Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 51


__ADS_3

Hamzah benar-benar memenuhi janjinya untuk tak meninggalkan Larissa walau apapun yamg terjadi. Ia tak lagi 'AMEN' seperti sebelumnya, melainkan 'DAMAR' saja.


'DAMAR' hampir sama dengan 'AMEN'. Peralatan yang digunakan pun sama, hanya saja waktu dan tempat yang berbeda. Jika 'AMEN' bertempat di Bali dan dalam jangka waktu yang lebih lama, maka 'DAMAR' bertempat disekitaran dan hanya memerlukan waktu sehari semalam.


Memang dengan pilihan Hamzah ini membuat Larissa kehilangan banyak waktu bersama suaminya, pasalnya Hamzah harus berangkat siang dan baru pulang keesokan harinya. Selain itu ia juga harus bekerja ekstra, karena ia harus menjual sendiri ikan yang didapat, sedang dulu ia langsung menerima hasilnya saja.


Memang terdengar serba sulit, namun setidaknya ia masih bisa bertemu suaminya walau waktu yang ada sangat terbatas. Dan bukankah ini yang ia inginkan, tetap bersama walau apapun yang terjadi.


Perlahan keadaan semakin membaik seiring dengan membaiknya pula perekonomian mereka berdua. Kini mereka tak terlalu kesulitan dalam hal keuangan.


Merasa telah memiliki tabungan yang cukup, Larissa berniat mengganti sepeda motor yang lama dengan yang lebih bagus. Pasalnya sepeda motor yang dulu sering mogok di tengah jalan.


Ada cerita lucu dibalik sepeda motor lamanya. Waktu itu Hamzah terpaksa mengganti oli mesin dengan minyak goreng sebagai pelumas mesin. Waktu itu keuangan mereka belum stabil. Jangankan untuk membeli oli mesin, untuk makan sehari-hari saja susah.


Memang, itu bukanlah hal yang benar. Tapi mau bagaimana lagi. Hanya itu yang mereka mampu.


Nyatanya, dengan menggunakan minyak goreng sebagai pelumas mesin, sepeda motornya masih bisa digunakan. Tapi lama-kelamaan mesinnya suka rewel karena tidak menggunakan oli yang semestinya. Terlebih sepeda motor itu juga tidak pernah diservis.


Langkah pertama sebelum membeli sepeda motor baru, Hamzah menawarkan sepeda motor lama pada beberapa temannya. Itung-itung hasil penjualannya bisa buat nambah-nambah.


Setelah beberapa hari menawarkan, akhirnya ada salah satu teman Hamzah yang tertarik dengan sepeda motor itu.


Larissa merasa senang sekaligus heran. Bagaimana bisa sepeda motor yang termasuk rusak parah tapi masih ada yang mau membeli.


Kabarnya, dulu sebelum sepeda motor itu berada ditangan Hamzah, banyak anak muda yang mengincar sepeda tersebut. Dan saat mereka mendengar jika sekarang Hamzah ingin menjualnya, mereka pun banyak yang menawarnya.


Setelah proses tawar menawar, akhirnya Hamzah melepas sepeda dengan merek GL pro tersebut dengan harga satu juta delapan ratus rupiah.

__ADS_1


Dua tahun yang lalu mereka membeli sepedanya motor tersebut seharga dua juta rupiah. Dan kini laku dengan selisih harga hanya dua ratus ribu rupiah saja.


Bila dihitung-hitung, mereka tidaklah rugi melepas sepeda tersebut dengan harga segitu. Mengingat kondisi mesinnya yang sudah rusak parah.


Keesokan harinya, Hamzah mengajak Larissa ke showroom yang menjual sepeda seken. Kali ini ia tak mau mengambil keputusan sendiri. Ia selalu melibatkan Larissa dan meminta pendapatnya dalam hal apapun dan sekecil apapun sebelum mengambil keputusan.


Larissa meminta Hamzah untuk mencari sepeda motor bertipe bebek saja agar dia bisa turut menggunakannya, terlebih Hamzah tak selalu bisa mengantarkan bila ia hendak bepergian.


Sudah ada dua showroom yang mereka datangi, tapi belum juga ada sepeda motor yang cocok dengan keinginan mereka. Hamzah pun mengajak Larissa pulang kerumah dulu untuk meminjam sepeda motor pada Uwak Shodiq agar mereka tak terlalu capek, pasalnya saat itu mereka hanya berjalan kaki.


