
Larissa kembali menjalani operasi pengangkatan tumor jinak di ***********. Dan seperti janji yang telah diucap sebelumnya, Hamzah benar-benar mendampingi dan merawat Larissa selama masa penyembuhan.
Larissa merasa tersentuh dengan perhatian dan kasih sayang darinya. Hingga perlahan kemarahan dalam dirinya mulai hilang.
Larissa pun menanyakan alasan kenapa Hamzah masih bersikap baik dan bahkan mau merawatnya. Padahal selama ini ia sudah bersikap buruk terhadapnya.
Hamzah menjawab bahwa ia hanya melakukan kewajibannya, namun Larissa tak percaya dan terus mendesaknya agar mengatakan alasan sebenarnya. Akhirnya Hamzah mengungkap alasan sebenarnya bahwa ia masih mencintai Larissa dan ingin memberi kesempatan pada pernikahan mereka.
Mendengar ungkapan jujur suaminya, setetes air mata pun jatuh di pipi mulus Larissa. "Sebesar itukah rasa cintamu terhadapku?," Dipandangnya bola mata hitam milik sang suami. Namun yang ia lihat hanyalah sebuah kejujuran disana.
"Kau tak kan pernah mengerti sebesar apa aku mencintaimu. Tapi satu hal yang harus kau tahu, Kau adalah segalanya bagiku."
Larissa tersentuh dengan ungkapan cinta sang suami. Selama hidup bersama, tak pernah ia mendapati suaminya mengungkapkan perasaan cinta padanya. "Apa kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?," tanyanya.
Hamzah menggenggam jemari tangan Larissa. "Aku bersumpah atas nama Allah! setelah Tuhan, hanya kaulah yang aku cintai."
Bibir Larissa bergetar, tak sanggup menahan luapan perasaan. "Aku juga mencintaimu, Entik. Sungguh, aku tak ingin berpisah darimu."
Mereka Pun saling berpelukan dalam tangis. "Maafkan aku, Entik. Maafkan semua kesalahanku," ucap Larissa disela tangis. Kepala ia benamkan dalam pelukan Hamzah dan tangannya memeluk erat tubuhnya seakan tak mau terlepas.
"Akulah yang seharusnya minta maaf padamu. Maafkan aku karena sering menyakiti hatimu," jawab Hamzah. Ia pun melakukan hal yang sama dengan Larissa pula.
Puas menumpahkan perasaan satu sama lain, perlahan mereka melepas pelukan. "Apa kau mau memberiku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya," tanya Hamzah.
Larissa mengangguk yakin. "Iya, Entik, aku mau!"
Hamzah meraih tangan Larissa dan mengecupnya cukup lama. "Tetaplah berada disampingku walau apapun yang terjadi. Jangan pernah lagi berpikir untuk meninggalkanku."
"Tidak akan, Entik. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Hamzah menatap wajah Larissa sendu. "Maukah kau berjanji untuk itu?."
"Ya, aku berjanji!."
__ADS_1
Hari itu cinta telah meruntuhkan semua ego dan kemarahan, lalu membawa mereka untuk kembali bersama.
"Oh ya, ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu," ucap Hamzah setelah mereka kembali menguasai diri.
"Apa?."
"Kemarin aku mendapat tawaran dari salah satu temanku untuk ikut damar, apa kau tidak apa-apa kalau aku tinggal?."
Damar adalah salah satu teknik menangkap ikan di laut lepas. Peralatan yang digunakan adalah jaring berjenis pukat harimau. Kru kapal biasanya berjumlah antara dua puluh lima sampai tiga puluh lima orang. Barangkat di siang hari dan tiba di pagi hari.
Sebenarnya jaring dengan jenis ini telah dilarang penggunaannya karena bisa merusak alam. Namun nyatanya masih banyak nelayan yang menggunakannya dengan alasan lebih banyak tangkapan yang bisa didapat.
Memang sudah menjadi sifat manusia yang serakah. Mereka mengambil dari alam tanpa peduli akan kelestarian alam.
Kembali ke cerita Hamzah dan Larissa. Hamzah merasa berat meninggalkan istrinya berdua dengan putrinya saja. Terlebih kondisi Larissa saat ini belum sembuh benar. Itulah mengapa ia tak langsung mengiyakan ajakan temannya untuk ikut bergabung dan memilih untuk membicarakannya terlebih dahulu dengan istrinya. "Jadi bagaimana menurutmu? Apa kau tidak apa-apa kalau aku tinggal melaut?."
