
Hamzah kalang kabut kesana kemari mencari keberadaan Larissa. Saat tiba di kamar tadi, ia tak mendapati istrinya berada diatas ranjang, padahal ia pergi hanya selama satu jam saja. Ia pun mencari keberadaan istrinya disekitaran kamar sambil berterik memanggil namanya. "Larissa, kamu dimana, sayang?."
Berulangkali ia memanggil nama Larissa namun tak jua terdengar sahutan dari si empunya nama. "Larissa pergi ke mana ya? Tapi dia kan belum bisa bangun sendiri," gumamnya dalam hati. "Apa dia lagi di kamar mandi?." Ia pun melangkah menuju kamar mandi yang berada di sudut ruangan untuk memastikan.
Tok tok tok
"Larissa, apa kamu ada di dalam, sayang?."
Hening, tak terdengar suara sahutan.
"Larissa kok tidak menjawab panggilanku, ya?," tanyanya pada diri sendiri. "Ah, mungkin tadi suaraku tidak kedengeran. Coba aku ulang sekali lagi."
Hamzah menepis keraguan dan mencoba mengetuk pintu kembali. "Larissa, apa kamu ada di dalam, sayang?."
Hening, kembali tak terdengar suara sahutan dari dalam.
"Larissa sedang apa, ya didalam? Kok dia tidak menjawab panggilanku juga. Apa dia sedang mandi? Tapi itu tidak mungkin. Tubuhnya kan belum boleh terkena air," gumamnya kembali.
Hamzah kembali mengetuk pintu untuk yang ketiga kali sambil memanggil nama istrinya. Namun seperti yang sudah-sudah, kali ini pun tak terdengar suara sahutan dari dalam. "Larissa kenapa, ya? Kok tidak menjawab panggilanku. Aku khawatir dia kenapa-napa. Apa sebaiknya aku langsung masuk saja untuk memastikan?."
Tok tok tok
"Larissa, aku masuk ke dalam, ya?." Tanpa menunggu persetujuan Hamzah langsung membuka pintu.
Ceklek
Krieeet
Pintu pun terbuka. Namun Hamzah tak menemukan keberadaan istrinya disana. Bahkan lantai kamar mandi pun masih kering.
"Kalau Larissa tidak ada disini, lalu dia ada dimana?." Kekhawatiran mulai menghinggapi benak Hamzah, mengingat istrinya baru saja selesai menjalani operasi. Terlebih tubuhnya juga masih lemah. Ia pun beranjak keluar kamar mencoba mencari keberadaan istrinya diluar.
Hamzah mencari keberadaan istrinya di beberapa tempat. Mulai dari taman, musholla, hingga kantin rumah sakit. Namun ia tak berhasil menemukan keberadaannya. Ia juga telah bertanya pada beberapa orang yang dijumpainya sambil menunjukkan foto sang istri di galeri telpon, namun semua mengatakan tidak melihat.
Hamzah mulai putus asa. Ia terduduk diatas tanah "Larissa, kamu dimana? Kenapa kamu tidak ada disemua tempat," ratapnya. "Ini semua salahku. Harusnya aku tidak meninggalkannya sendirian di kamar."
__ADS_1
Hamzah kembali teringat pada dua orang yang dilihatnya tadi di perempatan jalan. Membuat pikirannya semakin kalut. "Ya Tuhan, berilah petunjuk padaku untuk mencari keberadaan istriku. Aku sangat khawatir dengan keadaannya."
Hamzah melangkah gontai. Terus merutuki diri sendiri yang telah tega meninggalkan sang istri sendirian. Tak dihiraukannya tatapan aneh orang-orang karena melihat penampilannya yang acak-acakan.
Pikiran Hamzah berkecamuk. Ketakutan akan kehilangan sang istri dan menghabiskan sisa hidup sendirian tanpanya terus menghantui. Hingga tanpa sadar langkah kaki telah membawanya kembali ke kamar.
Hamzah terduduk diatas ranjang. Pikirannya semakin kusut. Diusapnya wajah kasar. "Larissa, kau dimana? Aku mohon kembalilah padaku," ucapnya lirih.
Ditengah keputusasaan tiba-tiba pandangan mata Hamzah menangkap sebuah bayangan di balkon. "Bayangan siapa itu? Kenapa dia ada disana? apa dia seorang penjahat? Tapi itu tidak mungkin. Mana ada penjahat bersembunyi di rumah sakit,"
Bermacam pertanyaan bermunculan di benak Hamzah. Ia pun memutuskan kesana untuk mencari tahu.
Hamzah berjalan mengendap-endap kearah balkon khawatir bayangan tadi menyadari kehadirannya sehingga membuatnya gagal mengetahui siapa dia.
Hamzah melihat sesosok wanita tengah bermandikan cahaya matahari pagi berdiri membelakanginya. Sesosok wanita dengan siluet tubuh yang begitu ia kenal.
