
Larissa meminta dokter untuk memanggil suaminya karena tak ingin sendirian dalam ruangan dengan segala kesakitan yang ia rasakan. Tak berselang lama Hamzah pun datang.
Larissa mengadukan segala kesakitan yang ia rasakan di dada suaminya, salah satu bagian dari tubuh Hamzah yang selalu menjadi tempat ternyaman baginya.
Hamzah mendekap tubuh sang istri dan membelai rambutnya dengan lembut, seakan mentranfer energi baru untuknya. "Jangan menangis! Yakinlah bahwa kau bisa melewatinya."
"Tapi ini sangat sakit, Entik! Aku tidak kuat."
"Kau pernah mengalami yang lebih menyakitkan dari ini, dan kau bisa melewatinya. Sekarang pun kau pasti bisa melewatinya juga."
Larissa diam, diusapnya lelehan air mata yang jatuh di pipi. Agaknya ucapan suaminya mampu membuatnya sedikit tenang. "Temani aku disini. Aku tak kuasa menahan kesakitan ini sendiri."
Hamzah mengangguk. "Aku akan menemanimu terus. Kita akan berjuan bersama-sama demi buah hati kita. Sekarang berbaringlah!."
Larissa menuruti perintah suaminya dengan membaringkan tubuhnya kembali. Tangannya tak mau lepas dari genggaman suaminya seakan takut kehilangan sumber kekuatan.
Badai kontraksi itu kembali datang melanda. Larissa menjerit kesakitan. "Entik, sakit! Aku nggak kuat lagi" air mata tertumpa kembali. Ia merasa daerah panggulnya didesak oleh sebuah benda keras dan itu sangat menyakitkan.
"Jangan berkata seperti itu, yakinlah bahwa kau bisa!" ucap Hamzah mengulang kembali kata-katanya tadi untuk menghilangkan rasa ketidakpercayaan pada diri istrinya. "Ucapkan saja istighfar dan mohon kekuatan pada Allah."
"Astaghfirullahal adhim....."
"Astagfirullahah adhim...."
Larissa turut mengucap istighfar seperti suaminya seakan kata-katanya menjadi sebuah sugesti baginya.
Perlahan rasa sakit itu pun hilang. Larissa menarik nafas lega. Namun tak lama kemudian badai kesakitan itu datang dan menghantam ketenangan yang baru Larissa rasakan.
__ADS_1
Hamzah menggenggam tangan istrinya kuat, seakan turut merasakan kesakitan yang dialaminya. Tangan yang lain membelai kepala sang istri untuk menyalurkan kekuatan sambil bibirnya terus menuntun istrinya mengucap kalimat istighfar.
Pintu ruangan kembali terbuka, kali ini seorang petugas laboratorium yang masuk. Dengan memakai pakaian serba tertutup dan juga masker di mulut sesuai dengan standar protokol kesehatan, ingin melakukan swab test terhadap Larissa.
Hamzah melepaskan genggaman tangannya dan menyingkir sejenak untuk memberikan ruang bagi petugas lab. melakukan tugasnya.
Sebuah alat yang sangat tipis pun dimasukkan kedalam hidung Larissa untuk mengambil lendir yang ada didalamnya sebagai sampel uji coba laboratorium. Dan setelah semua usai ia kembali keluar.
Larissa mengeluh, ditengah kesakitan seperti ini malah dilakukan tes-tes yang sangat aneh menurutnya. Tapi mau bagaimana lagi, covid-19 yang mewabah dengan ganasnya membuat semua ini terpaksa dilakukan demi mencegah penyebarannya. Dan mau tak mau ia harus ikut menjalaninya.
Tak berselang lama seorang petugas lain mendorong brangkarnya dan membawanya menuju ruang rongsent. Dan meski tak tahu apa tujuan antara dilakukannya rongsent terhadapnya dengan persalinan yang akan dihadapi, ia tetap setuju untuk melakukannya. Setelah semua usai, dia dikembalikan lagi ke dalam ruangan tadi.
Larissa kembali mengeluh, kenapa belum juga dilakukan tindakan terhadapnya. Padahal kontraksi yang dirasakannya semakin lama semakin bertambah kuat seiring berjalannya waktu.
Pintu ruangan kembali terbuka, seirang dokter beserta dua orang perawat masuk. Larissa tersenyum lega dan mengira bahwa dokter akan segera melakukan tindakan terhadapnya.
