Walau ia berbicara sangat pelan, tapi Larissa masih bisa mendengar apa yang dia katakan.
"Memangnya ada apa, Mbak." Larissa mengulang kembali pertanyaannya tadi karena Mbak Ida tak kunjung memberi jawaban.
"Ah, tidak, tidak ada apa-apa" jawabnya bohong. Tapi sepertinya ia masih penasaran dengan sosok Larissa. Terbukti ia kembali bertanya, "Nama ayahmu siapa?."
Larissa semakin bingung tiba-tiba ditanya seperti itu. Akan tetapi ia tetap menjawab pertanyaan itu juga. "Nama ayahku Furqon!."
Larissa terkejut mendengar penuturan wanita tersebut. "Mbak Ida mengenal ayahku?" tanyanya. Matanya membulat sempurna saking terkejutnya.
"Aku tidak begitu mengenal ayahmu. Tapi aku sangat mengenal adik dari ayahmu. Anak dari bibi mu adalah teman anakku. Dia sering bercerita tentangmu saat kami sama-sama menunggu disekolah."
Larissa semakin terkejut mendengar pengakuan dari mbak Ida. "Ja...jadi, mbak Ida benar-benar tahu tentang ayah!" ujarnya terbata-bata. Ia tak menyangka akan mengetahui hal ini secara tiba-tiba.
"Bisa dikatakan begitu!."
"Mbak Ida mau, nggak mengantarku ke rumah saudara ayah?. Aku ingin tahu siapa dan dimana keluarga ayahku berada. Aku juga ingin tahu kenapa ayah tidak pernah menemuiku" ujar Larissa penuh harap.
"Tentu saja! Dengan senang hati aku akan mengantarmu kesana. Sebenarnya rumahnya tidak terlalu jauh dari sini" jawab Mbak Ida.
__ADS_1
"Kapan kita kesana, Mbak?" tanya nya antusias.
"Besok lusa, tepatnya Minggu pagi. Datanglah ke rumahku usai kau memasak. Aku akan mengantarmu kesana. Kebetulan aku tidak ada kegiatan hari itu."
"Terimakasih banyak, Mbak. Lusa aku akan ke rumah Mbak." Sorot mata Larissa terlihat berbinar-binar. Ia tidak sabar menantikan hari itu tiba. Banyak hal yang ingin ia tanyakan saat disana nanti.
Gegas Larissa kembali kerumah dan menyelesaikan pekerjaan rumah. Kali ini ia mengerjakan semua dengan riang gembira.
Larissa memilih untuk tidak menceritakan hal ini pada ibunya. Karena ia tahu bila ia menceritakannya, maka ibunya pasti tidak setuju dengan rencana ini dan melarangnya pergi kesana. Itulah mengapa ia menyimpan rencana ini untuk dirinya sendiri.
Akan tetapi Larissa tidak bisa menyembunyikan apapun dari suaminya. Ia menceritakan semua yang terjadi tadi pagi padanya. Ia juga menceritakan perihal rencana itu.
Akan tetapi tanggapan Hamzah ternyata tidak sesuai dengan harapan Larisaa. "Aoa kau sudah gila! Bagaimana reaksi ibumu kalau dia sampai tahu akan hal ini?" teriaknya.
"Aku tahu itu. itulah sebabnya aku tidak memberitahukan hal ini padanya."
"Apa kau ingin menyakiti hati ibumu dengan pergi ke rumah keluarga ayahmu?."
"Aku sama sekali tidak berniat menyakiti hati ibu. Tapi aku tidak mempunyai cara lain untuk mengetahui semua rahasia yang ibu sembunyikan dariku selama bertahun tentang sosok ayah kandungku. Aku hanya ingin tahu tentang ayah. Hanya itu tujuanku!."
"Kau tidak tahu bagaimana rasanya dicemooh orang karena tidak tahu tentang ayah kandungnya. Bahkan aku disangka sebagai anak haram karena hal itu. Dan itu sangat menyakitkan."
Sejenak Hamzah terdiam mendengar ucapan Larissa. "Terserah apa maumu. Aku tidak akan menghalanginya. Tapi satu hal yang perlu kau ingat!. Aku tidak mau tanggungjawab seandainya ibumu tahu tentang hal ini."
"Kau tenang saja. Biar aku yang menanggung akibatnya. Aku akan mencari cara untuk menjelaskan pada ibu tentang semua ini. Tapi itu nanti, setelah aku mendapatkan jawaban dari semua pertanyaanku selama ini" jawab Larissa mantap.
Hamzah tak mau berdebat lagi dengan Larissa karena hal ini. Ia memilih diam dan membiarkan apa yang menjadi keinginan istrinya.
__ADS_1