Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 21


__ADS_3

"Kamu itu cantik dan masih muda. Ibu yakin, kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik lagi nantinya."


Larissa terdiam, mencoba mencerna kata-kata ibunya. Ia memang merasa sakit hati, marah, dan kecewa terhadap suaminya. Tapi bercerai bukanlah perkara yang mudah, itu bukanlah jalan keluar yang baik.


Dulu sebelum menikah Larissa memiliki satu keinginan. Ia hanya akan menikah sekali seumur hidup. Dan dia akan mencoba untuk mempertahankan pernikahannya walau apa yang akan terjadi nantinya.


Perkataan Bu Ani tidak bisa begitu saja disalahkan. Ia hanya menginginkan yang terbaik untuk putrinya. Ia memang buta agama, juga tidak bisa baca tulis. Kemiskinan lah yang menyebabkan semua itu.


Larissa menghela napas. Ia tidak bisa mengambil keputusan apapun untuk saat ini. Ia tidak ingin gegabah, karena setiap keputusan yang diambil, akan berpengaruh besar pada masa depannya nanti.


Setelah lama terdiam, akhirnya ia pun mulai buka suara. "Entahlah, Bu. Untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan hal itu dulu. Aku ingin fokus pada kehamilanku ini dulu."


Bu Ani terlihat sedikit kecewa mendengar ucapan anaknya. Tapi ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya.


"Nanti sore aku mau pergi ke bidan untuk memeriksakan kandunganku. Ibu mau kan mengantarku?" tanya Larissa.


"Baiklah, nak. Nanti sore, sepulang dari warung ibu akan mengantarmu kesana" jawab Bu Ani. "Sekarang lebih baik kamu istirahat saja dulu di belakang, jangan langsung pulang. Tidak baik juga kalau kamu berada di rumah sendirian dalam kondisi seperti ini."


" Baik, Bu. Terimakasih banyak!." Tanpa banyak kata Larissa pun berlalu menuju belakang. Ia memang sangat ingin mengistirahatkan tubuh sejenak. Fisiknya sangat lelah, begitu juga dengan psikisnya.


...****************...


Sore hari Larissa pergi ke bidan dengan diantar oleh ibunya. Ia tak perlu lama menunggu, karena bidan itu buka praktek dirumah.


Larissa masuk kedalam ruangan, bidan memeriksa. Kondisi Larissa dan janinnya dinyatakan baik-baik saja. Hanya perlu lebih banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi.


Larissa menyampaikan keluhannya tentang mual dan muntah yang selalu ia alami sepanjang hari. Ia juga mengatakan jika ia langsung muntah begitu mencium bau nasi, padahal dirinya selalu merasa lapar.


Bidan memberi penjelasan jika hal itu biasa terjadi pada kehamilan yang masih muda. Biasanya terjadi selama trimester pertama kehamilan, yaitu satu sampai tiga bulan selama masa kehamilan.

__ADS_1


Bidan pun memberikan beberapa vitamin dan tablet tambah darah agar larissa tidak mudah lelah. Ia juga memberi obat penguat kandungan, mengingat Larissa pernah mengalami keguguran sebelumnya.


Bidan menyarankan agar Larissa memakan apapun yang mungkin bisa ia makan. Jangan sampai ia tidak mendapat asupan makanan sama sekali, khawatir malah berakibat buruk pada janin yang dikandungnya. Selain itu, ia juga menyarankan Larissa mengkonsumsi susu hamil untuk meminimalisir rasa mual. Larissa pun mengucapkan terimakasih dan berlalu.


Sesampainya di rumah, Larissa segera meminum obat yang diberikan bidan tadi. Kemudian ia langsung beristirahat. Kehamilannya kali ini membuat tubuhnya lebih mudah lelah.


Larissa tak bisa memejamkan mata. Ucapan sang ibu di warung tadi terus terngiang di telinganya. "Apakah aku harus menggugurkan kandungan ini dan meminta cerai dari Hamzah? Tapi anak ini tidak berdosa? Kenapa aku harus menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat? Lalu apakah aku akan tega membunuh anakku sendiri?." Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Larissa, membuatnya mengalami dilema yang teramat sangat besar.


Tanpa terasa, mata Larissa pun terpejam karena lelah yang begitu mendera. Ia terbangun saat perutnya terasa melilit minta diisi.


...****************...


Setelah lama menimbang dan berpikir, akhirnya Larissa memutuskan untuk tetap mempertahankan janin dalam kandungannya. Ia juga tidak akan meminta cerai dari suaminya.


Larissa pun menyampaikan keputusan ini pada ibunya. "Ibu, aku memutuskan untuk tetap mempertahankan anak dalam kandunganku. Aku juga tidak akan bercerai dengan hamzah" ujar Larissa pada ibunya yang saat itu tengah bersantai di depan televisi.


