
Suatu malam Iqbal mendatangi Larissa dirumahnya. Larissa yang saat itu tengah menikmati makan malam terpaksa menghentikan makannya dan menemui kakak tirinya. "Ada apa kakak ke sini malam-malam.begini? tanyanya saat mereka saling berhadapan.
Tanpa berbasa-basi Iqbal mengutarakan maksud kedatangannya. "Aku kesini mau meminta sedikit bantuan darimu."
"Bantuan apa, kak?."
"Ngomong-ngomong, suamimu ada dimana?."
"Hamzah sedang pergi ke rumah orangtuanya, katanya ada sedikit keperluan disana. Memangnya ada apa kak?."
Iqbal menggeser posisi duduknya sedikit mendekat ke adik tirinya. "Jadi gini, aku mau meminjam sertifikat rumah ini untuk di gadaikan di Bank. Aku ingin mengajukan pinjaman untuk membeli perahu baru."
"Memangnya perahu kakak kenapa?"
"Perahuku kayunya sudah banyak yang l lapuk, kalau diperbaiki akan memakan biaya yang cukup besar, lagian ukurannya juga terlalu kecil untuk ukuran perahu saat ini. Sehingga sering kalah saing dengan perahu yang lain. Kebetulan ada perahu berjenis boat yang aku inginkan sejak dulu yang ukurannya lebih besar dan mau dijual dengan harga miring."
"Oh gitu, ya sudah nggak pa pa, kakak boleh memakainya. Tunggu sebentar disini! Biar aku ambil sertifikatnya dulu."
Larissa baru akan beranjak, namun Iqbal segera menghentikannya. "Tunggu sebentar, Larissa! Aku belum selesai bicara."
Larissa pun duduk kembali. "Ada apa lagi, kak?" tanyanya.
"Selain meminjam sertifikat, aku juga ingin meminjam ktp mu."
"Buat apa, kak?" tanya Larissa bingung. Ktp adalah sebuah dokumen yang sangat penting. Untuk itu ia tak mau asal meminjamkannya termasuk pada keluarga sendiri.
"Rencananya aku mau menggunakan namamu untuk mengajukan pinjaman di bank nanti."
Larissa diam, merasa keberatan dengan permintaan terakhir kakaknya. Ia pun mencari kata yang tepat untuk mengatakan keberatannya tanpa menyinggung pwradaan kakaknya.
__ADS_1
"Kalau untuk itu, aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Aku tidak bisa memberikannya."
"Memangnya kenapa? Toh nantinya aku yang bertanggung jawab."
"Masalahnya gini, kak. Kakak pasti tahu kalau salah satu persyaratan pengajuan pinjaman adalah ktp suami istri dan salinan buku nikah."
"Iya, terus?" tanya Iqbal tak mengerti, sebelah alis memicing keatas.
Larissa menghela nafas pelan, menyadari jika memberi pengertian pada kakaknya yang kalau sudah ada kemauan akan menghalalkan segala cara itu akan sangat sulit. "Gini kak, Hamzah itu sangat takut dengan segala bentuk hutang piutang, apalagi di Bank. Kalau dia saja tak mau berhutang sendiri, lalu bagaimana caraku membujuknya agar bersedia meminjamkan ktp untuk piutang orang lain?."
"Jadi intinya kamu nggak mau nolongin aku?" tanya Iqbal dengan nada tinggi, membuat Larissa yang sejak dulu memang takut dengannya menjadi bergetar ketakutan.
"Bukan seperti itu, kak, tapi....."
Belum sempat Larissa menyelesaikan ucapannya Iqbal sudah memotong. "Kalau begitu aku rubah saja nama kepemilikannya menjadi namaku, biar aku nggak perlu ngerepotin kamu. Lagipula rumah ini kan bukan milikmu? Aku juga punya hak atas rumah ini.
Hanya itu yang bisa Larissa lakukan untuk saat ini. Ia sudah sangat ketakutan melihat ekspresi tak mengenakkan kakaknya. Ia khawatir kakaknya menjadi kalap kalau ia tak menyetujui kemauannya, terlebih saat ini ia hanya berdua di rumah dengan bayinya yang baru saja terlelap di kamar. Kalau terjadi sesuatu padanya atau bayinya, ia mau meminta tolong siapa?.
