Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 77


__ADS_3

Larissa memutuskan untuk melupakan masa lalu dan bangkit dari keterpurukan. Ia sadar, ada seorang anak kecil yang masih sangat membutuhkan dirinya. Dan untuk itu ia harus sembuh terlebih dulu.


Langkah awal yang Larissa lakukan adalah meyakinkan suaminya agar mau mengantarkannya ke rumah sakit lagi.


Bicara soal meyakinkan suami membuat ingatan Larissa kembali pada saat sebelum ia ke rumah sakit bersama Hamzah untuk pertama kali. Saat itu suaminya menentang keras keinginannya hingga membuat Larissa putus asa dan memutuskan untuk menyusul ayahnya yang telah tiada.


Tangisan pilu Larissa mampu meluruhkan keras hati suaminya. Namun Larissa menepis suaminya lantaran terlanjur kecewa. "Lepaskan! Lebih baik aku mati saja. Bukankah kau tak peduli lagi denganku."


"Siapa bilang aku tak peduli? Aku juga sangat khawatir dengan kesehatanmu."


"Bohong! Kau sungguh seorang pembohong besar," senyuman getir terukir di bibir Larissa. "Buktinya kau tak ingin aku berobat ke rumah sakit, kan?."


Hamzah bungkam, tak menjawab pertanyaan istrinya. Entah ia tak memiliki jawaban atau memang sengaja tak mau menjawab pertanyaan itu.


Melihat kebungkaman sang suami membuat Larissa semakin meradang. "Kenapa sekarang kau hanya diam? Ayo jawab! Atau perkataanku tadi memang benar hingga kau tak mampu menjawabnya?."


Hamzah tertunduk lesu. "Sungguh, Larissa, percayalah padaku. Aku benar- benar khawatir dengan kesehatanmu."


"Kalau begitu jawab! Kenapa kau tak ingin aku pergi ke rumah sakit?."


Hamzah mendongakkan kepala. Terlihat pipinya telah basah oleh air mata. "Aku mohon, Larissa, percayalah! Aku punya alasan kenapa aku melarangmu ke sana. Tapi sungguh, aku juga ingin melihatmu sembuh."


Melihat suaminya meneteskan air mata membuat emosi Larissa sedikit mereka. Sejauh yang Larissa kenal, Hamzah adalah sosok lelaki yang tak pantang meneteskan air mata. Tapi kini air mata itu jatuh lantaran dirinya. "Kalau begitu katakan! Kenapa kau tak ingin aku pergi?," ucapnya lirih. Tangisannya sedikit mereda dan menjadi sesenggukan. "Sungguh, Entik, aku benar-benar ingin sembuh. Aku masih ingin melihat anak kita tumbuh dewasa. Apakah itu terlalu berat untukmu?."

__ADS_1


Hamzah merengkuh tubuh Larissa dan membawanya kembali ke dalam pelukannya. "Aku hanya tak ingin melihatmu menjadi seperti ibumu setelah menjalani operasi, Encus. Lihatlah bagaiamana keadaan ibumu sekarang?," ucapnya lirih.


"Lihatlah ke dalam mataku! Apakah kau melihat ada sebuah kebohongan disana?," tanyanya lagi. Diarahkannya wajah Larissa menghadap ke wajahnya.


Larissa melihat sebuah ketulusan yang terpancar dari sorot mata Hamzah. Ada sedikitpun kebohongan disana. "Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus diam saja dan membiarkan penyakit ini bersarang di tubuhku?."


"Bagaimana kalau kita coba pengobatan alternatif saja. Aku lihat banyak orang yang sembuh setelah menjalani pengobatan ini. Dan tampaknya pengobatan ini juga tidak terlalu beresiko."


Larissa berpikir sejenak. Dan setelah menimbang baik-buruknya Larissa pun setuju. "Baiklah, aku setuju! Kita coba pengobatan alternatif seperti yang kamu bilang. Tapi dimana letak pengobatan itu?."


Hamzah tersenyum bahagia mendengar persetujuan dari sang istri. "Aku tahu dimana letaknya. Tempatnya tidak jauh dari sini."


Larissa mengernyitkan dahi. Selama ini ia tak pernah tahu jika di dekat tempat tinggalnya ada sebuah pengobatan alternatif. "Dimana?."


