Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 90


__ADS_3

Larissa meringis kesakitan usai membasuh luka sang ibu. Agaknya rasa sakit yang dialami oleh ibunya berbalik menyerangnya. Rasa sakit yang teramat sakit.


Tak ada yang bisa ia lakukan. Bahkan obat pereda nyeri yang diminumnya tak memberikan efek apa-apa. Ia hanya bisa menangis menahan rasa sakit itu. Digunakannya sebuah bantal untuk meredam rasa nyeri.


Ditengah rasa sakit yang mendera tiba-tiba....


Brakkk


Hamzah muncul bersamaan dengan terbukanya pintu. "Ada apa, Encus? tanyanya khawatir.


Hamzah ikut terbangun bersama Larissa saat mendengar suara jeritan Bu Ani tadi. Namun ia hanya diam dan membiarkan istrinya menunjukkan baktinya pada ibu kandungnya.


Namun tiba-tiba ia meliat Larissa berhenti dan berlari masuk kamar. Ia pun bergegas menyusul istrinya karena merasa ada yang tidak benar.


Benar juga dugaan Hamzah. Begitu ia membuka pintu, ia melihat istrinya menangis sambil memegangi dadanya yang sempat dioperasi beberapa waktu yang lalu.


"Dadaku terasa sangat sakit, Entik. Rasanya seperti diremas dengan kuat dan ditarik. Rasa sakitnya terasa sampai ke punggung," keluhnya dengan bercucuran air mata.


Hamzah mendekati Larissa dan kembali bertanya, "Kenapa tiba-tiba kamu merasakan sakit? Bukannya tadi kamu tidak apa-apa?."


"Aku juga tidak tahu, Entik! Saat menyeka luka ibu tadi tiba-tiba saja dadaku langsung nyeri. Aku juga tidak tahu kenapa."


Hamzah memghela napas berat. "Coba sini aku usap-usap punggungmu. Mungkin dengan begitu rasa sakitnya bisa sedikit berkurang."


Larissa merubah posisi duduk menjadi memunggungi suaminya. Perlahan Hamzah mengusap-usap punggung sang istri dengan gerakan keatas kebawah. Sambil mengusap ia berkata, "Mulai sekarang kamu tidak usah melakukan apapun kalau ibumu berteriak kesakitan. Biar aku saja yang merawatnya."


"Tapi, Entik, aku tidak tega melihatnya. Aku juga ingin berbakti pada ibu."


"Untuk apa kau menunjukkan baktimu pada ibu kalau akhirnya kau sendiri kesakitan. Pikirkan kesehatanmu sendiri!."


Larissa diam dan hanya menundukkan kepala. "Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus membiarkan begitu saja ibu kesakitan? Apa kata orang kalau mereka tahu?."

__ADS_1


Hamzah menghela napas berat. "Bukankah tadi aku sudah bilang, aku yang akan merawat ibumu. Kamu fokus saja dengan kesehatanmu sendiri. Dan soal pendapat orang, kau tak usah perdulikan apa kata mereka. Karena mereka tak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya."


"Baiklah! Aku akan coba," ucap Larissa lirih.


Hamzah tahu bahwa Larissa hanya setengah hati mengatakan akan mencoba. Sebagai seorang anak tentu ingin berbakti pada ibunya, terlebih disaat seperti ini. Ia pun mencoba memberi pengertian padanya. "Aku mengerti kalau kau ingin berbakti pada ibumu, dan aku tak pernah melarangmu. Tapi untuk saat ini fokuslah dulu dengam kesehatanmu. Kau juga baru sembuh, kan?."


"Kau jangan khawatir, Entik. Aku mengerti maksudmu, dan aku tak pernah menyalahkanmu akan hal ini. Justru aku berterimakasih padamu karena sudah mau merawat ibuku. "


Sentuhan Hamzah dipermukaan kulit terasa begitu nyaman. Hingga perlahan rasa sakit yang Larissa rasakan mulai menghilang. "Apa masih terasa sakit?," tanya Hamzah setelah beberapa lama.


Larissa menggelengkan kepala. "Tidak, Entik. Sakitnya sudah tidak terasa lagi."


Hamzah menghentikan gerakan tangannya lalu pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Disodorkannya gelas tersebut kehadapan sang istri. "Ini, minumlah!."


Larissa mengambil gelas dari tangan suaminya dan meminum isinya sebagian. "Habiskan!" seru Hamzah saat melihat istrinya tak menghabiskan minumannya.


Larissa pun menghabiskan sisa air minum dan mengembalikan gelasnya pada sang suami. "Sudah habis!."


