
Larissa berlari menjauhi suaminya sambil membawa pedang yang berhasil ia rebut dari tangannya. Akan tetapi Hamzah tak tinggal diam, ia segera mengejar istrinya. "Mau kau bawa kemana pedangku?" teriaknya menggelegar.
"Aku akan membuang pedang ini!" jawab Larissa. Ia ketakutan setengah mati saat mendengar gelegar suara Hamzah. Ia semakin mempercepat langkahnya.
Larissa tahu, Hamzah tidak akan membiarkan dirinya membuang pedang tersebut. Karena bagi Hamzah, memiliki pedang tersebut ditangannya adalah sebuah kebanggaan, tapi hal tersebut tidak berlaku bagi Larissa. Baginya, pedang tersebut adalah sumber masalah, dan ia harus segera menyingkirkan masalah tersebut.
Larissa sengaja menggiring suaminya dengan berlari keluar rumah. Banyak hal yang menjadi pertimbangannya dalam mengambil tindakan ini. Pertama, untuk menjauhkan pertengkaran mereka dari anaknya. Ia takut suaminya benar-benar gelap mata dan mencelakakan anaknya sendiri.
Kedua, bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ia lebih mudah meminta tolong pada para tetangga. Dan benar saja, beberapa tetangga memang terlihat keluar rumah saat mendengar suara teriakan Larissa yang disertai dengan kegaduhan.
"Jangan berani-berani kau membuang pedangku. Cepat! kembalikan padaku." Suara Hamzah terdengar sangat dingin dan mengintimidasi. Namun Larissa tak mau menyerah, ia terus berlari menjauhi suaminya.
Larissa terus berlari tanpa berani menoleh kebelakang. Namun tidak butuh waktu lama bagi Hamzah untuk mengejarnya. Langkahnya yang lebar membuatnya tidak kesulitan untuk menyamai langkah Larissa, dan kini ia sudah berada dibelakang istrinya itu.
Grep.... Hamzah meraih tangan Larissa dan menghentikan laju larinya. "Jangan paksa aku berbuat kasar padamu. Sekali lagi aku ingatkan! kembalikan pedangku!."
Larissa terkejut mendapati suaminya sudah berada di dekatnya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mengharap bantuan dari seseorang yang ada disana. Namun tak seorang pun yang berani mendekat. Padahal banyak orang yang menyaksikan kejadian itu, karena saat itu banyak para warga yang baru pulang dari masjid seusai menjalankan ibadah sholat magrib.
Bukan hanya para warga yang tak berani menolong, beberapa tetangga yang tadi sempat keluar rumah pun kembali masuk ke dalam dan memilih untuk tak ikut campur dalam urusan mereka. Mereka sangat takut melihat kemarahan Hamzah.
Tidak ada pilihan lain, Larissa harus memberanikan diri untuk melindungi dirinya sendiri jika ia masih ingin bernapas hingga esok hari. "Aku tidak akan menyerahkan pedang ini padamu" jawabnya dengan suara sedikit bergetar.
__ADS_1
"Oh ya! Apa kau yakin?" sahut Hamzah. Ia memicingkan sebelah mata seakan menghina keberanian Larissa barusan.
Larissa tak menjawab. Ia segera menyembunyikan pedang tersebut di balik punggungnya dengan menggunakan sebelah tangan yang masih terbebas. Ia tidak akan membiarkan Hamzah merebut pedang itu kembali walau apa yang terjadi.
Melihat apa yang dilakukan Larissa, Hamzah pun menampilkan sebuah seringai yang sangat menakutkan diwajahnya. "Baiklah! Kau tidak memberiku pilihan lain. Aku akan merebut pedangku kembali dengan cara apapun," ucapnya. "Jangan salahkan aku kalau kau sampai terluka."
Hamzah menarik lengan Larissa dan memutar tubuhnya kebelakang. Dan kini, Hamzah telah berada dibelakang punggung Larissa.
Sebelah tangan Hamzah menggenggam pedang yang masih berada ditangan Larissa, dan sebelahnya lagi tetap menggenggam lengannya. "Kau lihat, kan! merebut kembali pedangku dari tanganmu bukanlah hal yang sulit bagiku" sebuah senyuman mengejek tersungging di bibirnya.
