
Usai menjalani beberapa pemeriksaan dan pengobatan, akhirnya Larissa dipindahkan di ruang
perawatan. Sebenarnya ia sudah diperbolehkan untuk pulang. Kondisinya sudah lebih baik daripada tadi. Tapi karena tubuhnya masih lemah, ia pun memutuskan untuk istirahat sejenak disana.
Tak berselang lama Hamzah pun datang dengan tergopoh-gopoh. Ia terlihat sangat khawatir. Ia segera mencari keberadaan sang istri.
"Sayang, kamu kenapa? kamu baik-baik saja kan?" tanya Hamzah saat ia sudah ada dihadapan Larissa. Sorot kekhawatiran nampak jelas di kedua matanya.
"Aku tidak apa-apa, sayang. Aku sudah lebih baik kok!" jawab Larissa sambil mengulas sebuah senyuman tipis.
Hamzah menghela napas. "Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanyanya kembali.
Larissa pun menceritakan semua yang ia alami semalam.
Hamzah merengkuh tangan Larissa, menciuminya bertubi-tubi. "Kamu kenapa nggak bilang kalau kamu sedang sakit? Kalau aku tahu dari awal, aku tidak akan pergi melaut" ujar Hamzah lirih. Terlihat sebuah penyesalan dimatanya.
Larissa tersenyum bahagia melihat betapa besar perhatian yang ditunjukkan oleh suaminya. Dia telah kembali menjadi lelaki yang dulu ia kenal, lelaki yang begitu perhatian dan sayang dengan dirinya.
"Aku minta maaf karena tidak ada untukmu disaat kamu sedang kesakitan" ujar Hamzah lagi.
Larissa kembali tersenyum. "Ini bukan kesalahan kamu. Ini sudah kehendak-Nya. Jadi jangan pernah salahkan dirimu sendiri" ucapnya lembut.
Hamzah kembali mengecup tangan Larissa.
"Oh ya, kamu tahu dari mana kalau aku ada disini?" tanya Larissa.
"Istri kakakmu yang memberitahuku tentang keberadaan mu" jawab Hamzah. Tadi saat ia pulang dari melaut, ia tak mendapati istrinya berada di rumah. Kakak iparnya itu pun memberitahukan tentang keberadaan Larissa. Ia juga menyerahkan uang yang tadi sempat Larissa titipkan padanya.
Mengetahui Larissa dibawa ke klinik, Hamzah pun langsung panik. Ia sangat khawatir memikirkan kondisi istrinya. Secepatnya ia memacu motornya. Ia bahkan tak memperdulikan keselamatan dirinya sendiri. Yang ada dipikirannya saat itu adalah bagaimana cara agar cepat sampai disana.
Larissa kembali mengulas sebuah senyuman. "Kamu sudah makan belum?" tanya Larissa. Mengingat suaminya itu baru pulang dari melaut, sudah pasti ia sangat lapar.
"Belum!" jawab Hamzah sambil menggelengkan kepala.
"Kenapa? tanya Larissa sambil mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Aku tak sempat. Aku langsung kesini begitu mendengar kabar itu. Aku sangat khawatir memikirkan keadaanmu."
"Tadi aku menitipkan uang pada kakak. Kenapa kau tak membeli makan dulu?. Kamu pasti sangat lapar, kan?."
"Uang yang kamu titipkan aku pakai untuk membeli bensin untuk kesini!."
Larissa menghela napas. "Ya sudah, nggak pa pa. Sekarang kamu makanlah dulu!" ujarnya.
"Kamu sendiri sudah makan belum?" ujar Hamzah balik bertanya.
Larissa menggelengkan kepala. "Kalau begitu kamu makan dulu. Biar aku yang suapin!" ujar Hamzah.
"Tidak. Lebih baik kamu yang makan dulu. Kamu pasti sangat lapar, kan setelah melaut semalaman? Lagian aku juga baru selesai minum teh " tolak Larissa.
"Kalau begitu kita makan sama-sama!" jawab Hamzah cepat.
Tanpa berdebat lagi, larissa pun menurut. Ia makan dengan disuapi sang suami, bergantian dengan dirinya. Sesuap hamzah sodorkan kearah Larissa, dan sesuap untuk dirinya sendiri. Dan setelah beberapa saat, merekapun selesai makan juga.
"Yank, kita pulang sekarang yuk. Aku nggak betah lama-lama disini" ujar Larissa dengan manja.