Hati Larissa mencelos, sedih sekaligus kecewa. Namun perasaannya itu sangatlah wajar, wanita mana yang takkan sedih melihat wanita lain bisa melahirkan dengan begitu mudahnya, padahal ia baru sebentar merasakan sakitnya kontraksi. Sementara dirinya yang sudah mengalami kontraksi sejak lima jam yang lalu belum juga melahirkan.
"Ya Allah, berikanlah kemudahan juga padaku seperti wanita itu" ucapnya penuh harap.
Azan subuh berkumandang, membangunkan jiwa-jiwa yang terlelap. Hamzah menawari istrinya makan, terlebih ia terlihat sangat kelelahan.
Larissa setuju dan menerima suapan dari suaminya. Namun baru beberapa suapan ia kembali menolak seiring datangnya kontraksi yang kembali menghantam tubuhnya. Ia hanya meminta teh hangat agar membuat tubuhnya sedikit rileks.
Petugas kembali mendorong brangkarnya keluar ruangan. Kali ini ia dibawa menuju ruamg rawat inap yamg berada di lantai 2. Sebuah ruangan yang disulap menjadi ruang isolasi dampak dari covid-19. Dan mereka kembali meninggalkannya begitu saja berdua dengan suaminya.
Pagi tlah tiba, mentari menampakkan sinarnya dengan malu-malu, menghangatkan jutaan penduduk bumi yang kedinginan.
__ADS_1
Namun tidak demikian dengan Larissa. Ia belum juga melahirkan anak dalam kandungannya meski hari telah berganti. Dan bahkan saat matahari kembali ke peraduannya pun ia belum juga melahirkan.
Larissa mengeluh. "Ya Allah, sampai kapan aku harus menahan kesakitan ini? Berikanlah kemudahan padaku, Ya Allah," harapnya setulus hati.
Rupannya harapannya ini mulai di dengar oleh Allah. Terlihat dari pembukaan Larissa yang tiba-tiba menjadi pembukaan sembilan.
Pembukaan itu disusul dengan hantaman kesakitan yang semakin mendera, seakan seluruh kesakitan didunia ditimpakan padanya.
Larissa memjerit, mengerang menahan badai kesakitan. Tanpa sadar kuku-kuku jari tangannya tertancap di lengan Hamzah hingga membuat lengan suaminya mengeluarkan darah.
Hamzah meringis kesakitan, namun ia membiarkan istrinya melakukan apa yang bisa membuatnya tenang walau itu artinya ia harus terluka dan berdarah seperti sekarang. Ia sadar rasa sakitnya ini tak sebanding dengan rasa sakit yamg istrinya rasakan.
Tiba-tiba dari jalan lahir Larissa keluar air bercampur darah, begitu banyaknya darah yamg keluar hingga pakaiannya yang semula berwarna biru menjadi merah seketika. Ternyata itu adalah ketuban larissa yang pecah.
Seorang dokter beserta seorang perawat bersiap melakukan pertolongan persalinan terhadapnya. Ia mulai memberikan intruksi untuk bernafas dan mengejan.
Larissa mengikuti intruksi yang diberikan untuk mulai mengejan saat kontraksi mulai datang. Namun sang jabang bayi yang terus mendesak dan tak sabar ingin segera keluar membuatnya tao mampu berkosentrasi dengan intruksi yang diberikan.
Percobaan pertama gagal, dokter menyuruh Larissa mengatur nafas dan menunggu kontraksi berikutnya.
Percobaan kedua dilakukan, Larissa mengejan dengan sekuat tenaga. Dokter memberi semangat agar dia kuat. "Ayo, bu, sedikit lagi. Lihat, kepala bayinya mulai kelihatan." Namun Larissa malah kehabisan nafas, hingga percobaan kedua kembali gagal.
Hamzah menyeka butiran keringat di dahi istrinya sambil mengucap dorongan semangat untuknya. "Bertahanlah, Encus, sedikit lagi anak kita akan lahir."
Kontraksi berikutnya kembali datang, dokter memberi intruksi untuk kembali mengejan. Namun Larissa yang menahan kesakitan sejak pukul dua belas malam mulai kehabisan tenaga.
Posisi kepala sang bayi terhimpit di jalan lahir. Terpaksa dokter melakukan sedikit pembedahan disana dan membantu mendorongnya untuk memyelamatkan sang bayi.
__ADS_1
Suara adzan magrib berkumandang, seiring dengan pecahnya tangisan sang bayi yang baru terlahir kedunia. Larissa tersenyum bahagia melihat wajah tampan sang anak. Namun detik berikutnya ia terkulai lemas.