
Ditengah-tengah suasana pilu, tiba-tiba Fauzan datang. "Bagaimana keadaan bi Ani, bu?," tanyanya.
Fauzan sempat mendengar pembicaraan Larissa dengan ibunya tadi dirumah. Karena itu ia segera menyusul kesana.
"Sepertinya bibimu sedang mengalami sakaratul maut," jawab budhe. "Fauzan, boleh ibu minta tolong?."
"Katakan, bu!."
"Tolong kamu cari keberadaan Iqbal sekarang. Dari tadi bibimu terus memanggilnya. Mungkin dia ingin melihatnya untuk yang terakhir kali."
"Baik, bu, aku akan mencarinya. Tapi dimana biasanya dia di jam-jam segini?."
"Entah, ibu juga kurang tahu. Coba kau cari saja ke warung-warung tempat biasa ia nongkrong."
"Baik, bu, aku pergi sekarang." Fauzan memacu motornya kembali untuk mencari keberadaan Iqbal.
Lama menunggu akhirnya Fauzan datang kembali. Namun ternyata ia hanya datang sendirian. "Maafkan aku, bu. Aku tak berhasil menemukan keberadaan Iqbal," ucapnya dengan nafas ngos-ngosan.
Budhe mendesau lesu. "Ya sudah, nggak pa pa. Setidaknya kamzu dudah berusaha. Sekarang kamu istirahat saja dulu." Fauzan mengangguk, lalu beranjak dan duduk lesehan diluar.
Nafas Bu Ani semakin terputus-putus. Bola mata memutih dengan pandangan mata menegadah keatas. Namun yang dicari tak juga menampakkan batang hidung.
Larissa semakin pilu. Tak ada yang bisa dilakukannya selain terus menuntun sang ibu agar bisa mengucap lafadz Allah. Dalam hati terus berdoa agar sang ibu meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.
Waktu terus bergulir, namun Iqbal belum juga datang. Tiba-tiba Rossa, istri Iqbal datang dengan tergopoh-gopoh sambil menggendong seorang bayi perempuan. "Maaf, baru kesini. Aku baru selesai mengurus pengajian kakakku."
Budhe menyambut kedatangan Rossa dengan semprotan, "Suamimu ada dimana? dicari sedari tadi tidak ada. Lihat ibu mertuamu! Kondisinya sudah sangat parah."
Mendapat semburan seperti itu tentu saja Rossa kelabakan. "Kak Iqbal sedang melihat jaring bersama temannya di desa sebelah.
__ADS_1
"Tunggu apalagi, cepat panggil suamimu kesini! Kasihan ibumu memanggil-manggil terus."
Rossa segera menjemput suaminya di desa seberang. Ia sengaja menitipkan anak dalam gendongannya pada Fauzan untuk mempercepat gerakan. Dan tak berselang lama ia telah kembali lagi bersama suaminya. "Bagaimana keadaan ibu?," tanyanya dengan ngos-ngosan.
Semua mata memandangnya. "Iqbal, kamu ini dicari dari tadi susah sekali. Lihat kondisi ibumu!, dari tadi terus memanggilmu," omel budhe.
Iqbal tak memperdulikan omelan budhe dan bergegas menghampiri ibunya. Larissa tahu diri, ia mundur dan memberi ruang untuk Iqbal bicara. Iqbal duduk disamping sang ibu begitu adiknya mundur. "Ada apa ibu mencariku?, tanyanya. Jemari tangan mengusap kepala sang ibu.
Mendengar suara Iqbal bu Ani mulai bereaksi. Tangannya bergerak seakan ingin menyentuh kepala putra satu-satunya. "Apa kau iqbal, putraku?."
Menyadari hal itu Iqbal meraih tangannya dan meletakkan di pipinya. "Ya, bu, ini aku, Iqbal!," ucapnya. "Apa ibu menginginkan sesuatu?."
Nafas bu Ani kembali tenang begitu tahu putranya telah datang. Bibirnya bergetar seakan ingin mengucap sesuatu. Namun karena suaranya yang begitu parau hingga tak begitu jelas dan hanya terdengar seperti sebuah gumaman saja.
"Ibu bicara apa? Aku tidak bisa mendengar suara ibu," tanya Iqbal kembali.
Bu Ani terus berusaha bicara, pandangan mata tertuju pada botol air minum di sampingnya seakan mengisyaratkan bahwa ia ingin minum. namun suaranya yang semakin melemah membuat suaranya tak bisa didengar dengan baik.