"Udah. Aku udah enakan kok. Pulang, ya? lagipula kasian bapak sama ibu kamu. Mereka kan punya kesibukan sendiri" ucap Larissa memohon.
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Kita pulang sekarang!."
"Yeah!" bersorak gembira.
Bu Ani pun membayar biaya administrasi, sedang Hamzah memapah tubuh Larissa, membantunya berjalan.
Larissa di naikkan diatas becak kembali, khawatir tubuhnya masih belum kuat jika naik sepeda. Sedang Hamzah tetap menaiki motornya. Dan mereka pun berangkat pulang dengan posisi Hamzah mengiringi di belakang.
Setelah beberapa lama menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di rumah. Hamzah membantu larissa turun dari becak. Kemudian ia memapahnya memasuki kamar.
Larissa merebahkan tubuh diatas ranjang. Hamzah mengangsurkan selimut pada sang istri. Kemudian ia memijat kaki istrinya tersebut. Terlihat sangat betapa perhatiannya Hamzah terhadap Larissa saat itu.
Beberapa tetangga mulai berdatangan untuk melihat kondisinya. Mereka juga memberi sedikit nasihat. Setelah beberapa lama, Baskoro dan istrinya pun pamit pulang. Begitu juga dengan para tetangga. Kini tinggallah Larissa dan Hamzah saja di dalam kamar.
__ADS_1
Keheningan tercipta. Tapi tak berselang lama Hamzah mulai bersuara. "Yank, dimana daging yang keluar dari perutmu tadi. Aku akan menguburkannya. Biar bagaimanapun, itu adalah calon anak kita" ucap Hamzah.
"Aku tidak tahu, Yank. Kata ibu dia sudah membuangnya tadi" jawab Larissa.
"Astaga! dibuang kemana?."
"Aku kurang tahu. Mungkin di belakang rumah."
"Kalau begitu aku akan mencarinya kesana." Hamzah pun segera bangkit dan menuju belakang rumah.
Dibelakang rumah ditumbuhi beberapa tanaman liar dan ilalang. Karena disana masih lahan bebas. Dengan sigap Hamzah pun menyibak tanaman liar itu dan mencari ke semua arah.
Setelah mencari selama beberapa saat, ia pun kembali masuk ke dalam. Tampak kekecewaan di wajahnya karena tak berhasil menemukan sebongkah daging tadi.
"Bagaimana, yank? apa sudah ketemu?" tanya Larissa saat melihat Hamzah memasuki kamar.
"Aku tidak berhasil menemukannya" jawab Hamzah dengan sendu.
Larissa menundukkan kepala. Ia merasa bersalah. "Maafkan aku, Yank. Harusnya tadi aku menyimpannya dulu" ucap Larissa.
Melihat istrinya kembali bersedih, cepat-cepat Hamzah menenangkannya. "Kamu tidak usah merasa bersalah begitu. Kamu juga pasti nggak tahu, kan" ujar Hamzah.
Larissa diam, kepalanya masih tertunduk. Hamzah pun mensejajarkan diri dengan istrinya. Dibelainya rambut Larissa dengan penuh kasih sayang. "Sudah, tidak usah dipikirkan lagi. Kita hanya tidak bisa menguburkannya, akan tetapi dia sudah tenang di alam sana," ucap Hamzah. "Sekarang kamu tidurlah dulu. Kamu masih perlu banyak istirahat."
Larissa pun menurut. Ia segera memejamkan mata dengan wajah ia sembunyikan di dada bidang milik sang suami Hamzah pun memeluk tubuh sang istri, seperti yang selalu ia lakukan bila istrinya akan tidur.
Tak berselang lama terdengar bunyi dengkuran halus dari bibir sang istri, menandakan jika ia sudah berada di alam mimpi.
Hamzah pun ikut memejamkan mata. Ia sangat capek karena semalaman melaut. Ia ingin mengistirahatkan tubuh sejenak.
Sore hari mereka pun bangun. Hamzah pergi keluar untuk mengambil upah melaut semalam. Sedang Larissa bersantai didepan televisi.
Mbak Laras, istri dari Iqbal datang menghampiri Larissa. Ia memberikan uang hasil dari penjualan cincin kawin tadi. "Larissa, ini uang hasil dari penjualan cincin kawin mu tadi" ucapnya, menyodorkan sejumlah uang pada Larissa.
Larissa pun menerima uang tersebut. "Makasih banyak, Mbak!" ucapnya.
__ADS_1
Mbak Laras pun berlalu pergi, sedang Larissa melanjutkan menonton telivisi.