Larissa menggenggam tangan ibunya. "Ibu, dalam agama manapun, menggugurkan kandungan adalah sebuah dosa besar. Itu sama halnya dengan membunuh. Apa ibu mau, aku menjadi seorang pembunuh?" ujar Larissa dengan lemah lembut, mencoba memberi pengertian pada ibunya.


Bu Ani terdiam, tak bisa membantah ucapan anaknya. Ia pun menghela napas. "Baiklah! Ibu tidak akan menyuruhmu untuk menggugurkan kandungan lagi. Tapi, kamu harus tetap bercerai dengan Hamzah. Ibu tidak ingin kamu disakiti lagi olehnya" ujar Bu Ani akhirnya.


"Tapi, Bu, Larissa tidak mau bercerai!."


"Apa kamu takut tidak akan bisa membesarkan anakmu kalau kamu bercerai? Kamu tidak usah khawatir, ibu yang akan membesarkan anakmu!" jawab Bu Ani dengan nada meninggi. "Coba lihat ibu!. Ibu mampu membesarkan mu dan kakakmu tanpa ada seorang suami disamping ibu. Contohlah ibumu ini."


Larissa menghela napas, berpikir bagaiman cara untuk memberi penjelasan pada ibunya. Apalagi sejak awal ibunya memang tidak suka dengan suaminya. Pastinya akan sulit untuk meyakinkannya. "Ibu, ini bukan soal takut membesarkan anak seorang diri. Tapi lebih pada bagaimana tumbuh kembang anakku nanti. Apa ibu ingin cucu ibu tumbuh tanpa kedua orangtuanya?" ucap Larissa akhirnya.


"Aku cukup tahu bagaimana rasanya tumbuh tanpa adanya seorang Ayah, itu sangat menyakitkan. Dan aku tidak mau anakku merasakan hal yang sama denganku juga. Lagipula Allah sangat membenci perceraian, walaupun juga tidak melarangnya."


Bu Ani terdiam, tak sanggup menyangkal ucapan anaknya.

__ADS_1


Larissa memang tumbuh tanpa adanya seorang ayah disampingnya. Dan dia sangat terluka akan hal itu.


Dulu waktu ia masih berada di panti di kota Malang, ia pernah dikata sebagai anak haram, karena ia tidak tahu mengenai ayahnya. "Apa kamu keluar dari batu seperti kera sakti? sehingga kamu tidak tahu siapa ayahmu?." Itulah hinaan yang ia terima saat itu.


Larissa hanya diam tak berkutik ketika menerima penghinaan itu. Karena ia memang tidak tahu apapun tentang ayahnya. Ibunya tidak pernah mengatakan apapun tentang semua itu. Dan ia tidak ingin menanyakan hal yang akan membuat ibunya terluka. Baginya, adanya seorang ibu bersamanya, itu lebih dari cukup.


"Terserah apa maumu," ucap Bu Ani akhirnya. "Tapi satu hal yang perlu kau ingat. Jangan pernah menangis lagi pada ibu andaikan suatu hari suamimu kembali menyakitimu."


Setelah mengatakan hal itu, Bu Ani pergi meninggalkan Larissa yang masih termenung mendengar perkataannya.


Larissa menghirup dan membuang napas berat. Berulangkali ia melakukan hal yang sama. "Maafkan aku, ibu. Kali ini aku tidak bisa menuruti perkataanmu. Ini tentang anak dalam kandunganku" ucapnya lirih.


"Aku masih mencintai suamiku, walau berulangkali ia menyakiti. Aku hanya bisa berharap, semoga anak dalam kandunganku ini bisa mengembalikan sikap Hamzah yang dulu. Bukankah seorang anak adalah tali pengikat bagi kedua orangtuanya."


Larissa pun memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya untuk meminta maaf pada Hamzah dan mengajaknya kembali pulang. Walau bukan dia yang bersalah, ia rela untuk meminta maaf lebih dulu. Bukankah dalam suatu hubungan harus ada pihak yang mengalah demi keutuhan hubungan tersebut.


*


*


*


Hai reader, ini adalah karya kedua ku. Terimakasih sudah mendukung author selama ini. Semoga kalian suka dengan karya ini.


Saat ini author sedang dalam proses pengajuan kontak. Mohon dukungan sebanyak-banyaknya semoga author bisa lekas dikontrak.


Jangan bosan-bosan untuk terus memberikan like, komentar, favorit, vote, hadiah, atau tips. Author akan sangat berterimakasih jika reader semua mau memberikan hal itu.


Akhir kata author ucapkan terima kasih dan semoga kesuksesan selalu menyertai kita semua......🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2