Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 79


__ADS_3

Merasa sakit hati dan malu dengan sikap suaminya, Larissa menolak pulang bersamanya. Dan bukannya meminta maaf, Hamzah malah meninggalkannya begitu saja hingga membuatnya kebingungan bagaimana cara untuk pulang.


Di tengah kebingungan pandangan Larissa tertuju pada dua orang pengendara ojek online yang berada tak jauh darinya. Ia pun menghampiri pengemudi tetsebut. "Mas, kalau ke daerah xx, bisa?."


"Wah itu jauh sekali, mbak."


Mendengar jawaban salah satu driver hati Larissa ketar-ketir. Terlebih malam semakin larut dan tak ada satupun angkutan yang lewat. "Tolongin saya, mas. Anterin saya pulang. Saya akan bayar berapapun yang mas minta."


Dua orang driver ojek online saling pandang mendengar tawaran Larissa. "Bagaimana, Gas, kamu mau nggak? lumayan tuh!."


"Nggak deh, kejauhan. Mending kamu saja. Lagian aku juga mau balik sekarang."


Setelah berpikir cukup lama akhirnya salah satu driver bersedia mengantar. "Ya udah deh, mbak. Mari saya antar!" ujarnya sambil mengulurkan helm. Tapi karena sudah membawa helm sendiri Larissa pun menolak. "Nggak usah, mas. Saya sudah bawa helm sendiri."


Sang driver menyimpan kembali helmnya dan mulai menstater motornya. "Ayo, mbak, naik!."


Larissa mengangguk. Dikenakannya helm di kepala dan memastikannya aman. Tapi saat hendak naik ke atas motor, tiba-tiba sesuatu yang tak terduga terjadi. Hamzah datang kembali dari arah berlawanan. "Ayo, buruan naik!."


Larissa tak menghiraukan dan hanya menoleh sekilas ke arah sang suami. "Tidak perlu! Saya bisa pulang sendiri," ucapnya dingin dan lanjut naik ke atas motor. "Ayo, mas, kita berangkat."


Hamzah mencegah driver berangkat dengan menghadang di depannya menggunakan motor. "Tidak usah, mas, dia istri saya. Biar dia pulang bersama saya."


Tak ingin driver ojek terpengaruh, Larissa angkat bicara, "Ayo jalan, mas, jangan hiraukan dia. Saya tidak mau pulang bersama dia. Saya masih ingin melihat matahari terbit esok."


Sang driver terlihat bimbang. Ia bingung melihat perdebatan suami-istri di hadapannya. Namun karena tak ingin ikut capur, ia pun meminta Larissa untuk turun. "Maaf, mbak, silahkan turun. Mbak pulang saja dengan masnya. Lagipula saya ada urusan mendadak." Dengan terpaksa Larissa pun turun.


Hamzah menyunggingkan senyum kemenangan. Ia merasa berada di atas angin.

__ADS_1


Melihat senyuman Hamzah Larissa semakin kesal. Namun itu bukan berarti ia telah kalah. Ia berjalan begitu saja melewati suaminya.


Melihat istrinya mengabaikannya Hamzah tak menyerah begitu saja. Ia melajukan motornya pelan mengikuti sang istri. "Ayolah, cepat naik. Ini sudah malam."


Larissa tak menggubris ucapan Hamzah dan terus melangkah. Lebih baik ia jalan kaki daripada harus berada satu motor dengan suaminya. "Untuk apa kau kembali? Bukankah kau tak peduli denganku?."


"Aku masih peduli padamu, untuk itulah aku kembali."


"Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri. Kamu tinggalkan saja aku."


"Ayolah, Larissa, Jangan keras kepala! ini sudah malam. Tidak ada satupun angkutan umum yang lewat. Lalu bagaimana caramu untuk pulang?."


"Aku bisa jalan kaki. Aku akan terus berjalan walaupun sampai pagi. Tapi jangan harap aku mau naik motor bersamamu!."


Merasa kesal karena Larissa terus menerus menolak, Hamzah pun memacu motor sekencang-kencangnya.


Tapi saat mengingat kejadian tadi, hati Larissa kembali memanas. Ia tak mau harga dirinya diinjak-injak apalagi oleh suami sendiri. Ia pun kembali melangkahkan kaki menyusuri jalanan kota.


Baru beberapa saat larissa melangkah, Hamzah kembali memghampiri. "Ayolah, Larissa, cepatlah naik! Ini sudah terlalu malam."


