
Benar saja dugaan Larissa. Ibu marah dan tak terima dengan keputusan yang diambilnya. Ia bahkan mencaci-maki dirinya. "Dasar anak nggak tahu diri! tega kamu dengan kakakmu sendiri."
"Kamu memang pelit! hartamu tak pernah boleh disentuh orang."
Larissa hanya diam, tak membantah atau membalas ucapan sang ibu. Ia tahu, ibu pasti akan marah dengan keputusannya. Namun ia tak menyangka sang ibu akan tega mengatainya seperti itu.
Setitik air mata jatuh dipeluk mata Larissa. Ada perasaan sakit hati dan kecewa atas sikap sang Ibunda. Namun ia tak mau terlalu memikirkan. Baginya sekarang menuruti perkataan suami jauh lebih penting. Toh selama ini hanya suaminya lah yang selalu membela dirinya.
Sebenarnya Hamzah adalah lelaki yang baik dan pengertian. Ia selalu menuruti apapun keinginan Larissa selagi mampu. Dan ia adalah pengayom yang baik bagi istrinya.
Hamzah memang kerap membuat hati Larissa terluka dan berdarah. Namun ia jugalah yang mengajarkan banyak hal tentang hidup pada dirinya. Hingga ia selalu tegar menghadapi setiap masalah yang menghadang dan tak pernah lupa cara untuk tetap tersenyum.
Satu kekurangan Hamzah, yaitu ketidakmampuannya dalam mengendalikan emosi. Tapi bukankah tidak ada seorangpun yang sempurna dimuka bumi ini.
Setiap orang pasti punya sisi baik dan buruk, tak terkecuali orang paling baik dan bijak sekalipun. Dan dalam diri Hamzah, Larissa melihat banyak sisi positif daripada negatifnya.
Dalam keheningan malam, Larissa sering merenung sendiri. Memutar kembali peristiwa hidup yang ia alami sejak kecil. Terkadang ia mengeluh, kenapa kebahagiaan tak pernah mau bersahabat dengannya? kenapa hidupnya selalu dipenuhi dengan masalah tak berkesudahan? kenapa ia tak seperti anak-anak yang lain? yang tertawa lepas bersama kedua orangtua dan sanak saudara.
Kenapa, kenapa, dan kenapa. Berjuta pertanyaan terus mengganggu pikirannya tanpa mendapat sebuah jawaban. Dan tak ada seorang pun yang bisa menjawab semua pertanyaannya walau hanya satu.
Terkadang ia merasa iri pada anak yang bisa bercengkrama dengan kedua orangtua dan saudara-saudaranya dengan riang gembira. Dan saat ia melihat hal seperti itu, ia hanya bisa menitikkan air mata. "Kenapa aku tidak bisa seperti mereka? apa yang salah dalam diriku?."
__ADS_1
Dulu saat Larissa beranjak dewasa, Bu Ani memaksanya untuk segera menikah dengan alasan takut dicap sebagai perawan tua. Padahal saat itu usianya baru menginjak 16 tahun.
Dua kali Larissa dijodohkan dengan seorang lelaki, dan kesemuanya tidak berjalan sesuai yang diharapkan.
Siapa juga yang mau dinikahkan dengan orang yang usianya terpaut sangat jauh dengan kita. Bahkan bisa dibilang orang tersebut lebih pantas menjadi orangtua kita ketimbang pasangan hidup.
Begitu juga halnya yang dirasakan oleh Larissa. Hingga akhirnya ia pun memilih pergi dari rumah karena tak tahan terus dipaksa untuk segera menikah. Padahal saat itu ia masih sangat ingin melanjutkan pendidikan. Masih ada cita-cita yang ingin ia raih. Sayangnya bagi sang ibu pendidikan untuk wanita tidaklah terlalu penting.
Terkadang masyarakat beranggapan bahwa wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Bisa baca tulis itu sudah lebih dari cukup. Karena tugas wanita adalah mengurus rumah dan anak, bukan mencari nafkah.
Namun anggapan seperti itu tidaklah benar. Justru pendidikan bagi seorang wanita jauh lebih penting. Karena seorang wanita adalah jantung dalam sebuah rumah tangga.
