Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 62


__ADS_3

Agaknya masalah yang menimpa Larissa tidak akan pernah ada habisnya. Setiap hari ada saja masalah yang datang. Dan sialnya masalah itu bukan hanya dari ibu dan saudaranya saja, tapi juga dari tetangga sebelah rumah. Mereka kerap memancing keributan dan memancing masalah dengannya.


Tidak ada asap bila tidak ada api. Peribahasa ini agaknya pas untuk menggambarkan sikap tetangga sebelah rumah tersebut. Dan sayangnya lagi-lagi penyebab dari masalah itu adalah Hamzah, suami Larissa sendiri.


Semua itu dikarenakan sebuah kesalahpahaman dan keegoisan kedua belah pihak. Sehingga masalah sepele berubah menjadi besar dan merambat kemana-mana. Dan masalah itu muncul jauh sebelum hubungan Larissa dan ibunya memburuk. Lebih tepatnya saat putri Larissa masih berusia beberapa bulan.


Masalah itu bermula disuatu siang. Saat itu terik matahari bersinar sangat panas. Ditambah tak ada hembusan angin sama sekali. Hingga membuat udara panas terasa begitu membakar kulit.


Sudah beberapa hari Farah, tetangga sebelah rumah tidak pulang ke rumahnya. Tapi siang itu tiba-tiba ia pulang bersama dengan Keysa, putrinya yang baru berusia delapan tahun. Mereka hanya tinggal berdua karena suami Farah pergi merantau ke negeri seberang.


Sejauh ini tidak ada masalah dengan kedatangan mereka. Tapi kemudian Keysa memutar musik dengan sangat kencang. Begitu kencangnya suara musik tersebut, bahkan suaranya mengalahkan suara speaker orang punya hajatan.


Hamzah yang saat itu tengah mencoba tidur siang setelah capek semalaman melaut pun merasa terganggu. Ia pun segera bangkit dari tempat tidur dan melongok keluar. "Woi, kecilin dikit suara musiknya. Ada orang lagi istirahat siang," teriaknya. Lalu ia masuk kembali ke kamar dan mencoba memejamkan mata lagi.


Suara musik terdengar sedikit dikecilkan, tapi hal itu tak berlangsung lama. Malahan kali ini suara musiknya terdengar jauh lebih keras dan memekakkan telinga.


Merasa sudah memberi peringatan secara baik-baik sebelumnya tapi tak diindahkan Hamzah pun tersulut emosinya. Ia pergi ke arah dapur dan mengambil sebuah piring. Lalu dibawanya piring tersebut keluar rumah dan dilempar kearah rumah Farah.


Pyarrr......

__ADS_1


"keluar sini kalau kau berani!" teriaknya. Kemudian ia masuk kembali kedalam rumah.


Piring pun pecah berserakan tepat disamping pintu rumah Farah. bersamaan dengan itu suara musik pun berhenti. Larissa yang sedari tadi memilih tutup telinga dan tak menghiraukan suara keras musik tadi, lalu memutuskan untuk menidurkan anaknya pun terkejut saat mendengar suara pecahan itu.. Ia pun segera keluar dan melihat apa gerangan yang terjadi.


Alangkah terkejutnya Larissa saat mengetahui semuanya. Ia melihat ibunya tengah membereskan pecahan piring yang dilempar Hamzah tadi sambil mengeluarkan sumpah serapah yang ditujukan pada menantu lelakinya tersebut. "Dasar biang onar! Buat apa mecahin piring segala. Diam aja kenapa? Nggak usah bikin keributan."


Emang dasarnya Hamzah yang keras kepala dan tak mau mengalah. Mendengar sumpah serapah dari ibu mertua, bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, ia malah memandangi apa yang ibu mertua lakukan sambil menyunggingkan senyuman mengejek. Sedang Larissa hanya bisa diam terpaku melihat semua kejadian itu. Ia tak berani menegur suaminya karena takut terkena amarah Hamzah bila ia melakukannya.


