Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 76


__ADS_3

Larissa langsung merebahkan tubuh di kamar dan berpura-pura memejamkan mata begitu mereka sampai di rumah. Ia bahkan tak menghiraukan apakah putrinya sudah tidur atau belum.


Larissa menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Ia menangis dalam diam. Ia tumpahkan semua air mata yang ia tahan sejak tadi. Ia sengaja menutupi tubuhnya dengan selimut agar suaminya tak mengetahui bahwa ia tengah menangis.


Sengaja Larissa tak menceritakan kejadian tadi pada suaminya. Bukan Karena takut dengan ancaman uwak sodiq, namun karena ia sendiri juga belum bisa mencerna apa yang telah terjadi padanya tadi.


Larissa mencoba menghapus kejadian buruk yang menimpanya tadi dengan memejamkan mata. Namun sekeras apapun ia berusaha menghapus ingatannya, kejadian buruk itu tak juga hilang dari ingatan. Kejadian itu terus mengikutinya seperti sebuah bayangan.


'Ya Allah, kenapa semua ini terjadi padaku? apa kesalahanku?' ratapnya.


Larissa terus meratap dan meratap. Ia menyesal kenapa tadi ia mau di ajak ke rumah Uwak Sodiq lagi. Padahal sebelum berangkat ia sempat memiliki firasat bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Namun ia tetap juga berangkat dengan alasan tak mau mengecewakan sang suami.


Kini semua sudah terjadi. Dan penyesalan tidaklah berarti saat semua sudah terlanjur.


...****************...


Keesokan malam Hamzah kembali mengajak Larissa ke rumah Uwak Sodiq untuk berobat. Ia terlihat begitu bersemangat malam itu lantaran ada sesuatu yang ingin ia lakukan juga disana nanti.


Tak seperti kemarin, malam ini dengan tegas Larissa menolak ajakan sang suami. "Tidak! Mulai malam ini aku tidak mau lagi ke sana."


"Tapi kenapa?" tanya Hamzah bingung.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak mau ke sana lagi saja" jawab Larissa datar.


Larissa sengaja tak memberitahukan alasan sebenarnya kenapa ia tak mau pergi ke rumah uwak Sodiq lagi. Biarlah itu menjadi rahasianya saja. Lagipula Hamzah terlihat begitu mendewakan lelaki paruh baya itu hingga rasanya percuma bila ia memberitahukannya.


Hamzah terlihat sangat marah. Ia mengumpat istrinya habis-habisan. "Kurang ajar! Dasar wanita tidak tahu di untung. Sudah dibela-belain diantar berobat, malah tidak mau."

__ADS_1


Larissa tak memperdulikan kemarahan suaminya. Ia memilih masuk ke kamar dan segera tidur.


...****************...


Sejak kejadian buruk yang menimpanya malam itu Larissa berubah menjadi pendiam. Ia hanya bicara bila perlu dan menjawab seadanya saat ada yang mengajaknya bicara.


Bayangan akan kejadian buruk itu terus menari-nari dalam ingatan. Larissa merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Bahkan saat ingatan itu kembali datang, ia menggosok *********** berulang- ulang tepat dimana bekas jilatan pria menjijikkan itu berada. Ia melakukannya dengan menggunakan kain hingga menimbulkan ruam di kulinya yang putih bersih.


Meski begitu Larissa tetap beraktivitas seperti biasa. Ia tetap berjualan sebagaimana biasa. Ia sadar bila tak berjualan, mereka tidak akan makan. Karena sumber pendapatan mereka hanya dari jualan ini saja.


Bekerja ditengah kondisi fisik yang sakit tidaklah mudah. Apalagi kini psikisnya juga terganggu. Hingga kini tubuh Larissa pun semakin kurus karena beban derita.


Hamzah seakan menutup mata dengan perubahan pada tubuh istrinya. Entah ia menyadarinya atau hanya berpura-pura tak tahu.


...****************...


Takdir terkadang tak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dan saat itu terjadi pilihan kita ada dua.


