
Hamzah meminta Larissa untuk menyudahi perang dingin antara dirinya dengan sang ibu sebelum semuanya terlambat dengan cara meminta maaf terlebih dulu. Biar bagaimanapun dirinya adalah yang muda. sedang ibunya adalah yang tua. Yang mana yang mudalah yang lebih baik meminta maaf lebih dulu.
Awalnya Larissa menolak permintaan suaminya. Namun setelah Hamzah memberi penjelasan bahwa umur sang ibu tidak akan lama lagi hatinya pun terbuka dan bersedia meminta maaf. Ia pun masuk ke kamar sang Ibu dan bersimpuh di hadapannya meminta maaf. "Ibu, maafkan aku! aku tidak bermaksud menyakiti hatimu."
melihat Larissa bersimpuh di hadapannya dan meminta maaf, Bu Ani pun turut meneteskan mata. "Kenapa kau bersikap seperti ini pada ibu, nak? apa kau membenci ibu?."
Larissa menggeleng keras menolak ucapan sang ibu. "Tidak, Ibu. itu tidak benar! Aku hanya ingin ibu menganggapku dan bersikap adil padaku. sungguh, aku tidak pernah membencimu sedikitpun," air mata berurai bersamaan dengan permintaan maafnya.
"Kenapa kau tega sekali, nak? apa kau tidak melihat kondisi ibu saat ini?."
Larissa tak menjawab pertanyaan Ibunya dan hanya meneteskan air mata.
"Umur Ibu tidak akan lama lagi, nak. Apa kau ingin mempercepat kematian ibu dengan bersikap seperti itu?."
"Tolong jangan berkata seperti itu, Bu, semua itu tidak benar. Aku ingin ibu sembuh dan melihat cucu-cucu ibu tumbuh dewasa."
Bu Ani tersenyum tipis. "Itu tidak akan mungkin. kondisi ibu saja sudah sangat parah. Ibu hanya bisa mendoakan agar cucu-cucu ibu sehat selalu."
"jangan berkata seperti itu, Bu. aku yakin ibu pasti sembuh," ucap Larissa pilu.
Bu Ani mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Kalau Ibu boleh tahu, apa yang membuatmu bersikap seperti ini pada ibu? apa ini ada hubungannya dengan ibu meminta kembali surat-surat rumah waktu itu?."
"Tidak, Ibu, tidak seperti itu. Aku ikhlas memberikan surat-surat itu pada ibu kembali. Bukankah Ibu tahu sendiri bahwa sebelumnya aku sudah menolak saat ibu memintaku mengurus surat-surat itu."
"kalau bukan karena hal itu lalu karena apa, nak?."
"aku marah karena Ibu sudah berlaku tidak adil padaku. Ibu selalu menuruti semua permintaan kakak tanpa peduli padaku. Bahkan surat rumah ini pun Ibu berikan padanya. selama ini ibu selalu mengabaikanku. Ibu tidak pernah menghargai apa yang coba aku lakukan untuk ibu."
Sejenak Bu Ani diam. Diusapnya air mata yang terus berderai. "kalau begitu maafkan Ibu, nak. Ibu tidak pernah bermaksud seperti itu."
Larissa menyeka lelehan air mata. "Apa itu tahu, aku sempat berpikir walaupun rumah ini Ibu berikan padaku, aku tidak akan menempatinya sendiri. kelak bila ibu sudah tiada dan rumahku sendiri sudah bisa ditempati, aku berencana untuk menyewakan rumah ini lalu uang sewanya akan aku masukkan ke kotak amal di masjid dengan mengatasnamakan ibu. Setidaknya itu nanti bisa menjadi amal jariyah bagi ibu."
__ADS_1
"Niatmu sangat baik, nak, ibu ucapkan terima kasih padamu."
Larissa menggenggam jemari tangan sang ibu. Kepala ia jatuhkan diatas pangkuannya. "Sekali lagi aku minta maaf! Aku tidak pernah bermaksud menyakiti hati ibu."
"Ibu juga minta maaf, nak, ibu juga banyak salah padamu."
Mereka pun berpelukan dan saling meminta maaf. Air mata tumpah seiring dengan runtuhnya dinding keegoisan.
Puas meluapkan perasaan masing-masing, mereka pun saling melepas pelukan. "Apa Ibu sudah mandi?," tanya Larissa sambil mengusap sisa-sisa air mata.