Larissa tak menghiraukan Hamzah sedikitpun dan tetap berjalan. Pandangan matanya menatap lurus ke depan.


Kembali Hamzah mengulang perkataannya. Tak peduli walau Larissa telah mengacuhkannya. "Ayolah, Larissa, jangan keras kepala lagi. Ini sudah sangat malam. Apa kau tidak merasa kasihan dengan anak kita di rumah?."


Mendengar nama anaknya disebut sontak Larissa menghentikan langkah. Ditatapnya wajah Hamzah intens. Pandangan mata menusuk tajam. "Bukankah tadi sudah kubilang, aku bisa pulang sendiri. Kau bisa tinggalkan aku disini." Tak ada sedikitpun keraguan dalam kata-katanya kali ini. Ia ingin menunjukkan pada suaminya bahwa ia bukan wanita yang lemah.


"Lagipula kau kan tak peduli padaku. Jadi untuk apa kau kembali lagi," pungkasnya.

__ADS_1


"Kau itu istriku. Aku bertanggungjawab terhadap keselamatanmu. Karena itulah aku kembali lagi."


"Istri?," Sebuah senyuman sinis terukir di wajah Larissa mendengar alasan dibalik kembalinya sang suami. Ia sedih, lebih tepatnya kecewa karena sang suami tak menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya tadi. Terlebih alasan yang diucapkannya tadi sangat umum. "Kalau begitu, mulai detik ini aku bukan istrimu lagi. Jadi sekarang kau bisa tinggalkan aku."


"Hmm...sekarang malah bicara seperti itu."


"Kenapa? Bukankah selama ini itu yang kau inginkan?," Larissa balik bertanya. Dilipatnya kedua tangan di depan dada. "Dulu kau sering berkata menyesal telah menikahiku dan ingin menceraikanku. Jadi sekarang aku mengabulkan keinginanmu."


Hamzah diam membisu. Tak mampu menjawab kata-kata pedas yang dilontarkan istrinya.


Melihat kebungkaman sang suami Larissa pun kembali melangkahkan kaki. Namun Hamzah berusaha mencegah dengan menarik lengannya. "Ayolah, Larissa, kita pulang sekarang. Ini sudah sangat malam."


Larissa menepis tangan Hamzah dan menarik kembali tangannya. "Jangan sentuh aku! Bukankah tadi sudah kubilang, aku bukan istrimu lagi," ditekankannya pada kata bukan istri.


Hamzah tak menyerah. Ditariknya kembali tangan sang istri. Namun Larissa pun tak mau mengalah. Ia balik menipis tangan suaminya.


Penolakan Larissa membuat Hamzah kembali gusar. Ia pun membentak Larissa. "Cukup, Larissa, jangan bersikap kekanak-kanakan. Sudahi pertengkaran tak berguna ini dan ikut aku pulang sekarang."


Mendengar bentakan Hamzah tak membuat nyali Larissa menciut. Justru itu membuatnya semakin meradang. "Pertengkaran? Aku?," teriaknya. Telunjuknya mengarah ke arah diri sendiri. "Kau pikir aku memginginkan pertengkaran ini.


Meledaklah sudah amarah Larissa. Lelehan air mata turut mengalir bersamaan dengan ledakan itu. "Apa kau tidak sadar, kaulah yang menyebabkan pertengkaran ini."


"Kalau kau tidak mau mengantar, kau bisa katakan. Tapi jangan permalukan aku di depan umum seperti tadi." Larissa meluapkan semua emosi yang ia tahan sejak tadi. Ia tak peduli lagi pada tatapan pengguna jalan yang kebetulan melintas karena melihat pertengkaran mereka. Karena saat itu pertengkaran mereka terjadi di jalur pejalan kaki.


Hamzah tertegun. Ucapan Larissa bagai sebuah tamparan baginya. Ia baru menyadari jika sikapnya tadi telah sangat menyakiti hati sang istri. "Maafkan aku! Aku terbawa emosi tadi. Aku begitu cemburu hingga tanpa sadar telah meluapkan emosiku padamu," ucapnya lirih. Ungkapan maafnya terdengar begitu tulus.


Larissa mengusap air mata yang membasahi pipi. "Cemburu? pada siapa?," tanyanya tak mengerti. Sungguh, ia benar-benar bingung dengan ucapan sang suami.

__ADS_1


__ADS_2