
"Sebenarnya ini bukan karena kita melakukan hubungan suami istri, melainkan karena semalam aku terus menangis dan stres" ucap Larissa lirih.
"Apa maksud perkataan mu?" tanya Hamzah tak mengerti. Tapi kemudian ia kembali teringat jika semalam Larissa terus menangis tanpa ia tahu penyebabnya. "Sebenarnya apa yang membuatmu terus menangis semalam?."
Larissa terlihat masih ragu untuk menceritakan yang sebenarnya. Tapi kemudian ia bertekad untuk berterus terang. Apalagi ini menyangkut keselamatan janin dalam kandungannya.
"Sebenarnya kemarin....." Larissa pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya saat Hamzah sedang tidak ada di rumah. Tentang bagaimana kejamnya Iqbal melayangkan sebuah tuduhan tak berdasar padanya, juga bagaimana penghinaan yang harus ia terima. Ia juga menceritakan perihal ancaman sang ibu jika ia mengatakan hal ini pada dirinya.
Muka Hamzah merah padam usai Larissa menceritakan semuanya. Ia terlihat sangat marah. Matanya berkilat merah, gigi gemeletak, tangan terkepal erat, rahangnya mengeras. "Kurang ajar! Aku harus memberi pelajaran pada kakakmu itu!" teriak Hamzah marah.
Larissa sangat ketakutan melihat amarah Hamzah. Belum pernah ia melihat Hamzah semarah ini. Digenggamnya tangan sang suami sambil diusapnya pelan, mencoba meredakan amarahnya. "Jangan lakukan ini, Yank. Aku mohon!" ucap Larissa dengan berderai air mata. Tubuhnya bergetar karena ketakutan.
"Tidak! Aku tidak bisa membiarkan Iqbal begitu saja. Dia sudah sangat keterlaluan. Bisa-bisanya ia melakukan ini padamu. Apalagi ini menyangkut nyawa anakku yang ada dalam kandunganmu" teriak Hamzah, masih dipenuhi dengan amarah.
"Aku tahu dia sangat keterlaluan. Tapi tolong! jangan seperti ini!."
"Tidak! Aku tidak bisa membiarkan hal ini. Iqbal harus diberi pelajaran. Bisa-bisanya ia melakukan hal ini padamu, adiknya sendiri."
Amarah Hamzah tak terbendung lagi, sekeras apapun Larissa mencoba menenangkannya. Bahkan Hamzah sampai mengeluarkan sebilah pedang dari dalam lemari, pedang yang selalu tersimpan rapi tanpa pernah digunakan, membuat Larissa semakin gemetar ketakutan.
Hamzah melangkahkan kaki menuju pintu, tapi dengan cepat Larissa menghadang. Ia memeluk erat tubuh sang suami, mencoba menghentikannya. "Jangan seperti ini, Yank. Aku mohon! Kau telah membuatku sangat takut!" ucap Larissa dengan air mata yang berderai.
"Apa kau kira aku takut menghadapi kakakmu itu? Minggir! biar aku bunuh dia sekalian!" teriak Hamzah, ia tak perduli dengan Larissa yang semakin ketakutan. Dirinya terlalu dikuasai oleh amarah.
Larissa menangkup wajah sang suami dengan kedua tangannya, memaksa untuk melihat wajahnya. "Tatap aku, yank, Lihatlah! Tidakkah sekarang aku baik-baik saja?" ucapnya lirih.
Hamzah pun memandang kedua bola mata Larissa yang meneduhkan. Perlahan kemarahan itu mulai menghilang.
__ADS_1
"Tolong! jangan seperti ini. Kau membuatku sangat takut."
"Aku tahu kau tidak pernah takut melawan siapapun. Tapi coba kau pikir, kalau sampai terjadi sesuatu padamu, lalu siapa yang akan menjagaku."
Hamzah terlihat mulai sadar. Kemarahan itu hilang sudah. Bahkan pedang yang tadi digenggam erat kini telah terlepas. Ia mengeratkan pelukannya. "Maafkan aku karena sudah membuatmu takut. Sungguh! aku sangat marah mendengar kau diperlakukan seperti itu" ucap Hamzah lirih.
"Aku bisa mengerti kemarahan mu, Yank. Tapi tolong, jangan seperti ini lagi. Yang terpenting sekarang aku tidak apa-apa."
Hamzah menganggukkan kepala. "Sekali lagi aku minta maaf!" ucapnya lirih.
Hening sesaat. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"Aku ada satu permintaan untukmu!" 7cap Hamzah.
"Katakan!."