"Uwak Sodiq?." Larissa semakin bingung mendengar suaminya menyebut nama salah satu keluarganya sekaligus guru tempat dimana ia menimba ilmu kebatinan selama ini."


Melihat keraguan dibenak sang istri Hamzah kembali meyakinkan jika yang di ucapkannya tadi memang benar. "Iya, benar, Uwak Sodiq. Selain pintar dalam hal ilmu kebatinan, beliau juga bisa mengobati beberapa penyakit. Bahkan banyak yang mengaku sembuh setelah beberapa kali menjalani pengobatan disana."


Awalnya Larissa ragu, namun akhirnya ia pun setuju juga. "Baiklah! kita pergi kesana."


Itulah awal mula Larissa menjalani pengobatan alternatif di rumah Uwak Sodiq, namun akhirnya semua berubah menjadi bencana.


Larissa tersentak dari lamunannya saat ada srorang pembeli yang datang. Cepat-cepat ia merapikan diri dan beranjak melayani pembeli itu.

__ADS_1


...****************...


Benar saja dugaan Larissa. Meyakinkan Hamzah agar mau mengantarkannya kembali ke rumah sakit bukanlah perkara mudah. Terbukti kini suaminya itu sangat menentang keinginannya.


Walau suaminya menentang keras keputusannya namun Larissa tak peduli. Setuju atau tidak ia tetap akan berangkat. Semua demi kesembuhan dirinya sendiri. Dengan sangat terpaksa akhirnya Hamzah pun mau mengantarkannya juga.


Larissa sengaja menitipkan anaknya ke rumah sang mertua karena saat itu jam praktek dokter bedah yang menanganinya adalah malam hari. Ia khawatir putrinya jatuh sakit karena kemalaman di jalan. Apalagi perjalanan dari rumah ke rumah sakit memakan waktu hingga dua jam.


Sepanjang perjalanan sikap Hamzah sangat tidak mengenakkan. Seakan menunjukkan bahwa ia sangatw terpaksa melakukan ini. Namun Larissa diam dan tak peduli. Baginya, dengan Hamzah mau mengantar saja itu sudah lebih dari cukup.


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan akhirnya mereka pun sampai. Mereka duduk di ruang tunggu menunggu nama Larissa dipanggil setelah mengambil nomor antrean.


Waktu demi waktu pun berlalu. Namun nama Larissa tak kunjung di panggil. Membuat Hamzah semakin gusar karena berada di tempat yang tidak ia sukai. Mau berapa lama lagi kita disini?," ucapnya dengan nada yang tidak menyenangkan.


"Entah! Kita tunggu saja. Namanya rumah sakit besar, pasti banyak yang antre." Larissa mencoba bersabar menghadapi sikap arogan suaminya dengan berkata lemah lembut. Ia tak mau meladeni suaminya. Apalagi di tempat umum seperti ini.


"Kalau kamu benar-benar menjalani operasi, maka dipastikan kamu tidak akan pernah bisa berjualan lagi." Hamzah mencoba mempengaruhi Larissa agar mengubah keputusannya dengan mengatakan hal yang selalu menjadi pertimbangannya selama ini.


Larissa sangat paham akan konsekuensi ini. Dulu ia ragu karena hal ini, tapi kini tidak lagi. Ia pun berusaha bersikap bijak menanggapi ucapan suaminya ini. "Kalau memang itu harus terjadi, aku ikhlas!. Mungkin nanti Allah akan memberiku jalan lain yang lebih baik untuk mendapatkan rezeki. Karena rezeki bisa datang dari arah mana saja. Bahkan dari arah yang tidak pernah kita duga sebelumnya."


Bukannya mengaminkan ucapan sang istri, Hamzah malah mentertawakannya. "Ha ha ha, omong kosong. Itu hanya omongan orang sok bijak saja. Kamu tidak usah ikut-ikutan sok bijak deh! Nggak ada pantas-pantasnya."


Larissa memejamkan mata sambil mengusap dada mendengar ucapan pedas yang dilontarkan sang suami. Namun ia terus berusaha bersabar menghadapinya demi tak memancing keributan di muka umum. Di tahannya air mata yang yang memaksa untuk keluar sekuat tenaga. " Ya Allah, berikan aku kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi ini semua," ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Setelah menunggu lama akhirnya nama Larissa pun dipanggil. Dan tanpa berlama-lama ia pun segera masuk ke ruangan dokter diikuti oleh Hamzah di belakang.


__ADS_2