
Hari demi hari Larissa lalui dalam kesendirian. Hidupnya terasa hampa tanpa adanya sosok Hamzah disampingnya.
Cintanya pada suaminya itu begitu besar. Hingga membuatnya tidak bergairah dalam menjalani hidup tanpa adanya sosok Hamzah disisi. Jangankan makan dan minum, untuk merawat diri sendiri pun rasanya enggan. Terlebih ia tidak bisa mengetahuinya bagaimana kabar suaminya di pulau seberang.
Meski begitu, ia tetap membantu ibu berjualan seperti biasa. Ia tidak mau membuat masalah baru setelah masalah yang lama baru mereda. Ia tahu, jika ia tidak mau membantu, maka ibu akan bertambah marah. Terlebih ibunya itu suka menggunjingkan setiap kesalahannya pada semua orang, walau itu hanya masalah sepele. Dan itu adalah hal yang paling ia hindari.
Saat kerinduan itu semakin menyelimuti dirinya, ia hanya bisa memeluk bayangan Hamzah sembari membayangkan jika ia berada disisinya, menemaninya melewati malam-malam yang dingin. Seperti yang selalu Hamzah lakukan saat ia benar-benar berada disisinya.
Anehnya, disaat ia merindukan sentuhan dari lelaki yang telah membuatnya tergila-gila itu, Hamzah selalu datang dalam mimpinya. Memanjakannya dengan sentuhan-sentuhan yang mampu membuatnya terbang melayang hingga langit ketujuh. Mencurahkan segenap kasih sayang untuknya.
Mungkin ini yang dinamakan dengan ikatan batin antara suami istri. Atau mungkin hanya karena ia begitu merindukan suaminya. Sehingga ia memimpikan hal tersebut.
Entahlah. Apapun alasannya, yang pasti hal tersebut mampu sedikit mengobati Kerinduan di hatinya. Sehingga ia tidak terlalu menggila karena begitu merindukan sosok suaminya.
Mungkin ia terlihat seperti wanita binal dan murahan. Tapi apa salahnya dalam hal ini. Salahkah jika ia begitu mencintai suaminya? Salahkah jika ia merindukan sentuhan dari suaminya? Salahkah jika ia haus akan kasih sayang dari suaminya?. Toh selama ini ia tidak pernah macam-macam. Ia selalu menjaga mata dan hatinya. Semua hanya untuk suaminya seorang.
Dalam kesunyian malam ia selalu memanjatkan doa-doa terbaik untuk keselamatan suaminya disana. Semoga suaminya selalu berada dalam perlindungan Yang Maha Kuasa.
Ia juga selalu berdoa agar suaminya diberi kemudahan dalam mencari rezeki, memberinya keluasan rezeki. "Ya Allah, jika rezeki kami berada didalam bumi, maka keluarkan lah. Jika diatas langit, maka turunlah. Jika jauh, maka dekatkanlah. Jika haram, maka halalkan lah. Jika sempit, maka lapangkan lah." Itulah sebaris doa yang selalu ia panjatkan.
Dalam keheningan malam ia meneteskan air mata kerinduan, "Entik, bila kah kita kan bersua kembali?" gumamnya dalam hati.
Ketika bayangan mentari kian menghilang
Hatiku menggamit kenangan waktu bertemu
Mengundang sebaknya dadaku rindu padamu
Wajahmu bermain didalam ingatanku
Sunyinya malam yang meresahkan
Memaksa tidurku tidak lena
Rinduku bukannya diciptakan
__ADS_1
Usah kau ragukan
Ketika masa yang berlalu mengubah hari
Hatiku semakin meronta resah selalu
Bertanya mengapa diriku kian merindu
Padamu kekasih hati yang amat ku sayang
Bagaikan daun-daun yang layu
Andainya engkau hilang dariku
Unggas yang kepatahan sayapnya
Terjadi padaku
Titisan embun yang berguguran
Menambah kedinginan tubuhku
Membuat aku pilu
Malam ku bertemankan sendu
Diiringi sebak di dadaku
Menanti tibanya sejuta harapan
Dalam kepayahan rubuhlah impian
Karena jarak yang memisahkan meminta pengorbanan
...****************...
__ADS_1
Tak terasa sebulan hampir berlalu. Larissa mendengar kabar jika para nelayan yang pergi 'AMEN'' mendapat hasil tangkapan yang memuaskan. Begitu pula dengan perahu yang ditumpangi oleh Hamzah, suaminya.
