
Hamzah menuruti nasihat bapaknya tanpa banyak bicara. Ia segera meninggalkan rumah dengan diikuti oleh Larissa dibelakangnya.
Larissa merasa apa yang ia lakukan saat ini sangat salah. Tapi ia juga takut untuk mengatakannya pada Hamzah. Dan dengan mengumpulkan segenap keberanian yang ia punya, ia pun meminta Hamzah untuk menepikan motornya. "Berhenti sebentar! Aku ingin bicara denganmu sebelum kita sampai dirumah" ucapnya lirih.
Hamzah pun menuruti permintaan Larissa dengan segera menepikan motornya. "Katakan! Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanyanya dengan nada dingin setelah ia mematikan motor.
Sejenak Larissa diam, mencoba merangkai kata yang tidak akan membuat Hamzah bertambah marah. "Bisakah kau menghilangkan sikap keras kepalamu?" tanyanya pelan.
"Sikap keras kepala seperti apa yang kau maksud?" ujar Hamzah bertanya balik.
"Sikap keras kepala seperti yang kau tunjukkan kemarin. Tidak bisakah kau menghilangkannya?" ujar Larissa mengulang pertanyaannya kembali.
Hamzah membuang nafas kasar. "Gini, aku jelaskan padamu agar kau mengerti!. Siapapun yang berada dalam posisiku, jelas akan marah. Kau tahu apa yang kakakmu katakan saat ditepi pantai kemarin?."
Larissa menggeleng-gelengkan kepala lemah. "Tidak!."
"Kakakmu mengatakan pada semua orang, bahwa aku telah memukul ibumu. Dan aku dicari-cari oleh semua orang, seakan-akan aku ini seorang penjahat. Padahal kau tahu sendiri kan bagaimana kejadiannya saat itu?."
Larissa kembali menganggukkan kepala.
"Memang aku akui, aku sudah salah dengan membuang pisang itu. Tapi aku juga sudah menjelaskan apa alasanku melakukan itu, kan?"
Kembali, Larissa menganggukkan kepala untuk kesekian kali. Membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Tapi kenyataannya, ibu dan kakakmu malah memperbesar masalah dengan sengaja menambah cerita bahwa aku sudah memukulnya."
Larissa tertegun mendengar pengakuan Hamzah. "Maafkan aku. Aku tidak tahu jika kejadiannya seperti itu" ucapnya menundukkan wajah.
"Selama ini aku sudah cukup bersabar dengan keluargamu. aku tahu, aku bukan orang kaya. Tapi bukan berarti mereka bisa memperlakukanku dengan seenaknya."
__ADS_1
"Aku juga tahu bahwa keluargamu memang tidak suka denganku. Kalau bukan karena mu, aku tidak akan mau bertahan disana. Dan andai aku bukan suamimu, tidak mungkin juga aku tinggal disana."
"Aku sudah cukup bersabar menghadapi semua masalah demi untukmu. Tapi kesabaran ku juga ada batasnya. Aku bukan orang alim yang akan diam saja bila ada yang menyakitiku."
"Sekarang coba kau ingat-ingat! Sejak pertama kita menikah, sebagian besar dari masalah yang ada pada rumah tangga kita berasal dari mana? dari keluargamu, kan?."
Larissa terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan dari suaminya. Karena apa yang Hamzah katakan memang lah benar.
"Sama sepertimu! Aku juga ingin hidup damai, berumah tangga dengan tenang. Aku tidak akan mencari masalah bila tidak ada yang memancingku."
"Ma..maafkan aku. Aku tidak tahu jika kau sangat tertekan dengan semua itu" ucap Larissa. Ia baru sadar jika selama ini ia tidak pernah mencoba untuk memahami suaminya. Ia selalu menuntut Hamzah untuk menjadi seperti yang ia inginkan, seperti yang keluarganya harapkan.
Selama ini Larissa memang selalu menyalahkan Hamzah atas apa yang sudah terjadi. ia tak pernah mencoba memahami masalah dari sudut pandang suaminya. Karena selama ini, secara tidak langsung ibu sudah membuatnya membenci dan menjauh dari suaminya dengan semua perkataan yang ia ucapkan. Dan sayangnya, Larissa selalu percaya begitu saja dengan semua perkataan ibunya.
