Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 74


__ADS_3

"Sekarang jelaskan semuanya padaku!" ucap Larissa saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Tunggu sebentar! Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu." Usai mengatakan hal itu ia Hamzah melangkah menuju lemari pakaiannya. Dan tak butuh waktu lama ia kembali menghampiri istrinya sambil membawa sesuatu di tangannya. "Ini" ucapnya singkat. Diserahkannya bungkusan yang dibawanya tadi kepada Larissa.


Larissa menerima bungkusan tersebut. "Apa ini?" tanyanya. Dahinya berkerut lantaran tak mengerti


"Bukalah!. Bukankah tadi kau ingin mengetahui isi dari bungkusan yang pernah aku taruh diatas pintu." Hamzah tak menjelaskan apapun dan hanya menyuruh istrinya untuk membuka sendiri bungkusan itu. Dengan segera Larissa pun membuka bungkusan tersebut.


Bungkusan itu terdiri dari beberapa lapis kain tipis. Yang mana ditiap kain terdapat huruf-huruf arab yang membentuk suatu pola. Bau minyak wangi yang begitu menyengat menguar saat lapisan itu dibuka.


Tatkala bungkusan itu telah terbuka semua, Larissa malah dibuat semakin bingung. Ia melihat ada sebuah benda yang mirip dengan salah satu tokoh dalam pewayangan tapi dengan ukuran yang sangat kecil. Ukurannya hanya sebesar jari jempol orang dewasa. "Ini apa, Entik?" tanyanya.


Hamzah mengambil benda tersebut dari tangan Larissa dan bertanya, "Apa kau tahu siapa ini?."


Larissa menggeleng. "Aku tidak tahu siapa dia. Tapi dilihat dari bentuknya, aku bisa menebak kalau dia adalah salah satu tokoh dalam pewayangan."


Hamzah tersenyum simpul. "Kau benar sekali! Dia memang salah satu tokoh pewayangan. Namanya adalah semar."


Larissa semakin bingung kenapa suaminya menyimpan benda seperti ini didalam lemari. Selama ini ia tak berani menyentuh barang-barang pribadi suaminya karena itu bersifat privasi.


Hamzah mengerti jika Larissa bingung dengan keberadaan benda tersebut. Ia pun menjelaskan dengan perlahan. "Semar itu adalah raja dari segala raja. Tidak ada yang mampu menandingi kehebatannya."


"Dalam ilmu kebatinan semar memiliki beberapa bentuk, dan yang aku miliki ini namanya semar ndhempok."


"Benda ini bukan benda sembarangan. Benda ini memiliki kekuatan gaib yang bisa digunakan sebagai perlindungan."


"Sekarang lihatlah baik-baik bentuk semar ini!" ucap Hamzah setelah memberi sedikit penjelasan.


Larissa meraih kembali benda tersebut dari tangan Hamzah. Diamatinya bentuk benda itu dengam seksama. Namun karena tak mengerti dengan hal semacam itu, ia pun mengembalikannya lagi. "Aku masih belum mengerti dengan semua ini. Tapi apa hubungannya benda ini dengan kita?."

__ADS_1


"Tentu saja ada! Tapi sebelum itu, maukah kau berjanji satu hal padaku?."


"Katakan!"


"Maukah kau menyimpan rahasia yang akan aku ungkap padamu nanti?."


Melihat keseriusan dalam nada bicara suaminya, Larissa dapat menilai jika apa yang akan dikatakan olehnya nanti benar-benar hal yang serius. "Baiklah! Aku berjanji" ucapnya dengan penuh kesungguhan.


Hamzah menghela nafas. Sejenak ia berpikir bagaimana menjelaskan pada istrinya dengan bahasa yang bisa ia pahami. Dan dengan satu tariak nafas, ia pun berkata, "Aku menggunakan benda ini sebagai perlindungan untuk kita"


Larissa terhenyak mendengar jawaban suaminya. "Apa? Bukankah seharusnya kita meminta perlindungan hanya pada Allah semata?."


"Sssst...jangan keras-keras. Nanti ada orang yang mendengar pembicaraan kita" ucap Hamzah. Jari telunjuknya diletakkan diatas bibir sebagai isyarat agar istrinya memelankan suaranya.


Menyadari kekeliruannya Larissa segera membekap mulutnya dan meminta maaf. "Maaf maaf. Aku keceplosan tadi."


Hamzah menghela nafas pelan. "Ya sudah tidak apa-apa. Tapi mulai sekarang lebih hati-hati lagi. Kalau ada orang yang mendengar pembicaraan kita, bisa bahaya!."


