
...Hai reader semua, bagaimana kabarnya hari ini? semoga semua berada dalam limpahan karunia-Nya....
Menjelang bulan Ramadhan ini, author mau minta maaf pada semuanya bila ada kesalahan yang pernah author lakukan. Mohon maaf jika ada komen-komen yang belum sempat author balas. Semua itu karena keterbatasan waktu yang author miliki.
Author juga mau minta maaf karena baru bisa up hari ini. Author sedang ada masalah sehingga tidak bisa up. Maaf bila sampai saat ini author belum bisa memenuhi keinginan dan harapan dari reader semua. Semoga reader masih setia menanti kelanjutan kisahnya dan juga memberi dukungan sebanyak-banyaknya pada author.
Tanpa berlama-lama, yuk simak cerita selanjutnya....
*
*
*
Usai menjalani pemeriksaan terakhir, Larissa telah dinyatakan membaik dan sudah diperbolehkan untuk pulang. Larissa merasa senang sekaligus bingung. Pasalnya sang mertua belum juga datang, padahal hari sudah siang. Untuk naik angkutan umum atau bis kota, Larissa tak berani. Selain itu Bu Ani juga tidak setuju dengan hal itu. Kasihan dengan bayi Larissa yang baru lahir.
Ditengah kebingungan, salah satu pasien lain yang berada disebelah kamar Larissa mengajak pulang serta. Rumahnya satu arah dengannya, walau rumah Larissa sendiri sebenarnya masih agak jauh lagi.
Setelah berunding dengan ibu dan suaminya, akhirnya Larissa setuju untuk ikut serta. Tentu saja itu bukan ajakan cuma-cuma. Ia harus membayar biaya kendaraannya.
Larissa tidak keberatan dengan hal itu. Setidaknya bayinya tidak akan kepanasan dan lebih nyaman dari pada naik kendaraan umum.
Setelah mengurus semua administrasi dan mengemasi barang-barang, Larissa dan keluarganya pun pulang kembali ke rumah bersama dengan orang yang menawarkan tumpangan tadi. Tanpa ia ketahui, akan ada bencana besar yang menghampirinya akibat keputusan ini.
...****************...
Setelah sekian lama menempuh perjalanan, akhirnya sampai juga dirumah. Larissa turun dari mobil dengan dibantu oleh Hamzah. Mereka tiba pukul sebelas siang.
Setelah memberikan sejumlah uang sebagai ongkos, mobil pun berlalu, sedang Larissa dan keluarganya harus berjalan beberapa meter lagi untuk sampai dirumahnya. Maklum, akses jalan menuju rumahnya hanya bisa dilalui oleh sepeda motor. Sehingga mereka pun terpaksa harus berjalan beberapa meter lagi.
__ADS_1
Saat Larissa melintas didepan rumah salah satu tetangga, si empunya rumah keluar dari dalam. Ia pun membantu membawakan barang-barang Larissa. Setelah beberapa lama berjalan, mereka pun sampai juga dirumah.
"Assalamualaikum" ucap Larissa saat ia memasuki rumah. Kondisi didalam rumah terlihat sangat kotor dan berdebu karena ditinggal pergi selama beberapa hari. Hamzah mengambil sapu dan pel untuk membersihkan rumah terlebih dulu. Sedang Larissa memilih membersihkan tubuh yang lengket.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Larissa menyusui bayinya. Ia termasuk salah satu wanita yang beruntung, karena ASI nya langsung keluar begitu ia melahirkan. Sebenarnya saat usia kehamilannya masih lima bulan, air susunya sudah mulai keluar, sehingga semakin menguatkan keinginan Larissa untuk memberikan ASI eksklusif.
Mengetahui Larissa sudah dirumah, salah satu sepupunya datang. "Loh, kok sudah ada dirumah? tadi mertuamu datang ke rumah sakit untuk menjemputmu" ujarnya dengan wajah keheranan.
Larissa dan Hamzah pun saling melempar pandang. Ia tidak tahu jika mertuanya kesana. Ia sudah menunggu terlalu lama, itu sebabnya saat ada yang menawarkan tumpangan ia menyetujuinya.
Terik matahari semakin membakar bumi. Larissa berniat untuk mengistirahatkan tubuh sejenak. Tapi sebelumnya ia meminta suaminya untuk pergi ke rumah mertua, barang kali mereka sudah ada dirumah sekarang. Ia merasa tak enak dengan mertuanya.
...****************...
"Ibu, ibu baru tiba ya? tadi katanya pergi menyusul ke rumah sakit?" tanya Hamzah saat ia memasuki rumah kedua orangtuanya.
Hamzah tertegun mendengar ucapan ibunya. Ia tak mengerti kenapa sang ibu bisa semarah itu padanya. "Bu, maksud ibu apa? aku sama sekali tidak mengerti dengan yang ini katakan."
