Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 134


__ADS_3

Iqbal marah dan mengobrak-abrik seisi rumah demi mencari sertifikat yang di maksud. Namun ia tak juga berhasil menemukannya hingga membuat emosinya semakin bertambah.


Iqbal mengeluarkan semua barang-barang milik Larissa dari kamarnya sebab kamar itu akan ia gunakan. Namun saat mendorong lemari keluar, ia menabrak anak Larissa.


Seorang bayi kecil berusia 18 bulan dan baru belajar berjalan, ditabrak oleh lemari sebesar itu tentu saja keseimbangan tubuhnya hilang. Ia terjerembab ke lantai dan menangis keras.


Hati ibu mana yang tak kan marah melihat anaknya disakiti seperti itu. Ia segera menyambar anaknya kedalam gendongan dan berusaha menenangkan tangisnya. Amarahnya meledak seiring tangis sang anak. "Kalau kakak tidak suka denganku, lampiaskan padaku. Jangan pada anak kecil yang tidak tahu apa-apa seperti ini."


"Entik, aku akan membawa anak kita ke rumah bapak dulu. Kalau dia masih disini, bisa-bisa babak belur olehnya."


Tanpa menunggu persetujuan suaminya, Larissa menyambar kunci motor dan melajukannya menuju rumah sang mertua. Ia tak peduli lagi dengan keadaan dirumah, atau seandainya terjadi baku hantam antara suaminya dan kakaknya.


Sesampainya disana, ternyata hanya ada Izzah seorang. Sementara bapak dan ibu mertuanya masih belum pulang kerja.


Melihat kedatangan kakak iparnya yang tiba-tiba terlebih dengan kondisi nafas yang ngos-ngosan, Izzah pun kebingungan. "Ada masalah apa, mbak? Apa mbak bertengkar dengan kak Hamzah?" tanyanya penuh kekhawatiran.


"Mbak dengan kakakmu baik-baik saja, kami tidak ada masalah" jawab Larissa, berusaha keras menyembunyikan air mata yang terus mendesak ingin keluar.


"Lalu kenapa mbak seperti ini? Ceritakan padaku, mbak, agar beban di hati mbak bisa sedikit berkurang. Ingat, mbak! mbak itu sedang menyusui."


Larissa tetap bungkam dan tak mau menceritakan, namun Izzah juga tak mau menyerah. Ia terus berusaha agar kakak iparnya itu mau menceritakan apa yang terjadi. "Apa ini ada hubungannya dengan kakak mbak yang ingin meminjam sertifikat kemarin?" tanyanya telak.


Larissa terkejut mendengar pertanyaan Izzah, karena seingatnya kemarin ia hanya membicarakan masalah ini dengan bik Ika. "Darimana kau tahu tentang hal ini?" tanyanya.


"Semalam waktu aku dan bapak tiba di rumah bik Ika memanggil kami dan menceritakan semua."


Meledaklah sudah tangis Larissa yang sedari tadi ia tahan. Ia tak mampu lagi menyembunyikan masalah yang terjadi tadi. "Ya, ini memang tentang masalah itu."

__ADS_1


"Ceritakan dengan jelas, mbak, apa yang terjadi sebenarnya?."


Larissa pun menceritakan masalah yang terjadi antara dirinya dengan Iqbal, kakak tirinya. Juga bagaimana ia telah mengobrak-abrik seisi rumah demi mencari selembar kertas yang sangat berharga itu.


Izzah mendengarkan cerita Larissa dengan seksama. Sesekali ia mengusap lengan istri dari kakaknya untuk menenangkan luapan emosinya.


"Kalau kamu berada di posisiku, apa yang akan kamu lakukan? Salahkah jika aku melindungi apa yang menjadi hakku?." Larissa mengakhiri ceritanya dengan menanyakan pendapat Izzah. Air mata kesedihan tak juga berhenti mengalir dari kedua kelopak matanya.


Izzah terdiam, mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan kakak iparnya. "Kalau aku berada di posisi, mbak, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama."


...****************...


Seharian Larissa kehilangan nafsu makan lantaran memikirkan masalah itu. Ia juga tak mau beranjak dari rumah mertuanya. Bahkan dagangan di rumah juga ia biarkan tergelatak begitu saja.