Larissa tak menyerah, ia menarik lengannya kembali dengan sekuat tenaga dan berputar menghadap suaminya. Sebelah tangan masih menggenggam pedang tersebut. "Tidak semudah itu merebut pedang ini dari tanganku" ucapnya.
Maka perebutan pedang pun terjadi. Larissa berusaha keras mempertahankan pedang itu dari cengkraman Hamzah. Ia sudah bertekad, apapun yang terjadi tidak akan membiarkan pedang itu jatuh kembali ke tangan suaminya.
Larissa masih tak mau menyerah. Ia terus berusaha melawan dan mempertahankan pedang tersebut. Tapi apalah daya, tenaganya kalah dari suaminya. Dan dengan satu gerakan cepat, pedang itu pun berpindah tangan kembali pada Hamzah.
"Kau lihat, kan! sekarang pedang ini sudah ada di tanganku kembali" senyum mengejek terus tersungging di bibirnya.
Larissa terpaksa melepas pedang tersebut. Terlambat sedikit saja, maka tangannya akan terpotong. "Kau boleh bangga karena berhasil mendapatkan pedang itu kembali. Tapi satu hal yang perlu kau ingat! ini rumahku, dan aku tidak akan membiarkan pedang itu berada di rumah ini lebih lama lagi."
Sejenak Larissa menghela napas, tapi kemudian ia melanjutkan ucapannya lagi. "Kalau kau tidak ingin aku membuang pedang itu, maka singkirkan segera! Aku tidak ingin melihat pedang itu lagi."
__ADS_1
"Kau tenang saja! Aku akan membawa pedang ini ke rumahku" jawab Hamzah.
"Aku tak perduli dan tak mau tahu akan kau bawa kemana pedang itu. Yang jelas, aku tidak ingin pedang itu berada di rumah ini," ucap Larissa. " Selama ini pedang itu banyak membawa masalah bagi kita, dan sekarang aku sudah muak. Aku tidak ingin melihatnya lebih lama lagi."
"Kau tenang saja! Aku pastikan kau tidak akan pernah melihat pedang ini lagi, " jawab Hamzah dingin. "Dan bukan hanya pedang ini, kau pun tidak akan melihatku lagi. Karena kemanapun pedang ini berada, maka disitulah aku berada."
"Terserah apa maumu. Yang jelas, singkirkan segera pedang itu dari pandanganku" jawab Larissa. ia tak perduli dengan ancaman suaminya yang mengatakan akan pergi mengikuti kemanapun pedang itu berada. Baginya keselamatan putrinya jauh lebih penting dari keberadaan suaminya.
Hamzah berlalu dari tempat itu dan segera masuk ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya. Larissa tak tinggal diam. Ia mengikuti langkah suaminya memasuki kamar.
"Mau kau apakan baju-bajumu?" tanya Larissa saat melihat Hamzah hampir selesai mengemasi barang-barangnya.
Hamzah menoleh sebentar, lalu kembali mengemasi barang-barangnya. "Bukankah tadi aku sudah bilang! Aku akan pergi kemanapun pedang itu berada" jawabnya dingin.
"Terserah apa maumu! Aku tidak perduli." Larissa membuang muka saat mengatakan hal itu.
Sebenarnya jauh didalam lubuk hati ia takut ditinggal pergi suaminya. Ia masih sangat mencintainya, tapi keselamatan putrinya jauh lebih penting dari apapun. Ia segera keluar kamar untuk menyembunyikan air mata yang sedari tadi memaksa untuk keluar.
Hamzah menutup tas besarnya dan segera keluar kamar. Tapi saat ia berada di ruang tamu, ia berpapasan dengan Larissa.
Sejenak Hamzah memandang wajah wanita yang telah ia nikahi tiga tahun lalu. Tapi itu tak berlangsung lama. Ia segera memalingkan wajah kembali saat mengetahui istrinya menyadari jika ia tengah memandangnya.
__ADS_1
"Mana buku nikah ku? cepat! berikan padaku" ucapnya datar. Ia mengatakan semua itu seolah tidak ada lagi rasa cinta yang tersisa di hati untuk wanita yang telah bertaruh nyawa saat melahirkan anaknya.