Setelah mendapatkan pinjaman sepeda motor, Hamzah mengajak Larissa untuk kembali mencari sepeda motor di showroom lain. Dan tak butuh waktu lama mereka pun sampai di showroom tersebut.


Hamzah mulai melihat-lihat beberapa sepeda motor yang tersedia di sana dan juga menanyakan harganya. Akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada sebuah sepeda motor yang ada disudut ruangan.


"Bagaimana menurutmu sepeda motor itu?" tunjuk Hamzah. Ia meminta pendapat Larissa sebelum benar-benar menjatuhkan pilihannya.


"Jadi kamu setuju dengan sepeda itu?" tanya Hamzah lagi, meminta kepastian dari istrinya.


Larissa terlihat ragu, karena sedari awal matanya tertuju pada sebuah sepeda motor berwarna biru yang terpajang ditengah-tengah showroom. Sepeda tersebut terlihat lebih bagus daripada pilihan Hamzah. Terlebih sepeda tersebut berwarna biru yang merupakan warna kesukaannya. "Bagaimana kalau yang itu?" ucapnya.


Hamzah pun menghampiri sepeda yang ditunjuk Larissa. "Kamu suka dengan sepeda motor ini?" tanyanya.


Larissa mengangguk, "Iya! suka sekali" jawabnya jujur.


"Berapa harga sepeda motor ini, pak?". Kali ini ia bertanya pada pemilik showroom.


"Lima juta rupiah".

__ADS_1


"Apa uang kita cukup untuk membeli sepeda motor ini?." Hamzah kembali bertanya pada Larissa.


"Cukup! Ditambah uang hasil penjualan sepeda kemarin masih tersisa dua juta rupiah lagi."


"Apa kau benar-benar suka dengan sepeda motor ini?" tanya Hamzah kembali. Ia ingin memastikan keinginan dari istrinya.


"Suka! sangat suka. Memang harganya sedikit lebih mahal, tapi kondisi sepeda motor ini jauh lebih bagus dari pilihanmu tadi. Apalagi biru adalah warna kesukaanku" jawab Larissa lirih. Ia tundukkan kepala, khawatir Hamzah tidak setuju dengan pilihannya.


Hamzah bila membeli barang suka mencari yang harganya murah tapi masih bagus. Sedang bagi Larissa, tak apa sedikit lebih mahal, asal barangnya awet, sehingga mereka tak perlu membeli lagi. Tentu saja yang sesuai dengan budget mereka saat itu.


Hamzah menghela nafas, "Baiklah kalau itu keinginanmu. Kalau begitu, kita ambil sepeda motor ini" jawabnya sambil menyunggingkan Sebuah senyuman.


Larissa mendongakkan kepala, tersenyum gembira. Tanpa disangka ternyata suaminya setuju dengan pilihannya. Sorot mata berbinar-binar, menunjukkan betapa ia sangat bahagia dengan keputusan yang diambil suaminya. "Makasih banyak sudah mau menuruti keinginanku."


Hamzah kembali mengulas sebuah senyuman manis mendengar ucapan istrinya. Kemudian ia pun mengurus proses jual beli sepeda tersebut.


Setelah semua selesai, Hamzah mengantar Larissa pulang kerumah, sedang sepeda motor yang baru dibeli untuk sementara ia titipkan dulu di showroom tersebut karena tidak mungkin ia mengendarai sepeda motor dua sekaligus.


Rencananya Hamzah akan mengajak adik lelakinya untuk mengambil sepeda motor tersebut, karena saat itu Larissa belum bisa mengendarai sepeda motor.


Sesampainya dirumah, Larissa membagikan bubur pada beberapa tetangga disekitar rumah yang tadi sempat ia beli dijalan. Bubur tersebut adalah sebagai ungkapan syukur karena ia diberi rezeki berupa sepeda baru.


Sore hari Hamzah mengajak istri dan anaknya jalan-jalan sembari mencoba motor baru mereka. "Kau senang, Encus?" tanyanya ditengah perjalanan.


"Senang! sangat senang. Aku bahagia sekali hari ini. Semoga kebahagiaan ini tidak segera berlalu dari hidup kita." Harapan dan doa terucap dari bibir nan manis milik Larissa agar kebahagiaan tidak cepat berlalu.


Hamzah menyunggingkan sebuah senyuman, turut mengamini doa yang diucap sang istri.

__ADS_1


Hari itu, senyum bahagia nampak jelas di wajah keduanya. Menunjukkan betapa mereka sangat bersyukur atas segala karunia-Nya.


__ADS_2