Bu Ani menggelengkan kepala. "Belum, nak! sudah tiga hari ini ibu belum mandi. Ibu tidak kuat berdiri terlalu lama."
"Kalau begitu ayo kita mandi sekarang. Aku akan membantu ibu."
Larissa bangkit dan bersiap membantu sang Ibu berdiri. Namun saat menatap wajah sang ibu, ia melihat ada keraguan di sana. "Ada apa, Bu? apa Ibu tidak ingin aku membantu ibu untuk mandi?."
"Tidak, nak, bukan seperti itu."
"Lalu kenapa, Bu?."
"Katakan, Bu!."
"Tolong masakan air untuk ibu. Pagi ini ibu ingin mandi dengan air hangat."
Larissa tersenyum mendengar permintaan kecil sang ibu. "Baiklah, Bu. Aku akan siapkan air hangat untuk ibu. Ibu tunggu saja di sini sebentar."
Larissa bergegas menyiapkan air hangat untuk ibunya mandi. Dan setelah semuanya siap ia kembali menghampiri sang ibu. "Ayo, bu, kita mandi sekarang! Air hangatnya sudah siap."
Larissa membantu sang Ibu melepas pakaiannya satu persatu lalu menutupinya dengan sebuah handuk. kemudian ia memapahnya menuju kamar mandi.
Perlahan Larissa menyiramkan air ke sekujur tubuh ibunya. Kemudian ia gosokkan sabun sampai ke lipatan-lipatan terkecil.
__ADS_1
Usai dengan acara mandi, Larissa mendandani sang ibu agar terlihat lebih fresh serta menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya sebagai sentuhan akhir. "Sudah selesai, Bu! sekarang ibu sudah cantik."
Bu Ani tersenyum simpul mendengar pujian anaknya. "Kamu ini ada-ada saja. Mana ada orang tua penyakitan seperti Ibu ini yang cantik."
"Ini buktinya ada."
Hamzah yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara Larissa dengan ibunya pun meneteskan air mata. Ia terharu, akhirnya hubungan antara mereka berdua kembali membaik.
Sejak saat itu keadaan Bu Ani semakin hari semakin bertambah buruk. Kini ia tak sanggup lagi bangkit dari tempat tidur. Dan bahkan untuk menelan makanan pun ia tak mampu lagi. Ia hanya bisa meminum air dengan bantuan sebuah sedotan.
...****************...
hari ini hari raya Idul Fitri. Sudah menjadi tradisi sejak dulu bahwa di hari itu semua orang keluar rumah dan bersilaturahmi ke rumah sanak saudara untuk saling bermaafan.
Demikian halnya dengan keluarga kecil Hamzah. Sepulang dari menjalankan ibadah salat Ied di lapangan ia mengajak Larissa dan putrinya ke rumah orang tuanya dan beberapa sanak saudara. Mereka begitu sibuk hari itu hingga melupakan satu hal yang teramat penting, yaitu meminta maaf kepada Bu Ani yang notabene tinggal satu atap dengan mereka.
Saat tersadar dari kesalahan nya mereka bergegas pulang ke rumah dan segera meminta maaf pada Bu Ani.
"Ibu, Selamat hari raya Idul Fitri untukmu. Di hari yang baik ini aku ingin meminta maaf sepenuh hati pada ibu. Maafkan semua kesalahanku baik yang aku sengaja ataupun tidak," ucap Larisa.
Hamzah yang saat itu berdiri di samping sang istri pun turut mengucapkan hal yang sama dengannya.
"selamat hari raya juga untuk kalian. Ibu juga minta maaf kalau ibu ada salah-salah pada kalian," balas bu Ani.
"Apa Ibu ingin sesuatu?," tanya Larissa usai saling bermaaf-maafan.
"Tidak, nak, ibu tidak ingin apa-apa."
"kalau begitu aku mau menata dagangan dulu ya, Bu. nanti kalau Ibu butuh sesuatu, Ibu bisa panggil aku atau Hamzah."
Bu Ani mengangguk. "Iya, nak, segera persiapkan daganganmu. Di hari raya seperti ini adalah ramai-ramainya orang membeli rujak."
__ADS_1
"Iya, Bu!. Kalau begitu aku permisi dulu."
Dan mereka pun berlalu dari kamar Bu Ani.