Meski tadi sempat berani melawan kakaknya, sebenarnya Larissa masih takut jika kakaknya akan berbuat nekat karena ia sangat mengenal bagaimana watak kakaknya itu. Jangankan pada dirinya yang hanya seorang saudara tiri, terhadap ibu kandung mereka saja ia tega berlaku kasar terhadapnya.


Mendengar permintaan istrinya tentu saja ia tak setuju, terlebih kondisi keuangan mereka akhir-akhir ini sangat buruk. Namun ia tak serta merta menolak secara langsung. "Tapi masalahnya rumah sewa itu mahal, Encus. Apa uang kita cukup untuk membayarnya?."


Sepertinya Larissa tak mengerti dengan penolakan suaminya, terbukti ia masih beesikumuh demgan keinginannya. "Kita cari saja rumah sewa yang harganya paling murah. Jelek juga tidak apa. Yang penting kita bisa tinggal dengan nyaman tanpa gangguan dari kakak."


Larissa terus mendesak suaminya agar setuju. Hingga membuat Hamzah tak memiliki pilihan lain. "Beri aku waktu untuk berpikir sebentar!" ucapnya.


Larissa terdiam, tak punya pilihan lain selain membiarkan suaminya berpikir.


Ditengah kemelut itu Baskoro, ayah Hamzah datang. Ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berrukar pikiran. "Bapak, duduklah sebentar! Aku ingin bicara dengan bapak," ucap Hamzah.


Baskoro yang masih lelah karena baru pulang dari mengayuh becak menuruti permintaan anak dan menantunya. Ia duduk berselonjor diantas lantai berhadapan dengan mereka berdua. "Ada masalah apa, nak? Apa yang ingin kalian bicarakan dengan bapak?."

__ADS_1


Hamzah pun menceritakan semua kejadian tadi siang di rumahnya. Juga perihal keinginan Larissa yang ingin mencari rumah sewa dan dirinya yang tak mau makan sedari tadi.


Baskoro menghela nafas panjang sebelum menanggapi permasalahan yang tengah membelit anak dan menantunya. "Kalau menurut bapak sebaiknya jangan, nak!."


Mendengar saran mertuanya yang seakan tak mendukung keinginannya tentu Larissa tak terima. "Kenapa begitu, pak? Aku hanya ingin hidup tenang tanpa gangguan dari kakak."


"Kau memang benar, nak. Tapi coba sekarang kau pikir, siapa yang paling berhak atas rumah itu? Kau sendiri, kan?"


Larissa mengangguk menjawab pertanyaan bapak mertuanya.


"Sertifikat rumah itu sudah atas namamu, dimata hukum kau lah yang paling berhak atasnya. Mau digugat dengan cara apapun, tetap kau yang akan menang."


"Seandainya kau mau, tindakan Iqbal tadi bisa kamu laporkan ke pihak berwajib lho. Karena itur sudah termasuk tindak pengerusakan dan mengganggu kenyamanan orang."


Larissa terdiam mendengar ucapan bapak mertua. Sementara Hamzah manggut-manggut paham.


"Bapqk tidak mengajarkanmu untuk bersikap serakah. Tapi rumah itu sudah menjadi hakmu. Kau berhak untuk melindungi hakmu."


"Selain itu coba kau pikir juga, sebulan itu sangat singkat, nak. Bagaimana kau akan membayar sewanya di tengah kondisi ekonomi yang sulit seperti ini?."


Larissa tertegun, baru menyadari bahwa tindakannya tadi sangat keliru.


"Sekarang makanlah, nak! Kenapa kau malah menyiksa diri sendiri hanya karena masalah ini? Pikirkan juga tentang anakmu yang masih memerlukan ASI darimu? Kalau kau takut sendirian saat suamimu melaut, kau bisa tidur disini. Ingatlah, nak! Kau tidak sendiri. Kami ada bersamamu."


Mata Larissa terbuka lebar setelah mendengar petuah dari bapak mertuanya. Ia sadar, ia tak boleh membiarkan haknya dirampas oleh orang lain walau ia yakin hal itu akan sangat sulit.


Larissa menyeka sisa-sisa air mata di pipi dan mengambil makanan untuk mengisi perutnya yang sedari tadi berbunyi menagih untuk segera diisi.

__ADS_1


__ADS_2