
Tiga hari sudah Larissa dirawat di puskesmas, selama itu pula Hamzah setia menemani tanpa beranjak sedikitpun. Ia tak pernah menceritakan pada istrinya tentang insiden di perahu yang membuatnya hampir kehilangan nyawa. Ia tak ingin membuat istrinya khawatir akan hal itu.
Larissa merasa jenuh dan terus merengek ingin pulang. Tapi apa yang bisa Hamzah lakukan untuk menuruti keinginannnya kalau dokter belum mengizinkan untuk pulang.
Hari ini sudah hari ke lima sejak Larissa masuk puskesmas, namun ia belum juga diperbolehkan untuk pulang, padahal ia merasa tubuhnya sudah jauh lebih sehat.
"Jadi, kapan saya diperbolehkan untuk pulang, mbak?" tanya Larissa usai perawat melakukan pemeriksaan terhadapnya pagi itu.
"Kita tunggu apa kata dokter nanti ya, mbak!" jawab perawat ramah.
"Kenapa harus menunggu dokter sih, mbak? bukankah saya sudah sehat? Krnapa tidak sekarang saja?" tanyanya kesal.
Perawat tersenyum dan tak marah sedikitpun melihat kekesalan Larissa. Ia tahu saat ini pasien dihadapannya itu sudah bosan berada di puskesmas, atau mungkin karena sering melihat hal semacam itu.
"Kami mohon maaf ya, mbak! Ini sudah menjadi kebijakan kami," ucapnya, senyuman ramah tak juga lepas dari bibirnya.
Larissa mendesau lesu mendengar jawaban yang perawat berikan. Jika sudah begini ia hanya bisa menunggu dan menunggu.
Sementara itu Hamzah yang sedari tadi melihat interaksi antara Larissa dan perawat dari balik pintu hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi kekesalan sang istri. "Dasar! Dari dulu nggak pernah berubah. Bersabar sedikit saja tidak pernah mau!."
Ia pun masuk ke dalam ruangan begitu perawat menyelesaikan tugasnya dan berlalu.
"Apa kata perawat tadi? Apa kau sudah diperbolehkan pulang sekarang?" tanyanya berbasa-basi sambil menghempaskan tubuh diatas kursi, padahal ia mendengar semua pembicaraan mereka.
Larissa semakin kesal mendengar pertanyaan yang diajukan suaminya. "apalagi? Kau pasti sudah mendengar sendiri kan tadi?" mencebikkan bibir.
Hamzah semakin tertawa melihat ekspresi kekesalan sang istri. "Ya udahlah, sabar dikit napa? Palingan bentar lagi juga dokternya kesini," ujarnya tanpa beban.
Larissa menatap suaminya dengan tatapan penuh harap "Kalau nanti dokter belum memperbolehkanku pulang bagaimana?."
Mendengar pertanyaan sang istri Hamzah hanya bisa mengedikkan bahu. "Ya, mau bagaimana lagi. Kita tunggu saja sampai dokter memperbolehkan."
"Ngomong sama kamu itu percuma! nggak pernah ngasih solusi yang menggembirakan."
Hamzah diam dan membiarkan sang istri dengan kekesalannya sendiri.
__ADS_1
Waktu demi waktu berlalu, tapi yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidung. Membuat harapan Larissa untuk bisa pulang hari ini mulai pupus.
Ditengah keputusasaan tiba-tiba pintu dibuka dari arah luar. Dibaliknya muncul seorang dokter beserta beberapa dokter magang.
Melihat kemunculan sang dokter Larissa tersenyum senang. Harapannya untuk pulang hari ini yang sempat padam kini kembali muncul.
"Selamat pagi. Bagaimana kabar anda hari ini?" tanya dokter berbasa-basi.
"Saya merasa sangat sehat, dok. Jadi, kapan saya boleh pulang?" ucapnya tanpa mau berbasa-basi, langsung pada pokok utama yang ingin ia tahu sedari tadi.
Hamzah yang menyingkir kebelakang untuk memberi ruang saat dokter mendekati istrinya pun hanya bisa geleng-geleng kepala atas ketidaksabaran sang istri.
Dokter tersenyum ramah mendengar pertanyaan Larissa yang sebenarnya lumrah ditanyakan oleh semua pasien namun terlihat sangat tak sabaran dari caranya mengucapkan. "Kita lakukan pemeriksaan sebentar, ya!" ucapnya.
Larissa kembali mendesau lesu mendengar ucapan dokter. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah dan membiarkan dokter melakukan tugasnya.