Masalah tak berhenti sampai disitu. Karena tiba-tiba Farah, sang pemilik rumah keluar. Ia yang melihat Bu Ani tengah membersihkan pecahan piring yang berserakan didepan rumahnya pun kebingungan. "Buat apa kamu repot-repot bersihin rumahku. Biarin saja! Aku tidak suka melihatmu menginjakkan kaki di rumahku," ucapnya dengan nada menyebalkan.


Bu Ani yang sedang marah dengan kelakuan Hamzah tadi pun bertambah emosi begitu mendengar kata-kata yang diucapkan Farah. "Aku tahu kamu orang kaya, rumah kamu bagus. Aku juga tidak mau mengotori rumahmu dengan menginjakkan kaki disini," jawabnya sarkastik. "Kalau bukan karena Hamzah yang melempar piring ini, tak sudi aku berada disini!."


"Aku juga tidak tahu, Bu. Tadi tiba-tiba ada suara pecahan piring" jawab Keysa dengan gemetar ketakutan. Ia yang sedari tadi sudah ketakutan semenjak mendengar suara pecahan piring pun semakin takut melihat ekspresi marah ibunya.


Mendengar suara adu mulut antara Bu Ani dan Farah, Hamzah gegas keluar rumah. "Aku yang melempar piring itu! Kenapa? Tak suka? Sini kau kalau tak terima," ucapnya tanpa rasa takut sedikitpun.


Mendengar pengakuan Hamzah, Farah pun semakin marah, "Heh bangsat, berani sekali kamu melempar piring ke rumahku. Tunggu saja, aku akan bikin perhitungan denganmu!."


Setelah berkata berkata begitu, Farah pun masuk kembali kedalam dan mengambil handphonenya. Tak berselang lama terdengar suara Farah tengah berbicara dengan suaminya dan mengadukan kejadian tadi.

__ADS_1


Tak hanya menghubungi suaminya yang tengah berada di rantau orang, Farah juga memghubungi beberapa teman-teman dan juga keluarganya. Mencari pendukung bukanlah hal yang sulit baginya, karena ia termasuk orang kaya baru dikampungnya setelah beberapa lama merantau di negeri seberang bersama suaminya.


Mendengar suara Farah yang tengah mengobrol ditelepon, Hamzah menyunggingkan senyum sinis. "Silahkan hubungi siapa saja sesuka hatimu. keluarkan semua pendukungmu. Aku akan hadapi mereka semua. Bahkan aku maju sendirian pun tak masalah."


Bila Hamzah sudah berkata seperti itu, maka bisa dipastikan tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Dan hal yang lebih buruk bisa saja terjadi.


Menyadari hal itu, Bu Ani memutar otak mencari cara untuk mengantisipasinya. Tak berselang lama ia bergegas keluar rumah. "Larissa, kamu di rumah dulu! Jagain dagangan ibu. Ibu mau ke rumah mertuamu," ucapnya sebelum meninggalkan rumah.


"Iya, Bu!" jawab Larissa.


Larissa menunggu dengan harap-harap cemas. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu kembalinya sang ibu dari rumah mertuanya. Ia hanya bisa ia berharap semoga bapak mertuanya bisa meredam emosi Hamzah.


agaknya hal yang Larissa takutkan sebentar lagi akan terjadi. Ayah Farah datang dari arah barat dengan mengendarai sebuah sepeda motor berjenis matic.


Larissa pun semakin ketakutan melihat kedatangannya. Ia gegas masuk ke dalam dan mengambil anaknya yang tengah tertidur di kamar. Apalagi ia adalah tipikal orang yang takut bila ada pertengkaran, apalagi jika ia yang terlibat dalam pertengkaran tersebut.


Bila Larissa gemetar ketakutan saat melihat kedatangan ayah Farah, tidak halnya dengan Hamzah. Ia malah menghadang keluar dan menunjukkan wajah tak takut matinya yang menyebalkan.


"Jadi, hanya ini saja yang bisa kamu panggil kesini?" tanyanya sambil tertawa sinis.

__ADS_1


Mendengar ucapan Hamzah, Farah pun naik pitam. "Lihat, pak! Bapak dengar sendiri kan apa yang dia katakan?."


__ADS_2