Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 138


__ADS_3

Larissa mengajak putrinya main tebak-tebakan dengan menggunakan media gelas berisi air. Tujuannya untuk menjelaskan tentang rukun islam.


Larissa meminta putrinya untuk melepaskan satu persatu jari tangan dari gelas yang dipegangnya setelah memberi sedikit penjelasan. Hingga hanya jari telunjuk dan ibu jari saja yang tersisa dari genggaman gelas tersebut.


Zahra terlihat kesulitan melakukan perintah ibunya kali ini. Mana mungkin bisa melepaskan jari tangan diantara kedua jari yang tersisa tanpa membuat gelas itu terjatuh.


Melihat putrinya kesulitan, Larissa tertawa kecil. "ada apa? Kau tak bisa melakukan perintah kecil dari ibu?."


Bibir Zahra manyun melihat dirinya diketawakan oleh ibunya. "Bukannya aku tidak bisa, bu, tapi ini memang sangat sulit. Bagaimana aku bisa melepas salah satu jariku tanpa membuat gelas ini terjatuh."


"Kau benar! karena kedua jari itu memang tak bisa dipisahkan," ucap Larissa.


"Kalau ibu sudah tahu kalau itu tidak bisa, lalu kenapa malah memyuruhku untuk melakukannya?" tanya Zahra sewot.


"Ada alasan kenapa ibu menyuruhmu melakukan itu. Dan semua ini berhubungan dengan rukun islam yang pertama dan yang kedua tadi."


"Maksud ibu?," tanya Zahra tak mengerti.


"Jadi gini," Larissa menjeda ucapannya sebentar dan merubah posisi duduk sebab kakinya terasa sedikit kebas karena berada dalam posisi duduk yang sama dalam rentang waktu yang cukup lama. "Rukun islam yang pertama adalah syahadat, sedang yang kedua adalah sholat. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain."


Zahra diam, mendengarkan penjelasan ibunya dengan seksama.


"Orang dikatakan sebagai umat islam jika ia sudah mengucap dua kalimat syahadat. Kau pasti tahu kan bagaimana bunyi syahadat itu."


"Tahu, bu!" jawab Zahra, dan tanpa menunggu perintah ibunya, ia langsung menyebutkan dua kalimat tersebut. "Asyhadu alla ilaha illallah, wa Asyhadu anna muhammadar rasulullah. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul utusan Allah."


"Bagus! Putriku memang anak yang cerdas." kembali Larissa memuji putrinya atas ketepatan jawaban yang ia berikan.

__ADS_1


"Nah, kalimat syahadat ini disebut juga sebagai identitas umat islam. Oleh sebab itu kita tidak boleh mengabaikannya."


Zahra manggut-manggut mendengar penjelasan ibunya. Sementara Larissa melanjutkan kembali penjelasannya.


"Sama halnya dengan syahadat, sholat pun sama pentingnya juga. Orang disebut dengan umat islam jika ia rajin menjalankan ibadah sholat. Kau tahu kenapa sebabnya?."


Zahra menjawab pertanyaan ibunya dengan menggeleng tak mengerti."


"Sebab sholat adalah tiang agama. Dan orang yang tidak mau menjalankan sholat, maka berarti ia merobohkan agama."


"Dan apa kau tahu, nak, amalan pertama yang akan dipertanyakan oleh Allah kelak di akhirat adalah tentang sholat. Jika sholatnya bagus, maka ia tergolong sebagai orang yang beruntung. Sebab semua amalannya yang lain akan dianggap bagus pula. Sedang bila sholatnya kurang bagus, maka ia termasuk orang yang merugi. Sebab semua amalannya yang lain tidak akan berguna jika ia tak mau sholat."


Zahra terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan ibunya tadi. Agaknya ia mulai menyadari kesalahannya yang suka malas-malasan jika disuruh sholat.


"Kembali lagi ke gelas yang kau pegang itu. Sampai kapanpun kau takkan bisa melepas salah satu diantara kedua jarimu itu, sebab keduanya memang saling berkaitan."


"Apa sekarang kau mengerti kenapa ibu selalu marah jika kau tak mau sholat, nak?" Larissa mengakhiri penjelasan panjangnya dengan menanyakan pendapat putrinya.