Dokter mengeluarkan peralatan medis dan segera memeriksa keadaan Larissa dengan seksama. Mulai dari denyut nadi, tekanan darah, dan juga luka bekas operasinya.
"Kondisi anda sudah stabil, warna kemerahan pada payudara anda kemarin juga mulai memudar," ucap dokter setelah selesai dengan serangkaian pemeriksaannya.
Dokter tertawa kecil melihat ketidaksabaran pasiennya. "Kita lihat hasil laporannya dulu ya!."
Perawat memberikan berkas laporan kesehatan Larissa. Dokter membaca hasilnya dengan seksama. Dan setelah selesai ia pun berkata, "Hasil laporan menunjukkan bahwa kondisi anda semakin membaik. Jadi hari ini anda sudah diperbolehkan untuk pulang."
"Yes!" pekik Larissa kegirangan. Harapannya untuk bisa pulang hari ini telah menjadi kenyataan. "Terimakasih banyak, dok" ucapnya.
Dokter tersenyum melihat ekspresi kegembiraan Larissa. "Sama-sama!" jawabnya.
Dokter beserta kru pun berlalu meninggalkam ruangan Larissa. Sementara Larissa sendiri segera memberesi semua barang-barangnya dibantu oleh Hamzah.
Perawat kembali memasuki kamar rawat Larissa saat ia sedang sibuk berberes-beres. "Maaf mengganngu, saya lepas dulu jarum infusnya biar anda bisa leluasa bergerak," ucapnya.
Larissa menghentikan kesibukannya dan duduk di tepi ranjang, membiarkan perawat melakukan tugasnya.
Perawat melakukan tugasnya dengan cekatan. Dan setelah semua selesai ia berkata, "Nanti sebelum pulang anda pergi ke bagian administrasi di dekat ruang unit gawat darurat untuk penandatanganan berkas-berkas kepulangan pasien."
__ADS_1
Larissa mengangguk, perawat kembali meninggalkan kamar Larissa.
Usai berbenar Larissa pergi ke bagian administrasi seperti yang perawat tadi katakan dibantu oleh Hamzah.
"Permisi, bu, saya mau pulang hari ini. Katanya ada berkas-berkas yang harus saya tandatangani dulu sebelum pulang," ucap Larissa pada salah satu petugas disana.
"Oh ya, nama anda siapa?,"
"Larissa."
Petugas mencari berkas dengan nama Larissa diantara tumpukan berkas-berkas diatas meja kerjanya. Dan setelah ketemu ia menyodorkannya ke Larissa.
Larissa memgambil pena dan menandatangani semua berkas yang ada dihadapannya. Dan setelah selesai ia segera bangkit, namun segera dicegah oleh petugas itu."
Dengan terpaksa Larissa kembali duduk ditempatnya. "Apa masih ada yang hatus saya tandatangani lagi, bu?" tanyanya.
"Tidak, semua berkas yang perlu ditandatangani sudah selesai."
"Lalu kenapa ibu masih menahan saya disini kalau tidak ada yang perlu saya tandatangani lagi?" tanyanya kesal.
Petugas tersenyum ramah menanggapi kekesalan Larissa. "Memang benar tidak ada berkas yang perlu ditandatangani lagi, tapi kami mau memberikan beberapa saran yang harus ibu lakukan selama di rumah. Selain itu ada beberapa obat yang harus anda minum nanti."
Larissa mendesau lemah, terpaksa ia harus bersabar sedikit lagi untuk segera pulang.
Petugas memberi arahan apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh Larissa selama di rumah. Selain itu ia juga memberi nasihat yang sangat membosankan untuk di dengar.
Larissa mendengarkan sambil angin lewat. Sesekali ia mengangguk dan menggeleng saat petugas bertanya."
"Jadi itu yang harus ibu perhatikan di rumah nantinya," ucapnya diakhir nasihat panjang lebarnya. "Dari sini apa ada yang ingin anda tanyakan?."
Larissa menggeleng cepat agar semua cepat selesai. "Tidak, bu, tidak ada!."
"Baiklah, kalau begitu silahkan ambil obat di apotek di sebelah sana," menyodorkan resep obat.
Larissa mengambil resep itu dan segwra pergi me apotik. Dan setelah semua selesai ia segera pulang.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang wajah Larissa dihiasi dengan senyum kebahagiaan, terbayang jika malam ini ia akan kembali tidur di ranjang empuknya.