Atau pilihan kedua. Menerima takdir yang kita anggap buruk itu, mengikhlaskan, dan mencoba mencari kebahagiaan di dalamnya dengan cara bangkit dari keterpurukan dan mencari makna dibalik takdir itu. Maka kita akan mendapati diri kita sebagai pribadi yang semakin dewasa dan tangguh. Dan ketenangan hati akan selalu menyertai langkah kita.


Larissa memutuskan untuk memilih pilihan kedua. Ia sadar, ia memiliki anak yang masih kecil dan masih membutuhkan kehadirannya. Ia tak mau terus terpuruk dengan meratapi kejadian buruk itu.


Langkah awal yang Larissa ambil adalah pergi ke rumah sakit lagi untuk menjalani operasi pengambilan benjolan. Ia harus sembuh bila ingin melihat anaknya tumbuh dewasa.


Namun sebelum itu, Larissa harus menyakinkan suaminya agar mau mengantarkannya ke rumah sakit lagi. Dan bicara mengenai hal ini membuat ingatannya kembali ke saat sebelum ia pergi ke rumah sakit dengan suaminya untuk pertama kali.


Saat itu Hamzah menolak mentah-mentah keinginan Larissa untuk berobat ke rumah sakit. Alasannya ia takut melihat istrinya di operasi. Hingga pertengkaran pun terjadi diantara mereka.

__ADS_1


Malam hari selepas sholat magrib Larissa menangis sesenggukan di kamarnya sambil memanggil-manggil nama sang ayah yang telah lama tiada. Ia begitu putus asa karena suaminya menentang keras keinginannya. Hingga rasanya ia ingin mati saja menyusul ayahnya yang telah tiada saat itu.


"Ayah, datanglah kemari. Bukankah dulu kau ingin mengajakku ikut serta denganmu?."


"Ayah, disini tidak ada yang peduli lagi padaku, bahkan suamiku sendiri. Aku merasa sendirian, Ayah."


"Ayah, jemputlah aku. Aku ingin bersamamu. Sejak kecil kau tidak pernah bersamaku. Apa sekarang kau juga tak ingin bersamaku?."


"Ayah, lebih baik aku mati saja sekarang. Aku tidak kuat menahan semua derita ini. Mungkin bila aku mati, aku akan menemukan kebahagiaan."


Suara tangisan Larissa terdengar begitu pilu dan menyayat hati. Hingga membuat hati Hamzah luruh karenanya. Ia pun menghampiri istrinya dengan maksud menenangkan. "Kenapa kamu menangis memanggil-manggil ayahmu?" ucapnya lembut. Diusapnya lelehan air mata yang berjatuhan membasahi wajah cantik sang istri.


Bukannya menjawab pertanyaan sang suami, Larissa malah menepis tangannya yang berusaha menghapus air matanya. "Jangan sentuh aku! Untuk apa kau bertanya? bukankah kau tak peduli lagi denganku?."


"Siapa bilang aku tak peduli? Aku sangat peduli padamu."


"Kau bohong! Kau tidak pernah peduli padaku" teriak Larissa frustasi. "Lebih baik aku mati. Aku ingin pergi menyusul Ayahku saja."


Hamzah memeluk erat tubuh Larissa. Tubuhnya bergetar hebat bersamaan dengan air mata yang tumpah ruah. Ia merasakan berapa frustasinya Larissa saat itu. "Jangan berkata seperti itu. Sungguh, aku belum siap jika harus kehilanganmu."


Larissa tersenyum getir sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya. "Bukankah itu yang kau inginkan? Buktinya kau tak ingin aku sembuh."


"Siapa bilang aku tak ingin kau sembuh?. Aku juga sangat khawatir dengan penyakitmu."


"Kalau kau khawatir padaku, lalu kenapa kau menolak mengantarku ke rumah sakit?."


Hamzah diam membisu. Entah ia tak mau menjawab atau memang tak memiliki jawaban atas pertanyaan istrinya.

__ADS_1


Melihat suaminya hanya diam membisu, Larissa pun bertanya, "Kenapa sekarang kau diam? Ayo jawab!."


Hamzah tetap diam. Tak bergeming mendengar desakan sang istri.


__ADS_2