Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 7


__ADS_3

Larissa mengeluh sakit dia bagian perut bawahnya beberapa hari ini. Ia pun mengatakan semua ini pada Hamzah. "Yank, beberapa hari ini perutku rasanya sakit. Rasanya seperti nyeri haid, tapi aku kan baru beberapa hari selesai datang bulan. Kira-kira kenapa, ya?."


Hamzah bingung sendiri bagaimana menjawabnya. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Kalau kamu bertanya sama aku, terus aku tanya sama siapa?."


"Aku ini laki-laki, mana tahu soal begituan. Coba kamu tanya sama ibu. Kali aja dia tahu!."


Larissa pun menganggukkan kepala, membenarkan apa yang dikatakan suaminya. "Iya juga, ya. Kenapa aku harus bertanya hal seperti ini padanya. Jelas saja ia tak tahu. Lah wong dia nggak pernah mengalaminya" gumamnya dalam hati.


"Iya deh, nanti aku coba tanya sama ibu!" jawab Larissa. Mereka pun kembali melanjutkan aktivitas masing-masing.


Larissa gegas bersiap menuju warung ibunya setelah ia menyelesaikan sarapan bersama suami. Ini masih dalam suasana lebaran, warung Bu Ani sangat ramai jika sedang lebaran.


Sesampainya di warung, Larissa segera membantu sang ibu. Ia duduk berjongkok untuk mengupas buah-buahan. Tiba-tiba ia kembali merasakan sakit di perut bawahnya. Ia pun mengeluhkan hal itu pada ibunya.


"Bu, beberapa hari ini perutku rasanya sakit, seperti nyeri saat datang bulan, padahal aku beberapa hari ini baru selesai datang bulan. Apalagi kalau dipakai buat jongkok seperti ini. Rasanya sangat sakit, seperti ada sesuatu yang mengganjal disana" ujarnya, mengungkapkan rasa sakit yang ia alami.


Bu Ani terlihat khawatir mendengar keluhan yang dirasakan sang anak. "Aduh, kamu kenapa, ya nak? ibu juga kurang tahu. Coba nanti ibu panggilkan Mbah kartu. Dia itu seorang tukang pijat sekaligus dukun bayi. Biar nanti ibu minta dipijat kan perutmu. Mungkin ada sesuatu yang salah disana."


Larissa pun mengangguk setuju, mempercayakan semua pada ibunya.


Sore hari Larissa pulang kembali ke rumah. Disana sudah ada Mbah karti yang menunggu kedatangannya. Tanpa berlama-lama ia pun segera merebahkan diri untuk dipijat.


Awalnya bagian punggung dulu yang dipijat, kemudian beralih pada bagian yang lain. Sensasi nyaman ia rasakan saat pijatan itu menyentuh tubuhnya.


Usai memijat seluruh tubuh, Mbah karti pun meminta Larissa untuk berbaring. Ia beralih memijat bagian perut.


Setelah beberapa saat memijat perut, Mbah karti bertanya, "Kapan terakhir kali kamu datang bulan?."


"Seminggu yang lalu, Mbah!."


Mbah karti terlihat senyum-senyum sendiri, Larissa menjadi penasaran karenanya. Ia pun bertanya," Memangnya ada apa ya, Mbah? apakah ada yang salah dengan perutku?."

__ADS_1


"Tidak, Nduk, perutmu tidak kenapa-kenapa. Ia hanya sedang beradaptasi dengan sesuatu yang baru!."


"Maksud Mbah?" tanya Larissa lagi. Ia masih tak paham dengan maksud perkataan Mbah karti.


"Kalau bulan depan kamu tidak datang bulan, maka itu artinya kamu hamil."


Jawaban yang Mbah karti ucapkan membuat hati Larissa senang tak terkira. Rasanya tak sabar untuk membagi kebahagiaan ini dengan sang suami. Ia bahkan sudah membayangkan betapa bahagianya sang suami saat mendengar kabar ini.


"Orang hamil itu tidak mudah, Nduk. Banyak hal yang nantinya akan kamu rasakan. Salah satunya kamu akan sering mengalami sakit seperti ini" ucap Mbah karti,buyarkan lamunan Larissa.


"Tapi kamu tenang saja. Mbah akan membantu menata rahim mu agar kamu tidak terlalu merasakan sakit!" lanjutnya.