"Aku janji, Yank. Aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi darimu" ucap Larissa sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Sekarang istirahatlah. Aku tidak ingin kau kecapekan. Bukankah tadi dokter juga menyuruhmu untuk istirahat total!" ucap Hamzah setelah beberapa saat.
Larissa pun menganggukkan kepala. "Temani aku. Aku ingin tidur dalam pelukanmu" ucap Larissa.
Hamzah mengangukkan kepala. Merekapun merebahkan tubuh diatas ranjang dengan posisi saling berhadapan. Larissa menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami, sedang Hamzah membelai rambut indah sang istri. Hingga Larissa tertidur, Hamzah masih melakukan hal ini.
Sebenarnya Larissa memang sengaja mengajak sang suami untuk tidur. ia hanya beralasan ingin tidur dalam pelukannya. Ia takut jika suaminya kembali nekat saat ia sedang tidur. Ia tahu betul bagaimana watak sang suami.
Hamzah adalah tipe orang yang tidak pernah takut untuk menghadapi siapapun, apalagi bila ia merasa tidak melakukan kesalahan. Ia akan membalas setiap orang yang berani menyentuhnya. Bahkan lebih dari apa yang dilakukan orang itu padanya.
__ADS_1
Larissa teringat dengan jelas bagaimana Hamzah mengatakan dengan jujur perihal masa lalunya dulu.
Suatau hari Hamzah mengajak Larissa untuk bertemu. Ia ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya. Saat itu mereka masih berpacaran. Mereka pun sepakat untuk bertemu di sebuah jembatan di pinggir pantai yang terkenal dengan sebutan 'BOOM CINTA'.
"Hal penting apa yang ingin kau sampaikan padaku, yank?" tanya Larissa saat mereka sudah bertemu.
"Aku ingin berkata jujur padamu. Ini mengenai masa laluku" jawab Hamzah.
"Katakan!."
Hamzah menghela napas sebelum mulai bercerita. "Aku bukanlah orang baik-baik. Dulu aku sering mabuk-mabukan. Bahkan aku juga sering memukul orang. Aku melakukan ini karena kecewa dengan keadaan keluargaku. Hingga membuatku salah pergaulan," ungkap Hamzah. "Kau pasti melihat ada tatto ditanganku bukan?."
Larisa pun menganggukkan kepala. Ia memang pernah sekali melihat ada sebuah tatto dilengan kanan Hamzah, tapi saat itu ia tak berani untuk bertanya.
"Tatto itu temanku yang buat. Ia mentatto ku saat aku tak sadarkan diri usai mabuk berat" terang Hamzah.
Larissa terperangah mendengar kenyataan ini. Tapi ia sangat kagum dengan semua kejujurannya. Dan Larissa sangat menghargai itu.
"Sekarang tatto itu sudah tidak ada lagi ditanganku. Aku sudah menghapusnya. Bahkan aku juga berhenti minum-minum setelah kenal denganmu. Aku ingin menjadi orang yang lebih baik. Semua aku lakukan hanya untukmu" ucap Hamzah lagi.
"Semua sudah aku katakan dengan sejujur-jujurnya. Sekarang semua terserah padamu. Kau masih mau denganku atau tidak. Aku akan menerima semua keputusanmu" ucap Hamzah lirih. Kepala ia tundukkan.
Larissa tersenyum, ia menggenggam jemari Hamzah. "Aku hargai kejujuran mu. Aku sangat senang mendengarnya. Setidaknya aku tahu semua darimu sendiri. Kalau kau bertanya apa aku masih mau menerima mu atau tidak, maka jawabanku adalah 'YA'" ucap Larissa.
"Lupakan semua masa lalu. Yang terpenting bagiku adalah bagaimana kau sekarang. Aku tidak peduli dengan semua masa lalumu. Karena yang sudah berlalu tidak mungkin bisa diubah. Kita hanya bisa mengubah diri menjadi lebih baik untuk ke depannya."
Hamzah begitu bahagia mendengar jawaban Larissa. dikecupnya berulang-ulang tangan mulus yang menggenggam jemarinya itu. "Terimakasih, Yank. Aku janji, aku tidak akan pernah mengecewakanmu" ucap Hamzah dengan mata berbinar.
__ADS_1
Begitulah, dan karena kejujuran Hamzah itulah yang membuat Larissa mantap untuk menerimanya sebagai seorang suami. Terlebih Hamzah juga menunjukkan jika ia memang sudah berubah. Dan Larissa pun tak pernah melihat sisi lain sang suami sebelum hari ini.