Larissa tentu sangat gembira mendengar hal ini. Ia semakin tak sabar menanti kepulangan suaminya dari pulau seberang.
Hari demi hari ia lewati dalam penantian yang tak pasti akan kepulangan suaminya. Rindunya sudah tak tertahan lagi. Tapi ia mencoba untuk tetap bertahan sembari mengharap Hamzah kan segera pulang. Memeluk dirinya, membebaskannya dari malam-malam yang dingin.
Kala malam ia tak sabar menanti pagi tiba, agar ia bisa menyambut kepulangan sang suami tercinta. Bila pagi tiba ia tak sabar menanti malam menjelma, membayangkan Hamzah membawanya dalam kesyahduan cinta.
Khayalan hanya tinggal khayalan. Nyatanya Hamzah tak jua kunjung datang. Hingga akhirnya ia lelah karena terus menanti dalam ketidakpastian.
Malam itu, ia memaksa matanya agar mau terpejam. Walau nyatanya itu sangatlah sulit. Tapi pada akhirnya mata itu berhasil terpejam juga. Entah karena memang mengantuk, atau lelah karena terus menangis.
"Kapan kau datang, Entik?. Aku sangat merindukanmu. Tidakkah kau merindukan aku juga?" rintihnya sebelum mata itu benar-benar terpejam. Derai air mata masih tersisa di kelopak mata indahnya.
Tepat tengah malam, Larissa terbangun karena sebuah kecupan di dahinya. Ia mengerjapkan mata, mengumpulkan segenap kesadaran. Mencari siapa yang tengah mengecup dahinya.
"Kau sudah bangun, Encus?" tanya sebuah suara. Senyum indah terlukis diwajahnya.
Larissa bangkit dari tidurnya. Netranya mendapati sesosok tubuh gagah nan menawan tengah berdiri dihadapannya. Setengah tak percaya akan penglihatannya sendiri ia pun bertanya, "Entik? kau kah itu?" sambil mengucek mata. Memastikan jika apa yang ia lihat memang benar.
"Iya, Encus. Ini aku, suamimu!" jawabnya sambil menganggukkan kepala. Senyum indah terus terukir diwajahnya. "Lihatlah! sekarang aku telah berdiri dihadapanmu. Aku telah kembali padamu. Tidakkah kau ingin menyambut kedatanganku?."
"Tidak! Ini semua tidak nyata. Ini bukan kau, ini pasti hanya khayalanku saja!" bibir bergetar sambil berjalan mundur, menggelengkan kepala berulang kali. Masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Pergilah! jangan ganggu aku. Biarkan aku melewati malam dengan tenang. Jangan kau siksa aku dengan bayanganmu" air mata berderai. Ia masih menyangkal jika sosok yang berdiri dihadapannya benar-benar Hamzah.
Hamzah merangsek maju, mencoba meraih jemari lentik milik sang istri. "Tidak, Encus. Ini semua nyata. Ini bukan khayalanmu. Ini benar-benar aku, suamimu!." Namun Larissa menepis tangannya, bahkan semakin menjauhinya.
"Kau bohong! Ini semua hanya ilusi" terus menyangkal akan kehadiran sosok yang berdiri tegap dihadapannya.
"Aku mohon ampuni aku. Pergilah! Jangan kau siksa aku terus-menerus dengan bayanganmu. Aku tak sanggup lagi." Air mata semakin deras mengalir. Memohon pengampunan dari sosok yang ia anggap sebagai khayalannya agar segera pergi dan tidak mengganggunya lagi.
Nampaknya terus-menerus berada dalam khayalan membuat Larissa tak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya ilusi. Dan semua itu karena ia terlalu lama memeluk malam dalam kesunyian.
Hamzah tak menyerah. Ia terus berusaha meyakinkan istrinya jika apa yang ia lihat memang nyata. Meski ia terus mendapat penyangkalan dari Larissa.
__ADS_1
Hamzah mulai jengah. Ia tak bisa terus-terusan begini. Ia pun mendekap tubuh larissa dengan erat agar ia tak bisa menghindar terus darinya.
Larissa memberontak, mencoba melepaskan diri dari dekapan suaminya. Namun ia tak berhasil. Tenaganya kalah dengan suaminya yang jauh lebih besar darinya. "Aku mohon, lepaskan aku"ratapnya pilu.