Hamzah tertegun begitu mengetahui siapa pemilik bayangan itu. Tubuhnya terpaku untuk sesaat. Namun kemudian sebuah senyum kelegaan terlukis di wajah. Bersamaan dengan itu bayangan buruk yang terus menghantuinya sejak tadi turut sirna.
Dialah Larissa, orang yang ia cari keberadaannya sejak tadi hingga membuatnya ketakutan setengah mati. Gegas ia berlari menghampirinya. "Syukurlah, Larissa, akhirnya aku menemukanmu juga," ucapnya. Dipeluknya sesosok tubuh itu erat-erat seakan takut kehilangan lagi.
Mendapat pelukan dari belakang secara tiba-tiba membuat Larissa terkejut. Sontak ia melepaskan diri dari pelukan itu dan berbalik menghadap. "Entik? Ternyata ini kau? Kenapa kau mengejutkanku seperti itu?," tanyanya.
Larissa menghela napas, membiarkan sang suami memeluk dirinya sepuas hati.
Perlahan Hamzah melepas pelukannya setelah merasa puas. Digenggamnya kedua tangan sang istri dan menatapnya sendu. "Kau dari mana?sejak tadi aku mencarimu kemana-mana."
Larissa mengernyitkan dahi, menyiratkan sebuah kebingungan. "Dari tadi aku ada disini."
"Kalau kau ada disini, lalu kenapa kau tak menjawab panggilanku tadi?."
Larissa tak menjawab pertanyaan suaminya dan malah bertanya balik. "Kau? Memanggilku?."
Hamzah menjawab dengan sebuah anggukan.
"Tapi sejak tadi aku tak mendengar suara panggilanmu?.
__ADS_1
"Untuk apa aku berkata seperti itu kalau memang tidak memanggilmu tadi?."
Larissa tak melihat adanya kebohongan di mata sang suami, menunjukkan bahwa ia memang berkata jujur. Ia pun lantas diam, berpikir apa yang membuatnya tak mendengar panggilan sang suami.
Selang beberapa saat tiba-tiba ia menepuk jidat sambil berkata, "Astaga! Pantas saja aku tidak mendengar suara panggilanmu. Ternyata aku memakai airphone di telingaku sejak tadi." Kemudian ia melepas airphone itu dan menunjukkannya pada suaminya. Sebuah senyuman tak bersalah ia singgingkan.
Hamzah geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya. "Pantas saja! ternyata ini penyebabnya."
"Tapi kau tidak apa-apa kan?" bertanya kembali untuk memastikan keadaannya.
"Tidak! Aku baik-baik saja."
Hamzah memghembuskan nafas kelegaan mendengar jawaban sang istri. "Tapi kenapa kau bisa ada disini? Lalu bagaimana caramu bangun dari tempat tidur?."
"Seperti yang kau lihat, aku disini untuk menikmati matahari pagi. Bukankah sinar matahari pagi bagus untuk kesehatan, terlebih untukku. Sedang bagaimana caraku bangun dari tempat tidur sebenarnya sejak semalam aku sudah bisa bangun sendiri. Kamu saja yang tidak membiarkanku banyak gerak."
Hamzah mangggut-manggut mendengar penjelasan sang istri. "Ya sudah, sekarang masuk lagi ke kamar yuk!."
Larissa mengangguk. Hamzah membantu membawakan selang infus sang istri.
"Kamu mau makan lagi, tidak? Tadi ada perawat yang mengantarkanmu sarapan," tawar Hamzah setelah membantu istrinya naik lagi ke ranjang.
"Nggak, ah. Aku takut jadi gendut kalau kebanyakan makan. Bisa-bisa kamu berpaling ke lain hati nanti," rajuk Larissa.
Hamzah tersenyum mendengar ucapan sang istri. "Itu tidak mungkin, karena seluruh hatiku sudah kau ambil."
"Gombal!!," cibir Larissa. Namun wajahnya tak bisa berbohong. Nyatanya wajahnya tetap bersemu merah mendengar gombalan receh sang suami.
Hamzah tertawa mendengar wajah malu-malu Larissa. "Jadinya, mau makan lagi, nggak?."
"Iya deh. Kebetulan aku juga sudah lapar lagi," jawab Larissa malu-malu.
Pecahlah tawa Hamzah mendengar jawaban Larissa. "Gitu tadi bilangnya takut gendut."
Larissa kesal karena ditertawakan oleh suaminya. "Ya udah, nggak jadi," rajuknya.
__ADS_1
Hamzah menutup mulutnya dan berhenti tertawa. "Maaf maaf, aku bercanda. jangan ngambek gitu dong. Nanti hilang cantiknya."
"Ya sudah! Sini aku suapi." Beranjak mengambil nampan berisi sarapan dan mulai menyuapi.