Bu Ani mengangguk pelan. Iqbal meraih botol minum milik ibunya dan membuka tutupnya. Kemudian ia minumkan air tersebut dengan bantuan sebuah sedotan.
Bu Ani menyedot air minum dengan cepat hingga isi dalam botol tersebut tinggal setengahnya. Bu Ani terlihat begitu kehausan seakan baru melakukan sesuatu yang begitu melelahkan.
Iqbal meletakkan kembali botol air minum begitu sang ibu melepaskan sedotan yang digunakannya untuk minum tadi. Diusapnya kembali kepala sang ibu. "Ibu, coba tirukan ucapanku. Ucapkan Allah."
Saat diperjalanan tadi Rossa sempat memberitahukan keadaan bu ani pada suaminya. Hingga saat ini Iqbal langsung mengerti apa uang harus ia lakukan.
Ajaib, bu Ani mampu mengucapkan lafadz Allah walau tak begitu terdengar jelas. Sesuatu yang terus Larissa coba lakukan sejak tadi namun tak membuahkan hasil. Tapi kini Iqbal malah dengan mudah membuat sang ibu mengucap lafadz itu.
Hati Larissa teriris pedih. Bahkan disaat seperti ini pun ibunya masih tak menganggap keberadaannya. Namun ia sedikit bersyukur akhirnya sang ibu bisa mengucapkan Lafadz Allah walau bukan dengan bantuannya.
__ADS_1
Nafas bu Ani kembali memburu. Semua orang yang ada disitu semakin panik. Dan dengan tiga tarikan nafas terakhir, tubuhnya pun terkulai lemas dengan mata terpejam rapat.
Iqbal mengguncang tubuh sang ibu saat melihat tak ada lagi pergerakan darinya. Namun semua hanya sia-sia, tubuh sang ibu tetap tak bergerak sedikitpun.
Iqbal tak menyerah, ia meraih pergelangan tangan sang ibu dan mencari denyut nadinya. Namun hasilnya sia-sia juga, ia tak bisa menemukan denyutan itu.
Iqbal menundukkan kepala. Setetes air mata jatuh di pipi. Sang ibu tercinta kini telah meninggal dunia. "Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun," ucapnya lirih.
Mendengar ucapan Iqbal mengertilah semua orang disana, bahwa bu Ani kini telah meninggal dunia. Mereka pun ikut mengucap kalimat yang sama dengannya.
"Innalillahi wainna ilaihi roojiuun."
Jerit tangis Larissa pecah seketika, tak percaya dengan apa yang terjadi. Tubuhnya ambruk ke tanah walau ia sudah mencoba menabahkan hati sedari tadi bahwa hal ini akan terjadi. Namun saat semua itu sudah terjadi di depan mata nyatanya ia tak sanggup menerimanya.
Malam itu bu Ani kembali menghadap pada Sang pemilik kehidupan disamping sang putra tercinta. Rupanya sedari tadi ia belum mau pergi sebelum melihat wajah putranya untuk yang terakhir kali. Dan begitu ia melihat kedatangannya, ia pun pergi dengan wajah damai.
"Pukul berapa ini?," tanya Iqbal setelah puas menumpahkan air mata."
"Pukuk sembilan malam," jawab salah seorang.
"Ayo kita urus pemakaman ibu sekarang mumpung masih pukul sembilan ."
"Apa tidak kemalaman nanti selesainya?," ucap keluarga yang lain. Tak setuju dengan keinginan Iqbal bila bu Ani dimakamkan malam ini juga.
"Kalau kita bergerak cepat aku rasa waktunya cukup! Justru kasihan ibu kalau kita tidak segera mengurus jenazahnya. Lagipula sudah tidak ada lagi keluarga yang ditunggu bukan?."
Semua orang pun setuju dengan pendapat Iqbal. Terlebih agama memang mengajarkan untuk menyegerakan pemakaman seseorang yang telah meninggal dunia.
Semua orang bergerak cepat. Ada yang pergi ke masjid untuk mengabarkan berita kematian bu Ani, ada yang pergi ke pemakaman untuk menyiapkan liang kubur, ada juga yang mengambil peralatan pemandian jenazah di kantor serbaguna desa.
__ADS_1
Sementara itu Iqbal memutuskan untuk membersihkan tubuh sang ibu terlebih dulu sebelum nanti dimandikan. Sedang Larissa mempersiapkan ruangan untuk menyemayamkan jenazah sang ibu