Zahra menundukkan kepala, terlihat sekali jika ia menyesali perbuatannya. "Zahra mengerti, bu. Maafkan sikap Zahra selama ini."


Larissa tersenyum bahagia atas jawaban putrinya. Lega akhirnya Zahra mau mengerti semua yang dilakukannya selama ini. "Kemarilah, nak!."


Zahra mendekati ibunya dengan kepala tertunduk, takut jika ibunya akan marah. Namun semua itu keliru, Larissa justru mendekap putrinya penuh dengan kasih sayang. "Sudahlah, nak, tidak apa! Ibu berkata seperti tadi hanya agar kau mengerti betapa pentingnya sholat itu. Yang terpenting sekarang adalah kau harus berjanji tidak akan meninggalkan sholat lagi. Apa kau mau berjanji untuk itu, nak?."


"Iya, bu, Zahra janji tidak akan meninggalkan sholat lagi" ujarnya. Kedua jari terangkat keatas sebagai bukti kesungguhannya.


"Bagus! Anakku memang anak yang penurut. Sekarang matikan televisinya dan kita sholat isya' berjamaah. Sekarang sudah masuk waktu sholat isya'. Udah kedengeran suara adzan tuh."

__ADS_1


Zahra mengangguk dan mematikan televisi. Kemudian mereka mengambil air wudhu dan melakukan sholat isya' berjamaah di rumah.


Sebenarnya Zahra adalah seorang anak yang cerdas dan penurut. Hanya saja ia belum mengerti apa kewajibannya sebagai seorang muslimah. Dan itu adalah tugas Larissa sebagai orangtua untuk mengajarkannya.


Terkadang seorang anak tidak perlu dibentak atau dipukul agar mau menurut. Cukup dengan mengajaknya bicara dari hati ke hati dan memberi penjelasan dengan menggunakan bahasa yang mudah untuk dipahami olehnya.


...****************...


Saat kecil dulu, kita sering mendengar kisah dongeng tentang seorang putri dan pangeran yang hidup bahagia setelah mereka menikah. Begitu indah untuk di dengar apalagi membayangkan.


Namun nyatanya, kehidupan tidaklah seindah itu. Bahkan pernikahan adalah awal dari dimulainya hidup yang sesungguhnya.


Larissa dan Hamzah, mereka berasal dari dua dunia yang berbeda. Larissa yang notabene anak pesantren dan tak pernah mengenal cinta atau berdekatan dengan seorang pria. Sementara Hamzah adalah anak jalanan yang dulunya suka mabuk-mabukan dan gemar melakukan keonaran. Namun setelah bertemu dengan Larissa berhenti dari semua kenakalannya dan beeubah menjadi pribadi yang lebih baik.


Tanpa pengalaman atau apa, mereka menikah di usia yang cukup muda hanya berbekal kata cinta. Namun karena keegoisan masing-masing dan juga campur tangan dari orang lain membuat mereka sering mengalami masalah dan hampir bercerai.


Seiring.berjalannya waktu dan banyaknya pengalaman hidup, membuat mereka semakin matang dan dewasa dalam menyikapi setiap permasalahan yang ada. Dan yang terpenting, mereka selalu membicarakan semua hal dengan pasangan sebelum memutuskan sesuatu.


Tak ada lagi keegoisan, kini yang ada hanya saling terbuka satu sama lain dan mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan sendiri.


Berani menikah berarti berani untuk berubah. Sebab semua tak lagi sama seperti saat masih sendiri. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan sebab apa yang kita lakukan akan berimbas juga pada pasangan.


Pernikahan ternyata bukan tentang berapa usia idelnya, melainkan seberapa kesiapan hati dan mentalnya. Sebab pernikahan adalah sebuah ibadah yang sangat panjang yang menuntut banyak kesabaran dan pengorbanan.


Terlebih jika kita sudah memiliki anak, sebab anak adalah titipan Allah yang harus kita jaga dengan sebaiknya. Baik buruk seorang anak akan berimbas pula pada kita nantinya.


Dan semoga dengan kisah ini kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran di dalamnya.

__ADS_1


...***** SEKIAN *****...


__ADS_2