Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 69


__ADS_3

Larissa bertekad tak akan meneteskan air mata lagi. Dan ia juga berjanji pada diri sendiri bahwa kemarin adalah kali terakhir ia membiarkan orang lain memanfaatkan kebaikannya. Ia tak peduli lagi Hamzah mau bersikap seperti apa padanya. Yang ada dalam pikirannya hanya satu, segera melunasi hutang-hutangnya pada Bank.


Larissa membuktikan ucapannya. Siang malam ia bekerja membanting tulang lebih keras lagi. Semua hanya demi satu tujuan, melunasi semua hutang-hutangnya.


Selama ini Larissa tak pernah berhutang pada siapapun. Tapi begitu berhutang, ia malah berhutang sebanyak lima juta rupiah pada Bank. Itulah mengapa ia bekerja siang malam tanpa mengenal lelah hanya agar bisa segera melunasinya.


Bagi sebagian orang mungkin uang segitu tidak ada artinya. Tapi bagi Larissa yang notabene tak pernah berhutang, uang segitu sangatlah banyak. Hingga hal itu membuat beban dalam pikirannya.


Akhirnya kerja kerasnya selama ini tidaklah sia-sia. Ia berhasil melunasi hutang tersebut dalam jangka waktu lima bulan.


Sekadar info, Larissa meminjam Bank dengan jangka waktu pengembalian selama satu tahun, atau dengan dua belas kali cicilan. Namun ternyata ia mampu melunasi hutangnya hanya dalam jangka waktu lima bulan.


Lega lah kini hati Larissa. Apalagi pihak Bank mengapreasikan ketepatannya dalam membayar hutang dengan mengembalikan satu kali pembayaran. Dan ia sangat bersyukur akan hal itu.


...****************...


Selama masa pembangunan dengan segala masalah yang ada setelahnya, Larissa terus menahan rasa sakit yang ia rasakan akibat dari penyakit yang ia derita selama ini. Dan kini ia tak kuasa lagi menahan rasa sakit itu.


Larissa mencoba membicarakan perihal penyakitnya itu kembali dengan Hamzah. Ia tak mau mengambil keputusan sendiri karena masih menghormati Hamzah. Karena biar bagaimanapun dia masih berstatus sebagai suami sahnya dan ia wajib untuk menghormatinya.


"Entik, aku minta izin mau ke puskesmas untuk memeriksakan penyakitku. Aku rasanya tidak kuat lagi menehan rasa sakit ini" ucap Larissa suatu hari.


Larissa menekan egonya dan berusaha bicara baik-baik pada Hamzah. Berharap suaminya itu mau memberikan izin padanya. Namun harapan hanya tinggal harapan. Karena ternyata Hamzah menolak mentah-mentah keinginan larissa. "Untuk apa kau kesana? bukankah selama ini kau sudah menjalani pengobatan alternatif?."

__ADS_1


Selama ini Larissa memang menjalani pengobatan alternatif seperti yang Hamzah sarankan saat itu. Karena itulah mengapa Larissa masih sanggup menahan rasa sakit yang ia rasakan.


"Ya, itu memang benar! Tapi aku tidak merasakan perubahan yang berarti setelah menjalani pengobatan alternatif itu. Malahan aku merasa penyakitku itu semakin bertambah parah" jawab Larissa.


"Dari mana kau tahu jika penyakitmu itu bertambah parah? Kau kan bukan dokter."


"Aku mengerti kalau aku bukanlah seorang dokter. Tapi penyakit ini bisa diketahui dengan meraba sendiri benjolan tersebut. Jadi kita bisa bisa mengetahui apakah benjolan itu masih ada atau tidak dalam diri kita. Memang benar, untuk memastikan secara langsung, kita harus memeriksakan diri ke dokter. Karena itulah aku meminta izin padamu untuk memeriksakan diri secara pasti" terang Larissa panjang lebar.


"Tapi kau tahu sendiri kan, kalau kau pergi ke dokter, maka sudah dipastikan kau akan di operasi. Namun tidak semua operasi bisa berjalan lancar. Sedangkan kau tahu sendiri betapa takutnya aku dengan kata operasi."


"Kita tidak akan tahu hasilnya kalau tidak mau mencobanya. Ibarat kata kita kalah sebelum perang."


"Jadi kau mau coba-coba dengan nyawa?."


