
Larissa segera masuk ke ruangan dokter begitu mendengar namanya dipanggil diikuti oleh Hamzah di belakang.
"Ibu Larissa?," tanya dokter. Memastikan pasien yang masuk sama dengan data yang ia pegang.
"Iya, dok. Itu saya."
"Mari silahkan ke bilik pemeriksaan, biar saya periksa dulu!."
"Mari, bu. Ikut dengan saya!" seorang perawat yang berada dalam ruangan itu mempersilahkan Larissa menuju sebuah bilik yang hanya diberi sebuah tirai pembatas. Tanpa banyak bicara Larissa mengikuti perawat tersebut.
Larissa membuka beberapa kancing baju untuk mempermudah pemeriksaan. Perawat menutupi bagian bawah tubuh Larissa dengan selimut dan menyisakan bagian tubuh yang hendak diperiksa.
Dokter bangkit dari tempat duduk dan masuk ke dalam bilik setelah beberapa saat. "Mana yang sakit?."
"Yang ini, dok!" tunjuk Larissa.
Dokter memakai sarung tangan karet dan melakukan pemeriksaan singkat. "Baik, cukup!," kemudian kembali lagi ke tempat duduknya.
"Jadi, bagaimana keputusan anda?" tanya dokter sambil membuka beberapa lembar laporan kesehatan Larissa dihadapannya.
"Sekarang saya sudah siap, dok! Jadi kapan saya bisa menjalani operasi?."
Dokter menyunggingkan senyuman. "Pertama anda harus menjalani tes darah dulu. Setelah itu anda reservasi kamar rawat inap. Kalau anda sudah mendapatkan kamar, anda bisa kbali lagi ke sini untuk menentukan jadwal tindakan."
"Baik, dok!" jawabnya singkat.
Larissa bangkit dan berjalan menuju ruang laboratorium untuk melakukan tes darah seperti yang dokter minta.
Menunggu adalah satu hal yang paling membosankan. Namun dengan sabar Larissa melakukannya. Dan setelah beberapa lama akhirnya hasil tes itu keluar juga.
__ADS_1
Dari ruang laboratorium Larissa beralih menuju tempat pendaftaran rawat inap untuk melakukan reservasi. Dan untungnya masih ada beberapa kamar kosong yang bisa ia gunakan nantinya.
Usai mendapatkan kamar rawat inap Larissa kembali menuju ruangan dokter. "Saya sudah mendapatkan kamar rawat inap seperti yang dokter minta. Dan ini hasil tes darah saya," Menyerahkan sebuah amplop berisi hasil tes darah. "Jadi, kapan saya bisa melakukan operasi, dok?."
Dokter membuka amplop tersebut dan membaca hasilnya sambil bertanya, "Apa anda sudah siap jika saya menjadwalkan operasi anda minggu-minggu ini?"
Larissa menjawab dengan penuh keyakinan. "Saya sudah sangat siap, dok! Bukankah lebih cepat lebih baik?."
"Baik! Semua hasil tes bagus. Kalau begitu, lusa anda kami jadwalkan menjalani operasi. Anda bisa datang kesini pukul lima pagi untuk persiapan. Dan nanti pukul sepuluh siang anda akan dibawa menuju ruang operasi untuk diambil tindakan."
Larissa menganggukkan kepala. "Baik, dok! Saya mengerti."
"Oh ya satu hal lagi, kami sarankan anda untuk berpuasa sepuluh jam sebelum operasi," imbuh dokter. "Sampai disini apa ada yang ingin anda tanyakan?."
Larissa menggeleng singkat. "Tidak, dok!."
"Kalau begitu sekarang anda bisa pulang. Persiapkan diri anda sebaik-baiknya dengan menjaga asupan makanan dan istirahat yang cukup." Bersamaan dengan itu sang dokter mengembalikan kembali hasil tes pada Larissa.
Dokter menyambut uluran tangan Larissa. "Mari, silahkan!."
Usai dari ruangan dokter Larissa menuju ke tempat parkir. Ia ingin segera pulang karena khawatir dengan anaknya. Walau tadi ia sudah menitipkan anaknya ke rumah sang nenek, namun hati seorang ibu tidak akan pernah bisa tenang bila meninggalkan anaknya terlalu lama
Sedari tadi Hamzah mengikuti kemanapun Larissa pergi tanpa berkata sepatah kata. Kali ini pun ia masuk ke lahan parkir tanpa mengajak istrinya bicara.
