Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 108


__ADS_3

Hari ini jualan Larissa laris manis diserbu oleh teman-teman sekelas Zahra. Walau tadi sempat merasa pegal dan meriang namun semua itu terbayar dengan banyaknya uang hasil penjualan yang didapat.


Rasa syukur Larissa semakin bertambah saat ikan hasil tangkapan Hamzah diborong oleh salah satu tengkulak dengan harga yang sesuai walau pasar mulai sepi.


Usai dari pasar Larissa kembali menemui suaminya untuk membereskan jualan sekaligus menjemput putrinya. Dan mereka pun pulang ke rumah bersama-sama.


Setiba di rumah Larissa memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk melepas penat di tubuh. Namun justru hal itu membuatnya kembali merasakan rasa tidak enak disekujur tubuh. Cepat-cepat ia bangkit kembali dan memilih untuk melakukan aktivitas lain agar rasa tak enak itu hilang.


Pukul dua siang, waktunya Hamzah berangkat melaut lagi. Begitu juga dengan Zahra yang pergi mengaji. Kini tinggallah Larissa sendirian dirumah.


Sebetulnya Hamzah agak ragu untuk meninggalkan Larissa siang itu. Ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Namun Karena Larissa terus meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja, ia pun mengabaikan perasaannya itu dan tetap berangkat juga.


Hari beranjak sore, Zahra belum juga pulang dari mengaji. Sementara Larissa merasakan tubuhnya semakin tidak karuan, sendirian di rumah.


Susah payah ia bangkit dari tempat tidur untuk merebus air. Ia ingin mandi air hangat untuk merilekskan tubuh. Tak lupa secangkir teh hangat ia buat pula untuk diminum setelah mandi.


Usai mandi, Larissa merasa tubuhnya sedikit lebih baik, ditambah dengan meminum secangkir teh hangat semakin membuat tubuhnya jauh lebih baik. Ia pun lanjut membeli aneka macam mie seduh untuk berjualan esok pagi.


Mendung hitam menguasai langit sore, menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Ditambah dengan adanya hembusan angin yang memastikan pertanda itu. Sesekali terdengar suara petir dan sambaran kilat di langit.


Larissa mempercepat laju sepeda motor agar tak kehujanan di jalan. Namun hembusan angin yang menerpa membuat tubuhnya yang baru saja enakan kembali meriang.


Larissa meletakkan begitu saja barang belanjaan dan menghempaskan tubuh diatas ranjang. Sekujur tubuh terasa begitu sakit, seluruh tulangnya terasa ngilu dan sendi-sendinya bagai dicopoti.


Larissa heran, biasanya mandi air hangat ditambah dengan meminum secangkir teh mampu mengatasi rasa tak enak badan yang biasa ia alami. Namun entah kenapa hari ini cara itu tak efektif sama sekali, padahal tadi ia juga sempat meminum obat sebelum pergi berbelanja.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Zahra pulang dari mengaji. Berteriak memanggil-manggil sang ibu saat tak mendapati keberadaan ibunya. Namun saat melihat sang ibu mengerang kesakitan di kamar ia pun menangis. Dipijitnya kaki sang ibu dengan maksud meringankan rasa sakitnya.


Larissa tersentuh dengan perhatian yang diberikan oleh putri semata wayangnya. Ia bersyukur karena Allah memberikannya seorang putri yang baik dan penurut seperti Zahra. Dihapusnya lelehan air mata yang mengalir di pipi putrinya. "Jangan menangis, nak, ibu tidak apa-apa. Ibu cuma kecapekan saja. Nanti setelah beristirahat juga pasti sembuh" ucapnya menenangkan.


"Tapi ibu beneran tidak apa-apa, kan?."


"Tidak, nak, ibu baik-baik saja. Mending sekarang kamu mandi dan setelah itu makan, ya?."


Zahra mengangguk dan melalukan perintah ibunya tanpa disuruh untuk kedua kali.


Malam mulai datang. Rupanya hari itu hujan tak jadi turun, namun mendung hitam masih setia di atas langit.