Hamzah menghela napas. "Dalam hal ini, harusnya aku yang marah padamu. kau tahu kenapa?."
"Kemarin, tanpa berpamitan, kau pergi begitu saja dari rumah bibi. Kau bahkan tidak memperdulikan ucapanku."
"Saat aku menawarkan mu untuk diantar bapak, kau masih tak bergeming dan malah berlalu begitu saja. Padahal saat itu aku begitu menghawatirkan mu dan Fatim karena sudah malam."
"Begitu kau berlalu, orangtuaku mengelus dada karena sikapmu itu. Kau seakan tidak menghargai ke dua orangtuaku."
"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud seperti itu. Jujur saja, saat itu aku sangat kecewa karena ibumu terus menyudutkanku" ucap Larissa lirih.
Hamzah kembali menghela napas. "Sudahlah! lebih baik kita lupakan semua masalah ini. Karena dalam hal ini, kita semua sama-sama bersalah."
"Ayo! lebih baik sekarang kita segera kembali ke rumah" ajak Hamzah, dan bersiap untuk menghidupkan kembali motornya.
"Tunggu dulu!" Larissa menghentikan Hamzah. "Aku ada satu permintaan untukmu."
__ADS_1
Hamzah menghentikan apa yang dilakukannya dan berbalik menghadap Larissa kembali. "Katakan!."
"Aku minta tolong, jangan hiraukan apa yang akan ibu katakan nanti. Biar aku sendiri yang menjelaskan padanya. Karena sebenarnya, beliau tidak mau aku bersama denganmu lagi."
Hamzah kembali menghela napas berat untuk kesekian kali. "Baiklah! Aku akan menuruti permintaanmu. Tapi aku tidak janji akan bisa menahan diri seandainya kau dilukai. Aku tidak akan tinggal diam jika sampai hal itu terjadi. Kau tahu sendiri, kan bagaimana sifatku? aku paling tidak bisa bila melihatmu terluka. Lebih baik aku saja yang disakiti."
"Aku masih sanggup menerima semuanya. Tapi tidak dengan melihatmu terluka."
Larissa mengangguk. "Aku pastikan hal itu tidak akan pernah terjadi. Se kejam-kejamnya ibu, beliau tidak akan tega menyakitiku" jawab Larissa, menenangkan kekhawatiran suaminya.
"Baiklah kalau begitu!" ujar Hamzah sambil menganggukkan kepala. "Apa masih ada yang ingin kau katakan lagi sebelum kita pulang kerumah? Kalau ada, katakan sekarang! Aku ingin semua masalah selesai saat ini juga."
"Tidak! aku tidak ada masalah lagi."
"Kalau begitu, mati kita pulang. Kasihan Fatim."
Mereka pun akhirnya kembali pulang kerumah. Ternyata anggapan Larissa selama ini bahwa Hamzah berubah karena kekecewaannya yang tidak memberikan seorang putra.
Kenyataannya, Hamzah begitu peduli dan sayang padanya. Juga pada anaknya, Fatim. Mungkin ia harus menyelami hati suaminya lebih dalam lagi agar bisa memahami apa yang suaminya inginkan. Agar kedepannya tidak akan ada lagi kesalahpahaman seperti ini.
Mulai detik ini, Larissa berjanji akan menjalin komunikasi yang lebih baik lagi dengan suaminya. Ia juga akan membicarakan setiap masalah yang ada dengannya. Dan tidak mengambil kesimpulan secara sepihak.
Tak berselang lama, mereka pun sampai dirumah. Dan benar saja, ibu sangat marah saat melihat kedatangan Larissa yang disertai dengan Hamzah dibelakangnya.
Memang ibu tidak mengatakan secara langsung bahwa ia sangat marah. Tapi dari tingkah laku, wajah, dan sorot matanya, bisa Larissa simpulkan betapa ia sangat marah padanya saat ini.
Larissa diam, tak menghiraukan apa yang ibunya lakukan. Ia menarik lengan Hamzah dan mengajaknya untuk bergegas memasuki kamar. Ia tak ingin memancing keributan dengan berlama-lama melihat ibu. Karena saat ini, ia belum siap menghadapi semua kemarahannya.
Untuk sementara, biarlah seperti ini dulu. Larissa berjanji, akan mencari cara untuk melunakkan hati ibu. Dan menghilangkan semua kemarahan dihatinya.
__ADS_1