"Baiklah! Sampai dimana pembicaraan kita tadi? aku sampai lupa" ucap Hamzah, mengalihkan kembali ke pembicaraan awal.


"Sampai dibagian menggunakan benda ini sebagai perlindungan" ingat Larissa.


"Oh, iya! Aku ingat sekarang," Hamzah menepuk dahinya sendiri setelah mengingat akhir dari pembicaraan mereka tadi. "Yang kamu katakan tadi memang benar. Kita harus meminta perlindungan hanya pada Allah semata. Benda ini hanya sebagai wadah saja."


"Percaya dengan benda mati apalagi menjadikannya sebagai perlindungan bukankah itu sama dengan menyekutukan Allah?."


"Tentu tidak!" Hamzah dengan tegas menyangkal ucapan istrinya. "Seperti yang aku katakan tadi, benda ini hanya sebagai wadah saja."


Larissa semakin bingung dengan ucapan Hamzah. Namun ia hanya diam dan menunggu penjelasan selanjutnya dari sang suami.

__ADS_1


"kau tadi bilang pernah melihatku merapalkan doa-doa di tengah malam, bukan?" tanya Hamzah kembali.


Larissa menganggukkan kepala sebagai jawaban. Namun ia masih bingung. Sungguh, ia benar-benar tak mengerti dengan semua ini.


"Itu adalah wirid khusus" tandas Hamzah.


Tak mau dibuat semakin bingung oleh ucapan suaminya, Larissa pun memintanya agar menjelaskan dengan jelas. "Sungguh, aku benar-benar tak mengerti. Tolong jelaskan dengan sejelas-jelasnya."


Hamzah memejamkan mata. Hembusan nafasnya terdengar begitu berat. "Malam itu aku berdoa kepada Allah dengan membaca sebuah wirid khusus yang diajarkan oleh Uwak Sodiq. Wirid itu dipercaya mampu menembus langit ke tujuh."


Sejenak Hamzah menjeda ucapannya untuk mengambil nafas, lalu kemudian ia melanjutkan ucapannya kembali dengan mengajukan sebuah pertanyaan, "Waktu itu kau pasti juga melihatku menghentakkan tangan ke tanah berkali-kali, bukan?."


Kembali Larissa menganggukkan kepala.


"Saat itu dalam batin aku meminta pada Yang Diatas, lalu menarik seluruh kebaikan yang ada di langit ke bawah. Dan gerakan menghentakkan tangan berkali-kali itu adalah saat dimana aku memasukkan wirid yang aku baca tadi kedalam benda ini. Jadi benda ini bukan hanya benda biasa. Melainkan ada khodam penjaganya" terang Hamzah panjang lebar.


"Sungguh, Entik, aku tak pernah tahu cara berdoa seperti ini."


"Tentu saja hal ini tidak diketahui oleh orang awam, karena ini adalah ilmu tingkat tinggi. Makanya kita harus berhati-hati agar tidak diketahui oleh sembarang orang. Takutnya mereka salah paham dan menganggap ini musyrik."


"Tapi kalau kau mau, aku bisa mengajarkannya padamu" imbuhnya.


Tanpa menunggu persetujuan Larissa, Hamzah merapalkan wirid yang ia baca malam itu dan meminta Larissa untuk mengikuti bacaannya. Dengan terpaksa Larissa pun menurutinya.


Larissa terhenyak. Ia merasa tak asing dengan wirid yang Hamzah baca tadi. 'Aku seperti mengenal bacaan ini. Bukankah ini doa yang sering aku baca tiap hari?Tapi kenapa cara membacanya terasa aneh?' batinnya.


Terjadi pertentangan batin dalam diri Larissa antara percaya dengan perkataan suaminya atau tidak. Sungguh, semua ini terasa aneh baginya. Terlebih ia juga jadi bermimpi aneh setelah suaminya melakukan ritual itu.


"Apapun itu aku minta kau hentikan ini semua! Segala hal yang berkaiatan dengan bangsa jin, pasti akan ada konsekuensinya. Aku tak mau nanti timbul masalah di belakang gara-gara hal ini" pintanya.

__ADS_1


"Satu hal lagi, tolong kamu tidak usah pergi ke rumah Uwak sodiq untuk berguru hal-hal seperti ini lagi. Sungguh, aku sangat takut!."


Hamzah hanya diam mendengar permintaan istrinya, tak mengiyakan atau menolak. Ia begitu percaya dengan Uwak Sodiq hingga menganggap permintaan Larissa hanya angin lewat.


__ADS_2