
Seminggu sudah lebaran berlalu. Selama itu pula tak terjadi apa-apa pada Bu Ani. Agaknya firasat Hamzah waktu itu tidak terbukti.
Seperti kata bu Ani waktu itu, lebaran memang ramai-ramainya orang membeli rujak. Karena setelah lelah berkeliling kampung, orang pasti ingin makan yang segar-segar.
Demikian halnya dengan dagangan Larissa. Pembeli harus rela antri hingga berjam-jam untuk mendapat sebungkus rujak buatannya. Demikian ramainya hingga Larissa tak sempat minum, apalagi makan. Untung saat itu Zahra, putrinya berada di rumah sang nenek. Sehingga ia tak perlu khawatir putrinya tidak ada yang menjaga.
Sore hari dagangan Larissa sudah ludes terjual. Ia memutuskan untuk sejenak mengistirahatkan tubuh sebelum menjemput putrinya di rumah sang nenek nanti malam.
Malam hari pun tiba. Larissa bersiap untuk menjemput sang putri. Namun saat ia hendak keluar rumah, tiba-tiba Hamzah memanggil. "Encus, jangan buru-buru pergi. Lihatlah ibumu sebentar! Aku perhatikan dari tadi beliau kesulitan bernafas. Aku khawatir beliau tidak akan bertahan lama."
Deg
Hati Larissa bergetar. Perasaannya mulai tak enak. Ia yang sempat terlupa dengan peringatan Hamzah sebelumnya karena melihat ibunya baik-baik saja pun teringat kembali. Cepat-cepat ia menengok sang ibu di kamarnya.
Larissa terpaku di depan pintu. Air mata lolos seketika melihat kondisi sang ibu yang saat itu tengah berjuang antara hidup dan mati. Bahkan untuk menghirup napas pun beliau tak sanggup.
Larissa jatuh terduduk disamping sang ibu. Diperhatikannya wajah sang ibu lamat-lamat. Nampak bola matanya telah memutih seakan tertutup oleh sesuatu. "Ibu, kau kenapa?" tanyanya pilu. Diusapnya rambut sang ibu lembut.
Lama bu Ani hanya diam, seakan tak mengetahui kehadiran sang anak disampingnya. Ia hanya mengerang kesakitan sambil meracau tak jelas Suaranya begitu parau hingga hampir tak terdengar oleh pendengaran Larissa.
Melihat tak tak ada reaksi dari sang Ibu, Larissa pun mengulang kembali perkataannya. "Ibu, ada apa? apa itu menginginkan sesuatu?."
Agaknya kali ini Bu Ani mendengar suara Larissa. Terbukti dirinya kini menoleh ke arahnya. Namun ternyata hal itu bukanlah sebuah kabar baik baginya.
Saat melihat Larissa berada disampingnya, sang ibu malah bertanya, "Kau ini siapa?."
Tangis Larissa pecah mendengar pertanyaan sang ibu. "Ibu, apa ibu tidak mengenaliku lagi? Aku putrimu, Larissa!."
Setelah mendengar jawaban Larissa, bu Ani bukannya tenang tapi malah seperti orang hilang ingatan. "Larissa siapa? Aku tidak mengenalmu."
__ADS_1
Tangis Larissa semakin tak terbendung mendengar kenyataan bahwa sang ibu tak mengingat dirinya. "Ya, Allah, ibu, kenapa kau bisa melupakanku seperti ini? Aku Larissa, ibu. Putri kandungmu."
Walau Larissa terus berusaha untuk mengingatkan sang ibu tentang dirinya namun ternyata semua itu sia-sia. Bu Ani tetap tak bisa mengenali dirinya.
Tubuh Larissa bergetar hebat menahan gempuran perasaan. "Ya Allah, ibu, apa kesalahanku padamu sehingga kau melupakanku seperti ini."
"Aku mohon, ibu, maafkan semua kesalahanku. Tapi tolong, jangan lupakan aku seperti ini."
Hati Larissa semakin hancur saat mendengar sang ibu memanggil-manggil nama Iqbal. "Kenapa kau ingat pada kakak sedangkan aku tidak, bu? Sebegitu tidak berartinya kah diriku bagimu?," ratapnya dalam hati.
Mendengar suara tangis Larissa Hamzah pun turut masuk ke dalam kamar. "Ada apa, Encus? Kenapa kau menangis?," tanyanya penuh kebingungan.
Larissa menoleh kearah Hamzah. Wajahnya dipenuhi dengan air mata. "Ibuku, entik, ibuku," ratapnya pilu.
"Ada apa dengan ibumu?,"
Sesaat Hamzah turut terpaku mendengar ucapan Larissa. Dipandangnya wajah sang ibu mertua lekat-lekat.
