Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 63


__ADS_3

"Jadi, hanya ini saja yang bisa kamu panggil kemari untuk menghadapiku?" tanya Hamzah sambil tersenyum sinis.


Mendengar ucapan Hamzah, Farah pun naik pitam. "Lihat, pak! Bapak dengar sendiri kan apa yang dia katakan?."


"Jangan marah dulu seperti itu. Katakan, bagaimana awal mulanya tadi?" tanya ayah Farah.


"Aku juga tidak tahu bagaimana mulanya, pak. Tiba-tiba saja saat aku keluar rumah sudah ada pecahan piring di depan pintu rumahku. Dan dia bilang, dialah yang melemparkannya ke sini" jawab Farah.


Ayah Farah pun menoleh kearah Hamzah. "kenapa kau melakukan itu, Hamzah?."


"Salah sendiri, sudah diperingatkan suruh mengecilkan suara musiknya tapi tak dihiraukan. Bukannya dikecilkan malah semakin dibesarkan. Apa itu bukan nantangin namanya?" jawab Hamzah dengan berkacak pinggang.


Kali ini ayah Farah menatap anaknya. "Apa benar seperti itu, Farah?."


"Itu tidak benar, pak. Tadi Keysa memang memutar musik dengan keras, tapi kemudian aku kecilkan. Dan setelah itu aku ke kamar mandi karena ingin buang air besar. Mungkin saat aku di kamar mandi itulah Keysa membesarkan suaranya lagi," sangkal Farah. "Tapi tetap saja, pak, aku tidak bersalah. Aku tidak tahu menahu soal ini."


"Mana ada orangtua yang tidak tahu kelakuan anaknya. Kamu saja yang tidak becus sebagai ibu" bantah Hamzah.


"Heh monyet, muka kamu sudah jelek. Jangan sampai isi otakmu juga ikut jelek," hardik Farah tak terima. "Kalau aku bilang tidak tahu, ya tidak tahu!."


"Alah, alasan!" tandas Hamzah. Dibuangnya wajah kesamping sambil menghembuskan nafas kasar.


"Kalau kamu tidak percaya, ya sudah! Itu masalahmu, aku tidak perduli" dengus Farah.


Dikatakan seperti itu oleh Farah, Hamzah tidak terima. Matanya melotot tajam kearahnya. "Apa kau bilang? Jaga ucapanmu, ya!."


Mendengar perdebatan diantara mereka yang tak kunjung usai ayah Farah pun segera melerainya. "kalian berdua, cukup! Kalau kalian seperti ini terus, bagaimana kita bisa selesaikan masalah ini."

__ADS_1


Bukannya berhenti setelah diperingatkan, mereka malah semakin sengit dalam beradu mulut. "Aku tidak mau tahu, pokoknya dia harus tanggungjawab. Kalau pecahan piring tadienegenai anakku bagaimana?" teriak Farah.


"Heh, tidak usah lebay deh. Aku tadi ngelemparnya diluar rumah kamu, bukannya kedalam. Jadi mana mungkin mengenai anak kamu."


Perdebatan mereka berdua semakin sengit. Tidak ada satupun dari mereka yang mau mengalah. Bahkan semakin lama perdebatan mereka mengarah kearah tindak kekerasan.


Ayah Farah yang sedari awal tidak bisa melerai perdebatan mereka pun berusaha menegur dan berjaga-jaga saat perdebatan itu mulai mengarah kearah yang tidak diinginkan. "kamu jangan kasar sama perempuan,


Hamzah."


Dikatakan kasar terhadap perempuan Hamzah pun tak terima. "Siapa yang kasar? Emang kamu lihat aku memukul anakmu?."


Suasana semakin memanas. Semua kukuh dengan argumen masing-masing. Bahkan kehadiran ayah Farah tidak mengubah apapun.


Larissa yang sedari tadi diam dan hanya menjadi menonton saja pun semakin gemetar ketakutan saat suaminya berteriak keras. Ia pun segera membawa putrinya pergi kerumah tetangga yang agak jauh dari rumahnya agar dirinya bisa mengontrol emosi. Ia takut bila terlalu emosi akan berdampak pada ASInya nanti. Tentu ia juga tak ingin buah hatinya turut merasakan perubahan emosi ibunya.


"Mbak, maaf! Saya numpang disini sebentar ya. Saya agak takut dirumah" ucap Larissa mrminta ijin.


