Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 47


__ADS_3

Kini mereka berdua berada didalam kamar, tapi tidak ada seorangpun yang membuka suara. Mereka sama-sama membisu, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Tak tahan dengan kebisuan yang tercipta, Larissa berinisiatif untuk membuka obrolan terlebih dahulu dengan menawarkan makanan pada suaminya. "Kamu sudah makan, belum? aku ambilkan, ya?."


"Sudah!" jawab Hamzah singkat.


Hening, kebisuan kembali tercipta. Tapi ia tak menyerah. Ia kembali menawarkan sesuatu pada suaminya. "Kalau begitu, aku buatkan kamu kopi, ya? kamu pasti pengen ngopi."


Hamzah hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.


Larissa bangkit, bergegas menuju dapur untuk membuatkan kopi untuk suaminya. Dan tak berselang lama ia pun kembali lagi ke kamar dengan membawa secangkir kopi ditangan.


"Ini kopinya, Entik. Diminum dulu" ucapnya sambil menyodorkan secangkir kopi yang telah ia buat tadi kehadapan suaminya.


"Nanti saja! kamu taruh aja dulu" jawab Hamzah tanpa ekspresi. Ia masih betah dengan wajah datarnya. Pandangan mata jauh menerawang, entah apa yang tengah ia pikirkan saat ini.


Setelah meletakkan kopi diatas nakas, Larissa pun menghampiri suaminya yang tengah rebahan diatas ranjang. Ia mendudukkan diri disamping Hamzah.


"Entik, kamu tahu nggak apa yang Fatim lakukan kemarin saat kamu tidak ada dirumah?" tanya Larissa. Sengaja memancing pembicaraan dengan bertanya tentang anaknya.


"Kenapa dengan Fatim?" tanya Hamzah datar. Ia tak menoleh sedikitpun kearah Larissa.


"Kemarin itu Fatim....." Larissa pun menceritakan bagaimana tingkah Fatim selama beberapa hari kemarin. Sesekali ia tertawa saat menceritakan betapa lucunya putri semata wayangnya itu.


Hamzah menanggapi cerita Larissa dengan deheman. Sesekali ia tersenyum tipis saat mendengar Larissa tertawa. Senyuman yang terlihat sangat bahwa itu dipaksakan.

__ADS_1


Mendapati suaminya tak merespon ceritanya sesuai dengan harapan, akhirnya Larissa pun diam. Ia tak bersemangat lagi untuk melanjutkan ceritanya.


Hening, kebisuan kembali tercipta. Larissa bingung harus membuat topik pembicaraan apalagi untuk membuka obrolan dengan suaminya.


Lama tak menemukan ide, Larissa pun akhirnya memilih untuk ikut merebahkan tubuh disamping suaminya. Ia membuka beberapa kancing atas baju Hamzah dan mengusap dada bidangnya. Dada yang selama ini selalu memberikan ketenangan padanya saat ia memeluknya sebelum tidur.


Selama beberapa hari tidak berada disamping Hamzah, ia sangat merindukan sentuhan dari lelaki yang sangat dicintainya itu. Sentuhan yang selalu membuatnya melayang. Sentuhan yang menimbulkan getaran-getaran yang sulit untuk diungkapkan.


Larissa terus membelai dada bidang sang suami. Berharap Hamzah akan merespon sentuhannya itu. Sesekali ia juga mendaratkan ciuman di bibir Hamzah. Akan tetapi, Hamzah tak juga merespon sentuhan darinya, bahkan cenderung acuh.


Larissa tak mau menyerah. Ia semakin agresif dengan meletakkan kepala diantara pundak dan ceruk leher Hamzah dan semakin merapatkan tubuh mereka. Perlahan lidahnya mulai bermain disana. Berusaha membangkitkan gairah pria tersebut.


Sementara itu jemari lentik terus bermain di dada bidang, mengusap dan membelai enam buah otot diperut rata suaminya. Namun sayangnya Hamzah tetap tak merespon. Ia masih teguh dengan wajah datarnya. Bahkan ia terlihat berusaha menjauhkan diri dari sentuhan Larissa.


Lama-kelamaan Larissa pun jengah karena tak mendapat respon apapun dari Hamzah. Ia menghentikan aktivitasnya, memalingkan wajah suaminya agar menghadap padanya. "Katakanlah sesuatu! tolong jangan diamkan aku terus seperti ini. Kau tahu sendiri, kan? aku tidak pernah bisa jika kau diamkan" ucapnya sendu.