Setelah memperhatikan wajah ibu mertua cukup lama, mengertilah kini Hamzah penyebab dari itu semua. Ia menghela napas dan menenangkan istrinya. "Jangan menangis, Larissa, kendalikan dirimu."
"Bagaimana aku bisa tenang kalau tahu ibuku tidak ingat siapa aku?," teriaknya histeris.
"Cukup, Larissa, kendalikan dirimu," Hamzah berusaha tenang menghadapi istrinya yang tengah kalut. "Dengarkan aku! Ibumu begini bukan tanpa sebab. Ada alasan yang membuat ibumu tidak mengenalimu lagi."
"Maksudmu?," tanya Larissa cepat.
Hamzah kembali menghela nafas. "Coba kau perhatikan ibumu baik-baik! Aku rasa saat ini ibumu tengah menghadapi sakaratul maut."
Larissa terhenyak mendengar ucapan Hamzah. Bibirnya terasa kelu. "sa....sakaratul maut!."
__ADS_1
"Ya, benar! Ibumu tengah mengalami sakaratul maut," ucap Hamzah memastikan. "Jadi aku sarankan lebih baik sekarang kau tuntun ibumu untuk menyebut kalimat Allah. Tidak usah yang panjang-panjang, cukup kata Allah saja."
Larissa belum bisa mencerna ucapan Hamzah dengan baik. Otaknya terasa membeku hingga tak bisa berpikir.
Melihat sang istri tak juga melakukan sarannya, Hamzah memberi sedikit nasihat. "Kau tahu, saat orang menghadapi sakaratul maut, mereka merasakan sakit yang begitu dahsyat, seakan-akan dikuliti hidup-hidup. Disaat-saat itulah keimanan mereka berada di titik rendah karena begitu dahsyatnya rasa sakit yang ditimbulkan."
"Kemudian setan pun datang dan memanfaatkan hal itu untuk membuat manusia mengingkari Allah. Dan bila setan berhasil dengan misinya, maka orang tersebut akan meninggal dalam keadaan su'ul khotimah. Itulah sebabnya kenapa saat menjumpai orang yang tengah menghadapi sakaratul maut kita disarankan untuk menuntunnya melafadzkan kalimat Allah. Supaya mereka tidak terpedaya oleh tipu daya setan dan bisa meninggal dalam keadaan khusnul khotimah."
"Kau pasti mengerti bukan, kalau orang meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, maka surga tempat baginya."
"Sekarang kau pikir baik-baik!. Apa kau ingin ibumu meninggal dalam keadaan su'ul khotimah?." Hamzah mengakhiri penjelasannya dengan bertanya pendapat istrinya.
Mendapati pertanyaan seperti itu tentu saja Larissa menggeleng. Ia tak mau ibunya meninggal dalam keadaan su'ul khotimah.
Melihat gelengan kepala Larissa Hamzah tersenyum teduh. "Kalau begitu tuntunlah ibumu!. Doakan agar ibumu bisa melewati ini semua. Ikhlaskan kepergiannya. Semoga dengan ini Allah berkenan memudahkan jalannya.
Larissa kembali menghadap sang ibu dan mulai menuntunya mengucap kalimat Allah. "Ibu, coba ikuti perkataanku. Ucapkan Allah!."
Larissa berusaha dan terus berusaha agar sang ibu bisa menyebut kalimat Allah. Namun nyatanya san ibu hanya meracau tak jelas. Tangis Larissa pun semakin pilu melihat kenyataan itu. "Ya Allah, kenapa ibuku tidak bisa menyebut nama-Mu?."
"Ya Allah, jika Kau ingin mengambil nyawa ibuku sekarang, aku ikhlas! Aku tak ingin melihatnya terus tersiksa seperti ini. Tapi aku mohon satu hal pada-mu, tolong mudahkan jalan ibuku. Jangan biarkan ia meninggal dalam keadaan kafir."
Melihat tak ada reaksi apapun dari sang mertua, Hamzah menyarankan Larissa untuk memanggil sanak saudara, berjaga-jaga seandainya kemungkinan terburuk itu terjadi. "Larissa, sebaiknya kau panggil budhe mu sekarang. Biar bagaimana ia adalah saudara tertua ibumu. Aku tak ingin kau dipersalahkan kalau terjadi sesuatu pada ibumu."
"Tapi bagaimana dengan ibuku?."
"Kau tidak usah khawatir. Biar aku yang menjaga ibumu selagi kau pergi."
Larissa mengangguk. "Baiklah, aku pergi sekarang. Aku titip ibuku padamu."
__ADS_1