Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 133


__ADS_3

Iqbal tak terima atas penolakan yang Larissa berikan. Ia marah dan memakinya dengan kata-kata kasar.


Melihat istrinya diperlakukan sepertin itu tentu Hamzah tak tinggal diam. Ia pun mencoba memperingatkan saudara iparnya agar lebih lembut berbicara dengan wanita.


Bukannya sadar dan meminta maaf, Iqbal justru semakin emosi. "Hei, kau jangan ikut campur! Ini urusan keluargaku, kau itu hanya orang luar yang kebetulan menjadi suami adikku." Jari tangan menunjuk kearah Hamzah dengan mata melotot lebar.


Dimaki sedemikian rupa tentu saja Hamzah tersulut emosi, terlebih ia memperingatkan dengan baik-baik tadi. "Jaga bicaramu! Jangan menunjuk-nunjuk seperti itu."


"Aku tahu kalau dia adalah adikmu, tapi dia juga adalah istriku. Dan aku berkewajiban untuk melindunginya, karena kini dia adalah tanggungjawabku."


"Jangan kira hanya karena kau lebih tua dariku, aku akan takut denganmu."


Iqbal terdiam melihat kemarahan yang Hamzah tunjukkan. Agaknya ia takut dengan kemarahannya itu, terlebih dulu mereka sering terlibat baku hantam. Namun nyatanya semua itu tak menyurutkan niatnya untuk memaksa Larissa.


"Sekarang mana sertifikat rumah ini? Aku akan mengambil alih. Jadi sebaiknya kau segera tinggalkan rumah ini."


Mendengar ancaman yang Iqbal berikan, keberanian Larissa pun muncul. Mana mungkin ia memberikan begitu saja apa yang sudah menjadi haknya. "Maaf, kak, aku tidak bisa memberikan sertifikat rumah ini," jawabnya tegas.


"lho, memangnya kenapa? Ini kan bukan rumahmu?."


"Aku tahu ini bukan rumahku, tapi ini juga bukan rumah kakak. Ini adalah rumah peninggalan ibu yang sudah diwariskan padaku."


"Hei, apa kau sudah lupa kalau ibu sempat mengatakan akan menyewakan rumah ini setelah beliau tiada? Kalau begitu sekarang tinggalkan rumah ini dan akan ku sewakan pada orang lain, biar diantara kita sama-sama tidak menempatinya."


Larissa tersenyum sinis mendengar kata-kata kakaknya. "Aku tidak pernah lupa akan hal itu. Satu hal yang perlu kakak ingat, akulah yang mengatakan hal itu, bukan ibu. Jadi kakak jangan pernah memutarbalikkan fakta."


"Kau yang memutarbalikkan fakta, sebab budhe yang mengatakan itu sendiri padaku."

__ADS_1


"Kalau begitu panggil budhe kemari, biar kita sama-sama tahu siapa yang sudah mengatakan hal itu. Sebab aku sendirilah yang mengatakan hal itu di hadapan budhe saat ibu memgalami sakaratul maut. Dan aku berani bersumpah atas nama Allah jika mang akulah yang mengatakannya."


"Untuk apa memanggil budhe kesini segala kalau aku tahu akulah yang benar."


"Kalau kakak sangat yakin dengan kata-kata kakak, lalu untuk apa kakak takut memanggil budhe kesini?" tanya Larissa dengan senyum tersungging sinis. "Dengan sikap kakak seperti ini menunjukkan kalau memang akulah yang benar!."


Iqbal diam tak berkutik. Ucapan Larissa benar-benar membuatnya mati kutu dan tak bisa membantah lagi.


Sejenak mereka sama-sama diam. Sementara Hamzah membiarkan istrinya melawan kakaknya sendiri, namun tetap ia bersiaga andai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Kebisuan itu ternyata tak berlangsung lama, sebab kini Iqbal kembali angkat bicara. "Baiklah! karena kau sudah mengatakan jika kau yang mengatakan hal itu, maka sekarang tinggalkan rumah ini. Kau maupun aku sama-sama tidak berhak atas rumah ini."