"Alah, nggak usah pura-pura nggak tahu," ujar ibu memalingkan muka. "Ibu sudah bela-belain sewa mobil yang bagus buat jemput istrimu di rumah sakit. Tapi ternyata kamu malah sudah pulang duluan. Tahu gitu mending ibu tidak usah pergi kesana."
Mengertilah kini Hamzah dengan penyebab kemarahan ibunya. Tapi sungguh, itu bukan kesalahan yang ia sengaja. Ia benar-benar tidak tahu jika ibunya menyusul ke rumah sakit tadi.
Hamzah mendekati ibunya. Direngkuhnya jemari tangan yang dulu selalu membelainya saat ia masih kecil. "Ibu, aku tidak sengaja melakukan itu. Aku tidak tahu kalau ibu menyusul kesana."
"Alasan!. Tadi kan kamu titip pesan sama Iqbal kalau kamu minta dijemput di rumah sakit. Tapi nyatanya apa? kamu malah pulang duluan."
Hamzah terdiam. Sejenak memikirkan cara untuk menjelaskan semua pada ibunya. Tidak mudah memang menjelaskan sesuatu pada orang yang sedang marah. Tapi ia tetap berusaha untuk melakukannya. "Ibu, tadi aku
nungguin ibu lama sekali disana. Aku pikir ibu tidak akan kesana. Bertepatan dengan itu, salah satu pasien menawarkan tumpangan padaku. Ya udah, aku setuju saja. Lagian, kasihan juga kan cucunya kalau naik bis kota."
__ADS_1
"Kalau kamu mau numpang mobil sama pasien lain, harusnya kamu ngabarin ibu. Biar ibu nggak usah kesana."
Hamzah menghela nafas. Menjelaskan semua pada orang yang terlanjur salah paham memang sulit. Apalagi ibunya tidak pernah mengenyam pendidikan. "Ibu, ibu kan tahu sendiri. Sejak menikah, aku sama Larissa sama-sama tidak pegang handphone. Jadi dari mana kami bisa menghubungi ibu" ujarnya lemah lembut.
"Tapi tadi ibu sudah telepon pihak rumah sakit. Katanya kamu masih belum pulang tadi." Ibu tetap bersikukuh dengan pendapatnya dan menyalahkan Hamzah.
Hamzah terkejut mendengar pengakuan ibunya. "Tapi pihak rumah sakit tidak memberitahu apapun kalau ibu mau kesana?."
"Udahlah! ibu capek bicara sama kamu, "Teriak ibu emosi. "Sekarang, pergi dari sini!. Ibu tidak mau mengurusi kamu lagi. Lagipula anak ibu bukan kamu saja."
Kesalahpahaman ibu tidak bisa diluruskan lagi. Dan akhirnya, keluarlah kata-kata yang menyakitkan itu. Entah ia sadar atau tidak saat mengatakannya.
Bagai disambar petir disiang bolong saat Hamzah mendengar kata-kata pengusiran dari ibunya itu. Ia tak menyangka ibunya akan setega itu padanya. Air mata pun menetes membasahi pipinya.
Hamzah menghapus air mata yang terlanjur jatuh. Ia pun pergi meninggalkan rumah orangtuanya. Hatinya hancur berkeping-keping.
Baskoro hanya bisa diam menyaksikan semua kejadian itu. Ia sendiri tak bisa mencegah kemarahan istrinya. Dalam hati kecil, ia menyayangkan sikap istrinya itu.
...****************...
Saat terbangun, Larissa mendapati Hamzah sudah berada di kamar. Suaminya itu tengah duduk bersimpuh dilantai disisi tempat tidur. Matanya memerah bekas menangis. Bahkan Larissa juga melihat sisa air mata yang masih tertinggal di pelupuk matanya.
"Ada apa, Entik? kok, kamu kelihatan sedih gitu?" tanya Larissa sambil mengucek matanya yang masih setengah mengantuk.
"Tidak apa, Encus. Aku baik-baik saja. Aku hanya melihat dirimu yang tengah tertidur pulas. Kamu lanjut tidur lagi, huh. Mumpung anak kita masih tidur juga" jawab Hamzah. Ia sengaja menutupi semuanya dari Larissa karena tak ingin membuat istrinya kepikiran, apalagi istrinya baru pulang dari rumah sakit.
Larissa memandang wajah Hamzah lekat-lekat. Ia tahu jika saat ini suaminya tengah berbohong. Sorot mata Hamzah tidak bisa membohongi dirinya kalau ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
"Jangan berbohong padaku, Entik. Aku ini istrimu. Aku bisa melihat kalau kamu sedang tidak berada dalam keadaan baik-baik saja" ucapnya lembut tapi tegas.
__ADS_1