
Hamzah semakin menunjukkan perhatiannya pada Larissa setibanya mereka di rumah. Ia tak membiarkan Larissa mengerjakan pekerjaan rumah sedikitpun dan memilih turun tangan sendiri. Ia berubah overprotektif sekarang.
Berbagai cara ia lakukan untuk menpercepat pemulihan Larissa, termasuk menuruti nasehat orang untuk mencarikannya ikan kuthuk. Ikan jenis ini dipercaya mampu mempercepat pemulihan pasca operasi.
"Aku coba carikan ikan kuthuk di desa sebelah, ya? Katanya ini sangat bagus untuk mempercepat pemulihan," ucap Hamzah keesokan pagi.
"Tapi bukannya ikan itu sangat mahal, Entik? apa kita punya cukup uang untuk membelinya?."
"Tidak, apa. Semahal apapun ikan itu, aku akan tetap membelikannya untukmu. Yang penting kamu bisa cepat pulih."
"Tapi...."
"Sudah, tidak apa. Jangan terlalu dipikirkan. Uang bisa dicari lagi. Yang penting sekarang kesehatan kamu."
Larissa tak membantah perkataan Hamzahl lagi dan memilih untuk menurut, toh itu juga demi kebaikannya sendiri.
Dengan berbekal selembar uang merah di kantong Hamzah berangkat ke desa seberang. Tujuan utamanya adalah ke pasar utama desa. Karena kebanyakan barang-barang yang sulit dicari ada disana.
Hampir semua sudut pasar sudah Hamzah itari, namun ia tak juga mendapatkan ikan itu. Karena ikan itu hanya ada di musim-musim tertentu dan kebetulan saat ini bukan musimnya.
Hamzah mendesau lesu. Lelah dan hampir putus asa, itulah yang kini ia rasakan. "Bagaimana ini? Apa aku harus pulang dengan tangan kosong? Tapi kasihan Larissa."
Di ambang keputusasaan tiba-tiba bayangan akan kehilangan sang istri kembali muncul. Hingga membuat semangat Hamzah muncul kembali. "Tidak! Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Kemarin istriku sudah berjuang diatas meja operasi, sekarang saatnya aku yang berjuang. Dibandingkan dengannya, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada apa-apanya."
"Masih ada beberapa sudut lagi yang belum aku datangi. Mungkin satu diantaranya ada yang menjual ikan kuthuk. Ya, aku harus mencobanya sekarang!."
Hamzah bangkit dan kembali mencari ke sudut pasar yang belum ia datangi. Namun hasilnya tetap nihil, tidak ada satupun yang menjual akan itu. "Ya Allah, bagaimana ini? diantara banyaknya penjual ikan yang ada di pasar ini, masak tidak ada satupun diantara mereka yang menjual ikan ini?."
Hamzah pasrah, namun ia tak kehilangan harapan. Bayangan ketakutan itulah yang menjadi sumber semangatnya. "Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Kalau tidak disini, di tempat lain pasti ada," ucapnya penuh keyakinan. Ia pun memacu motornya kembali mencoba mencari di tempat lain.
Hamzah menyusuri jalanan desa pelan-palan. Sesekali pandangan mata menoleh ke arah kanan dan kiri, berharap ia bisa menemukan ikan langkah itu. Namun hasilnya tetap sama. Ia tak kunjung mendapatkan ikan kuthuk itu. Hingga akhirnya laju motor membawanya ke sebuah pasar kecil.
__ADS_1
Hamzah menghentikan motornya tepat di depan pintu masuk pasar. Ditatapnya bangunan sederhana itu. "Apa di pasar ini ada yang menjual ikan kuthuk, ya? tapi ini kan hanya pasar kecil saja," gumamnya ragu.
"Ah, aku tidak boleh pesimis. Kalau aku tidak melihatnya, maka aku tidak akan tahu hasilnya." Hamzah melangkah memasuki pasar itu. Ditepisnya keraguan yang sempat hinggap.
Suasana pasar sangat lenggang. Hanya beberapa lapak saja yang buka. Bahkan pengunjungnya juga bisa dihitung jari. Hingga keraguan yang sempat hinggap kembali muncul. "Kalau di pasar utama saja tidak ada, lalu bagaimana mungkin ikan itu ada di pasar yang sesepi ini," ucapnya." Ah, rasanya percuma aku masuk lebih dalam lagi. Lebih baik aku cari ditempat lain saja."
Hamzah hendak berbalik meninggalkan pasar namun tiba-tiba sudut matanya menangkap sebentuk ikan dengan ciri-ciri yang sama dengan ikan yang dicarinya. "Apa mataku tidak salah lihat? Itu kayaknya ikan kuthuk?."