Larissa kembali tersenyum sinis mendengar kata-kata kakaknya. "Untuk apa aku meninggalkan rumah ini sekarang? Itu tidak akan pernah terjadi."


"Jadi kau ingin mengingkari ucapanmu sendiri?"


Hamzah mengusap lengan istrinya yang bergetar untuk membuatnya sedikit tenang. Tanpa Larissa sadari kata-katanya tadi membuat emosinya sendiri meluap hingga tanpa sadar nada bicaranya berubah meninggi.


"Jaga ucapanmu! Jangan bersikap kurangajar pada orang yang lebih tua" geram Iqbal, tak terima dan tak pernah menyangka jika adiknya akan seberani itu padanya.


"Aku tidak pernah ingin bersikap kurangajar pada orang yang lebih tua. Tapi kakak sendirilah yang memaksaku bersikap seperti ini."


"Setiap kakak pasti melindungi adiknya, tapi apa yang kakak lakukan padaku? Masih pantaskah kakak mendapat rasa hormat dariku?."


Iqbal semakin tersulut mendengar kata-kata pedas yang dilontarkan adik tirinya. "Jaga bicaramu atau aku akan....."


"Atau akan apa?" ucap Hamzah memotong kata-kata Iqbal. Kali ini ia mulai angkat bicara sebab melihat Iqbal mulai menunjukkan akan berbuat kasar.

__ADS_1


Iqbal yang tadi sempat mengangkat tangan ke arah Larissa pun urung melakukan niatnya saat Hamzah mulai menunjukkan taringnya.


"Sudahlah, jangan banyak bicara lagi. Sekarang cepat berikan sertifikat rumah ini," ucap Iqbal kemudian, telapak tangan menegadah di depan Larissa.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberikannya, karena kakak tidak menunjukkan iktikat baik terhadapku," jawab Larissa datar.


Setiap orang pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Larissa. Siapa juga yang akan sukarela memberikan apa sudah menjadi haknya setelah diperlakukan seperti itu tadi.


"Jadi seperti itu?" ucap Iqbal tersenyum licik. "Baiklah! Tapi jangan salahkan aku jika sampai berbuat kasar."


Setelah mengatakan itu ia bangkit dan melangkah memasuki kamar Larissa. Dibukanya setiap lemari yang ada dan mengobrak-abrik apa yang ada di dalamnya demi mencari sertifikat rumah.


Sementara itu, Hamzah dan Larissa hanya diam sambil memandangi apa yang dilakukan Iqbal.


"Ternyata dugaanku tadi benar. Untung tadi aku sudah menyembunyikan sertifikat rumah di tempat yang aman," gumam Larissa dalam hati. Ia sangat bersyukur karena Allah masih memberikan firasat akan hal ini.


Tak juga menemukan apa yang dicari, Iqbal pun semakin kalap. Diobrak-abriknya seisi rumah hingga semua berantakan. "Kosongkan segera kamar ini, sebab mulai sekarang aku akan memakainya."


"Selama kau tidak mau memberikan sertifikatnya, maka aku akan ikut tinggal di sini," ucap Iqbal sambil menyingkirkan barang-barang dikamar Larissa.


"Kalau kakak ingin tinggal disini, silahkan! Aku tidak pernah melarangnya. Kakak bisa tidur di kamar ini selama yang kakak mau" jawab Larissa enteng. Ia pun memunguti barang-barangnya yang berserakan dan memindahkannya ke tempat lain.


Mendengar jawaban adiknya Iqbal malah semakin kalap. Di dorongnya lemari pakaian Larissa hingga menabrak anak Larissa.


Anak Larissa, bayi berusia 18 bulan dan baru belajar berjalan. Ditabrak oleh benda sebesar itu tentu ia langsung terjatuh dan menangis keras. Berapa sih besar tubuh seorang bayi jika dibandingkan dengan besarnya lemari pakaian.


Melihat anaknya disakiti seperti itu ibu mana yang tak akan marah, demikian juga dengan Larissa. Ia langsung menyambar anaknya dengan emosi yang meledak. "Kalau kakak tidak suka denganku, maka lampiaskan padaku. Jangan pada anak kecil yang tak tahu apa-apa seperti ini."

__ADS_1


__ADS_2