Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 6


__ADS_3

Usai tarawih, Hamzah benar-benar mendatangi teman yang ia ceritakan tadi. Seperti yang dikatakan sebelumnya, ia akan ikut melaut dengan temannya itu, dan dia diizinkan untuk ikut.


Setelah semua urusan di rumah temannya selesai, ia mendatangi Larissa di warung ibu mertuanya. Ia meminta untuk disiapkan bekal untuk pergi melaut. Rencananya ia akan berangkat pukul sepuluh malam ini.


Larissa kembali bingung, pasalnya ia tak memiliki sepeserpun uang untuk membeli bekal. Ia termenung memikirkan bagaimana cara untuk bisa membeli bekal.


Hamzah seakan mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh sang istri. Tanpa banyak bicara ia segera pergi ke rumah orang tuanya.Rumah orang tua Hamzah memang dekat, hanya berjarak beberapa rumah dari warung ibu Larissa.


Sesampainya disana ia tak mendapati kedua orang tuanya di rumah, hanya ada adik perempuannya yang bernama Izzah. Tanpa berlama-lama Hamzah pun mengutarakan niatnya. "Zah, kamu ada uang nggak? kakak ingin pinjam uang dulu."


"Emang mau pinjam berapa?."


"Tidak banyak. Cukup sepuluh ribu saja."


"Buat apa pinjam uang segitu, kak?."


"Buat beli bekal. Sebentar lagi kakak mau melaut, tapi kakak sedang tidak punya uang untuk membeli bekal."


"Oh gitu. Ya udah tunggu sebentar, ya!."


Izzah pun masuk ke dalam kamarnya, dan tak berselang lama ia kembali lagi sambil membawa uang yang diminta Hamzah. Kemudian ia menyerahkan uang itu padanya. "Ini, kak, uangnya!."


"Makasih banyak! Besok kakak akan kembalikan uang kamu."


"Tidak usah, kak. Lagian itu juga tidak banyak!."


Hamzah tersenyum mendengar ucapan adik perempuannya itu. "Sekali lagi kakak ucapkan terimakasih!."


"Sama-sama, kak!" jawab Izzah balas tersenyum.


"Kalau begitu kakak permisi dulu. Waktu kakak tidak banyak lagi!"


Izzah menganggukkan kepala sebagai jawaban, dan Hamzah pun segera berlalu dari rumah orangtuanya, kembali menemui istrinya. "Yank, ini aku ada sedikit uang. Pakailah untuk membeli bekal."

__ADS_1


Larissa mengernyitkan dahi. Ia bingung dari mana Hamzah bisa memiliki uang. Pasalnya selama ini ia tak pernah memegang uang. Ia selalu menyerahkan seluruh penghasilannya padanya.


Seakan mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh sang istri, ia pun segera menjelaskan, "Itu uang pemberian Izzah. Tadi aku pergi kesana sebentar. Niatnya pengen pinjam uang, tapi dia bilang nggak usah dikembalikan."


Air mata pun lolos dari ke dua mata Larissa. "Aku tidak akan pernah melupakan hal ini, Yank. Walau ini tidak seberapa, tapi ini sangat berarti untuk kita."


Hamzah tersenyum mendengar ucapan Larissa. Diusapnya air mata yang menetes di pipi istrinya itu. "Sudah, jangan menangis lagi. Kita doakan saja semoga dia mendapat balasan atas kebaikannya."


Larissa pun memeluk Hamzah. "Aku sangat beruntung memiliki suami yang pengertian seperti kamu, Yank."


Hamzah kembali tersenyum mendengar ucapan istrinya. Perlahan ia longgarkan pelukan Larissa. "Udah, ya peluknya. Nggak enak dilihatin orang."


Seakan tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, Larissa pun langsung melepaskan pelukannya. "Maaf, Yank. Aku refleks tadi!."


"Nggak pa pa!."


Ya, desa tempat mereka tinggal memang termasuk desa kecil, tapi penduduknya taat beragama. Hal seperti itu tidak pantas untuk dilakukan, walaupun mereka suami istri, kecuali bila dilakukan di dalam rumah.


"Kalau begitu, aku pulang ke rumah dulu, ya. Mau ganti baju. Setelah itu mau langsung berangkat. Udah jam segini juga. Kamu nggak pa pa kan aku tinggal sendiri?" tanya Hamzah setelah beberapa saat.


"Kamu hati-hati di rumah. Doakan semoga hasil tangkapan ku nanti banyak!"


