Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 66


__ADS_3

Jika dulu Larissa mengalami dilema hingga mengesampingkan penyakit yang dideritanya karena sang ibu, kini Larissa kembali mengalami dilema karena persoalan rumah tangganya. Ia sedang sakit, tapi ibu terus menerus memusuhi dan mengusirnya dari rumah.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Aku tahu, jika aku memeriksakan diri kembali saat ini, sudah pasti aku harus menjalani operasi. Tapi masalahnya jika aku harus menjalani operasi saat ini, maka aku tidak akan bisa bekerja selama masa pemulihan nanti. Lalu bagaimana dengan anakku? Bagaimana caraku memenuhi kebutuhan rumah tanggaku kalau aku tidak bisa bekerja? Sedangkan sumber pemasukanku hanya dari jualan rujak ini saja" keluh Larissa saat ia terbangun ditengah malam saat rasa nyeri itu kembali datang.


"selain itu, jika aku menjalani operasi sekarang, lalu bagaimana dengan rencana kami untuk membangun rumah sendiri. Sedang ibuku terus menerus mengusirku dari rumah ini."


"Ya Allah, apakah aku egois bila aku memilih melakukan operasi sekarang? Beri aku petunjuk-Mu, Ya Allah. apa yang harus aku lakukan?" ucap Larissa dengan berderai air mata. Sebelah tangan memegangi dadanya yang terasa sangat nyeri.


Larissa pun berusaha membicarakan hal ini dengan Hamzah. Namun suaminya itu juga tak bisa memberikan solusi terbaik. Malahan dia terkesan cuek dengan penyakit yang Larissa derita.


Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya Larissa pun memutuskan untuk kembali mengesampingkan penyakitnya dan memilih untuk membangun rumah seperti yang sudah mereka rencanakan selama ini.


Larissa pun mulai merealisasikan rencananya. Menurut kepercayaan warga sekitar jika ingin membangun rumah maka harus diadakan syukuran lebih dulu, agar saat proses pembangunan nanti berjalan dengan baik.


Karena tak ingin mengambil resiko, Larissa pun melakukan tradisi tersebut. Dia mengajak mertua, ibu, kakak dan beberapa tetangga untuk makan-makan bersama sambil berdoa untuk kelancaran pembangunan nanti. Disini Iqbal pun turut hadir memenuhi undangan dari Larissa.


Tidak ada kendala saat acara itu berlangsung. Ibu pun terlihat ikut senang saat peletakan batu pertama dilakukan.


Setelah beberapa hari fondasi rumah pun sudah selesai dibuat. Namun dari sinilah masalah mulai datang. Karena uang yang Larissa miliki semakin lama semakin menipis.


Awalnya Larissa berencana untuk membuat rumah kayu sederhana saja, asalkan bisa mereka tempati. Karena saat itu uang yang ia punya belum seberapa. Namun saat pembangunan berlangsung Hamzah malah memaksa untuk membuat rumah dengan rangka beton. Sehingga uang yang ia punya pun tidak mencukupi. Jadilah ia kebingungan mencari pinjaman untuk meneruskan pembangunan. Untung saat itu ada salah satu tetangga yang mau membantunya untuk mendapatkan pinjaman di Bank.


Disaat Larissa pusing tujuh keliling dan kesana kemari mencari pinjaman, sang ibu mertua malah ingin meminjam uang padanya. Kebetulan saat itu beliau juga sedang merenovasi rumah dan kekurangan biaya juga.


Larissa bingung, namun untuk menolak permintaan ibu mertua secara langsung ia tak mampu.


Larissa pun mencoba mencari jalan keluar dengan mengajak bicara suaminya. "Bagaimana, Entik? Apa kita hentikan saja pembangunan rumah kita?."

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak setuju. Mana mungkin kita hentikan pembangunan rumah begitu saja."


"Tapi bagaimana dengan permintaan ibumu, Entik? Aku tidak enak kalau menolaknya."


"Sekarang kamu pilih, kamu lebih mentingin kepentingan kita, atau orang lain?."


"Tentu saja kepentingan kita."


"Itu kamu tahu!."


"Tapi masalahnya, yang minta itu ibu kamu, orangtua kamu sendiri. Apa kamu tidak merasa kasihan pada mereka?."


Hamzah menghela nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan istrinya. " Sekarang begini, aku tanya sama kamu, saat ini berapa uang yang kamu miliki?."


"Hanya tinggal lima juta."


