
Iqbal meninggalkan tempat itu dan melewati Larissa tanpa mengucap sepatah kata lagi. Sedang Hamzah memandang kepergian Iqbal dengan sorot mata sinis.
Larissa masih berdiri mematung tak jauh dari suaminya. Ia sedikit lega saat melihat kakaknya telah pergi. Air matanya mengalir, namun tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Entah apa arti dari air mata itu. Entah kesedihan, kecewa, sakit hati, atau apa. Yang jelas saat ini ia lega karena suaminya baik-baik saja.
Sejenak Hamzah memandang kearah Larissa yang masih mematung. Pandangannya dingin, tak menunjukkan ekspresi apapun. "Ngapain kamu masih disitu? Udah sana pulang, nggak usah khawatirkan aku. Aku baik-baik saja!" ucapnya.
"Ayo kita pulang!" ucap Larisa lirih, namun masih bisa didengar oleh Hamzah. Air mata masih mengalir saat mengatakan hal itu.
"Aku masih ada urusan. Kamu duluan aja, ntar aku nyusul!" jawabnya kasar.
"Tapi cepetan!" ujar Larissa sedikit memaksa.
"Iya! udah sana pulang!" usirnya.
"Aku tunggu dirumah Bapak. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!."
Hamzah tak menggubris perkataan Larissa dan beralih mengajak Uwak Shodiq bicara. Sementara itu Larissa memilih untuk kembali lagi ke rumah Bibi karena khawatir dengan Fatim, takut anaknya menangis mencarinya. Sebab Fatim tidak pernah mau diajak oleh siapapun selain dirinya dan Hamzah.
Tak butuh waktu lama Larissa sudah berada dirumah Bibi Hamzah kembali. "Mana Hamzah? Apa dia benar-benar ada disana?." Bibi memberondongnya dengan banyak pertanyaan saat melihat kedatangannya.
"Benar, Bi. Kak Hamzah beneran ada disana" jawab Larissa.
"Lalu bagaimana keadaannya? apa dia baik-baik saja? apa kakakmu sudah bertemu dengannya?."
"Bibi nggak usah khawatir, Kak Hamzah baik-baik saja!." Sejenak Larissa menjeda ucapannya sebelum memberitahukan hal yang lebih penting. "Bi, tadi aku lihat kak Iqbal juga ada disana. Mereka tengah duduk bersama dengan Uwak Shodiq sebagai penengah antara mereka."
Bibi, Bapak, dan ibu Baskoro menegang mendengar kalimat terakhir yang Larissa ucapkan. Wajah mereka pucat pasi. "Apa yang terjadi selanjutnya? apa sebelumnya mereka saling serang?" tanya Bibi. Kekhawatiran nampak jelas dan begitu besar diwajahnya, lebih besar dari pada kekhawatiran orangtua Hamzah sendiri.
__ADS_1
"Aku rasa tidak, Bi. karena dari yang aku lihat, kondisi mereka berdua baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda kalau mereka saling serang."
"Tapi aku juga tidak tahu pasti. Karena saat aku tiba disana, mereka tengah duduk bersama seperti yang aku katakan tadi. Tapi tak berselang lama kak Iqbal pergi."
Mereka bernapas lega mendengar penuturan Larissa. Tapi kemudian Larissa melanjutkan ucapannya lagi. "Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi aku sempat mendengar kak Iqbal mengancam akan memberi pelajaran pada kak Hamzah kalau sampai menyakiti ibu lagi."
Wajah mereka kembali menyiratkan kekhawatiran setelah mendengar perkataan Larissa. "Sekarang mana Hamzah? biar aku marahi dia!" ujar ibu mertua sedikit emosi. "Aku tidak rela anakku dipukuli orang lain. Lebih baik aku yang memukulinya sendiri."
"Kak Hamzah masih ada disana, Bu!" jawab Larissa.
"Bodoh! harusnya tadi kamu langsung ajak dia pulang" ujar Bibi meninggi.
"Aku tadi sudah berusaha mengajaknya pulang. Tapi dia bilang masih ada urusan, dan dia akan segera menyusul."
"Ada urusan apa lagi?" Kali ini Baskoro yang bertanya.
"Aku juga kurang tahu urusannya apa. Aku hanya berpesan agar dia menyusul kesini karena ada yang ingin aku katakan."