"Tapi beneran, kamu harus membujuk suamimu!"
"Aku usahakan kak."
Setelah berkata begitu Iqbal pergi begitu saja dari rumah Larissa tanpa pamit atau bahkan mengucap salam. Larissa hanya bisa mengelus dada melihat perangai kakaknya yang tak pernah berubah sejak dulu.
"Padahal hubungan kita baru saja membaik, tapi kakak malah bersikap seperti ini lagi padaku. Aku kira setelah kepergian ibu, sikap kakak akan berubah karena kini tinggal kita berdua saja."
Setelah perbincangan itu, Larissa tak meneruskan makannya lagi. Tiba-tiba saja selera makannya hilang entah kemana. Padahal saat itu perutnya juga masih berbunyi meminta jatah isi.
Kini Larissa menanti suaminya yang tak kunjung pulangan dengan harap-harap cemas. Hatinya tak tenang sebelum membicarakan masalah ini dengannya. "Kamu ngapain saja di rumah ibu, Entik? Aku mohon, cepatlah pulang."
__ADS_1
Larissa berjalan mondar-mandir diruang tamu. Sesekali ia menengok ke arah jam yang masih setia tergantung di dinding. Hatinya semakin diliputi oleh kecemasan karena suaminya yang tak kunjung pulang.
Sayup-sayup terdengar suara motor Hamzah dari kejauhan. Larissa segera membuka pintu untuk menyambutnya.
"Akhirnya kau pulang juga, Entik?! Kenapa kau lama sekali dirumah ibu?" ucap Larissa sedikit lega begitu suaminya berdiri di hadapannya.
"Iya, maaf! Tadi ada pakde yang baru pulang dari palembang. Jadi aku mengobrol sebentar dengannya."
"Ya sudah nggak pa pa. Sekarang ayo kita masuk ke dalam." Larissa menggamit lengan suaminya.
Dari sikap yang Larissa tunjukkan, Hamzah menangkap ada sesuatu yang tidak beres. Ia pun menangkap pergelangan tangan istrinya dan menatap wajahnya dalam-dalam. "Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu saat aku pergi tadi?."
Larissa berusaha menahan air mata yang sedari tadi terus mendesak ingin keluar dengan menggigit bibir bawah. Namun menahan kecemasan lebih lama jauh lebih sulit baginya. "Sebaiknya kita masuk dulu, nanti aku ceritakan semuanya didalam. Nggak enak kalau ada orang lain yang mendengar pembicaraan kita." Larissa melangkah masuk diikuti oleh suaminya di belakang.
"Sekarang katakan! apa yang terjadi tadi? Jangan coba-coba untuk menyembunyikan apapun dariku karena aku pasti mengetahuinya," ucap Hamzah penuh keseriusan saat mereka sudah berada di ruang tengah.
Larissa tak mengatakan apa-apa. Ia malah membenamkan diri dalam pelukan suaminya dan menumpahkan air mata yang sedari tadi coba ia tahan. Tububnya bergetar karena luapan emosi.
Melihat istrinya tiba-tiba menangis seperti itu tentu saja ia semakin bingung. Seingatnya tadi sebelum pergi, istrinya masih tersenyum ceria bersama bayinya. Namun ia menahan rasa penasarannya dan membiarkan istrinya sedikit lebih tenang.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau menagis seperti ini?." Nada bicara Hamzah berubah sedikit lembut. Ia tak mau membuat istrinya semakin tertekan dengan pertanyaan-pertanyaannya. Tangannya membelai surai panjang milik sang istri.
Perlahan tangis Larissa mereda. Ia melepaskan diri dari pelukan suaminya dan mengusap lelehan air mata.
"Apa sekarang kau merasa sudah lebih tenang?" tanya Hamzah yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Larissa. "Kalau begitu sekarang ceritakan padaku, apa yang terjadi tadi?."
Larissa pun menceritakan perihal Iqbal dan maksud kedatangannya tadi. Juga tentang ancaman yang diberikannya. Semua sesuai dengan apa yang terjadi tadi.
Mendengar cerita istrinya Hamzah tersulut emosinya. "Kurangajar! Dari dulu dia nggak pernah berubah."
__ADS_1