"Kalau uang itu kamu berikan pada ibu, lalu bagaimana dengan kita? Kita saja masih kekurangan uang dan mencari pinjaman. Tapi kamu malah ingin memberikan pinjaman pada orang lain. Apa itu tidak lucu namanya?."


Dengan memberanikan diri, Larissa pun menolak permintaan ibu mertuanya. "Ibu, maafkan aku! Saat ini aku tidak bisa memberi pinjaman pada ibu. Aku juga sedang butuh uang saat ini. Uang yang aku miliki saat ini saja hasil pinjam dari Bank."


Endengar penuturan Larissa, Ibu mertuanya hanya diam. Tapi dari raut wajahnya nampak jelas jika beliau sangat kecewa dengan penilakan dari Larissa. Beliau pun lalu pergi begitu saja dari hadapan Larissa.


Sejak saat itu sikap sang ibu mertua terhadap Larissa pun berubah total. Selama ini beliau sangat baik pada dirinya karena apa yang ia minta selalu dituruti oleh Larissa. Tapi saat permintaannya tidak dituruti, sikap beliau pun langsung berubah. Dan bukan hanya sikap sang ibu mertua saja yang berubah, seluruh keluarga Hamzah pun berbalik memusuhinya.


Mengertilah kini Larissa. Ternyata kebaikan keluarga Hamzah tidaklah tulus. Mereka bersikap baik padanya hanya karena ada maunya. Dan kini ia tak mau lagi memikirkan orang lain, walaupun itu keluarga sendiri.


...****************...

__ADS_1


Hari ini Larissa menjemput putrinya ke sekolah. Tapi saat di pintu gerbang Zahra, putrinya minta dibelikan tahu bulat di samping sekolah. Akhirnya Larissa pun menuruti keinginan kecil dari putrinya tersebut.


"Mbak Ina, beli tahu bulatnya lima ribu" ucap Larissa pada penjual tahu bulat tersebut. kebetulan dia masih terbilang sepupu dengan Hamzah.


"Oh ya, Mbak. Saya buatkan dulu. Silahkan duduk!" ucap Mbak Ina.


Larissa pun menghempaskan tubuh diatas kursi plastik yang tersedia disana.


Sambil menunggu tahu bulat itu matang, Mbak Ina mengajak Larissa bicara, "Mbak Rissa, katanya lagi bangun rumah ya?."


"Iya, Mbak."


"Lha iya, Mbak, Bik Ika itu...." Mbak Ina menggantung ucapannya, seakan memancing reaksi dari lawan bicaranya. Namun dasar Larissa nya saja yang suka penasaran, dengan mudahnya ia pun terpancing. "Ada apa dengan Bik Ika?" tanyanya.


Bi Ika adalah sepupu dari ibu mertua Larissa. Yang juga adalah bibi dari Mbak Ina ini.


"Kemarin itu dia ngomong. Katanya gini, 'Sudah tahu orangtua lagi merenovasi rumah, malah ikut-ikutan bangun rumah juga. Memangnya nggak bisa nunggu sampai selesai dulu apa.' gitu katanya, Mbak."


Larissa tertegun mendengar aduan dari Mbak Ina. Sungguh ia tak menyangka buntut dari penolakannya pada permintaan sang ibu mertua akan seperti ini. Ia hanya bisa mengelus dada mendengarnya.


"Demi Allah, aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Mbak Ina tahu sendiri kan bagaimana keadaanku saat ini? Aku sering diusir oleh ibuku sendiri. Itulah mengapa aku nekat bamgun rumah" ucap Larissa. Ia pun memcoba menjelaskan dengan menceritakan duduk persoalannya.


Mbak Ina manggut-manggut usai Larissa mencwritakam kejadiam sebenarnya. "Keluarga situ memang seperti itu. Sukanya main keroyokan. Mbak Rissa sabar aja."


"Iya, Mbak" jawab Larissa sekenanya.


Tak berselang lama tahu bulat pesanan Larissa pun uasai dibuat. Ia memberika sejumlah uang lalu segera pergi.

__ADS_1


Sesampai dirumah Larissa tak menceritakan kejadian tadi pada suaminya dan bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Ia khawatir jika ia menceritakannya, maka keadaan akan semakin memanas. Karena ia tahu bagaimana watak suaminya, apalagi disaat seperti ini.


Hari demi hari berlalu. Keuangan Larissa pun semakin menipis. Dengan sangat terpaksa pembangunan pun dihentikan karena ketiadaan biaya


__ADS_2