Suara pertengkaran antara Hamzah dan Farah memang begitu keras. Hingga beberapa tetangga pun mendengar pertengkaran itu.


Larissa tertunduk malu karena pertengkaran suaminya diketahui oleh para tetangga. Mau tak mau dia harus menjelaskan duduk persoalannya agar tak terjadi kesalahpahaman.


"Kalau dipikir-pikir, kalau memang dia beneran sedang buang air dikamar mandi, bilang minta maaf gitu saja kan bisa. Jadi masalahnya tidak perlu diperpanjang lagi," tukas Larissa diakhir penjelasannya.


Para tetangga manggut-manggut mendengar penuturan Larissa. "Farah itu orangnya memang keras kepala dan tidak mau mengalah. Selain itu dia juga sombong. Mungkin karna dia orang kaya baru, jadi lagaknya kayak gitu."


"Iya, bener. Sesekali Farah itu memang harus dilawan. Biar dia tidak berbuat seenaknya terus."

__ADS_1


Larissa hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan para tetangganya itu. Dia sangat takut dengan segala bentuk pertengkaran. Tubuhnya akan bergetar hebat bila melihat orang bertengkar, apalagi terlibat dalam pertengkaran itu. Itulah mengapa selama ini dia selalu memilih untuk mengalah.


Farah memang dikenal para tetangga sebagai orang yang suka berbuat seenaknya. Selain itu dia juga sangat sombong dan biangnya keributan.


Selama ini tidak ada yang berani menegur atau melawan tingkah polah Farah. Mungkin karena dia adalah orang kaya, jadi tidak ada yang berani menegurnya walaupun mereka sudah sangat jengah dengan perangainya. Itulah mengapa saat Hamzah berani melakukan itu, para tetangga pun mendukungnya.


Ditengah celotehan para tetangga, Bu Ani pun datang bersama dengan ayah mertua Larissa. Larissa pun merasa lega melihatnya. Setidaknya ada orang yang bisa sedikit mengendalikan emosi Hamzah. Sungguh, bagi Larissa kedatangan ayah mertuanya ini bagai oasis ditengah gurun pasir.


"Bapak" panggil Larissa.


Baskoro, Ayah mertua Larissa pun menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan Larissa. "Kamu disini, nak!."


"Iya, pak, aku takut. Jadi aku kesini."


"Sekarang suamimu dimana?."


"Dirumah, pak. Mereka masih ribut."


Baskoro menghela napas kasar. "Ya sudah! Bapak lihat kesana dulu. Kamu lebih baik disini saja. Jaga anakmu baik-baik."


Larissa menganggukkan kepala, "Baik, pak!."


Baskoro pun bergegas melangkahkan kaki kerumah Larissa. Dalam benaknya ada sedikit ketakutan bila Hamzah akan berbuat nekat, yang dampaknya akan berbuntut pada pihak polisi. Apalagi putranya itu tidak pernah takut dengan siapapun.


Setelah beberapa lama, terlihat Ayah Farah pergi kearah barat dengan mengendarai sepeda motor yang ia gunakan saat tiba tadi. Melihat hal itu terbit tanda tanya dalam benak Larissa, "Apa pertengkaran mereka sudah selesai? Apa Bapak berhasil menyelesaikan masalah ini? Lalu apakah mereka sudah berdamai?."


Berjuta pertanyaan hadir, namun Larissa tak jua mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya. Namun tak berselang lama nampak Baskoro berjalan menghampirinya. Sontak Larisa bangkit. "Bagaimana, pak? Apa masalah ini sudah selesai?."

__ADS_1


Bukannya menjawab pertanyaan yang Larissa ajukan Baskoro malah membuang napas berat. "Pulanglah kembali ke rumah. Kamu tidak usah khawatir lagi. Untuk sementara ini krasaan sudah membaik."


Hati Larissa sedikit lega mendengar penuturan Baskoro. Entah apa yang sudah terjadi disana tadi, tapi setidaknya untuk saat ini ketegangan ini sudah sedikit mereda. Walau tak menutup kemungkinan bahwa keadaan akan kembali memburuk lagi mengingat kedua belah pihak sama-sama tidak mau mengalah. Dan benar saja permusuhan diantara mereka memang terus berlanjut hingga sekarang. Padahal masalah itu terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu.


__ADS_2