Hamzah mencibir pemikiran Larissa. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman sinis. "Apa kau tidak belajar dari apa yang dialami oleh ibumu? Beliau sudah menjalani operasi, tapi sampai sekarang penyakitnya itu tidak kunjung sembuh. Malahan aku lihat semakin bertambah parah."


Beberapa waktu yang lalu Bu Ani memang menjalani operasi pengangkatan payudara karena penyakit kanker payudara. Yang mana penyakitnya itu sudah masuk stadium akhir. Namun Bu Ani tak mau menjalani proses kemoterapi sebagai prosedur pengobatan lanjutan karena tak kuat menahan sakit dari proses pengobatannya. Sehingga sekarang penyakitnya bertambah parah.


Hal inilah yang Hamzah takutkan. Ia takut Larissa akan mengalami apa yang ibunya alami.


Larissa senang mengetahui Hamzah mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Itu menandakan bahwa masih ada cinta kasih dalam diri Hamzah untuk dirinya. Namun ia lupa jika penyakit yang Bu Ani dan Larissa derita itu hampir sama tapi beda.


Lain Hamzah lain pula Larissa. Jika Hamzah takut Larissa akan seperti ibunya kalau menjalani operasi, Larissa justru khawatir penyakitnya akan berubah menjadi seperti ibunya kalau tidak segera ditangani dengan baik. Apalagi ia tahu jika penyakit kanker payudara itu bisa menurun pada anak cucu.

__ADS_1


"Doakan saja! Andaikan nanti aku benar-benar menjalani operasi, aku akan mendapatkan kesembuhan dengan jalan itu" ucap Larissa. Ia terus berusaha membuat suaminya paham akan maksudnya.


"Aku tidak yakin dengan hal itu. Kata-katamu itu terdengar mustahil."


"Tidak ada yang mustahil jika Allah sudah berkehendak."


Hamzah mendengus kesal. Ia marah karena Larissa terus mendebatnya. "Terserah kau mau melakukan apa! aku tidak peduli. Satu hal yang harus kau ingat, aku tidak mau bertanggungjawab kalau sampai terjadi apa-apa padamu nanti."


Larissa kecewa mendengar ucapan Hamzah. Namun ia masih berusaha untuk sabar. "Baiklah kalau itu yang kau mau. Aku janji tidak akan menyalahkanmu atas apa yang akan terjadi padaku nanti. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku sudah berusaha untuk membicarakan hal ini baik-baik denganmu."


Dan Larissa pun pergi ke puskesmas dengan mengendarai sepeda motor tanpa diantar oleh suaminya.


...****************...


Larissa masuk ke ruang pemeriksaan begitu namanya dipanggil. Disana ia menjalani pemeriksaan alakadarnya karena keterbatasan alat. Dan selanjutnya ia mendapatkan rujukan ke sebuah rumah sakit yang lebih besar dan lengkap peralatannya..


Maklum, puskesmas hanyalah sebuah tempat untuk merawat penyakit ringan seperti batuk pilek atau demam, bukan untuk penyakit berat seperti yang Larissa derita.


Larissa tahu akan hal itu. Ia sengaja pergi ke puskesmas hanya untuk mengikuti prosedur. Karena ia menjalani pengobatan dengan menggunakan asuransi kesehatan dari pemerintah. Yang mana ia harus pergi ke puskesmas dulu sebagai faskes awal.


Bukannya Larissa tak mau keluar uang untuk biaya berobatnya sendiri. Hanya saja ia belum memiliki cukup uang untuk itu. Apalagi kemarin ia baru saja melunasi hutang- hutangnya. Terlebih lagi bukankah sayang jika memiliki kartu kesehatan tapi tak pernah digunakan.


Larissa menyimpan surat rujukan itu baik- baik dan segera pulang kembali. Dan sesampainya dirumah ia meminta Hamzah mengantarkannya lusa untuk pergi ke rumah sakit dimana ia dirujuk. Yang mana rumah sakit itu berada dipusat kota.

__ADS_1


Hamzah diam, tak menolak atau mengiyakan permintaan istrinya. Agaknya ia benar-benar tak peduli dengan apa yang akan Larissa lakukan seperti yang ia katakan tadi. Dan agaknya Larissa pun harus lebih berusaha lagi agar suaminya mau mengantarkannya. Apalagi ia tak berani membawa sepeda motor sendiri ke kota besar.


__ADS_2