Hamzah gegas menghampiri lapak penjual ikan yang diyakininya telah menjual ikan yang yang dicarinya itu.
Lapak itu milik seorang wanita tua. Bangunannya terlihat kumuh. Bahkan banyak lalat yang hinggap di sana. Sedang pemiliknya sendiri terlihat terkantuk-kantuk saat menunggui dagangannya. Namun itu semua tak menyurutkan keinginan Hamzah untuk menghampirinya. Karena yang terpenting baginya adalah ada tidaknya ikan kuthuk itu, bukan bangunannya atau siapa yang menjual.
"Permisi, bu, apa benar ini ikan kuthuk?," tanya Hamzah saat tiba di depan lapak itu. Ditunjuknya ikan yang dimaksud.
Wanita tua penjual ikan itu tergerap mendengar suara Hamzah. Ia menguap lebar sambil mengucek-ucek matanya yang masih terasa sedikit mengantuk. "Ada apa, nak? Kamu tadi bertanya apa?." Rupanya penjual itu tak mendengar pertanyaan Hamzah tadi
Hamzah menghela nafas pelan. 'Pantas saja pasar disini begitu sepi. Lha wong penjualnya aja seperti ini!', gumamnya dalam hati.
"Oh, ini?" ditunjuknya kembali ikan yang dimaksud Hamzah.
"Iya, bu."
"Iya, benar! Ada apa? Apa kamu ingin membelinya?."
Hamzah merasa ikan yang ada didepannya terlalu kecil. Sedang ia ingin membeli yang ukurannya agak besar. "Ada yang agak besar lagi, nggak, bu?," tanyanya.
"Oh, nggak ada, nak. Adanya cuma yang segini," jawab si penjual. "Kalau boleh tahu, memangnya untuk apa, ya cari yang besar?."
"Saya beli buat istri saya, bu. Dia baru selesai operasi kemarin," jawab Hamzah. "Kata orang, ikan kuthuk ini bisa mempercepat pemulihan pasca operasi."
"Oh, memang betul itu, nak. Tapi kalau buat pemulihan pasca operasi bukan ikan yang besar, tapi justru ikan yang ukurannya segini."
__ADS_1
Hamzah ragu, bisa saja penjual itu berkata seperti itu karena ingin dagangannya laku.
Seakan mengerti keraguan Hamzah, penjual itu pun memberi penjelasan. "Saya bicara seperti itu bukan karena ingin dagangan saya laku. Tapi karena ikan dengan ukuran segini lah yang memiliki kandungan minyak ikan lebih banyak. Nah minyak inilah yang nantinya bisa mempercepat pemulihan pasca operasi itu."
"Oh, gitu," Manggut-manggut setelah mendengar penjelasan ibu tadi. "Berapa harga sekilonya, bu?."
"Sekilo harganya seratus lima puluh ribu rupiah, nak."
Mata Hamzah membulat sempurna mendengar harga yang disebutkan penjual itu. "Mahal juga ya, bu harganya. Apa nggak bisa kurang, bu harganya?."
"Nggak bisa, nak, harganya sudah pas segitu." jawab si penjual. "Biasanya sih harganya dibawah seratus ribu rupiah. Tapi karena ini bukan musimnya jadi harganya agak mahal."
"Tolonglah, bu, kurangin dikit harganya." Untuk sebagian orang uang segitu tidak berarti apa-apa. Tapi untuk orang dengan ekonomi menengah kebawah seperti Hamzah, uang segitu sangatlah banyak.
Maka terjadilah tawar menawar diantara mereka. Dan akhirnya mereka pun setuju dengan harga seratus empat puluh ribu per kilo. Namun karena tadi Hamzah hanya membawa uang seratus ribu saja, maka ia pun hanya membeli setengahnya saja.
"Ini kembaliannya, dan ini barangnya" ucap si penjual.
"Makasih banyak, bu."
"Oh, ya, nanti cara memasaknya direbus saja seperti biasa, tapi jangan diberi garam atau penyedap rasa. Cukup tambahkan sedikit irisan jahe untuk menghilangkan bau amisnya."
"Tapi apa tidak hambar nanti rasanya, bu?."
"Memang hambar, nak! tapi kalau ingin mendapatkan hasil yang bagus, ya harus seperti itu."
"Oh, gitu. Ya udah, nanti saya akan memasak seperti yang ibu sarankan tadi. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih!."
"Sama-sama! semoga istrinya segera sembuh dan bisa beraktivitas seperti dulu lagi."
"Amin. Kalau begitu saya permisi dulu, bu."
__ADS_1
Hamzah pun pulang dengan membawa ikan ditangan. Senyum bahagia terpancar di wajah.