"Iya, Mbah!" jawab Larissa. Ia tak peduli lagi dengan apa yang dilakukan oleh Mbah karti terhadap tubuhnya. Dalam benaknya hanya ada satu yang ingin dia lakukan, yaitu segera mengatakan pada sang suami bahwa ia sedang hamil.


Tak berselang lama Mbah karti pun menyudahi pijatannya. Larissa memberinya beberapa lembar uang sebagai upah. Tak lupa ia juga mengucapkan terimakasih.


Mbah karti berlalu dari situ, sedang Larissa segera menghampiri sang suami yang tengah mencuci sepeda motornya di halaman depan.


"Kabar gembira apa?" tanya Hamzah, sejenak ia menghentikan aktivitas mencuci motornya.


"Coba kamu tebak, kabar gembira apa yang ingin aku sampaikan?" ucap Larissa, sengaja membuat Hamzah penasaran.


"Aduh, aku nggak bisa nebak. Kan aku bukan cenayang. Kamu ngomong langsung aja deh!" keluh Hamzah.


Larissa pun tertawa melihat Hamzah. "Kabar gembiranya adalah....." sengaja ia menjeda ucapannya agar Hamzah semakin penasaran karenanya.


"Kabar gembira apa? ayo cepetan ngomong!" ucap Hamzah tak sabar.


"Kabar gembiranya adalah ....Aku sekarang telah hamil. Ada calon anak kita di dalam perutku."


Hamzah terlihat begitu bahagia mendengar kabar itu. Tanpa sadar ia langsung memeluk tubuh sang istri. Matanya berbinar-binar saking bahagianya. "Terimakasih, Yank. Kamu telah memberiku hal yang paling indah di dunia ini!."

__ADS_1


"Yank, lepasin. Malu dilihat orang!" ucap Larissa.


Hamzah pun segera melepaskan pelukannya begitu ia sadar apa yang dia lakukan.


Hamzah kemudian berjongkok dihadapan Larissa. Ia mengusap perut sang istri yang masih rata. "Tumbuhlah dengan baik disana jagoan kecilku. Kelak 'belalang tempur' itu akan menjadi milikmu!."


Larissa tersenyum bahagia mendengar ucapan sang suami. Diusapnya rambut Hamzah yang masih berjongkok di hadapannya.


Belalang tempur adalah nama yang diberikan oleh Hamzah pada sepeda motornya. Ia bahkan mendandani bagian lampu depan motor seperti mata belalang. Entah apa makna dibalik nama itu.


"Jadi Mbah karti bilang, kalau sakit perutku itu disebabkan oleh adanya perubahan dalam rahimku, tapi semuanya baik-baik saja kok. Tadi dia sudah memijat perutku agar terasa nyaman dan tidak kesakitan lagi selama menjalani masa kehamilan" ucap Larissa.


Hamzah kembali mendaratkan sebuah ciuman di perut rata sang istri. "Jaga kondisimu baik-baik, jangan terlalu capek. Ada calon anak kita dalam rahimmu yang harus kamu jaga."


"Iya, Yank, aku mengerti! Aku janji akan menjaga calon anak kita ini sebaik mungkin" jawab Larissa. Hamzah pun kembali mendaratkan sebuah ciuman di perut sang istri.


"emh, Yank, aku samperin ibu dulu ya. Aku mau membagikan kabar bahagia ini padanya juga."


"Iya!."


"Kamu tadi sudah makan, belum?" tanya Larissa kembali.


"Belum!."


"Kalau gitu kita makan sama-sama, yuk! Aku juga belum makan."


"Ayo! Tapi aku mau nyelesain nyuci motornya dulu, ya!."


"Iya, Yank. Aku juga mau nata makanan dulu!."


Larissa pun masuk kembali ke dalam rumah. Ia menata makanan diatas piring. Tak lupa ia membagikan kabar bahagia itu pada ibunya juga. sedangkan Hamzah gegas menyelesaikan mencuci motor. Dan setelah semua selesai, ia pun masuk ke dalam dan makan bersama sang istri tercinta.

__ADS_1


Waktu pun berlalu, bulan pun berganti. Ternyata Larissa tidak kedatangan tamu bulannya. Itu artinya ia memang benar-benar hamil. Hatinya pun sangat bahagia mendapati hal itu.


__ADS_2