
Pagi itu setelah mengetahui bahwa dirinya hamil, larissa berniat pergi ke bidan untuk memeriksakan diri dan janin dalam kandungan. Ia pun segera bersiap-siap usai sarapan pagi.
Pagi-pagi melihat sang istri telah berpakaian rapi Hamzah pun bertanya, "Pagi-pagi gini udah rapi aja, memangnya mau kemana?."
Larissa yang sedikit kecewa dengan reaksi suaminya saat dirinya memberitahukan kabar kehamilannya tadi hanya menjawab pertanyaan suaminya dingin. "Aku mau ke bidan untuk memeriksakan diri."
Hamzah mengerutkan dahi bingung. "Untuk apa ke bidan? Bukankah tadi kamu sudah melakukan tes sendiri?."
"Itu cuma tes untuk mencari tahu apakah hamil atau tidak. Jadi sekarang aku mau ke bidan untuk memeriksakan keadaan janinku."
Hamzah mengangguk-angguk paham. "Kalau begitu ayo! biar aku yang antar."
"Terserah!." Larissa berjalan keluar rumah tanpa menunggu suaminya. Sementara Hamzah segera berganti baju dan menyambar kunci motor diatas nakas. "Ayo berangkat!" ucapnya setelah mesin motor dihidupkan.
Larissa melingkarkan lengan di pinggang Hamzah dengan ogah-ogahan, masih kecewa dengan reaksi tak bahagia yang ditunjukkan suaminya atas kabar kehamilannya tadi.
Sesampainya di rumah bu bidan, Larissa segera masuk ruang pemeriksaan. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya bu bidan sesaat setelah Larissa menghempaskan tubuh diatas kursi.
"Saya mau melakukan pemeriksaan kehamilan, bu. Tadi pagi saya baru melakukan tes." Larissa menjelaskan maksud kedatangannya lalu menunjukkan hasil tesnya tadi.
"Kalau begitu mari, biar saya periksa dulu!."
Larissa merebahkan tubuh diatas ranjang yang tersedia di ruangan itu. Bidan melakukan serangkaian pemeriksaan meliputi penimbangan berat badan, mengukur tinggi badan, lingkar lengan atas( LILA), tekanan darah, juga tinggi fundus uteri.
Selagi melakukan pemeriksaan bu bidan mengajukan beberapa pertanyaan. Larissa menjawab semua pertanyaan sesuai dengan apa yang dirasakannya.
"Baik! silakan bangun lagi!" Bu bidan kembali ke kursinya dan menulis laporan kesehatan Larissa di buku kesehatan ibu dan anak (KIA).
Larissa merapikan pakaiannya dan kembali duduk di hadapan bu bidan. "Jadi, bagaimana keadaan janin saya, bu?" tanyanya.
__ADS_1
"Hasil pemeriksaan kesehatan ibu bagus, janinnya juga baik. Untuk sementara ini besarnya janin belum bisa dilihat karena usia kandungan ibu yang tergolong masih sangat muda. Kalau anda melakukan USG, pasti kelihatan besar janinnya. Tapi untuk sekarang, itu tidak perlu."
Larissa mengangguk-angguk mendengar penjelasan bu bidan.
"Kalau anda berkenan, saya sarankan untuk melalukan tes ANC di laboratorium." imbuh bu bidan.
Larissa yang pada kehamilan sebelumnya tak pernah tahu atau melakukan ANC pun bingung. "ANC itu apa, bu? Kok saya tidak pernah tahu, ya?."
Bu bidan tersenyum ramah. "Sebenarnya ANC ini program baru pemerintah, pelaksanaannya sendiri baru berjalan empat tahun ini. Tujuan dari diadakannya ANC adalah untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB)."
Larissa menggaruk kepalanya yang tak gatal dan tersenyum malu. "Oh, pantas saja saat hamil pertama saya tidak tahu. Lha wong saya hamilnya sudah tujuh tahun yang lalu."
"Lalu, ANC sendiri itu apa ya, bu?" tanyanya lagi.
"ANC atau Ante Natal Care, atau yang lebih dikenal dengan pelayanan antenatal terpadu adalah pelayanan antenatal komprehensif dan berkualiatas yang diberikan pada ibu hamil dengan tujuan kehamilan yang sehat, bersalin dengan selamat, dan melahirkan bayi yang sehat."