"Iya, Yank, amin. Kamu juga hati-hati, ya!."


Larissa pun melepas kepergian Hamzah dengan mata berkaca-kaca. Dalam hati ia berdoa, "Ya Allah, jagalah selalu suamiku dimanapun dia berada. Dan semoga KAU berkenan memberikan ku kepercayaan untuk segera hamil. Aku ingin membuat Hamzah senang dengan memberikannya seorang keturunan."


Sebelum menikah, Larissa dan Hamzah memang sepakat untuk tidak menunda kehamilan. Karena bagi Hamzah anak adalah anugerah. Walaupun mereka menikah di usia yang relatif masih muda.


...****************...


Lebaran tinggal menghitung hari, tapi Larissa tidak punya cukup uang untuk membeli baju lebaran. Meski begitu ia tak terlalu memikirkannya.


Menjelang berbuka Hamzah baru pulang dari pantai. Ia tadi sibuk membantu menjahit jaring nelayan yang rusak. Ia langsung menghampiri istrinya yang sedari tadi menunggu kedatangannya. "Maaf ya, aku baru pulang. Aku tadi masih nyelesain menjahit jaring yang rusak kemarin."

__ADS_1


"Iya, Yank, nggak pa pa!."


Mereka pun segera berbuka setelah adzan Maghrib berkumandang, kemudian mereka berlanjut dengan ibadah shalat Maghrib.


Usai sholat, Hamzah menghampiri istrinya. "Yank, lebaran sebentar lagi. Aku minta maaf karena tidak bisa membelikan mu baju lebaran" ucapnya sendu.


"Nggak pa pa, Yank. Bajuku juga masih banyak yang bagus. Kamu tidak usah pikirkan hal itu" jawab Larissa sambil menyunggingkan sebuah senyuman.


Hamzah terharu mendengar ucapan Larissa. Direngkuhnya tubuh sang istri tercinta. "Kamu memang istri yang pengertian. Aku beruntung bisa menjadi suamimu."


Larissa semakin mengeratkan pelukan sang suami ke tubuhnya. "Aku juga bahagia bisa menjadi pendamping hidupmu!."


Hamzah mengangkat dagu Larissa dengan menggunakan jari telunjuknya


Dipandanginya bola mata bercahaya milik sang istri. "Kau sangat cantik malam ini" ujarnya parau.


Wajah Larissa memerah karena tersipu malu. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami, tapi Hamzah kembali mengangkat wajahnya. "Jangan sembunyikan wajahmu. Aku ingin memandang kecantikan istriku!."


Pandangan Hamzah semakin berat, sepertinya ada sesuatu yang bergelora disana. "Sayang, bolehkan aku meminta hak ku sekarang."


"Tapi sebentar lagi masuk waktu isya, nanggung, Yank. Apa tidak sebaiknya selesai sholat tarawih aja?."


"Masih ada waktu. Kita lakukan sebentar saja. Aku ingin segera memiliki seorang anak darimu."


Larissa pun menganggukkan kepala. Ia tak kuasa bila harus menolak hasrat sang suami.


Tak menunggu lama, Hamzah pun mendaratkan ciuman di bibir ranum milik sang istri. Dilumatnya bibir yang sangat menggoda baginya itu.


Semakin lama ciuman itu semakin dalam. Hamzah tak kuasa lagi untuk menahan gelora yang semakin membara. Ia membawa tubuh sang istri dan merebahkannya diatas ranjang tanpa melepas ciuman mereka.


Sejenak ia melepas ciumannya saat melihat sang istri mulai kehabisan nafas. Tapi kemudian ia beralih menuju leher jenjang sang istri. Di kecapnya kulit putih mulus itu, hingga meninggalkan jejak kemerahan disana.


Semakin lama mereka semakin jauh melangkah. Dan kini mereka telah tenggelam di lautan asmara. Sebuah lenguhan panjang menandai jika mereka baru saja menikmati indahnya surga dunia.

__ADS_1


Hamzah mengusap perut rata sang istri. Kemudian ia mendaratkan sebuah ciuman disana. "Segeralah tumbuh benihku. Aku tidak sabar untuk menimang seorang anak."


Mereka pun lantas bangkit dan segera membersihkan diri, karena adzan isya telah berkumandang. Setelah selesai mereka pun berangkat ke masjid bersama-sama untuk menunaikan ibadah tarawih.


__ADS_2