Larissa menurut dan segera merebahkan tubuh. Hamzah menarik selimut untuk istrinya hingga batas dada. Sebuah kecupan ia daratkan di kening sang istri tercinta. "Tidurlah! Aku mau keluar dulu sebentar."


"Kamu mau ngapain?," tanya Larissa. Digenggamnya tangan sang suami agar tak pergi.


"Aku mau merokok sebentar diluar. kepalaku agak sedikit pening. Nanti aku kembali kesini lagi."


"Tapi jangan lama-lama. Aku tak mau tidur sendirian."


Hamzah menganggukkan kepala. "Iya, aku tidak akan lama. Sekarang kamu tidur dulu, ya!."


Larissa mengangguk dan mulai memejamkan mata. Sedang Hamzah pergi keluar kamar untuk merokok dan memghilangkan pening di kepala.


...****************...

__ADS_1


Hari-hari berlalu. Hamzah menepati ucapannya untuk merawat ibu Larissa yang keadaannya semakin memprihatinkan. Ia tak membiarkan Larissa menyentuh ibunya karena khawatir akan berakhir dengan dirinya sendiri yang mengerang kesakitan seperti yang sudah-sudah.


Tengah malam Larissa kembali terbangun karena mendengar suara jerit kesakitan ibunya. Ingin rasanya ia bangun saat itu dan melakukan sesuatu yang bisa meringankan rasa sakit ibunya. Namun ucapan sang suami yang sudah mewanti-wantinya untuk tidak mendekat membuatnya urung melakukan niatnya.


Larissa berbalik menatap Hamzah. Ingin rasanya membangunkan sang suami yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Namun saat melihat wajah lelahnya, ia tak tega dan urung melakukannya. Apalagi ia tahu bahwa sejak tadi Hamzah sudah jatuh bangun karena mendengar suara teriakan ibunya. Larissa pun memutuskan untuk tidur kembali dan berpura-pura tak mendengar suara teriakan ibunya.


Bukannya berhenti, Bu Ani justru berteriak semakin kencang memanggil anaknya. Bahkan kali ini disertai dengan kata-kata sumpah serapah. "Larissa, tega sekali kamu. Sudah tahu orang kesakitan malah dibiarkan saja. lihat saja, kamu akan kualat nanti!."


Tes....


Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Larissa. Ia hanya bisa mengelus dada mendengar sumpah serapah yang dikeluarkan ibunya. "Maafkan aku, ibu. Sungguh, aku tidak pernah bermaksud mengabaikanmu. Aku juga ingin melakukan sesuatu untuk meringankan rasa sakitmu. Tapi mau bagaimana lagi, kondisiku sendiri tidak memungkinkan untuk melakukan itu," ucapnya lirih. "Ya Allah, ampuni aku. Kau maha tahu segalanya.


Dengan terpaksa akhirnya Larissa membangunkan suaminya. "Bangunlah, Entik, ibu berteriak kesakitan lagi ucapnya pilu. Sekuat tenaga ia sembunyikan kesedihannya.


Hamzah tergeragap saat Larissa menggoyang-goyangkan lengannya. Kepalanya agak sedikit pening, terlebih ia baru beberapa menit memejamkan mata. "Hah... ada apa? kau bilang apa tadi?," ucapnya ditengah-tengah kesadaran yamg belum terkumpul sempurna. Ia tak begitu mendengar ucapan istrinya tadi.


"Ibu berteriak kesakitan lagi, Entik. Bolehkah aku mendekat untuk meringankan rasa sakitnya?," ucap Larissa, mengulangi perkataannya lagi. Namun kali ini disertai dengan sebuah permohonan.


"Tidak usah! Biar aku saja."


"Tapi kamu terlihat sangat lelah, Entik."


"Tidak apa, aku baik-baik saja. Yang penting kamu tidak apa-apa."


Hamzah mengusap wajahnya yang sedikit lelah lalu bangkit dan segera menghampiri Bu Ani di kamarnya. "Ada apa, Bu? tanyanya sambil memxguap lebar.


Melihat kedatangan Hamzah, bukannya bicara baik-baik Bu Ani malah marah-marah padanya. "Dipanggilin dari tadi baru nongol Sudah tahu orang lagi sakit malah dibiarkan."


Ingin rasanya marah dan mengumpat balik. Namun Hamzah mencoba menahan diri. "Aku hanya tidur sebentar, ibu. Bukankah dari tadi ibu terus memanggilku?."


"Sudah, jangan banyak bicara. Cepat lakukan sesuatu untuk meringankan rasa sakit ini."

__ADS_1


Meski sedikit dongkol karena sudah diomeli namun Hamzah tetap melakukan yang biasa ia lakukan untuk meringankan rasa sakit yang Bu Ani rasakan.


__ADS_2