Semakin malam kondisi Larissa ternyata semakin memburuk. Suhu tubuhnya sangat panas sedang sekujur tubuh menggigil kedinginan, tulang belulang serasa bagai dicopoti dari tempatnya. Bahkan sekarang kakinya pun sulit untuk digerakkan.


Sejak saat itu bila Larissa mengalami demam tinggi, maka ia akan merasa tulang-tulangnya terasa begitu nyeri, dan bahkan untuk berdiri saja susah. Dan kini ia khawatir terkena penyakit itu lagi.


Larissa menangis sendiri dalam kamar. Dalam hati memanggil-manggil nama sang suami agar segera datang dan memeluk tubuhnya. Ia menyesal kenapa tadi mengizinkannya pergi. Andai ia tahu bahwa kondisinya sekarang seperti ini, tak mungkin ia biarkan suaminya pergi.


Malam itu pukul dua puluh satu waktu indonesia bagian barat, Larissa semakin tak tahan dengan rasa sakit yang ia alami. Ia pun membangunkan putrinya yang sedang terlelap disampingnya dengan maksud untuk menyuruhnya meminta bantuan ke rumah Iqbal. Karena hanya dialah keluarga yang rumahnya dekat dengan rumahnya yang mungkin bisa ia mintai bantuan saat ini.


"Zahra, bangun, nak! ayo bangun sebentar," ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi Zahra.


Zahra terbangun, namun kesadarannya belum terkumpul semua. Apalagi ia baru beberapa menit yang lalu memejamkan mata. "Ada apa, bu? Kenapa membangunkanku? Apa hari sudah pagi?" tanyanya sambil menguap lebar.


"Belum, nak, ini masih pukul sembilan malam.

__ADS_1


"Lalu kenapa ibu membangunkanku? Aku lanjut tidur lagi ya, bu. Aku masih mengantuk."


"Tunggu sebentar, nak, jangan tidur dulu. Tolong panggilkan pakde Iqbal sebentar. Bilang padanya kalau ibu sedang sakit."


"Tapi ini sudah malam, bu. Aku takut keluar sendirian."


"Tolonglah, nak, sebentar saja. Ya!."


"Tapi aku takut gelap, bu."


"Tolonglah, nak, ibu tak kuat lagi menahan sakit di tubuh ibu. Tolong panggilkan pakdemu, ya!" ucapnya dengan derai air mata karena tak sanggup menahan rasa sakit. Namun ternyata air matanya itu membuat Zahra ikut menangis pula.


Larissa iba, tak tega melihat putrinya ikut menangis. Ia pun mencoba menggerakkan tubuh dan bangkit dari tempat tidur. Namun ternyata kakinya tak sanggup menopang bobot tubuh hingga membuatnya jatuh tersungkur diatas lantai.


"Ibu!" jerit Zahra saat melihat ibunya jatuh. Ia pun bangkit dan menghampiri ibunya dengan maksud membantunya untuk berdiri. Namun apalah daya, ia hanyalah seorang anak kecil berusia enam tahun. Mana bisa ia menopang tubuh sang ibu yang jauh lebih besar darinya.


"Sudahlah, nak. Kamu tidak mungkin bisa mengangkat ibu. Tolong kamu panggilan pakdemu saja, ya!."


"Tapi aku takut, bu!" ucapnya dengan berurai air mata.


"Lihat kondisi ibu! Apa kau tidak merasa kasihan, nak? Andai ibu bisa sendiri, ibu tidak akan minta bantuanmu." Larissa tahu, putrinya adalah anak yang penakut. Namun ia terpaksa melakukannya karena tak memiliki pilihan lain.


Dengan derai air mata dan menahan rasa takut Zahra melakukan perintah Larissa pergi ke rumah pakdenya yang berada disamping rumah untuk meminta bantuan.


sementara itu Larissa menyeret tubuhnya berjuang untuk mencapai pintu utama. Meski sedikit memaksa, namun ia tetap khawatir kalau putrinya kenapa-napa.

__ADS_1


__ADS_2