"Bukankah kau sendiri yang bilang, kita tutup masalah ini sampai disini. Kau juga berkata untuk tidak membawa persoalan apapun lagi setelah kita sampai dirumah. Tapi kenapa kau malah bersikap seperti ini padaku? Apa salahku?."


Butiran bening mulai menetes dari kedua kelopak matanya saat mengatakan semua itu. Ia memang sangat rapuh bila dihadapkan pada kebungkaman suaminya.


Hamzah menghela napas panjang. Membuang semua beban pikiran yang masih bergelayut dihatinya. "Maafkan aku. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu" ucapnya. Kali ini pandangan matanya lebih teduh dari sebelumnya. Diusapnya butiran bening yang membasahi pipi istrinya.


"Katakan! apa yang masih mengganjal dalam pikiranmu?" tanya Larissa.


"Bukan sesuatu yang penting!" jawabnya. "Sudahlah! sebaiknya kita lupakan saja." Hamzah pun lantas mendaratkan ciuman di bibir mungil milik Larissa. ********** dengan lembut.

__ADS_1


Larissa tak melanjutkan pertanyaannya lagi. Ia memilih untuk tak banyak bertanya dan menikmati apa yang suaminya lakukan. Ia takut membuat Hamzah marah bila meneruskan pertanyaannya.


Perlahan ciuman itu berubah semakin ganas. Tapi Larissa tak merasakan adanya gairah Hamzah dalam ciuman itu. Semuanya terasa hambar, bahkan cenderung terpaksa melakukan.


Permainan mereka pun berlanjut, hingga membuat mata Larissa tertutup oleh kabut gairah dan tak memperdulikan apapun lagi.


Jika Larissa terlihat sangat bergairah, namun tidak halnya dengan Hamzah. Ia terlihat tergesa-gesa melakukan itu semuanya, dan bahkan ingin segera menuntaskan permainan itu.


Gerakan Hamzah semakin cepat, menandakan bahwa ia akan sampai pada puncaknya. Dan dengan satu hentakan keras, mereka pun sampai pada puncak tertinggi dari permainan itu.


Bersamaan dengan itu, tubuh Larissa pun turut menegang. Ia juga telah sampai pada puncak tertingginya. Dan setelah semua telah selesai, mereka pun sama-sama ambruk, terkulai lemah diatas ranjang.


Nafas Larissa dan Hamzah masih memburu setelah mereka menggapai surga dunia. Mencoba mengumpulkan kekuatan setelah permainan panas itu dengan menormalkan deru nafas mereka. Dan setelah nafas mereka kembali tenang, Hamzah mengangsurkan selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


"Istirahatlah!" ucapnya sambil mendaratkan sebuah kecupan dipucuk kepala istrinya.


"Temani aku" pinta Larissa dengan penuh harap.


Hamzah menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ia menyiapkan lengannya untuk dijadikan bantal oleh Larissa.


Larissa meletakkan kepala diatas lengan kekar sang suami. Tangannya melingkar diatas pinggang Hamzah. Tubuh semakin ia rapatkan padanya. Seperti yang selalu ia lakukan selama ini bila akan tidur.


Larissa tahu, apa yang Hamzah lakukan tadi bukan atas keinginannya sendiri. Ia menyentuhnya hanya untuk memenuhi kewajibannya memberi nafkah batin. Namun Larissa tak ingin memperpanjang masalah itu. Untuk sementara biarlah seperti itu. Baginya, dengan Hamzah mau menyentuh dirinya, itu sudah lebih dari cukup.


Mungkin pikiran Larissa terlalu picik karena menggunakan *** sebagai jalan keluar dari masalah. Tapi ia tak mempunyai jalan lain untuk meluluhkan hati suaminya kembali. Dan bukankah *** memang menjadi jalan keluar yang paling ampuh bila dirasa memang sudah tidak ada jalan keluar yang lain lagi.

__ADS_1


Larissa semakin merapatkan tubuh mereka. perlahan memahamkan mata, tak mau memikirkan masalah ini lebih jauh lagi. Dengkuran halus mulai terdengar, menandakan bahwa ia telah masuk ke alam mimpi.


__ADS_2