Seperti biasa, Larissa tak ikut masuk dan hanya menunggu suaminya mengambil sepeda motor di depan pintu keluar parkiran. Namun ternyata yang dilakukannya kali ini adalah sebuah kesalahan besar.
Hamzah terlihat kesulitan mengeluarkan motor hingga membuat helm yang dipegangnya terjatuh. Bukannya menaruh sepeda dan memungut helm itu, Hamzah malah menendangnya sambil mengumpat kasar, "Sudah tahu orang lagi ngeluarin sepeda malah diam saja seperti patung. Ini ambil!."
Larissa memejamkan mata sambil mengusap dada. Setetes air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Yang bisa ia lakukan hanya menyebut nama Allah. "Ya Allah, beri aku kekuatan."
__ADS_1
Larissa menyambar helm yang terjatuh tanpa banyak bicara, lalu keluar dari area rumah sakit tanpa menoleh ke belakang atau memperdulikan suaminya lagi. Kesabarannya kali ini telah habis. Perbuatan Hamzah tadi telah sangat mempermalukan dirinya. Apalagi banyak orang yang sempat menyaksikan kejadian tadi.
Tin...tin...
Hamzah mensejajari langkah Larissa sambil membunyikan klakson. "Woi, ayo buruan naik!" teriaknya.
Larissa berpura-pura tak mendengar teriakan suaminya dan terus berjalan. Ia terlanjur sakit hati dan malu dengan kejadian tadi.
Hamzah tak menyerah. Ia terus berteriak menyuruh istrinya naik sambil mengklakson. "Apa kamu budek? Ayo cepat naik! Ini sudah malam," hardiknya.
Larissa terpaksa menghentikan langkahnya karena merasa malu terus diperhatikan oleh orang-orang disekitar. "Kamu pergi saja, aku bisa pulang sendiri!," ucapnya ketus.
"Jangan keras kepala! Ayo, cepetan naik."
"Tidak usah! Aku masih ingin hidup. Aku tidak mau mati konyol di jalan gara-gara cara mengemudikanmu yang ugal-ugalan."
Dalam keadaan marah Hamzah memang kerap mengemudikan sepeda dengan ugal-ugalan tanpa memperdulikan keselamatan orang yang diboncengnya. Saat berangkat tadi saja Larissa dibuat senam jantung lantaran cara memgemudikannya itu. Padahak saat itu Hamzah tak sedang marah.
Hamzah mendengus kesal. Ia semakin marah lantaran Larissa terus menolak. "Ya sudah kalau tidak mau. Kamu pulang saja sendiri!. Sudah dibela-belain diantar malah gini balasanmu. Tahu gitu lebih baik tidak usah aku antar saja tadi." Dipacunya sepeda motor sekencang-kencangnya tanpa menoleh lagi kebelakang.
Larissa mengusap dada melihat sikap suaminya. Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf setelah disindir secara halus oleh istrinya, Hamzah malah meninggalkannya begitu saja.
Setelah ditinggal oleh suaminya Larissa mulai bingung bagaimana cara untuk pulang . Ia celingak-celinguk mencari angkutan umum yang masih beroperasi.
Untuk sampai ke rumah larissa harus menaiki angkutan dulu ke terminal. Dari terminal ia lanjut naik bis mini hingga batas desa. Dan dari sana ia harus naik angkutan lagi untuk sampai di depan gang. Terakhir ia harus berjalan selama lima belas menit lagi lantaran angkutan tak melintasi rumahnya.
Sebuah angkutan umum yang mengarah ke terminal melintas dihadapannya. Larissa mengulurkan tangan hendak menyetop angkutan itu tapi kemudian urung. "Kalau aku naik angkutan itu, aku bisa saja sampai di terminal. Tapi dari terminal aku harus naik apa? Belum nanti kalau sampai di batas desa," gumamnya ragu. "Ini sudah terlalu malam. Apa mungkin bis yang menuju ke arah rumah masih ada."
Ditengah kebingungannya tiba-tiba pandangan Larissa tertuju pada dua orang pengendara ojek online yang berada tak jauh darinya. Ia pun segera menghampiri ojek online itu. "Mas, kalau mau ke daerah xx bisa?."
__ADS_1
"Wah itu jauh sekali, mbak."
Mendengar jawaban salah satu driver ojek online hati Larissa ketar-ketir. "Tolongin saya, mas. Anterin saya pulang. Saya akan bayar berapapun yang mas minta."