Larissa menundukkan kepala. Sakit hati mendengar hinaan yang diucapkan ibu mertuanya. Tapi sebisa mungkin ia sembunyikan.
Saat mereka saling menyalahkan Larissa, Hamzah pun tiba. Ia masuk rumah begitu saja dengan wajah tak berdosa, seolah-olah tidak melakukan kesalahan apapun.
"Datang juga kau, Hamzah. Sini duduk! Kami mau bicara denganmu" ucap ibu mertua.
Hamzah pun menuruti perkataan ibunya dengan segera duduk dihadapan mereka. Ia masih menunjukkan wajah tak berdosa, seakan tak terjadi apa-apa. Akan tetapi sorot matanya tajam, siap menguliti siapa saja yang berani mengusiknya. Ada apa? apa yang ingin kalian bicarakan denganku?" tanyanya.
"Aku dengar tadi kau membuang pisang yang diberikan mertuamu pada Fatim. Benar begitu?" tanya ibu mertua. Dialah yang bertanya kali membuka suara.
__ADS_1
"Oh, soal itu. Itu memang benar! Tapi aku punya alasan kenapa aku melakukan hal itu" jawabnya tegas.
"Memang apa alasannya?." Kali ini Bibi yang bertanya.
"Aku memakaikan kalung pada Fatim untuk menjaganya dari gangguan makhluk halus. Dan pantangannya adalah memakan pisang emas. Itu sebabnya saat aku melihat Fatim hendak memakan buah itu, aku langsung membuangnya. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan anakku."
"Tapi harusnya kamu tidak serta merta membuang pisang itu. Kamu kan, bisa hanya mengambilnya dari tangan Fatim saja. Itu sama saja menyinggung perasaan ibu" sela Larissa.
"Aku refleks saja tadi. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaan ibumu!."
"Tetap saja kamu salah. Harusnya kamu bisa lebih sopan lagi sama ibu" jawab Larissa. Ia bersikeras menyalahkan suaminya.
Ekspresi wajah Hamzah berubah. Ia menatap tajam kearah Larissa. Melihat hal itu, Bibi kembali bertanya untuk mengalihkan perhatian Hamzah agar ia tak marah dengan istrinya. "Memangnya kalau nggak pake kalung itu anakmu akan celaka? Kenapa kamu begitu percaya sama hal-hal begitu?."
"Setiap orang punya cara masing-masing untuk melindungi anaknya. Dan ini adalah caraku. Aku tidak perduli orang mau memandangku apa!" jawabnya tegas, membungkam semua orang.
"Lagi pula Iqbal saja yang terlalu membesar-besarkan masalah. Masalah begitu saja pakai mau keroyokan. Dasar banci!" sambungnya. Ia mengatakan hal itu seolah tanpa beban.
"Jelas saja kakak marah! Kamu sudah membuat ibu menangis. Hati anak mana yang tega melihat ibunya menangis" sergah Larissa. Ia tak suka dengan cara bicara Hamzah yang seakan balik menyalahkan Iqbal.
"Bukankah aku sudah bilang, aku tidak bermaksud menyakiti hati ibumu. Dia saja yang terlalu sensitif" berang Hamzah.
Melihat emosi Hamzah mulai menaik, Bibi mencoba menenangkan keponakannya. "Udah udah. kenapa malah kalian yang ribut sendiri. Kita disini mau cari solusi buat menghadapi Iqbal!."
Hamzah membuang muka, begitu juga halnya dengan Larissa. Mereka sama-sama tidak mau mengalah. Merasa bahwa pendapatnya yang paling benar.
"Aku tidak takut menghadapi Iqbal. Kalau dia jual, maka aku akan beli!. Mana mau aku mengalah atas kesalahan yang tidak Akau lakukan" ucap Hamzah setelah beberapa saat saling diam.
__ADS_1
"Bukan begitu cara menyelesaikan masalah, nak. Coba bicara baik-baik. Bukankah minta maaf dulu itu lebih baik" nasihat Baskoro. Dia memang orang yang bijak. Mungkin karena ia berasal dari daerah pegunungan, sehingga tutur katanya menyejukkan. Beda dengan orang yang tinggal di pesisir pantai. Kalau bicara cenderung keras dan berapi-api.
"Apa aku akan diam begitu saja kalau dia mau memyakitiku?" sarkas Hamzah. Ia kekeh tak mau mengalah. "Lagipula aku tak sudi untuk meminta maaf. Bukan aku juga yang salah."