Dibeberapa negara maju, seperti Jepang contohnya, pemerintah mengeluarkan aturan bahwa warganya dilarang menikah sebelum menjadi sarjana. Dan seorang ibu rumah tangga harus berpendidikan minimal S1.
Mereka tahu, seorang ibu rumah tangga sangat penting peranannya dalam mengantarkan anak-anaknya menuju kesuksesan. Itulah mengapa mereka mengeluarkan aturan seperti itu.
Selain itu, alasan kepergian Larissa juga karena tak tahan dengan sikap ibu yang terus memaksanya untuk segera menikah. Padahal ia masih sangat ingin melanjutkan pendidikan. Sayangnya, bagi ibu pendidikan tidaklah terlalu penting.
Terkadang ada sebuah penyesalan dalam diri Larissa. Kenapa ia menyerah dan setuju dengan keputusan ibu untuk menikah di usia muda. Walau ia akui, Hamzah adalah pilihannya sendiri.
Larissa sangat ingat, waktu itu Hamzah tengah bertandang ke rumahnya seperti biasa. Awalnya semua berjalan seperti biasa. Namun saat ia menengok ke halaman rumah, ia mendapati sang ibu tengah bicara serius dengan Budhe. "Ada apa ini? kenapa mereka terlihat sangat serius?."
__ADS_1
Selang beberapa saat, ibu pun masuk ke rumah dan langsung duduk fihadapan mereka. "Nak Hamzah, ada yang ingin ibu bicarakan denganmu!."
"Iya, bu, Silahkan!." Tak ada firasat apapun dalam benak Hamzah saat ibu mengatakan ingin bicara dengannya.
Ibu tampak berpikir sejenak untuk merangkai kata yang pas untuk mengutarakan maksudnya. Sebuah hembusan nafas panjang ia keluarkan sebelum akhirnya ia mulai bicara. " Nak Hamzah, ibu tidak keberatan melihatmu main kesini setiap hari, tapi orang lain belum tentu. Jika mereka melihat ada laki-laki dan perempuan bersama setiap hari tanpa ada ikatan apapun, apa tidak akan menimbulkan fitnah nantinya?."
Hamzah mendengarkan dengan seksama setiap perkataan Bu Ani. Sedikit banyak ia paham kemana arah pembicaraan ini. Namun ia belum bicara apapun, menunggu beliau menyelesaikan ucapannya.
"Nak Hamzah, kalau kamu memang menyukai Larissa, nikahilah dia secepatnya!." Ucapan Bu Ani barusan membuat Hamzah begitu terkejut. Ia memang mencintai Larissa. Tapi ia belum punya pikiran untuk membawa hubungan mereka ketingkat yang lebih serius, apalagi jika harus menikah dalam waktu dekat.
"Jika kamu setuju untuk menikah, bicarakan hal ini dengan kedua orangtuamu. Nanti ibu akan ke rumahmu untuk membicarakan hal ini lebih lanjut."
Setelah mengatakan semua itu, Bu Ani pun berlalu meninggalkan mereka berdua dalam kebungkaman. Memberikan mereka waktu untuk saling berpikir.
Selepas kepergian Bu Ani, Hamzah yang sedari tadi hanya menundukkan kepala pun melempar pandangan ke arah Larissa. "Bagaimana menurutmu? apakah kau bersedia menikah denganku?."
Larissa yang sedari tadi masih terkejut mendengar ucapan sang ibu semakin dibuat terkejut dengan pertanyaan yang Hamzah ucapkan. Sungguh, ia tak pernah menyangka akan secepat ini hubungan mereka, mengingat mereka baru mengenal selama dua minggu.
Setelah berpikir sejenak, Larissa pun menganggukkan kepala. "Baiklah! aku bersedia."
Tak ada lamaran romantis seperti yang pernah ia lihat di film-film atau novel romantis. Bahkan ia juga tak memiliki gambaran seperti apa kehidupan pernikahan nanti. Namun ia tetap setuju untuk menikah karena lelah menghadapi sang ibu yang setiap hari selalu memaksanya untuk segera menikah. Ia hanya berharap, semoga Hamzah adalah lelaki yang tepat untuk dijadikan sebagai imam keluarga kecilnya nanti.
__ADS_1