Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 105


__ADS_3

Seiring dengan pertengkaran mereka yang terus berlarut membuat usaha rujak Larissa semakin hari semakin sepi. Hal ini diperparah oleh dampak dari wabah pandemi covid-19 yang melanda hampir seluruh dunia. Namun dibalik itu semua ada satu hal yang ia lupakan.


Agama mengatakan jika surga seorang istri ada dibalik ridho suami, dan rezeki serta kesuksesan seorang suami ada dibalik doa dan senyuman seorang istri. Hal penting inilah yang Larissa dan Hamzah lupakan.


Larissa sangat frustasi dengan keadaan rumah tangganya. Tidak ada kejelasan kemana pernikahan ini berjalan. Selain itu penurunan omset penjualan juga cukup membuatnya resah, terlebih hanya dari usaha rujak itulah sumber pendapatannya selama ini.


Semakin hari beban pikiran Larissa semakin menumpuk. Tubuhnya sangat kurus dan tak terawat. Keadaannya semakin diperparah oleh hilangnya nafsu makan. Hingga suatu hari ia pun jatuh sakit.


Larissa mengeluhkan nyeri yang sangat kuat dibawah ketiak. Dan setelah ia periksa ternyata terdapat sebuah benjolan lain. Jika dulu benjolan itu ada di payudara sebelah kiri, maka sekarang benjolan itu ada di payudara sebelah kanan.


Larissa sangat terpukul dengan kenyataan ini. Ia khawatir benjolan di *********** kali ini adalah kanker ganas seperti yang ibunya alami. Ia pun segera memeriksakan diri ke dokter untuk mencari tahu.


Hasil diagnosis menunjukkan bahwa Larissa menderita penyakit yang sama dengan sebelumnya. Dokter menyarankan untuk memgambil tindakan operasi. Benjolan itu hanya berukuran sebesar ibu jari, namun dokter tetap menyarankan tindakan operasi dengan alasan mempercepat penyembuhan.


Larissa bernafas lega saat mendengar keterangan dokter, setidaknya kekhawatirannya tidak benar. Dan sudah sepatutnya jika ia mensyukuri hal itu.


Larissa teringat akan satu hal, saat menjalani operasi dulu dokter pernah berpesan untuk tak menggunakan alat kontrasepsi apapun dan menyarankan untuk hamil lagi untuk memulihkan keadaan. Namun Hamzah bersikeras menolak dengan alasan belum siap memiliki momongan lagi. Terlebih saat itu ekonomi mereka juga belum stabil.


Kini Larissa menyesal karena menuruti keinginan suaminya. Ia berpikir andai dulu menuruti nasihat dokter, mungkin saat ini ia tak mengidap penyakit yang sama lagi. Ia pun membicarakan hal ini dengan suaminya untuk mencari solusi.


"Entik, terdapat sebuah benjolan lagi di payudaraku. kata dokter aku kembali mengidap penyakit yang sama," ucap Larissa suatu malam. Saat itu mereka tengah bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi.


"Lalu dokter menyarankan apa?,"


"Dokter menyarankan untuk mengambil tindakan operasi. Tapi entahlah, aku belum mengambil keputusan," memgedikkan bahu keatas. "Kalau menurutmu bagaimana?."


"Menurutku?," Hamzah membalikkan pertanyaan pada istrinya untuk memastikan bahwa ia benar-benar ingin tahu apa pendapatnya.

__ADS_1


"Iya, menurutmu!," Larissa memastikan kembali ucapannya.


Hamzah meletakkan remot tv yang dipegangnya. Sejenak berpikir apa yang akan dikatakannya sambil memandang wajah sang istri. "Aku ikuti apa maumu. Kalau kau setuju dengan saran dokter, aku akan mengantarmu dan mendampingimu terus. Tapi jika kau belum siap, aku akan mencoba alternatif lain. "


Belajar dari pengalaman sebelumnya dimana mereka bertengkar hebat karena penolakannya akan operasi yang diambil Larissa, kali ini Hamzah memilih untuk menyerahkan semua keputusan di tangan Larissa sendiri.


"Sebenarnya aku ingin menyetujui saran dokter, tapi...."


"Tapi apa?."


"Kalau aku menjalani operasi lagi, maka otomatis aku tidak akan bisa berjualan selama masa pemulihan nanti. Lalu kita mau makan apa kalau aku tidak bisa berjualan. Kau kan tidak punya pekerjaan, sedang tabungan kita juga masih sedikit."