Larissa diam, rasanya sangat berat untuk mengiyakan. "Apa tidak sebaiknya ikut melaut yang biasa-biasa saja?mayang atau njaring mungkin?."
Larissa diam, meski sangat berat untuk menyetujui keinginan suaminya namun akhirnya ia setuju juga. "Baiklah, terserah kamu baiknya gimana."
Hamzah dapat membaca dari raut wajah Larissa jika ia sangat berat untuk mengizinkannya ikut damar. Ia pun mencoba memberi pengertian padanya. "Aku melakukan ini juga demi keluarga kita. Kau tahu sendiri kan kalau keuangan kita saat ini sedang menipis?."
Larissa hanya diam membisu.
"Kalau kau keberatan, aku tidak akan ikut. Tapi kalau kau setuju, maka doakan aku. Semoga besok hasil tangkapanku bagus dan bisa membawa uang banyak untuk kita."
Sejenak Larissa memikirkan kata-kata suaminya, dan akhirnya ia pun merelakan kepergiannya. "Pergilah! Doaku kan selalu menyertai langkahmu."
"Terimakasih banyak." Hamzah tersenyum lega mendengar ucapan istrinya. "Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak ada dirumah."
Larissa menjawab ucapan suaminya dengan menganggukkan kepala. "Pasti! Aku pasti akan menjaga diri baik-baik."
Hamzah tersenyum lega. "Kalau begitu sekarang beristirahatlah! Aku mau keluar sebentar menemui temanku untuk mengiyakan ajakannya sekaligus bertanya kapan akan berangkat, ya?."
__ADS_1
"Iya!" jawab Larissa singkat. Ia pun lantas membaringkan tubuh dibantu oleh suaminya. Sebuah kecupan hangat dari sang suami mendarat di dahi.
"Apa kau ingin aku belikan sesuatu saat pulang nanti?," tanya Hamzah sebelum beranjak pergi.
"Tidak, aku sedang tidak ingin sesuatu," menjawab sambil menggelengkan kepala.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi sekarang. Kau istirahat saja di rumah."
Larissa mengangguk, dan Hamzah pun menghilang dibalik pintu.
...****************...
Tak terasa seminggu sudah Hamzah melaut. Sejauh ini semua berjalan baik-baik saja. Hamzah selalu mendapatkan hasil tangkapan yang bagus, sedang Larissa sendiri tak pernah mengeluhkan sakit di daerah bekas luka operasi.
Merasa tubuhnya sedikit membaik Larissa memutuskan untuk ikut mencari uang dengan berjualan mie seduh dan es lilin di sekolah putrinya. Ia adalah tipe wanita pekerja keras. Hanya berdiam diri di rumah dan tak melakukan apa-apa membuat sendi-sendinya terasa sakit.
"Entik, aku ingin berjualan mie seduh dan es lilin di sekolah Zahra. Apa kau mau memberiku izin untuk melakukannya?," tanya Larissa saat Hamzah berada di rumah.
"Tapi kau kan belum pulih benar?."
"Aku tidak apa-apa, Entik, aku sudah merasa lebih baik. Lagi pula aku hanya berjualan mie seduh saja. Itu bukan pekerjaan berat, bukan?."
"Tapi kau masih butuh banyak istirahat, Encus. Aku tidak mau kondisimu kembali drop."
"Percayalah, Entik, aku baik-baik saja. Pekerjaan ini tidak akan memforsir banyak tenaga. Lagipula kau kan tahu sendiri kalau aku tidak pernah bisa diam. Tubuhku malah terasa sakit kalau seharian hanya tiduran terus dan tak memiliki kegiatan."
Meski sudah memberitahukan alasannya namun Hamzah tetap tak setuju. Ia tak ingin terjadi sesuatu dengan istrinya terlebih saat ia tak berada di rumah.
Larissa memang keras kepala. Meski suaminya telah mengatakan keberatannya namun ia tak mau menyerah begitu saja. "Ayolah, Entik, percaya padaku. Tidak akan terjadi apa-apa padaku nanti. Lagipula aku bisa sekalian menunggui Zahra juga, kan?."
Karena terus memaksa akhirnya Hamzah pun menyetujui keinginan istrinya. "Baiklah, kau boleh berjualan mie seduh di sekolah zahra. Tapi dengan satu syarat, kau tidak boleh kecapekan. Biar nanti aku yang membuat es lilinnya untukmu."
"Setuju!." Larissa tersenyum bahagia mendengar persetujuan suaminya. "Terimakasih sudah memberiku izin. Aku mencintaimu."
__ADS_1