"ANC ini bertujuan untuk mengetahui adanya komplikasi kehamilan yang mungkin saja terjadi saat kehamilan sejak dini, termasuk adanya riwayat penyakit dan tindak pembedahan. ANC ini meliputi 10 pemeriksaan atau yang lebih dikenal dengan istilah 10 T, yaitu timbang berat badan, ukur tinggi badan, tekanan darah, penilaian status gizi termasuk di dalamnya mengukur lingkar lengan atas atau LIL, mengukur tinggi fundus uteri, menentukan presentasi janin dan denyut jantung janin atau DCC, skrining dan pemeriksaan tetanus toksoid atau **."
"Sebenarnya ANC bisa dilakukan pada usia kandungan berapapun, tapi lebih cepat akan lebih baik, karena hasil tes ini bisa menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan selama masa kehamilan dan menjelang persalinan nanti."
Larissa kembali manggut-manggut. "Baik, Bu, nanti saya akan segera melakukan tes ini di laboratorium."
"Baik! untuk saat ini, apa ada keluhan?."
Larissa menggeleng. "Tidak, Bu!" jawabnya singkat.
"Ya sudah! kalau gitu saya berikan vitamin dan tablet tambah darah saja, ya supaya ibu tidak lemas."
Larissa hanya menganguk dan menuruti perkataan bu bidan, toh semua juga demi kebaikannya sendiri.
__ADS_1
Bu bidan mengambil obat yang dimaksud dan menyodorkannya pada Larissa." Ini obat yamg harus anda minum, aturan minumnya sudah ada dibalik kemasan," ucapnya. "Dan ini buku kesehatan ibu. Kalau mau periksa lagi atau pergi ke fasilitas kesehatan lain, ibu harus membawa buku ini sebagai catatan."
Larissa bangkit dari tempat duduk setelah menerima obat dan buku kesehatan tersebut. "Terima kasih banyak, Bu! kalau begitu saya permisi dulu," ucapnya seraya menjabat tangan bu bidan.
"Sama-sama, mari silakan!" jawab bu bidan.
Larissa berlalu meninggalkan ruangan dan menemui suaminya yang setia menunggu di depan ruangan. "Apa kata bu bidan tadi?" tanya Hamzah saat Larissa sudah ada dekatnya.
"kata bu bidan, semua baik-baik saja. Tapi beliau menyarankan untuk melakukan ANC di laboratorium."
"kapan kamu mau ke sana?."
"Bagaimana kalau langsung hari ini saja? biar sekalian gitu.
Hamzah mengangguk. Ya sudah, Ayo aku antar ke sana!."
Hamzah memacu kembali motornya menuju laboratorium desa yang terletak di dekat Puskesmas tempat Larissa dirawat dulu.
...****************...
Ternyata anggapan Larissa bahwa suaminya tidak bahagia atas kehamilannya kembali adalah salah besar. Terbukti dari besarnya perhatian dan kasih sayang yang ia berikan.
Hamzah tak pernah membiarkan Larissa pergi sendirian. Kemanapun istrinya pergi, ia selalu mengantarnya. Ia berubah menjadi overprotektif, terlebih setelah tahu jika istrinya terpapar virus hepatitis B (HPV) akibat tertular ditinya.
Hasil tes ANC yang dilakukan Larissa menunjukkan bahwa ia terkena virus hepatitis B, yang mana penularannya bisa melalui hubungan fisik. Dokter memperingatkan Hamzah agar betul-betul mengawal kesehatan istrinya selama masa kehamilan karena bisa saja virus ini tertular pada janin yang dikandungnya.
Awalnya Larissa sempat syok begitu mengetahui hal ini. Namun dokter menenangkan bahwa semua akan baik-baik saja, hanya saja ia tak bisa melahirkan di Klinik Bersalin biasa atau bahkan di rumah, melainkan di rumah sakit dengan peralatan yang lengkap. Sebab sesaat setelah bayinya dilahirkan, bayinya akan mendapatkan vaksin untuk melawan virus hepatitis yang dideritanya.
"Apa itu artinya saya harus melahirkan dengan cara operasi caesar, dok?" tanya Larissa saat dokter mengatakan dirinya harus melahirkan di rumah sakit.
__ADS_1
"Itu belum tentu, tapi kemungkinan itu juga bisa terjadi. Untuk saat ini anda tidak perlu merisaukan hal itu dan jaga kesehatan dengan baik, supaya nantinya Anda bisa melahirkan dengan cara normal seperti yang anda inginkan."