Meski dalam keadaan sakit dan membutuhkan pertolongan Hamzah, Larissa masih saja merendahkannya hanya karena ia tak memiliki pekerjaan sendiri.


Hamzah diam, mencoba untuk tidak terpengaruh oleh kata-kata sindiran yang dilontarkan istrinya. Ia justru memikirkan sebuah jalan keluar terbaik. "Kalau kau ingin menjalani operasi, maka lakukanlah! Jangan risaukan soal uang. Aku akan berusaha mencari jalan keluar nanti," ucapnya penuh keyakinan.


"Ya, aku akan berusaha!," Hamzah menjawab keraguan Larissa dengan penuh keyakinan bahwa ia akan berusaha.


Bukannya malas atau tak ingin mencari pekerjaan, Hamzah hanya belum menemukan pekerjaan yang cocok dengannya. Namun bukan berarti ia diam dan hanya berpangku tangan. Justru ialah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah, dan bahkan ikut turun tangan membantu melayani pembeli.


Hamzah tak pernah ingin hanya menjadi beban untuk istrinya. Ia tahu, harga diri seorang lelaki adalah pekerjaannya. Namun mau bagaimana lagi, ia belum juga mendapatkan pekerjaan walau sudah berusaha keras. Sayangnya Larissa tak mengerti akan hal itu dan malah menjadikannya sebagai alasan untuk merendahkan suaminya sendiri.


Semenjak malam itu dimana ia menyakiti hati Larissa dengan melayangkan sebuah tuduhan terhadapnya, Hamzah telah banyak berubah. Ia benar-benar menyesali kesalahannya meski ia sendiri tidak tahu apakah ibunya atau Larissa yang berbohong. Namun sayang, semua sia-sia.


Ibarat peribahasa, nila setitik rusaklah susu sebelanga. Begitulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan keadaan Hamzah saat ini. Larissa tak pernah mau melihat perubahan dalam dirinya dan bahkan menutup pintu maaf untuknya.


Meski begitu, Hamzah tak pernah menyalahkan sikap Larissa. Ia sadar, ia sendirilah yang menyebabkan semua itu.

__ADS_1


...****************...


Singkat cerita akhirnya Larissa kembali menjalani operasi pengangkatan FAM( Fibro Adonema Mammae) untuk yang kedua kali.


Seperti janji yang ia ucapkan saat itu, saat ini Hamzah benar-benar mendampingi Larissa selama proses operasi berlangsung. Dan bukan hanya itu saja, ia bahkan merawat Larissa dengan baik dan tulus selama masa penyembuhannya. Tak pernah terdengar keluh kesah dari bibirnya meski ia sendiri lelah dan letih.


Melihat perhatian dan kasih sayang yang coba Hamzah tunjukkan, sedikit demi sedikit kemarahan dan kebencian Larissa terhadapnya mulai luntur.


"Kenapa kau masih mau merawat diriku seperti ini? Padahal bisa saja kau pergi meninggalkanku saat ini. Aku hanya seorang wanita penyakitan, terlebih aku sering menyakiti hatimu dengan sengaja akhir-akhir ini," ucap Larissa suatu hari usai Hamzah membantu menyeka tubuhnya.


"Kau istriku dan aku suamimu, maka aku berkewajiban untuk merawatmu, terutama dalam keadaan seperti ini," jawab Hamzah tanpa menoleh sedikitpun kearah Larissa.


"Bohong! Aku rasa bukan itu alasanmu."


"Aku tidak bohong. Aku hanya mencoba melakukan kewajibanku sebagai seorang suami, hanya itu saja!."


"Kalau kau melakukan ini hanya untuk mengasihaniku, maka berhentilah! Aku tidak butuh kasihan darimu."


Hamzah meletakkan baskom berisi air bekas menyeka tubuh Larissa diatas nakas. Ditatapnya wajah Larissa intens. "Aku melakukan ini bukan karena merasa kasihan padamu atau apa. Aku melakukan ini karena murni menjalankan kewajibanku."


"Tapi kenapa? Apa alasannya?."


"Karena aku masih mencintaimu. Aku ingin memperbaiki semua kesalahan dan memberi kesempatan pada pernikahan kita."


Tess....


Setetes air mata jatuh di pipi mulus Larissa. "Sebesar itukah rasa cintamu padaku?."

__ADS_1


__ADS_2